Legenda Sang Pahlawan : Another World Of Venatra

Legenda Sang Pahlawan : Another World Of Venatra
59 - Bunuh Diri Telah Dimulai


__ADS_3

Di perbatasan timur.


Feifei dan puluhan pasukan telah bersiap dan segera berangkat ke arah barat menyergap para pasukan tengkorak yang makin mendekat.


Zhiev yang didekatku segera menemui Feifei untuk memastikan. "Kapt, apa kita kesana menggunakan burung phoniex es?"


Feifei menatap ke arah Zhiev, lalu kearahku. "Kita akan menggunakan burung phoniex es. Kecuali aku, pasukanku dan tuan pahlawan yang akan lewat jalur darat berlari menyusuri jalan."


"Namun, kalian yang menggunakan burung phoniex. Terbanglah setinggi tingginya dan jika kalian menemukan tanda tanda mengenai pasukan tengkorak, beritahu aku lewat telepati seperti yang biasa kita lakukan saat bertukar informasi," tambah Feifei kepada semua orang, terutama kepada Zhiev selaku penanggung jawab pasukan yang menggunakan jalur udara.


"Baik," jawab semua pasukan.


"Zhiev, kami akan pergi dulu. Mari tuan pahlawan," ucap Feifei dan segera pasukan jalur darat menghilang ditempat dan meninggalkan Zhiev bersama pasukan udara.


Beberapa saat kemudian.


"Wah, pasukan yang dipimpin Feifei ternyata semua mengedepankan kecepatan masing masing. Meski begitu mereka pasti gampang lelah," lirihku pelan saat melihat pasukan darat yang berlari begitu cepat.


Tiba tiba ada suara yang mengagetkanku. "Kamu jangan berfikir bahwa pasukanku gampang kelelahan. Mereka sudah mengalami pelatihan berat, bahkan mereka masih kuat jika berlari selama 6 jam dengan kecepatan maksimalnya."


"Bukannya kamu yang kelelahan? Hehe," imbuh suara itu yang tak lain adalah Feifei.


"Nih wanita, kenapa jadi sok akrab sih," gumamku sendiri dalam hati.


Aku mengabaikan pertanyaan Feifei dan segera bertanya padanya hal yang lain. "Berapa lama kita akan mencapai pasukan tengkorak?"


"Menurut perhitunganku, kita akan sampai dalam 55 menit," jawab Feifei


"Pasukan tengkorak yang pernah kami lawan, sangatlah lambat jika dibandingkan dengan kecepatan kita. mungkin kita bisa mengalahkan banyak untuk itu," tambahnya percaya diri.


"Semoga,"


"Namun, kenapa perasaanku tak tenang saat ini?" Gumamku dalam hati.


***


50 menit kemudian..


"Mari kita berhenti disini berbaur dengan kegelapan malam sambil menyiapkan energi, pasukan tengkorak sudah mulai terlihat. Mereka sudah tak jauh dari kita," ucap Feifei pada pasukan darat.


Pasukan darat yang dibawa Feifei berjumlah 70 orang termasuk aku. Sedangkan pasukan yang dikomandoi oleh Zhiev berjumlah 80 dan 3 burung phoniex. Namun, setidaknya mereka semua yang dibawa adalah pasukan yang elit yang telah mengalami pelatihan berat.


"Feifei, apa kau sudah memberitahu Zhiev?" Tanyaku pada Feifei yang didepanku.


"Sudah, mereka sudah bersiap di langit-langit berbaur dengan gelapnya malam," jawab Feifei yang masih tertutupi oleh pakaian hitamnya, yang hanya menunjukkan mata indahnya.

__ADS_1


"Jadi apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" Tanyaku lagi.


"Kita bersembunyi terlebih dahulu di kegelapan malam dan menyelinap di sela-sela mereka," jawab Feifei sambil melihat pasukan tengkorak yang perlahan menuju ke arah kota Evanest.


"Lalu, kita akan pertaruhkan nyawa kita di dalamnya," imbuh Feifei yang membuat mataku menyipit.


Aku melihat sekeliling dan melihat para pasukan yang dibawa oleh Feifei, mereka tak menunjukkan bahwa mereka takut, mereka tak gentar sedikitpun. Bahkan, mata mereka menyala-nyala bagai kibaran api yang tak bisa dipadamkan.


Aku menghela nafas dan mengambil keputusan. "Haduhh, biarakn aku memborbardir pasukan mereka terlebih dahulu, untuk membuka cela kepada kalian. Aku melakukannya bukan untuk kalian, tapi untuk diriku sendiri."


"Haha, aku ingin mencoba sihirku yang lain. Apa kamu siap kurotama?" Ucapku dalam hati, bicara dengan Kurotama si pedang jiwa hitam.


"Aku siap tuan, aku akan selalu menyerap energi anda," jawab si kurotama. Aku hanya tersenyum pahit mendengarnya, untungnya manaku cukup banyak dan aku sudah menyiapkan beberapa persiapan untuk menambah manaku. Meski begitu, yang akan terjadi adalah pertarungan jangka panjang, itu akan merepotkan jika kehabisan mana saat pertarungan."


