Langit Akdiasa

Langit Akdiasa
Maaf


__ADS_3

Saat ini pasangan mantan suami Jennie dan Langit sedang duduk di bangku halaman belakang mansion. Jennie masih memegang 3 surat tadi, pandangannya terus melihat ke arah surat-surat itu. Langit membiarkan dirinya untuk diam terlebih dahulu, membiarkan Jennie bersuara. Jennie menarik nafas dan membuang perlahan, hatinya sakit, air matanya mengalir, rasanya lidahnya keluh tidak bisa bertanya tentang apa pun. Tapi, dia harus bertanya tentang semua pikiran yang ada di kepalanya.


"Kenapa?" tanya Jennie berusaha menahan suara tangisnya tidak keluar.


"Hm?" Langit bingung dengan pertanyaan mantan istrinya.


"Kenapa bertindak sangat jauh?" tanya Jennie.


"Bukankah kau kuat Langit. Kau sudah terbiasa dengan semua perlakuan dan ucapan kasarku 'kan. Lalu kenapa sekarang seperti ini?" tanya Jennie yang masih belum menyadari kesalahannya, egonya masih tinggi.


"Hubungan pasangan suami-istri akan berjalan dengan semestinya. Bila suami-istri itu melakukan perannya masing-masing. Jika yang menjalankan peran dalam rumah tangga hanya satu pihak, itu terlalu sulit untuk terus bertahan. Aku memaklumi semua perlakuan dan ucapanmu Miss Jannie, hingga aku mentolerir dirimu yang berselingkuh. Aku sudah bertahan semampuku. Aku menerima kata-kata kasarmu. Aku mengorbankan tubuhku untuk dirimu lukai. But semua berhenti ketika aku melihatmu berada di bawah kungkungan laki-laki lain, yang mana saat itu Miss Jennie masih menyandang status sebagai istriku," tutur Langit dengan tenang.


"Kami tidak melakukan hal lebih, itu hanya kesalahan yang masih bisa kami kendalikan," elak Jennie berusaha menjelaskan.


"Aku bersyukur untuk pernyataan itu," ujar Langit.


"Lalu kenapa kau bertindak sangat jauh. Kesalahanku tidak begitu besar. Kami masih tahu batasan kami. Aku sudah menjelaskan," tuntut Jennie menatap Langit.


Langit berjongkok di depan Jennie dan memegang kedua tangan Jennie yang masih menggenggam 3 surat tadi.


"Bukankah sebelumnya aku sudah mengatakan Miss Jennie. Aku tidak bisa mentolerir sebuah perselingkuhan. Aku


sudah sangat baik untuk bertahan dan mencoba minta penjelasan darimu. Tapi, yang selalu aku dapatkan adalah kata-kata kasar dan lemparan barang-barang. Aku sudah sangat baik karena tidak pergi membawa Lili menghilang begitu saja. Aku mengembalikan dirimu dengan orang tuamu dengan baik-baik, seperti ketika aku meminta restu mereka. Aku sudah mengurus semuanya, Miss Jennie tidak perlu bersembunyi di depan orang tua Miss Jennie lagi. Mereka sudah tahu dan mereka tidak akan marah dengan Miss Jennie," jelas Langit.


Hati Jennie sakit, setelah mendengar ucapan Langit. Langit benar, dulu Langit pernah bilang kesalahan yang tidak bisa di terima Langit adalah sebuah perselingkuhan. Tapi, dirinya justru berselingkuh di depan Langit secara terang-terangan.


"Apa luka yang aku berikan sangat dalam?" tanya Jennie menatap Langit dengan tatapan sendu.


Dia baru menyadari semua kesalahannya, setelah semuanya lepas dari perkiraannya.


"Tidak dapat dipungkiri, itu adalah luka paling sakit yang pernah aku dapatkan," jawab Langit berkata jujur, sebab dia sempat menelantarkan Lili, pekerjaan dan dirinya selama beberapa hari. Namun semuanya kembali pulih perlahan-lahan berkat kehadiran Jesya yang memberikan pengaruh positif di hidup Langit.


"Apa aku masih bisa menjadi obatnya?" tanya Jennie ingin kembali dengan Langit dan berharap mantan suaminya memberi dia kesempatan sekali lagi.


"Maaf," jawab Langit dengan lirih.


