
Setelah suara dari sistem berhenti berbunyi..
"Tuan putri, mengenai invasi monster selanjutnya. Apakah tuan putri sudah mengetahui kapan terjadinya." Aku memberanikan diri untuk bertanya pada Tuan Putri.
"Untuk saat ini, Aku belum bisa memastikannya." Jawab Tuan Putri sambil menghela nafas panjang.
"Aku hanya memperkirakan bahwa invasi Monster akan terjadi besok malam." Tambah Tuan Putri.
"Baiklah Tuan Putri. Jika tak ada yang lain, kami akan kembali istirahat tuan putri." Aku dan silvia berniat keluar dari istana.
"Tungguuu!!!"
"Bawa ini bersama kalian." Ucap Tuan putri dan menerbangkan 2 mutiara ke arahku dan silvia.
Aku seketika melihat item itu dan langsung berterikasih kepada Tuan Putri.
"Terima kasih, kami akan kembali Tuan putri." Aku dan silvia menundukkan kepala memberi rasa hormat kepada Tuan Putri.
*-*-**-*-*-*
Aku dan Silvia sudah berada di luar istana megah.
"Ehe, Mutiara ini indah sekalii, kalau di bawa ke duniaku pasti laku mahal, hehe." Silvia kegirangan seperti anak kecil yang mendapatkan mainannya.
"Hehe, item mutiara ini sangat berguna bagi kita untuk menetralkan hawa dingin yang ekstrim. Jika kamu mau menjualnya, dipikir pikir dulu aja, Haha." Ucapku yang berniat bercanda.
"Sebelum itu, apa kamu menyukai Tuan Putri? Aku melihatmu saat kamu menatap wajahnya, kamu bahkan terlihat terpesona olehnya, Hmm." Ucap Silvia dengan cemberut.
"Bukan begituuuuuuuu, Aku hanya mengaguminya saja. Ternyata ada wanita yang bisa di bandingkan dengan pasangan sejatiku." Ucapku sambil memegang pipi Silvia.
"Lepaskan tanganmu, Aku tak percaya itu. Humpppppt." Silvia makin menggembungkan pipi nya serta mulutnya menyucur.
"Jika ada tali pasti ku ikat tuh mulut😅" gumamku dalam hati.
"Hehhe, jangan gitu dooongggg. Maafkan aku, apa yang kamu inginkan sekarang? Biar kamu tak cemberut gini." Tanyaku pada Silvia yang masih Cemberut.
"Nah gituuu dooonggg, ehe. Aku mau berkeliling ke pusat kota ini, hehe." Silvia menarikku dan akhirnya aku menuruti kemauannya.
"Oh iya silvia, Sekalian kita cari mansion nya si Zhiev yang telah membawa Anak anak." Ucapku kepada Silvia yang kegirangan melihat lihat sekelilingnya.
"Ehe, baiklah tuan." Ucap silvia dengan bercanda.
Silvia terus melihat lihat sekelilinh dan tiba tiba dia terdiam saat melihat sebuah toko baju yang ramai di depannya.
"Apa kamu mau mampir ke toko baju itu?" Tanyaku pada silvia yang sudah terlihat ngiler ingin ke toko baju.
"Aku mau, tapi..."
"Tak apa, mari kita masuk terlebih dahulu." Sebelum Silvia menyelesaikan ucapannya, aku mendorong Silvia untuk masuk.
__ADS_1
"Selamat datang wahai pasangan muda. Silahkan melihat lihat pakaian yang disini" Seorang laki laki dan wanita menyambutku dan Silvia. Silvia tersenyum malu malu karena disebut pasangan muda.
"Ayo kamu pilih dan ambil yang kamu mau!!" Ucapku kepada silvia yang sudah terpesona dengan baju baju yang di dalam toko baju.
Silvia di dunianya tak begitu pernah memakai pakaian yang indah, jadi aku ingin dia dapat memakai pakaian yang indah dan menawan di dunia Venatra ini.
"Nih Cocok untukmu pakaian kesukaanmu." Silvia memilihkan aku jaket hoodie hitam dengan penutup kepala.
"Ehh, Bagaimana kamu tahu bahwa aku menyukai Jaket Hoodie?" Aku bertanya keheranan karena aku benar benar tak pernah bercerita ke Silvia tentang pakaian apa yang aku sukai.
"Hehe, jangan remehkan insting seorang wanita yang telah jatuh cinta." Silvia menjawab dengan centil.
Aku hanya tersenyum dengan jawaban dari Silvia.
Setelah memilih banyak hal. Aku dan silvia berjalan ke arah kasir.
