
"La,ngit!" panggil Rachel dengan gagap di dalam mobil. Setelah menegakkan pandangannya dan melihat siapa orang yang mengetuk kaca mobilnya. Rachel membuka pintunya.
"Are you okey?" tanya Langit melihat Rachel yang pipinya di banjiri air mata.
Rachel langsung turun dari mobil dan memeluk Langit. Rachel takut, dia syok dengan kejadian yang barusan menimpa dirinya. Langit membiarkan itu, Langit tidak membalas pelukan Rachel hanya tangan satunya menepuk-nepuk punggung Rachel.
"Kamu aman, mereka sudah pergi," ucap Langit untuk menenangkan Rachel.
"Aku takut Langit" lirih Rachel sambil menangis, tubuhnya gemetar. Langit yang tidak tega akhirnya balas memeluk Rachel.
"Tidak apa-apa, sekarang sudah aman," ucap Langit memeluk Rachel sambil mengusap punggungnya.
"Tolong biarkan aku memelukmu beberapa waktu Langit," pinta Rachel di dalam pelukan Langit dan merasa nyaman dengan pelukan Langit. Langit hanya diam dan terus melakukan yang dia lakukan pada Rachel.
Sementara di dalam sebuah mobil mewah seorang perempuan cantik menggunakan piyama yang sedang menyusuri jalan, terlihat gelisah. Sebab dia takut orang yang dia benci mati, karena ulahnya. Ya siapa lagi kalau bukan Jennie.
Slang beberapa waktu Langit pergi dia menyusul Langit, tapi sampai saat ini di belum bertemu dengan Langit. Dia terbayang bagaimana kalau sampai Langit mati karena kehabisan darah di keningnya akibat ulahnya, dia tidak ingin itu terjadi. Jennie belum puas menyiksa Langit. Oleh karena itu Jennie menyusuri jalan untuk menemukan Langit.
Saat ini mobil mewah Jennie kembali kearah mansion, tapi dia melajukan mobilnya dengan sangat pelan. Jalanan
sudah sepi karena ini sudah larut malam.
"Kemana idiot itu!" ketus Jennie masih melihat trotoar, tidak berapa lama dia mengatakan itu, akhirnya dia melihat Langit. Tapi yang dia lihat adalah suaminya sedang berpelukan dengan seorang perempuan yang sangat dia kenal.
"Bajingan!" geram Jennie menepikan mobilnya di belakang mobil Rachel, dia turun dan menghampiri suami dan sahabatnya.
"Apa yang kalian lakukan!" Jennie dengan suara tegas, melihat Rachel dan Langit saling berpelukan.
Mereka berdua langsung melepaskan pelukan dan menatap wajah Jennie yang sedang memendam amarahnya.
"Unn," panggil RachelĀ dan langsung memeluk Jennie. Jennie tidak membalas pelukan Rachel, dia juga tidak melepaskan pelukan, membiarkan Rachel memeluk dirinya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" tanya Jennie menatap tajam wajah Langit.
"Rachel, di cegat dengan 3 pria, kebetulan aku yang sedang berjalan melihat hal itu, jadi aku membantunya," jawab Langit.
"Lalu kenapa harus sampai berpelukan?" tanya Jennie lagi, menatap Langit seolah ingin membunuhnya.
Jennie membenci Langit bukan? Lalu kenapa harus mempermasalahkan Langit dan Rachel yang berpelukan? Jika Jennie membenci Langit. Bukankah pertanyaan pertama yang seharusnya Jennie tanyakan adalah bagaimana keadaan Rachel sahabatnya, iyakan?"
"Aku yang meminta Langit memeluk ku Unn. Aku yang memeluk Langit duluan Unn. Aku takut Unn, kami tidak melakukan apa-apa Unn," ungkap Rachel melepaskan pelukannya pada Jennie dan menatap mata Jennie.
"Rachel, syok karena kaca mobilnya hampir di pecahkan dengan kayu," kata Langit tenang.
"Masuk ke mobil Rachel!" tekan Jennie.
"Iya, Unn," Rachel menuruti perintah unnienya, mengambil barang-barangnya yang ada di mobilnya lalu masuk ke mobil Jennie.
Setelah kepergian Rachel, Jennie mendekat ke depan Langit.
Plak ...
Plak ...
Sebelumnya dia juga pernah merasakannya ketika bersama Falensia. Karena sudah terbiasa, Langit menganggap itu bukanlah masalah besar.
"Dasar bajingan! beraninya memeluk wanita lain di saat kau sudah memiliki istri!" marah Jennie sambil memaki Langit.
"Maaf," ucap Langit tersenyum dan bagi Jennie senyum Langit adalah luka untuk dirinya. Dia tidak suka melihat Langit senyum.
Plak ...
Plak ...
__ADS_1
"I Hate You!" murka Jennie dan hendak berjalan meninggalkan Langit.
Langit menahan tangan Jennie.
"Bolehkah aku ikut Miss? Aku tidak memakai jaket dan di jam segini tidak ada bus lagi?" tanya Langit belum melepaskan genggaman tangannya pada Jennie.
"Kau bawa mobil Rachel," Jennie menghempaskan tangan Langit dari tangannya.
"Aku tidak bisa mengendarai mobil Miss," ucap Langit menjawab dengan senyum.
"Kalau begitu, jalan kaki!" ketus Jennie pergi meninggalkan Langit.
Jennie berjalan memasuki mobilnya, menancap gas mobilnya meninggalkan Langit di samping mobil Rachel. Langit tersenyum dan mulai berjalan kaki lagi, mengeluh juga tidak akan membawa dia sampai kerumah bukan.
"Unn, kenapa Langit di tinggal?" tanya Rachel melihat ke arah belakang, di lihat Langit sedang berjalan sambil menggosokkan kedua lengannya mencari kehangatan di dinginnya malam.
"Unnie sedang tidak ingin membahas itu Rachel," jawab Jennie melajukan mobilnya semakin cepat.
Rachel diam tidak bertanya lagi. Dia juga menyaksikan Unnienya menampar pipi Langit sebanyak 4 kali.
Mobil Jennie tiba di depan pintu masuk mansionnya. Jennie memberikan kode masuk rumahnya pada Rachel membiarkan dia tidur di kamar tamu lantai 1. Sepanjang menyetir tadi, pikirannya terus tertuju pada suaminya, hatinya gelisah.
"Masuklah, Unnie masih ada perlu, tidur duluan di kamar tamu," ucap Jennie di dalam mobil.
"Iya, Unn. Hati-hati, Unn," ucap Rachel turun dari mobil Jennie.
"Iya," Jennie melajukan mobilnya kembali menyusuri jalan yang tadi. Hatinya gelisah entah kenapa, air matanya tiba-tiba mengalir saja, dia membiarkan air matanya mengalir.
Sementara Langit sudah tergeletak di pinggir jalan, sambil menutupi kepalanya. Langit saat ini sedang di hajar oleh 5 pria yang mana 3 diantaranya adalah pria yang dia pukul dengan kayu tadi. Langit tidak sanggup melawan 5 pria, tenaganya sudah habis untuk berjalan kaki dan menghajar 3 pria tadi.
Ternyata 3 pria tadi kembali lagi ke tempat tadi dengan membawa 2 temannya untuk membalas dendam pada Langit, naasnya Langit yang tidak di berikan tumpangan pada istrinya, bertemu dengan pria tadi.
__ADS_1
Langit pasrah, dia sudah lelah. Hari ini tenaganya benar-benar terkuras habis, fisik dan batinnya benar-benar lelah. Langit tersenyum, sambil melindungi kepalanya.