"Apa maksutmu?" Tanya Feifei yang kebingungan dengan pernyataanku.


"Saat aku memulai serangan diantara pasukan tengkorak. Kalian segeralah menyusulku dan masuk kedalamnya saat semua pasukan tengkorak terfokus ke arahku dan seranganku. Saat kalian semua sudah masuk ke tengah tengah pasukan. Menggilalah dengan kemampuan yang kalian banggakan dan hancurkan semua pasukan tengkorak yang kalian bisa," jelasku kepada pasukan darat.


"Selain itu. Feifei, beritahu mengenai Zhiev dan pasukannya agar menggunakan sihir jarak jauh mereka untuk memusnahkan bagian depan pasukan tengkorak. Apa kalian semua mengerti? Meski kita takkan bisa mengalahkan 120.000 pasukan tengkorak, setidaknya kita membasmi banyak dari mereka disini," imbuhku kepada semua pasukan yang masih berapi-api.


"Haha, baiklah tuan pahlawan. Untuk serangan pembuka, kuserahkan padamu," ucap Feifei padaku.


"Baik," jawabku dan segera melihat ke arah pasukan tengkorak yang terus berjalan serentak diatas tanah lapang 'prak prak prak prak'


"Status Monster" aku segera melihat status para pasukan tengkorak. Mereka terlihat seperti yang aku bayangkan, dengan tubuh putih menunjukkan tulang-tulang tengkorak dan matanya yang kelihatan berwarna merah sambil membawa pedang di tangan kanannya.


Nama : Skeloten Man


Level : 2 0


Kekuatan : 3 0


Kekuatan sihir : 1 3


Stamina : 2 6


Kecepatan : 14


Ketahanan : 2 0


Inteligen : 1 4


Kesehatan : 5 2 0


Mana : 8 0

__ADS_1


Skill kemampuan :


Tebasan : menebas musuh


Pukulan : ya memukul musuh lah


Intimidasi : Membuat musuh takut dan dapat membuat musuh mengalami efek tak dapat bergerak selama 3 detik.


Beberapa informasi berada disebuah panel di depanku.


"Cukup bagus untuk statistiknya, namun aku merasa di semua pasukan tengkorak pasti ada tengkorak yang menyandang title elite maupun diatasnya," pikirku sambil bersiap-siap dengan kemungkinan terburuk.


"Apa kalian sudah siap?" Aku menoleh dan bertanya ke arah Feifei dan pasukannya. Mereka segera mengangguk dan bersiap.


"Kurotama, apa kamu bisa mengaliri aura kematian ke tubuhku dan menyembunyikan kehadiranku?" Tanyaku pada Kurotama.


"Jangan remehkan aku tuan," segera aura kematian tebal melapisi tubuhku hingga membuat Feifei dan pasukannya terkejut dengan perubahanku.


"Haha, aku akan bergerak,"


"RunRun" aku mengaktifkan skill RunRun dan segera berlari dengan kecepatan cahaya menuju ke arah pasukan tengkora. Hanya baru satu detik berlalu aku sudah berada di depan pasukan tengkorak.


Aku berhenti tepat didepan mereka. "Haha, bersiaplah kurotama." Aura mematikan keluar dari pedang yang aku pegang dan menjadi kabut hitam tebal membentuk sebuah pedang besar.


'Plak plak plak plak', semua pasukan telah tertuju padaku dan bergerak ke arahku.


"Seperti yang aku harapkan," gumamku dan segera memposisikan pedangku serta memfokuskan manaku ke pedangku yang penuh dengan kabut hitam.



"TEBASAN PEMECAH BAYANGAN"


"SLASHHHHHH, DIARRRRRRR"  Sebuah tebasan pedang besar yang memotong dan menebas hampir mencapai seribu pasukan tengkorak yang mendekat ke arahku dan runtuh saat itu juga. Suara Sistem terus terdengar dikepalaku, tapi aku mengabaikannya.


"Haha, kemampuan darimu benar benar hebat kurotama. Sayangnya, ini hanya dapat dilakukan sekali dalam 12 jam." Gerutuku. Tebasan pemecah bayangan adalah kemampuan ke 2 dari Kurotama si pedang jiwa hitam yang sudah terbuka, karena cukupnya energi yang dikumpulkan kurotama.


Sesaat kemudian. Aku melesat ke dalam pasukan tengkorak dan diikuti Feifei serta pasukannya.


Zhiev dan pasukannya juga sudah menampakkan diri di udara dan menembakkan kemampuan sihir ke arah pasukan tengkorak bagian depan.


"Haha, bunuh diri telah dimulai." Tawaku yang terdengar menyeramkan dengan aura kematian yang menyebar.


'Slash slash slash'


__ADS_1


jika ada saran dan masukkan dipersilahkan.


__ADS_2