Langit Akdiasa

Langit Akdiasa
Samudra


__ADS_3

Langit sudah di tangani Dokter, dia sudah dipindahkan ke ruang rawatnya. Langit dinyatakan koma. Jennie yang dari tadi berada di samping Langit, tidak henti-hentinya untuk mencium punggung tangan suaminya dan memperhatikan wajah suaminya.


"Tuhan, aku minta maaf sempat berperilaku buruk dengan suamiku. Jika ingin membalas perbuatan burukku, tolong jangan seperti ini, jangan limpahkan pada suamiku. Kami baru ingin menata kebahagiaan kami Tuhan. Bagaimana dengan anak kami Tuhan, tolong segera pulihkan suamiku Tuhan. Aku janji akan menjadi istri yang penurut," lirih Jennie yang matanya sudah sembab dan memerah, tidak bisa mengeluarkan air mata lagi.


"Daddy, cepat bangun, ya. Baby dan mommy menunggu daddy. Tolong cepat bangun sebelum baby lahir daddy.  Karena baby ingin daddy yang memberikan nama untuk baby," ucap Jennie seolah-olah menjadi baby.


"Kamu lelah hubby? Boleh, boleh istirahat sebentar, ya. Tapi jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku dan baby, hubby. Aku tidak sanggup hubby. Aku akan menjaga baby hubby, kamu tenang saja, ya. Istirahat sebanyak yang kamu mau, tapi tolong jangan coba-coba untuk pergi. Love you hubby," tutur Jennie mencium punggung tangan suaminya.


Jesya dan Rachel sedang pergi ke luar, mereka membeli beberapa keperluan untuk Jennie. Jadi saat ini hanya Jennie yang ada di ruang rawat Langit, menemani suaminya. Falensia, Malvin dan Samudra sedang di jalan menuju rumah sakit tempat Langit di rawat.


Tuan dan nyonya Arkan juga sedang menuju kerumah sakit, mereka khawatir dengan kondisi menantu dan putri mereka yang sedang mengandung. Takutnya putri mereka akan stress karena memikirkan keadaan suaminya dan berakibat pada kehamilannya.


Mobil yang di kendarai Samudra tiba di depan rumah sakit, bertepatan dengan mobil tuan dan nyonya Arkan yang juga baru tiba. Falensia yang menggendong Malvin langsung keluar dari mobil Samudra menuju ke sisi orang tuanya. Sedangkan Samudra yang baru turun dari mobilnya, langsung di borgol tangannya oleh 2 orang polisi.


"Hei, apa yang kalian lakukan!" bentak Samudra memberontak ketika polisi memborgolnya.


"Mom, bawa Falensia dan Malvin ke ruangan Langit. Biar daddy urus ini sebentar," ucap tuan Arkan.


"Iya dad. Ayo sayang," ajak nyonya Arkan mengajak putri sulung dan cucunya masuk ke dalam rumah sakit.


"Tuan di tahan, karena dalang dari kecelakaan yang menimpa tuan Langit," ucap Polisi.


"Apa yang kalian bicarakan? Kalian tidak memiliki bukti dan itu bukan aku. Lepaskan aku!" ucap Samudra terus memberontak.


"Tidak, kau tidak akan lepas dari hukuman yang telah kau perbuat. Ku pastikan kau akan menderita selama berada di dalam tahanan. Aku dan putriku membatalkan pernikahan kalian, putriku tidak layak bersanding dengan iblis sepertimu!" bentak tuan Arkan.


"Apa yang daddy katakan?" tanya Samudra.


"Jangan panggil aku dengan sebutan itu dengan mulut iblismu. Kau yang menjadi otak dari kecelakaan Langit. Putriku yang mengirim rekaman video percakapanmu dengan orang suruhanmu!" hardik tuan Arkan.


"Tidak, tidak mungkin. Falensia tidak tahu apa pun, dia tidak akan melakukan hal ini padaku. Ingat aku  daddy kandungan Malvin. Malvin butuh aku!" bentak Samudra.


"Lalu menurutmu, dari mana datangnya bukti jika bukan putriku yang merekamnya hah! Kau memang daddy kandung cucuku, tapi cucuku lebih mencintai daddy Langitnya. Bukankah anak kecil memiliki hati yang tulus? Hingga cucuku tahu, mana yang bisa dia sebut sebagai daddy," ucap tuan Arkan.


