
Semua 4 pemimpin pasukan sudah berkumpul di ruang tamu di kediaman Zhiev. Aku dan Silvia juga mengikuti pembahasan strategi penahanan invasi.
"Saya akan menjelaskan bagian besarnya." Zhiev memulai pembahasanya dan membuka peta kota evanest diatas meja.
"Jadi, sebanyak 50.000 pasukan tengkorak telah menuju ke kota kami, tepatnya mereka akan menyerang di bagian di perbatasan timur kota yang pasukan yang menjaga perbatasab timur disana di pimpin oleh Ragnar. Sedangkan semua pasukan jika dikumpulkan menjadi 1 itu tak lebih dari 50.000." Penjelasan dari Zhiev begitu jelas dan tak bertele tele sambil menunjuk perbatasan barat di peta yang ia siapkan.
"Maaf menyela, jika semua pasukan menjaga di 1 titik perbatasan, bukannya ini akan menjadi kekalahan kita? Jika ada monster yang menyusup dan menyerang selain dari perbatasan timur?" Ucap Lily. Meski Lily adalah pemimpin yang terlemah dari pemimpin pasukan lainnya. Namun, kalau soal pemikirin strategi, ia adalah yang terbaik dari lainnya.
"Serta, lebih tepatnya kita hanya punya 40.000 pasukan yang siap bertarung besok malam, sejak 2 kali serangan invasi monster pada 1 minggu ini, banyak yang mengalami luka bahkan tak sedikit yang mengalami kematianya di medan perang." Tambah Lily.
"Jadi apa yang kamu usulkan disini?" Tanya Vir si maniak pedang pada Lily.
"Begini, Aku mengusulkan untuk menggunakan burung phoniex es dan kita melawan mereka dari udara. Karena dari pengalaman 2 x pertempuran melawan pasukan tengkorak, mereka selalu menggunakan pertempuran jarak dekat tanpa ada yang menggunakan sihir jarak jauh." Usul Lily.
Aku, Silvia dan Ragnar hanya diam dan mendengarkan denga seksama. Ragnar tak terlalu pintar dalam berstrategi, namun kalau soal kekuatannya. Ia yang nomor satu daripada pemimpin lainnya.
"Tapi, jika kita menggunakan burung phoniex es, apa kita benar benar bisa menjamin keselamatannya? Karena burung phoniex es yang kita punya tak lebih dari 10. Jika burung phoniex kita mati, kita sendiri yang bakalan repot untuk mengurus hal yang lainnya." Zhiev berpendapat. Karena burung phoniex es adalah alat transportasi utama saat adanya invasi monster.
"Ehem, Aku mendukung pendapat Lily. Jika pasukan tengkorak tidak ada yang bisa menggunakan sihir jarak jauh. Lebih baik menggunakan burung phoniex es dan menyerang dari udara. Yang menjadi tombak utama dalam penyerangan lewat udara, sebaiknya adalah Zhiev dan pasukannnya yang rata rata ahli dalam melakukan serangan sihir jarak jauh." Ucapku sambil melihat ke arah Zhiev dan Lily.
"Benar, itu lebih baik. Lalu Zhiev dan pasukannya yang menyerang dari udara, utamakan menyerang pasukan tengkorak yang di tengah ke belakang. Dan pasukan tengkorak bagian depan, serahkan kepadaku, Vir, Ragnar dan juga para pahlawan." Ucap Lily.
"Aku memilih ini karena jika kita terus terusan melawan pasukan tengkorak lewat jalur darat, otomatis dari pihak kita akan lebih banyak yang mengalami kematian dan cidera. Aku benar benar tak bisa jika melihat para pasukan perlahan mati karena kesalahan strategi yang diterapkan oleh kita." Imbuh Lily yang terlihat mengalami trauma dengan sesuatu yang bernama kematian dan luka.
"Aku mendujung Lily, aku akan menebang kepala mereka dengan kapakku. Percayakan pada kami, kami pasti akan membabat habis pasukan tengkorak bagian depan ke tengah." Ucap Ragnar dengan semangat, seperti ingin bertarung lagi. Padahal dia habis mengalami kekalahan pahit saat melawanku.
"Ragnar iniiii, si maniak pertarungan seperti Zhiev." Gumamku dalam hati.
