
Sayangnya, itu dengan mudah di hancurkan oleh tangan-tangan itu. "Kurotama, apa kita bisa membuat aura kematianmu menjadi sebuah tangan sepertinya?" tanyaku pada Kurotama.
"Itu tidak mungkin untuk saat ini," jawab Kurotama terus terang.
Jadi untuk saat ini tak bisa, tapi lain kali kemungkinan besar dapat dilakukan." Baiklah, keluarkan aura kematianmu Kurotama, hisap manaku sebanyak yang kau inginkan," perintah Raizhen. Kesehatan dan mana Raizhen masih dalam keadaan penuh setelah menggunakan kemampuan regenerasinya.
Iblis Zagred terus mengincarku dengan tangan bayanganya dan sesekali ku tangkis dengan pedangku.
"Tuan, fokuskan manamu dan bayangkan aura kematian menyelimutimu," saran Kurotama. Aku mendengarnya dan memfokuskan manaku serta menghindari serangan dari Zagred.
Sebuah aura kematian perlahan menyelimutiku dan pedangku, Kurotama. Iblis Zagred yang melihat kejadian ini matanya tiba-tiba terbuka lebar dan makin ganas di setiap serangannya.
Iblis Zaagred bergegas ke arahku dan menggunakan belatinya dan diarahkan ke dadaku. Detik berikutnya, muncul sebuah petir dan memborbardir iblis Zagred.
"Tuan ..." suara yang sangat familiar terdengar di pikiranku. "Apakah tuan baik-baik saja?"
Aku menoleh ke kiri dan melihat Raisa dengan wujud kalelawarnya. "Aku baik-baik saja, gimana keadaanmu dan Silvia?" tanyaku khawatir dengan keadaan Silvia.
Raisa segera menjawab. "Kak Silvia baik-baik saja, ia bersama tuan putri dan Lily. Lebih tepatnya kak Silvia memberi mana kepada tuan putri dan kesehatan kepada Lily yang bertarung." Aku yang mendengarnya merasa lega, setidaknya dia bersama Lily dan pasukannya.
Di sisi lain, Iblis Zagred yang terkena petir dadakan dari Raisa perlahan mengungkapkan sebuah sosok Zagred. Matanya memerah memelototi ke arah Raisa, dia seolah-olah marah dan terlihat terluka.
Raisa yang melihat tatapan iblis Zagred seperti tak ada rasa takut danĀ segera berkata kepadaku. "Aku akan membantumu tuan."
"Tuan, setelah ini, tuan putri akan menggunakan kemampuannya untuk mengurangi kemampuan dari pengguna sihir elemen kegelapan. Tuan harus bersiap," ucap Raisa dalam pikiranku. Aku hanya mengangguk setuju dan teringat hal yang penting. "Bukannya elemenmu dan elemen si Kurotama sama-sama berelemen kegelapan?" tanyaku kepada Raisa.
"Itu tuan, kemampuan tuan putri hanya berlaku untuk musuh," jawab Raisa. Aku pun segera menjawab cuek. "Oh"
Aku menoleh ke belakang dan melihat Vir, Ragnar dan Feifei yang bertarung habis-habisan. Meski begitu, Hybrid Cimera terunggulkan untuk saat ini. Sedangkan Feifei terlihat lelah, dia sejak awal bertarung di garis depan sudah sewajarnya jika dia lelah. Selain itu Ragnar dan Vir masih terlihat semangat meski ada beberapa luka.
Detik kemudian, aku fokus dengan musuh yang di depanku yang tak lain adalah si Iblis Zagred.
Mata Iblis Zagred dan mataku bertemu, ia hanya tersenyum licik dan tiba-tiba menghilang ke udara tipis.
Aku mengamati sekitar, Raisa yang terbang di atasku pun sama. "Tuan, ia pergi ke arah belakang." Kurotama mendadak mengingatkan, pikiranku tiba-tiba memikirkan Silvia dan tuan putri yang dibelakang.
__ADS_1
"Eh tuan, auranya menghilang," tambah Kurotama yang membuatku ragu. Aku menoleh ke belakang dan melihat semua pasukan tengkorak perlahan pudar, si Hybrid Cymera juga perlahan menghilang.
"Maksutnya apa ini? Apakah ini Ilusi lagi?" Aku terus mengamati sekitar dan bertanya-tanya.
"Berkumpul!!" seru Feifei yang terdengar ke segala arah medan pertempuran. Aku segera bergegas dan bergabung dengan Feifei dan lainnya.
Saat aku sudah berkumpul, aku segera bertanya kepada Feifei. "Apa yang terjadi? Bagaimana mereka tiba-tiba menghilang?"
"Kita hanya bisa berjaga-jaga untuk saat ini, aku juga tak begitu mengerti apa.yang terjadi dan apa.yang akan terjadi." jawab Feifei dan terus mengamati sekitar.
Tak lama kemudian grup Zhiev, Tuan putri, Lily dan Silvia berkumpul. Silvia maju dan melangkah ke arahku. "Apa kamu baik-baik saja?" Silvia beryanya dan spontan memelukku.