"Kenapa? Apa obatnya sudah kau temukan?" tanya Jennie, padahal dia takut dengan jawaban Langit.


"Hm," dehem Langit.


"Siapa?" tanya Jennie mencoba menguatkan hatinya yang teramat rapuh saat ini.


"Dia ada disini," jawa Langit menunduk memandang tangan mereka yang bersentuhan.

__ADS_1


Deg


Hati Jennie lagi-lagi tertusuk ratusan jarum lagi. Obatnya adalah sahabatnya yang sudah dia anggap sebagai unnienya sendiri.


Jennie tidak dapat mendeskripsikan bagaimana lagi hatinya saat ini dan seberapa besar rasa sakitnya, yang dia tahu hari ini adalah hari dia kehilangan semuanya begitu cepat. Mulai dari suami, anak dan sekarang harus melihat suaminya bersama dengan sahabatnya yang sudah dia anggap sebagai unnienya.


"Tidak ada kesempatan terakhir untukku Langit?" tanya Jennie.


"Maaf," jawab Langit masih melihat ke arah tangan mereka.


"Aku akan meninggalkan semuanya, aku akan mengikuti semua keinginan dan perkataanmu Langit. Tolong kesempatan terakhir," mohon Jennie menggenggam erat kedua tangan Langit.


"Maaf Miss Jennie," tolak Langit masih menatap tangan mereka.


"Aku akan memperbaiki semuanya Langit, tolong pegang ucapanku. Kesempatan terakhir Langit, tolong. Aku perlu bersujud dan mencium kakimu? Aku lakukan Langit, aku lakukan. Tapi tolong kesempatan terakhirm" pinta Jennie yang berdiri dan ingin sujud di kaki Langit. Tapi, Langit membawa kembali Jennie duduk seperti semula.


"Maaf Miss Jennie. Apa pun yang Miss Jennie lakukan itu tidak akan merubah yang sudah terjadi pada kita. Aku tidak bisa hidup lagi bersama orang yang sudah memberi luka teramat dalam dan menyakitkan untukku. Cerita yang inginku tulis di lembaran hidupku bukan lagi tentang dirimu. Cerita itu sudah di isi dengan Queen yanh baru. Tujuanku bukan lagi Miss Jennie," ungkap Langit menatap ke dalam mata Jennie yang menangis.


Deg


"Ternyata aku sangat terlambat," lirih Jennie menyentuh wajah Langit, sakitnya bukan main ternyata.


Jennie mengelus dan memperhatikan begitu teliti setiap bentuk wajah Langit, air matanya mengalir. Jennie baru menyadari kebodohannya yang lagi-lagi selalu menyakiti orang di depannya yang begitu tulus ini. Sangat wajar jika Langit lelah dengan dirinya yang begitu egois, siapa yang akan bertahan dengan segala keegoisannya.


Dia akan melihat orang di depannya bersanding bersama sahabatnya. Sakit yang di rasakan Jennie lebih dari tripel kill untuk hatinya. Dia bercerai dengan Langit, putrinya ikut bersama Langit dan sahabatnya akan menjadi istri dan ibu untuk mantan suaminya dan putrinya. Balasan Tuhan benar-benar menyakitkan.


"Kau pasti sangat bahagia," kata Jennie yang terus mengelus pipi Langit.


"Iya, Miss Jennie juga harus bahagia. Walaupun kita tidak di takdirkan untuk bersama, tapi aku dan Lili akan mendoakan hal-hal baik untuk Miss Jennie," balas Langit.


"Rasanya Tuhan tidak akan sudi lagi memberikan aku kebahagiaan, yang Tuhan berikan adalah rasa sakit dan penyesalan terdalam untukku," jelas Jennie.


Langit hanya diam tidak menanggapi kare dia bingung harus menjawab apa.


"Sudah seberapa jauh kau serius dengan Jesya unnie?" tanya Jennie mencoba tersenyum di depan Langit.


"Aku sudah membeli rumah, mobil dan membuat usaha di Thailand untuk masa depan kami. Aku dan Jesya akan menikah secara sederhana di Thailand setelah 3 hari kami tiba di Thailand," jelas Langit tersenyum manis.