"Kau tidak bisa melakukan ini padaku. Semua ini karena Langit! Langit pantas menerima ini dia pantas mati!" sarkas Samudra.


"Tidak ada alasan apa pun untuk membenarkan kesalahanmu!" marah tuan Arkan.


"Tidak, ini karena Langit. Karena Langit, Falensia tidak lagi mencintaiku. Langit adalah ancaman untuk hubunganku dan Falensia. Semuanya karena Langit!" bentak Samudra.


"Apa pun alasanmu, itu tidak bisa di benarkan. Bawa bajingan ini!" perintah tuan Arkan yang sedari tadi menahan agar tangannya tidak melayangkan pukulan di wajah Samudra, karena dia masih menjaga wibawa di depan orang-orang yang melihat keributan antara dirinya dan Samudra. Tuan Arkan masuk ke dalam rumah sakit, meninggalkan Samudra yang sudah di bawa oleh pihak polisi.


***

__ADS_1


"Daddy!" panggil Malvin yang memberontak di gendongan mommynya setelah masuk ruang Langit dan melihat daddynya yang seluruh tubuhnya sudah terpasang kabel-kabel. Jennie menoleh ke arah Falensia, mommy Arkan dan Malvin. Mommy Arkan dan Falensia menghampiri Jennie.


"Aunty, daddy kenapa?" tanya Malvin sendu melihat daddynya.


"Daddy kecelakaan," jawab Jennie lirih.


"Sabar ya sayang, Jennie harus kuat untuk bayi yang ada di dalam kandunganmu. Jangan terlalu stress, ya," ucap mommy Arkan mengusap bahu putrinya.


"Maaf Jennie, semua ini karena Samudra," ucap Falensia.


"Samudra?" tanya Jennie menatap unnienya.


"Iya, Samudra yang sudah menyuruh orang untuk mencelakai Langit," jawab Falensia.


"Kenapa? Apa salah suamiku?" tanya Jennie menatap wajah unnienya.


"Karena dengan ke hadiran Langit. Falensia tidak bisa menerima Samudra dalam hidupnya," ucap daddy Arkan yang baru masuk.


"Karnaku?" tanya Falensia meminta jawaban dari daddynya.


"Iya, Samudra mengatakannya pada daddy. Karna kamu belum bisa menerima dirinya dan terus membayangkan Langit dalam kehidupanmu," ucap daddy Arkan.


"Pergilah unn!" murka Jennie menatap tajam Falensia.


"Pergilah unn, gara-gara unnie, suamiku mengalami kecelakaan, gara-gara unnie suamiku koma. Pergilah unn, pergilah!" marah Jennie.


"Sayang, tenangkan dirimu. Ini sedang di ruangan Langit. Kasihan Langit istirahatnya terganggu dan ingat kamu sedang mengandung," kata mommy Arkan mencoba menenangkan putri bungsunya.


"Aunty, bolehkan Malvin berbicara dengan daddy," ucap Malvin menatap sendu wajah aunty Jenjennya.


"Bicaralah," jawab Jennie.


Falensia meletakkan Malvin di sebelah Langit. Malvin diam beberapa waktu memperhatikan setiap fitur yang ada di wajah daddynya. Dia mendekatkan dirinya ke telinga daddynya dengan sangat hati-hati, agar tidak menyakiti daddynya.


"Daddy," panggil Malvin menjeda kalimatnya, air matanya mengalir.


"Daddy super hero Malvin dan adik bayi. Daddy lupa mengisi tenaga Daddy, hingga lalai dan kecelakaan?. Atau Daddy butuh istirahat? Tidak papa, bila Daddy ingin beristirahat, tapi janji dengan Malvin dan adik bayi, hanya sebentar ya Dad. Daddy tenang saja, Malvin akan menjaga aunty Jenjen dan adik bayi, Daddy istirahat yang cukup ne. Love you Dad". Malvin menangis meminta peluk dengan mommynya, Irene mencium kepala putranya. Semua orang di dalam ruangan Lisa menangis mendengar kata-kata dari Malvin


"Unnie minta maaf Jennie, unnie tidak tahu kalau Samudra yang melakukan ini," lirih Falensia menatap adiknya dengan air mata mengalir. Jennie diam tidak menggubris ucapan unnienya.


