Legenda Sang Pahlawan : Another World Of Venatra

Legenda Sang Pahlawan : Another World Of Venatra
53 - VS Ragnar_


__ADS_3

Duel dimulai.


Aku berdiri di sisi yang berlawananan dengan Ragnar.


Dengan menggengam sebuah pedang di masing masing tanganku layaknya pendekar dua pedang. aku mulai bergerak ke arah Ragnar yang berdiri tegap dengan tubuh besarnya. Ragnar memegang kapaknya dan memosisikan seperti orang yang mau menebang pohon.


Aku berlari ke depan Ragnar.


"Swiiiinggggggg" Kapak datang dari sisi samping kiriku, segera ku tangkis dengan pedang es di tangan kiriku.


"Claanggg Crack" Satu ayunan kapak Ragnar dapat membuat pedang es yang kupegang mulai menunjukkan tanda retak.


"Hmm. Bagaimanapun ini hanya pedang dari sihir es." Gumamku di hatiku dan segera membuat tebasan ke arah Ragnar.


"Slaaashhhh"


"Apa kau pikir kau bisa melukaiku dengan pedang yang di ciptakan oleh Zhiev? Hahah, Idiooootttt." Pedang es ku di tahan di antara jari Ragnar.


"What the...."  Ku mengutuk dalam hati dan segera menarik pedangku sambil bergerak mundur.


"Haha, Rasakan ini." Ragnar segera mengayunkan kapaknya berkali kali ke arahku, sedangkan aku terus menangkis ayunan kapak darinya hingga 2 pedang yang di tanganku sudah mau hancur berkeping keping.


Percikan mulai terlihat saat kapak Ragnar dan pedang es saling bertabrakan. Suara tabrakanya membuat para penonton merasa merinding yang menggetarkan jiwa.


Aku segera fokuskan manaku ke pedang esku dan menyelimuti elemen airku pada pedang, hingga membentuk sebuah pedang es yang terselimuti air jernih tanpa membuat pedang es yang di selimuti oleh air mencair, agar pedang es yang ku modifikasi lebih tahan lama.


"Haha" Ragnar tertawa dan terus menebas ke arahku menggunakan kapak besarnya. Aku yang telah selesai dalam memanipulasi sihir pada pedang es dan segera menunjukkan taringnya.


"Slash Slash" Aku berhasil membuat serangan yang membuat Ragnar dalam mode bertahan. Aku terus menebaskan pedang sihirku dengan santai kayak di pantai.


"Slash slash" Aku membuat gerakkan yang tak terduga hingga membuat Ragnar kewalahan dan kelelahan.


"Bagaimana kamu bisa memojokkankuu!!!" Teriak Ragnar yang masih menangkis tebasanku.


"Tangan besi" Ragnar menggunakan kemampuan yang membuat tanganya sekeras besi.


"Clankkk" Tebasan pedangku di tahan dengan menggunakan tangan kirinya. Ragnar Segera mengangkat kapaknya dengan tangan kananya dan bersiap menebang ke arahku secara vertikal.


"Swingggg" Saat kapak Ragnar hampir berada tepat di kepalaku. Aku membentuk 2 pedangku seperti huruf X dan menahan kapak Ragnar.


"Haha." Ragnar tertawa dan terus menggunakan kapaknya untuk menyerang ke arahku. Pedang es yang telah modifikasi pun tak bisa bertahan lama.


"Clannnkkk. Tiarrr" kedua pedang es sudah hancur dan aku segera mundur dari jangkaun serangan kapak Ragnar.


"Apa yang harus ku lakukan sekarang? Tanpa senjata?" Gumamku dalam hati. Sedangkan Ragnar mengejarku dan menebasku. Tanpa adanya senjata, aku hanya bisa mengandalkan kedua tanganku untuk mencari celah pada kapak Ragnar.


Sayangnya, Ragnar terlalu cepat dalam menggunakan kapaknya. Hingga aku tak punya waktu sedikitpun untuk memikirkan cara.

__ADS_1


"Haha haha, sekarang kau kalahlahh!" Teriak Ragnar yang di barengin dengan sebuah kemampuannya.


"Kapak jiwa" sebuah kapak besar 5 x lipat besarnya dari kapak Ragnar muncul di atas Ragnar dan perlahan menebas ke arahku.


"Hm, niatnya aku hanya berkeinginan untuk menggunakan pedang sekalian belajar seni pedang. Tapi ini benar benar merepotkan." Aku berkata dengan suara pelan hingga Ragnar yang di depanku tak mendengarnya.


"Pusaran air" aku segera menggunakan kemampuan bertahanku untuk menahan Kapak Jiwa dari Ragnar yang begitu menakutkan.


"Diaanggg" Suara Kapak Jiwa dan Pusaran air bertabrakan hingga air dari kemampuanku terpencar ke arah penonton yang menyaksikan pertarunganya.


Setelah priode kemampuanku dan kemampuan Ragnar berakhir, aku segera menggunakan sihir Misil Air raja dan kutembakkan ke arah ragnar.