"Aku mendukung Lily, sedangkan untuk di perbatasan selain timur kota. kita masih harus berjaga jaga dan menempatkan pasukan kita minimal 500/ 1000 di setiap perbatasannya." Ucap vir tanpa ekspresi.
"Aku juga mendukung pendapat Lily, Aku akan membantu di belakang pasukan utama yang menjaga kesehatan dan memberi buff pada kalian." Ungkap Silvia yang dari awal diam.
"Hmmm, jika seperti itu. Baiklah, Aku akan menyiapkan burung phoniex es dan juga pasukanku yang paling hebat dalam sihirnya. Meski begitu kita hanya bisa membawa 25 orang untuk menaiki burung phoniex es nya." Ucap Zhiev sambil menghela nafas.
__ADS_1
"Jadi hanya 200 orang yang akan menjadi pasukan unit udara." Tambah Zhiev.
"Itu tak apa, jika ada sesuatu yang menurutmu itu membahayakan bagi pasukan unit udara yang kamu bawa, kamu harus segera kembali dan bergabung bersama kami." Ucap Lily menyarankan agar Zhiev selalu waspada.
"Aku akan" Jawab Zhiev.
"Kita ya masih harus menunggu surat dari pimpinan kita, jika tak ada perubahan mengenai pasukan monster/musuh yang akan kita lawan. Kita akan gunakan strategi yang akan telah kita bahas tadi." Ucap Lily yang membuat ku bingung mengenai pimpinan yang diucapkan Lily.
"Tunggu tunggu, pimpinan ?" Tanyaku pada semua orang.
"Iya, dia adalah pemimpin utama dari pasukan kita. Kita disini adalah bawahan langsung darinya. Meski begitu kita tak pernah bertemu denganyaa." Ucap Zhiev sambil menggelengkan kepalanya.
"Pemimpin terlalu misterius." Ucap vir yang sekali lagi tanpa ekspresi.
"Haha haha, yang kutahu pemimpin adalah orang yang kuat." Ucap Ragnar yang membuatku ingin menutup tawa kerasnya.
"Jadi seperti itu, lalu apa dia akan membantu dalam pertarungan kita besok?" Tanyaku pada para pemimpin pasukan.
"Benar benar misterius." Responku terhadap ungkapan Lily.
"Jika sudah selesai, mari kita akhiri pembahasannya." Ucap Zhiev dan segera mengakhiri.
"Sebelum diakhiri, aku mohon kerjasamanya dengan kalian semua. Saya tak begitu pandai dalam pertarungan. Namun, aku akan siap siaga jika ada yang terluka dan memerlukan pengobatan." Silvia tiba tiba berdiri dan sedikit membungkukkan ke arah semua yang hadir ini.
"Iya nona pahlawan," semua yang hadir merespon dan mengangguk angguk kecuali aku. Silvia pun duduk kembali.
"Hmm, untuk jaga jaga aku akan menyuruh raisa agar berada dekat siivia saat invasi monster terjadi." Pikirku dalam hati.
"Oh iya, disekitar sini apakah ada toko yang menjual pedang?" Aku teringat bahwa aku sekarang tak mempunyai pedang dan bertanya pada mereka yang hadir disini.
"Jika tuan ingin pedang, datanglah ke Vir, dia maniak pedang." Jawab Zhiev dengan sopan.
"Mari ikut denganku tuan, kita jalan jalan dan mencari toko pedang." Jawab Ragnar yang bebarengan dengan jawaban Zhiev.
__ADS_1
"Hmm, ikutlah denganku. Jika kamu ikut Ragnar kamu hanya mengalami kesulitan." Ucap Vir dengan tanpa ekspresi dan berjalan keluar dari kediaman Zhiev.
"Hehe hehe." Silvia dan Lily tersenyum dan ketawa kecil.
"Baiklah, aku akan ikut denganmu Vir." Ucapku pada vir dan segera mengikutinya.
"Oh iya, Kamu disini saja Silvia bersama Zhiev dan lainnya." Saranku pada Silvia. Ia langsung mengangguk angguk.
"Tuan, aku ikuuuttt." Ragnar tanpa persetujuanku pun mengikutiku.
"Haissshhhh" Aku menghela nafas panjang dan mengikuti Vir ke tempatnya..
Jika ada saran atau kritik dipersilahkan.
Jangan lupa rate bintang 5.
Like and vote
Subscribe paporit.
episode selanjutnya mengenai pedang misterius yang ditemukan MC.
Terimakasih
__ADS_1