"Apa bisa semua hal ini kubayar dengan ini?." Aku bertanya kearah si Kasir dan mengeluarkan item permata kecepatan level 3.
"Apa ini permata asli tuan ?. Permata ini berlevel menengah tuan. Bahkan jika anda membeli toko baju ini pun anda bisa tuan." Si kasir melihat lihat permata yang aku keluarkan. Jika dilihat lihat, permata ini berwarna kuning dengan perpaduan merah yang menambah keindahannya.
"Apaaaa?" Aku terkejut dengan pernyataan si kasir.
"Kalau begitu, kami bayar dengan permata itu. Tapi kami hanya akan mengambil baju yang sudah kami pilih." Tambahku dan segera keluar dari toko baju.
"Terima kasih tuan." Semua pegawai di tempat itu bersyukur karena mendapatkan sebuah permata yang berharga.
"Sil, tempatkan pakaianmu itu kedalam Sistem, setelah itu kita mencari mansion nya si Zhiev." Silvia segera menurutu saranku.
Saat kami akan mengetuk pintu mansion. Aku teringat hal yang fatal bagiku...
"Eh Sil, Aku melupakan pedangku." Ucapku sambil menepuk jidatmu.
"Ah, bagaimana kamu bisa melupakan nya? Dimana kamu melupakannya?" Tanya Silvia yang mejadi panik.
"Aku melupakan nya di Episode 48 saat aku melawan si Raja Bodoh." Ucapku yang membuat silvia kebingungan.
"Aku melupakan pedangku saat di area bawah tanah sil." Aku segera membenarkan ucapanku dan silvia pin terkejut.
"Loh, lalu bagaimana ini? Apa kita akan kembali kesana.??" Tanya Silvia kepadaku.
"Hmmm, tak usahlah, lupakan. Nanti aku akan bertanya pada Zhiev mengenai persenjataan disini." Ucapku sambil mengetuk pintu mansion.
"Tok tok tok tok tok"
Mansion pun terbuka dan ada gadis cantik di baliknya yang membuat aku tertegun.
"Haloo Natasha." Silvia menyapa Natasha yang telah berubah dari gadis yang tak bersih menjadi gadis yang begitu cantik.
"Halo kakak, mari masuk kak." Jawab silvia dan menyuruh kita masuk.
__ADS_1
"Eh natasha, bagaimana kamu bisa secantik ini sekarang?" Aku yang masih belum percaya dengan apa yang aku lihat.
"Hehe, dari awal aku cantik kak." Jawab Natasha dengan senyumnya yang paling indah.
"Aaghhh." Silvia yang di sampingku tiba tiba mencubit pinggangku.
"Kenapa sihhh.?" Tanyaku pada silvia sambil meringis kesakitan.
"Hummpph." Silvia hanya menjawabku dengan satu kata dan cemberut.
"Haduuuhhh, ini benar benar merepotkan." Gumamku dalam hati.
"Sil, ingat kata kataku ini. Meski banyak wanita cantik di dunia ini, aku akan selalu memilihmu, jadi jangan cemberut donggg. Hanya kamu yang paling cantik di hatiku." Ucapku sungguh sungguh.
"Natasha, antar aku ke kamarmu terlebih dahulu." Silvia memerah, pipinya memerah tomat dan tiba tiba mengajak natasha menjauhiku.
"Apa aku salah lagi?" Ucapku pelan dan tertinggal di belakang karena di tinggal mereka.
"Ehehehe." Natasha cengengesan karena mendengar perkataanku tadi.
*-*-*-*-*-*
Singkat cerita. Aku dan Silvia harus berbagi kamar tidur karena kamar di mansion ini sudah penuh ditempati Anak anak.
"Kamu mandi dulu sil, aku ingin istirahat bentar dan melihat si Raisa yang sejak tadi diam saja." Ucapku pada silvia yang menunduk disampingku.
"Eehm. Itu, iya baiklah." Silvia buru buru masuk ke kamar mandi yang berada di kamar tidur yang kami tempati.
Aku tersenyum dengan tingkahnya dan memanggil si Raisa agar keluar tapi tak ada jawaban sama sekali dari nya.
"Raisa, kamu kenapa ?"
Aku terus bertanya tapi tak ada jawaban.
Tiba tiba sistem terdengar memberitahuku mengenai Raisa.
"Ding"
jika ada saran atau kritik silahkan berkomentar ya kakkkk. agar ceritanya menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.
Makasihhh.
jangan lupa like, rate bintang 5 and vote nya kak. ehe, biar makin semangat yang nulis. ehe.
__ADS_1
Â