"Diar duar meme" Misil Air raja terus kutembakkan, namun Ragnar selalu menepisnya dengan kapaknya. Bahkan Kapaknya digunakan seperti tameng untuk melindungi dirinya sendiri.


"Hehe" aku tertawa kecil dan terus menembakinya.


Ragnar terlalu fokus dengan sihir air raja yang terus terusan aku tembakkan, Hingga ia tak sadar apa yang aku siapkan.


Dengan kecepatan semaksimal mungkin, aku mengambil tombak raja totorial yang tak pernah aku gunakan dari inventarisku dan melemparkan tombakku ke arah Ragnar yang dibarengin dengan Misil Air Raja.


"Wussshhh.. diaarr"


"Aghhh" Bahu kanan Ragnar terkena tombak yang aku lemparkan. Sehingga  aku mempunyai peluang untuk terus terusan menembakinya tanpa pertahanan dan segera memojokkannya.


"Aku takkan kalah dengan pahlawan level rendah iniiiiii !!!!!!!!" Ragnar tiba tiba meraung hingga menyebabkan udara di sekitar menjadi panas disertai hawa dingin yang mencekam menembus kulit bahkan sihirku tak bisa digunakan setelah mendengarkan raungan Ragnar.


"Transformasi Giant"


Ragnar menggunakan 2 kemampuan lainnya. Tubuh Ragnar seketika mengeluarkan asap panas, tubuhnya mulai menghitam dan otot nya membesar.


"Huwaaaaaa!" Teriak Ragnar dengan mata memerahnya. Ia mengambil kapak dan berjalan ke arahku. Setiap jalan yang ia injak. Arenanya tiba tiba menjadi cekung karena tak tahan dengan injakanya. Tombak es yang di sisi arena bahkan menunjukkan tanda tanda akan pecah.


Penonton yang melihat perubahan Ragnar sekarang merasa menggigil, Lily yang menjadi wasit pun seperti merasa trauma dengan perubahan Ragnar yang seperti ini.


"Sistem, kemampuan apa yang digunakannya?" Aku bertanya pada sistem selagi Ragnar masih berjalan menuju ke arahku dengan lambat.


"Ding"


"Ia menggunakan kemampuan yang merubah poin kecepatan menjadi poin ketahanan dan kekuatanya." Jawab sistem.


"Oohh, maka dari itu dia lambat banget. Namun, aku sekarang benar benar sudah tak tahan dengan kecepatanya" Ucapku sambil menggelengkan kepalanya.


"Amarah"


Aku segera mengaktifkan skill amarah yang membuat statistikku menjadi 2 x lipat kecuali mana dan kesehatan yang menjadi berkurang 2 x lipat.


Aku pun mendekati Ragnar dengan momentum yang sama seperti Ragnar. Setiap injakan dari langkahku, arena mulai retak dan ingin terbelah menjadi 2.

__ADS_1


Sekarang aku berhadapan dengan Ragnar yang sangat dekat denganku. Ia segera menebas menggunakan kapaknya dan mengarahkan ke leher sebelah kiriku.


Aku mengaliri kanan kiriku dengan mana dan "haapp" aku menangkap kapak itu dengan tangan kosong.


- 3 6


Meski kesehatanku cukup berkurang banyak. Aku tak begitu peduli dan segera melompat untuk menggapai kepala Ragnar dengan tangan kanannu.


Ku terkam kepala Ragnar dan segera kepalanya ku tarik kebawah hingga membentur lantai di arena dengan keras dan membuatnya seperti orang bersujud di hadapanku.


Lalu, ku injak kepalanya dan berbisik padanya. "Jadilah seperti anjingku mulai sekarang."


Ragnar tak menjawab, tak merespon. Lily yang sebagai wasit pun melihat keadaan Ragnar dan dinyatakan bahwa Ragnar tak sadarkan diri.


Aku menghela nafas lega dan menyeret Ragnar untuk keluar dari arena.


Beberapa saat kemudian. Arena nya hancur.


Aku kembali ke kediaman Zhiev sambil menyeret si Ragnar. Dalam perjalanan, Silvia selalu bertanya mengenai cideraku yang hampir tak ada. Terlihat jelas di wajahnya bahwa ia mengkhawatirkan aku.


"Aku beruntung." Gumamku dalam hati karena mempunyai Silvia.


Sore pun tiba.


Ragnar yang telah sadar, ia sekarang menghormatiku dan sesuai taruhan ia menjadi anjingku, kaki kananku. Dan sekarang Rapat strategi mengenai invasi monster pun di mulai.



 Kurang greget nih geludnya. Hmm.



Jika ada saran atau kritik di persilahkan.



Episode selanjutnya adalah Strategi penanganan monster



Jangan lupa like and subscribe.


biar aku makin semangat dan bisa nyempetin buat episode selanjutnya meskipun yang baca sedikit. muehehhee


 


 

__ADS_1


__ADS_2