"Aku tak apa, terimakasih," jawabku dan segera membalas pelukan Silvia.
"Dalam pandangan masa depanku, tak ada jejak guru, Maksutku sudah tak ada jejak iblis Zagred dan antek-anteknya," kata Tuan Putri. "Saat kalian terkena ilusi, aku mendapati pandangan sekilas masa depan dan akhirnya aku segera meminta semua pasukan yang siap dan menyusul kalian. Untungnya, itu tepat waktu," tambah Tuan Putri.
"Jadi tuan putri sekarang tak melihat pandangan masa depan mengenai inlis Zagred?" tanya Zhiev.
"Benar, mereka seakan-akan lenyap dari dunia ini," jawab Tuan putri.
Tak lama kemudian, matahari mulai muncul menampakkan warna indahnya, menampakkan cahaya yang menyilaukan dan menghangatkan jiwa.
Aku melihat Vir Dan Feifei yang penuh darah dan spontan menyuruh Silvia untuk menyembuhkan mereka berdua. Silvia segera memulihkan kesehatan Feifei dan Vir.
"Mari kita kembali," ucap Tuan putri memutuskan. "Dia takkan muncul karena matahari adalah kelemahan terbesar mereka. Kekuatannya akan menurun 25% sampai 50%nya." Tuan putri menjelaskan.
"Baiklah, mari kita kembali." Feifei pertama menjawab dan selesai penyembuhannya.
Ragnar, Vir, Lily dan Zhiev segera memerintahkan pasukannya untuk berkumpul dan segera kembali.
"Tunggu, bukannya ini aneh? Apa mereka iblis Zagred dan pasukan tengkorak meninggalkan tempat ini dan tak kembali untuk menyerang kota Evanest?" tanyaku kepada mereka semua yang hadir.
"Tenanglah tuan pahlawan, mereka tak akan hadir malam nanti." jawab Tuan putri santai dan seolah-oleh berniat untuk membuat pasukannya merasa tenang.
"Baiklah jika seperti itu," jawabku.
__ADS_1
Akhirnya mereka kembali ke kota Evanest, sesampai di kota Evanest, semua pasukan beristirahat dulu dan bersiap pertarungan di masa depan.
Semua orang buyar ke kesibukan masing-masing kecuali Silvia, Feifei, tuan putri dan aku. Selain itu, Raisa pergi kedalam diriku.
Tuan putri memandang ke arahku dengan tatapan tak percaya. jika dilihat dengan jelas, wajah tuan putri sedikit pucat. "Tuan pahlawan, kamu sudah terkutuk. Pedang yang kamu gunakan adalah pedang kematian. Pedang yang telah membasmi manusia ratusan ribu."
Saat ucapan tuan putri selesai, aku seperti tersambar petir.
"Tuan pahlawan, sebaiknya kamu lepas pedang itu, aku sekilas melihat masa lalu dari pedang itu. Pedang tersebut bukan berasal dari dunia ini dan sangat berbahaya," tambah Tuan putri yang menjadi sangat lucat sekarang. Feifei yang di sampingnya segera mengeluarkan sebuah manik dan membuat Tuan outri untuk meminum manik tersebut. Perlahan namun pasti raut wajah tuan putri perlahan normal dan cerah kembali.
Sedangkan Aku yang mendengar ucapan dari Tuan putri menjadi bingung untuk sesaat. Silvia yang disampingku memegang jari jemari tangan kiriku dan mencoba untuk membuat aku berpikir jernih.
Dan akhirnya aku bertanya. "Tuan putri, meski pedang ini telah membunuh ratusan ribu orang. Apakah kamu tahu penyebabnya? Apa yang membuatnya membunuh seseorang sebanyak itu? Selain itu, dia ini pedang, ia pasti ada yang menggerakkan pedang tersebit dan akhirnya membunuh manusia ratusan ribu."
"Dan sesuatu yang pasti, aku bukanlah dia, bukannya aku tak menuruti saran darimu tuan putri. Tapi aku benar-benar sudah terikat dengan pedang hitamku ini, Maafkan aku tuan Putri," aku memohon maaf dengan tulus.
Feifei yang di samping Tuan putri terlihat ingin mengucapkan sesuatu. Namun ditahan oleh tuan putri.
"Semoga kamu selalu menjadi tuan pahlawan," ucap Tuan putri dan segera kembali ke istana.
Aku menghela nafas panjang, aku sudah mengetahui bahwa pedang Kurotama bukanlah dari dunia ini.
Silvia yang di sampingku menarik tanganku dan berjalan menuju mansion Zhiev.
Sesampainya di mansion Zhiev, Silvia dan aku segera tidur. Sayangnya, Suara Kurotama membangunkanku. "Tuan, apa kamu mau mendengar ceritaku?...
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberi saya like atau saran supaya cerita ini lebih bagus.
Jika kalian berkenan. kalian bisa baca novel dari kakakku yang berjudul "Menggapai Pelangi" dengan genre Action, Romance dan Comedy.
__ADS_1
Ceritanya bagus kok dan sangat cocok buat kalian yang suka genre romantis komedi.