Legenda Sang Pahlawan : Another World Of Venatra

Legenda Sang Pahlawan : Another World Of Venatra
38 - Pergilah dari sini !!


__ADS_3

Beberapa saat kemudian


"Ding"


"Rentang Kehidupan Anda Berkurang"


"Ding"


"Rentang Kehidupan Anda Berkurang"


"Ding"


"Rentang Kehidupan Anda Berkurang"


"Ding"


"Rentang Kehidupan Anda Berkurang"


Suara sistem terus memberitahuku bahwa rentang kehidupanku terus berkurang.


"Zhen, sudah cukup." Silvia memaksa dirinya untuk berbicara kepadaku


"Tak apa, sumber kehidupanmu masih belum mengalir dengan lancar" Aku terus memasukkan sumber kehidupanku ke silvia.


"Maaf aku selalu merepotkanmu" ucap silvia dengan tatapan sedih dan kevewa dengan dirinya sendiri.


Tapi di balik kesedihan silvia, dia juga merasa hangat di hatinya, karena di dunia nya tempat silvia berasal tak ada yang memberi perhatian kecuali ibu nya sendiri.


"Kamu tenang saja, ini tak merepotkanku sama sekali" Ucapku dengan suara lembut.


Aku menghentikan kemampuan sumber kehidupan ku saat aku merasakan bahwa sumber kehidupan silvia telah mengalir.


"Baiklah, apa kamu sudah merasa normal lagi ?" Tanyaku sambil mengelus rambutnya yang panjang.


"Iyaa, aku merasa jauh sehat, terimakasih." Ucap silvia.


"Tapi aku masih merasa mual jika melihat mayat hidup itu." Imbuh silvia.


"Tapi mungkin aku butuh bantuanmu, kamu jangan melihatnya, percayakan semuanya padaku, jika aku tiba tiba menyuruhmu menggunakan kemampuanmu, kamu tak perlu mellihat musuh itu, langsung gunakan saja sesuai instruksiku" Aku dan silvia mulai berdiri dan aku langsung memeluk silvia.


"Tenggelamkan kepalamu di dadaku." Aku menyuruh silvia untuk menenggelamkan kepalanya di dadaku agar dia benar benar tak melihat para mayat hidup menjijikkan itu.


Silvia dengan erat memelukku, dia sangat tak ingin melihat mayat hidup yang ada disini


"Raisa, sihir mu termasuk dalam elemen kegelapan kan ? Tanyaku pada raisa yang sibuk melawan para mayat hidup itu. Meski cuma ada 3 mayat hidup. Ini sangat merepotkan.


"Iya tuan, Elemen sihirku adalah kegelapan dan air (air darah)."Jawab raisa


"Kenapa tuan?" Imbuh raisa sambil memicingkan mata kecilnya


"Tidak apa apa, hanya saja musuh kita kali ini lebih mudah di kalahkan jika menggunakan sihir cahaya, kebalikan dari sihir kegelapan, aku ingin menyuruh silvia untuk menggunakan sihir cahayanya."


"Tapi tak mungkin untuk keadaanya saat ini" Ucapku lewat telepati sambil memikirkan bagaimana caranya untuk mengalahkan si mayat hidup ini


"Apa tuan tak bisa membuat sihir lain yang mempunyai kekuatan elemen cahaya ?" Celetuk raisa tiba tiba


"Aku mungkin bisa, tapi butuh waktu yang cukup lama, apalagi ini elemen cahaya" jawabku dengan jujur Elemen cahaya adalah elemen yang paling sulit di mengerti, karena itu terkait sumber kehidupan nya.


Di zaman ini bahkan hanya para pendeta yang bisa melakukanya atas izin para dewa dewi.


"Raisa, lepaskan mayat hidup itu, biarkan dia melawanku, silvia beri aku pemulihan mana" Perintahku kepada mereka berdua sambil menyalurkan mana ku pada pedangku.


"Baik tuan". Raisa langsung membubarkan kalelawar anak buahnya .


Mayat hidup langsung menuju ke arahku


"Aghh.. huwagggh Suara geraman dari 3 mayat hidup.

__ADS_1


Aku melihat status dari mayat hidup itu.


"Status monster"


Ding"


Nama : mayat hidup zombie


Level : 1 5


Kekuatan : 1 9


Kekuatan sihir : 2 2


Stamina : 1 4


Kecepatan : 1 5


Ketahanan : 1 5


Inteligen : 1 7


Kesehatan : 3 0 0


Mana : 8 5


Skill kemampuan :


Ilusi : menciptakan ilusi untuk menipu lawan / musuh nya


Gigitan : menggigit lawan untuk mengambil sebagian dari darah musuh


Pukulan kematian :  memukul lawan dengan di selimuti aura kematian yang kental


Terkaman : dengan kuku yang panjang, mayat hidup dapat menembus kulit musuh hingga berdarah darah


Monster yang baru mati dan akan menjadi mayat hidup seutuh nya, tubuhnya masih belum stabil.


Aku melihat mayat hidup yang menujuku dan melihat arnold yang duduk jongkok sambil menutupi telinga nya di pojok sudut ini.