"Sayang, tenangkan dulu putramu," ucap mommy Arkan.


"Iya mom," sahut Falensia keluar dari ruangan Langit untuk menenangkan Malvin yang menangis.

__ADS_1


"Yang sabar sayang, kamu harus kuat, ya. Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan hambanya. Selain fokus untuk kesembuhan suamimu, kamu juga harus fokus dengan kehamilan mu," tutur daddy Arkan.


"Rasanya berat sekali dad, kami baru saja ingin memulai kebahagiaan kami dad. Tapi Tuhan sudah menguji dengan cobaan yang berat dad. Jennie tidak bisa dad, ini terlalu berat," lirih Jennie.


"Tidak sayang, ada mommy dan daddy, ada sahabat-sahabat mu yang akan membantumu, kamu tidak sendiri sayang. Tolong bersabar dan berpikir untuk melakukan hal di luar nalar mu. Ingat, baby yang ada disini adalah kebahagiaan yang terukir indah di senyum suamimu. Bertahan dan kuat untuk baby dan suamimu," ucap mommy Arkan memeluk tubuh putrinya.


***


Di dalam ruangan Langit, ada 1 brankar kasur empuk yang di letakkan khusus permintaan dari nyonya Akdiasa (Jennie), dia tidak ingin pisah dengan suaminya. Dia akan menginap di rumah sakit bersama suaminya. Mulai hari ini dia yang akan membersihkan tubuh suaminya, mengajak suaminya mengobrol, intinya menghabiskan waktu bersama suaminya. Untuk sementara waktu posisi CEO akan di isi dengan daddy Arkan.


Jesya dan Rachel masuk ke ruang rawat Langit dengan membawa beberapa paper bag. Dia melihat mommy dan daddy Arkan yang sedang duduk di sofa, bersama Falensia yang sedang memeluk Malvin yang tidur di pelukannya. Sementara Jennie, tidur di kasur samping suaminya. Dia kelelahan sehabis menangis, mommy Arkan menyuruhnya istirahat untuk memulihkan kembali tenaganya.


"Dad, mom, unn," sapa Rachel sembari meletakkan paper bag di atas meja kecil sofa di ikuti dengan Jesya.


"Jennie sudah lama tidur mom?" tanya Jesya melihat Jennie tidur.


"Tidak, baru beberapa menit lalu, kenapa sayang?" tanya mommy Arkan.


"Sayang sekali, Jennie belum minum mom dari tadi dan mungkin juga perutnya butuh asupan," jawab Jesya.


"1 jam lagi ya, biarkan dia istirahat dulu. Tubuhnya benar-benar lelah sayang," tutur mommy Arkan.


"Iya mom," jawab Jesya.


"Jesya, Rachel, daddy minta tolong untuk terus berada di sekitar Jennie, ya. Daddy khawatir Jennie fokus ke Langit sampai lupa memperhatikan dirinya dan kehamilannya," pinta daddy Arkan.


"Iya dad, kami akan dad. Jennie dan Langit sudah seperti keluarga untuk kami dad," ungkap Jesya dengan tulus.


"Benar, kami akan selalu ada untuk Jennie unnie dan Langit, dad," ucap Rachel.


"Semua ini gara-gara Samudra, aku tidak akan segan-segan untuk membalasnya," kesal Falensia geram.


"Samudra?" tanya Jesya dan Rachel untuk memastikan.


"Samudra yang menyuruh orang lain untuk mencelakai Langit. Dia menilai Langit sebagai ancaman dalam hubungannya dengan Falensia," ucap mommy Arkan.


"Ya Tuhan, aku tidak habis pikir dengan Samudra, mom," kesal Rachel.


"Benar, bukannya fokus untuk membangun rumah tangga. Ini malah menyalahkan orang lain," ujar Jesya.


"Kalian tenaga saja, biar daddy yang mengurusnya. Daddy minta tolong pada kalian berdua untuk lebih memperhatikan dan selalu ada untuk Jennie," ucap daddy Arkan.


"Iya dad, kami akan," ujar Jesya dan Rachel kompak.

__ADS_1


__ADS_2