"Sangat matang, aku turut bahagia. Aku titip Lili, ya," ujar Jennie tersenyum lalu berdiri dan meninggalkan Langit di bangku taman begitu saja dengan kertas yang sudah jatuh di atas rumput. Langit diam dan terpaku.


***


Jennie masuk ke dalam mansion dengan keadaan kacau. Dia berhenti tepat di depan Lili dan mencium wajah serta bibir putrinya. Setelah itu menatap mata Jesya.

__ADS_1


"Tolong berikan Langit dan Lili kebahagiaan. Aku turut bahagia," setelah mengucapkan itu Jennie pergi keluar dari mansion, menaiki mobilnya.


Sementara Jesya, daddy dan mommy Arkan terpaku dengan ucapan Jennie. Dan tak lama Langit masuk ke dalam mansion dengan keadaan mata sehabis menangis.


"Semuanya baik-baik saja?" tanya daddy Arkan.


"Iya dad. Aku sudah mengatakan yang sebenarnya," jawab Langit tersenyum, dia duduk di sofa sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.


"You okay?" tanya Jesya duduk di samping Langit.


"Iya, kelelahan sehabis menangis," jawab Langit tersenyum manis.


"Dyy," panggil Lili menjulurkan kedua tangannya minta daddynya menggendong dirinya.


"Princess daddy," sapa Langit mencium wajah Lili, hingga membuat putrinya tersenyum kegelian.


"Manisnya," puji mommy Arkan.


"Dad, mom. Kalau begitu Langit dan Jesya pamit dulu, ya," pamit Langit.


"Iya, hati-hati di perjalanan besok. Kabari jika sudah tiba di Thailand, ya," ucap mommy Arkan.


"Iya mom," saut Jesya dan Langit memeluk daddy dan mommy Arkan, lalu pergi ke apartemen Jesya yang sudah lama dia tidak tinggali. Mereka akan bermalam disana, sebelum besok berangkat ke Thailand.


Di dalam mobil.


"Sayang, jangan ganggu daddy. Daddy sedang menyetir sayang," ucap Jesya mencoba untuk melepaskan tangan Lili di lengan baju Langit. Tapi, Lili mencengkeram kuat baju daddynya.


"Biarkan saja, tidak menggangu sama sekali," balas Langit tersenyum manis.


"Iya," saut Jesya tersenyum manis.


Tiba mereka di apartemen Jesya, Lili tidur bersama daddynya di sofa ruang TV. Sedangkan Jesya tidur di kamar. Mereka sangat menjaga batasan. Jesya menyelimuti Langit dan Lili. Lili tertidur setelah di susui oleh Jesya. Setelah selesai memastikan Langit dan Lili aman, Jesya pergi ke kamar untuk beristirahat.


***


Di mansion megah kediaman Jennie. Jennie saat ini sedang meratapi takdir yang diberikan Tuhan padanya. Kehampaan sangat dia rasakan di dalam kamarnya, tiba-tiba memori keluarga kecilnya berputar begitu indah. Dia memperhatikan setiap sudut ruangan, mulai dari tempat tidur khusus Lili, bantal dan posisi tidur Langit. Jennie yang selalu mendapatkan ciuman di pagi hari oleh Langit dan selalu mencium bibir putrinya.


Kenangan itu berputar tanpa izin, mengalir sangat indah. Padahal sudah hampir satu tahun lebih hubungannya dan Langit renggang dan yang paling dia sesali adalah dia melepaskan tanggung jawabnya begitu saja dengan putrinya. Seharusnya dia menyusui Lili hingga usia 2 tahun. Tapi, yang dia lakukan adalah berhenti menyusui Lili di usia 6 bulan.


Dia adalah istri, sekaligus seorang mommy yang sangat buruk. Saat ini Tuhan sedang menghukumnya dengan begitu rasa sakit dalam satu waktu. Lama dalam lamunan penyesalannya, handphone Jennie menerima notifikasi pesan masuk. Ketika Jennie melihat siapa yang mengirimnya dan itu adalah James. Jennie langsung menghapus air matanya dan buru-buru membuka pesan itu.


James : Baby, malam ini kita dinner di tempat biasa. Berdandanlah dengan cantik. Sampai jumpa nanti baby.

__ADS_1


Melihat isi pesan itu, Jennie buru-buru ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dia akan menemui James malam ini.


__ADS_2