"Kenapa dia takut sekali?"


Aku tak terlalu memikirkan arnold dan mulai menggunakan pedangku untuk menebas leher mayat hidup itu.


"Slash"


Dengan mudah nya pedangku telah menebas bersih leher kepala mayat hidup itu.


"Ding"


"Anda mengalahkan mayat hidup zombie"


"Anda mendapatkan poin pengalaman sebesar 300"


Pemberitahuan dari Sistem terdengar.


"Ah, aku baru benar benar menyadari bahwa makhluk hidup punya beberapa kelemahan yang fatal, salah satu kepala dan juga leher nya. Tapi kenapa saat di tutorial itu seakan akan susah sekali untuk melawan monster nya"


"Aku ingat saat aku pertama kali menebas kepala sponge choco tapi dia tak mati seketika (di eps ke 5 tentang tutorial lantai pertama). Mungkin ini kehendak dewa dewi untuk menyulitkan di lantai tutorial sedangkan saat di dunia vetrana ini akan lebih mudah untuk mengalahkannya" Aku berpikir sendiri dan tersenyum sendiri karena aku pikir ini akan mudah untuk melawan monster monster di dunia vetrana ini.


Karena kebanyakan berfikir aku melupakan mayat hidup yang lain nya. Mayat hidup satu nya ingin menerkam silvia dan satu nya memukul kepalaku


"Ini takkan sempat untuk menghindari nya" Aku mengambil keputusan dan menebas leher mayat hidup yang akan menerkam lehernya.


"Slashh" Pedangku memotong putus kepalanya


"Pruookk"

__ADS_1


Aku terkena pukulan di pipiku dan rentang hidupku berkurang lagi.


tanpa pikir panjang aku langsung menusuk pedangku ke perut mayat hidup dan langsung menebas dada nya.


Tak lama lama, aku pun segera memotong lehernya. Saat kepala mayat hidup itu terpotong, aku mendengar sebuah kalimat dari kepala mayat hidup itu.


"Pergilah dari sini!!!"


3 kata dari nya yang aku masih tak mengerti.


"Apakah dia menyuruhku untuk meninggalkan tempat ini?" Gumamku dalam hati


"Apakah kamu mendengar ucapan dari nya ?" Tanyaku pada silvia dan raisa.


Sayangnya silvia dan raisa tak mendengar apapun.


"Arnold, mari kita lanjutkan". Ucapku pada arnold yang sedang gemetar di pojok.


"Ah, dimana para mayat hidup itu ?" Ucap arnold sambil melihat sekeliling


"Kenapa kamu begitu takut?" Tanyaku pada arnold.


"Bu, bukan begitu, ah iya, aku benar benar takut dengan mayat hidup"


Ucap arnold dengan terbata bata Aku sekarang benar benar curiga dengan nya.


"Apakah ada yang kau sembunyikan dariku ?" Tanyaku kepada nya


"Tida kkk.. aku aku aku tak menyembunyikan apapun" Arnold masih terbata bata


"Jika kamu terbukti menyembunyikan apapun itu, pedangku ini akan menebas lehermu" Aku menggertak nya


Aku sudah benar benar curiga denganya. mungkinkah mayat hidup itu menyuruhku untuk pergi dari tempat ini. Aku menghela nafas panjang dan aku membawa silvia untuk masuk ke sebuah perumahan yang ada di tempat itu.


"Kenapa kamu masuk ke sana,? Itu bukan yang kita tuju" Arnold tiba tiba bicara dan dari bicaranya seakan akan dia menyuruhku dan silvia untuk harus mengikuti nya ke area bawah tanah.


"Apakah aku tidak boleh masuk ke perumahan ini ?" Tanyaku untuk memancingnya sambil tersenyum lebar.


"Bukan begitu, begini, itu itu perumahan bukan milikku, dan bukan milikmu. Kita tak punya hak untuk memasukin nya kan? Hehe" ucap arnold sambil cengengesan dan menggaruk kepala nya


"Aku akan mengikutimu, setelah aku menidurkan kekasihku disini!" bentakku dengan suara sinis sambil memelototi Arnold.


Arnold diam bergidik ketakutan


Aku pun masuk ke perumahan dan mengistirahatkan silvia di sebuah kamar, silvia tak ingin melepaskanku saat itu, tapi aku masih harus mengikuti arnold ke ruang bawah tanah dan melihat situasi nya


"Aku akan segera kembali, kamu disini bersama raisa dulu, dan jangan membayangkan mayat hidup itu tadi"


"Raisa, jaga silvia untukku" Silvia akhirnya melepaskanku dan raisa menggangguk angguk atas perintahku.


Aku mengecek keseluruhan rumah itu dan tak menemukan apapun yang mencurigakan, akhirnya aku keluar dan menutup pintu rumah itu agar tak ada yang bisa masuk selain aku.


"Mari kita pergi arnold" Arnold pun di depanku dan menunjukkan jalan nya untukku.



 jika ada saran atau kritikan.


kalian bisa berkomentar


terimakasih



jangan lupa like ya dan kasih bintang 5


 

__ADS_1


__ADS_2