
Sesampainya di mansion Zhiev, Silvia dan aku segera tidur. Sayangnya, Suara Kurotama terngiang-ngiang dalam pikiranku dan membangunkanku. "Tuan, apa kamu mau mendengar ceritaku?"
"Apa yang kamu ingin ceritakan kurotama?" tanyaku lewat telepati.
Raisa yang pastinya telah mendengar perkataan demon juga seperti merasa penasaran. Ia segera keluar dari tubuhku dengan wujud gadis kecilnya.
Bagaimanapun juga, pikiranku dengan Raisa dan kurotama seperti telah menjadi kesatuan. Kita saling bicara lewat pikiran kita, jadi wajar jika Raisa mendengar ucapan Kurotama.
"Apa yang ingin kau ceritakan? Aku ingin mendengar cerita sebelum tidur," mohon Raisa dengan wajah mungilnya.
Sebenarnya aku merasa aneh dengan Raisa dan bertanya-tanya dalam diriku. "Sebenarnya Raisa kan ratu Vampire tuh, kebanyakan di cerita novel yang kubaca mengenai Vampire. dia seharusnya tak bisa bertahan jika terkena matahari/cahaya dan lebih suka kegelapan."
"Tapi kenapa? ia seperti biasa-biasa saja saat bertarung melawan monster bersamaku di lantai Tutorial? Hmm, aneh," lanjutku.
"Jangan dipikirin tuanku, saat siang aku masih bisa mentolelir cahaya. Selain itu, saat aku mulai merasa tak sanggup dengan keberadaan cahaya, aku langsung memasuki tempat dalam dirimu tuan, hehe," jawab Raisa yang mengejutkanku. Aku melupakan satu hal penting tentang pikiran kita yang seperti menjadi kesatuan. Meski Raisa dan Kurotama tak sepenuhnya mengerti apa yang dalam pikiranku, itu sudah cukup untuk menebak inti dari pikiranku tersebut.
"Aku nggak jadi cerita, kalian teruskan bicaranya," sela Kurotama dengan suara melas seperti wanita yang ingin ngambek.
"Haha, apa kamu ngambek nih?" ringisku menggoda Kurotama.
"Adek Kurotama merajuk nih, huuu," goda Raisa pada Kurotama.
"Adek? Siapa adekmu!" geram Kurotama.
"Haha, kamu adalah adekku, kamu kan yang kedua setelah aku yang disamping Tuanku. Muehehhe," kekeh Raisa bercanda.
"Hmm, padahal lebih tua aku daripada kamu," dengus Kurotama.
__ADS_1
"Hehe, sudahlah. Jadi apa yang kamu ingin ceritakan kepada kami Kurotama?" Aku segera bertanya kepada Kurotama agar tak terus-terusan debat sama Raisa.
"Baiklah Tuan." Kurotama akhirnya memulai bercerita.
"Aku tak seberapa mengingat masa laluku sepenuhnya, tapi aku masih mengingat garis besar masa laluku. Aku memanglah bukan dari dunia ini seperti yang tuan duga," ungkap Kurotama tentang asal usulnya.
"Jadi, dari mana kamu berasal tepatnya?" tanyaku sedikit penasaran mengenai dunia asal dari Kurotama.
"Ding"
"Maaf mengganggu, aku cuma absen kehadiranku, hehe" canda garing sistem mengacaukan rasa penasaranku.
"Apa kamu juga penasaran sama asal usul dunianya Kurotama?" tanyaku pada Sistem lewat pikiranku.
"Iya, aku penasaran. Lebih tepatnya aku ingin tahu mengenai dunia lain selain dunia ini, Venatra." Sistem mengungkapkan rasa ingin tahunya.
"Kamu tenang saja, saat kamu bicara padaku, tak ada yang dapat mendengarnya. Saat kamu punya pikiran yang ingin kamu rahasiakan sama Mitramu, kamu dapat mengalihkan pikiranmu kepadaku," saran Sistem. Aku terasa tercerahkan dan akhirnya setuju dengan saran dari Sistem.
"Dalam ingatanku, dunia itu sangat jauh dari dunia Venatra ini. Aku masih belum mengingat jelas nama dari duniaku, tapi dunia tersebut penuh dengan manusia serakah nan kejam, mereka berperang dan berperang" ujar Kurotama.
"Selain itu, dunia tersebut kebanyakan hanya ada para manusia. Tak seperti disini, ada yang namanya ras manusia, elf, raksasa, ras beast dan ras Setengah hewan," lanjut Kurotama.
Dari yang diceritakan Kurotama, aku dapat menyimpulkan bahwa dunia asal si Kurotama adalah dunia yang dengan hukum Rimba, yang mana yang kuat memakan yang lemah atau yang berkuasa makan wilayah yang lemah darinya. "Terus, yang dikatakan oleh tuan Putri adalah benar? Yang kamu telah membasmi ratusan ribu manusia?" tanyaku yang teringat apa.yang dikatakan oleh tuan putri.
"Iya," jawab Kurotama tegas.
"Aku sering digunakan oleh manusia yang kejam dan selalu menjadi alat membunuh manusia. Awalnya aku adalah sebuah pedang biasa dengan warna putih besi, aku dulu digunakan oleh salah satu manusia yang tak suka berperang dan selalu membela orang lemah. Sayangnya, sifatnya tak bertahan lama dan menjadi serakah saat berlalunya waktu," imbuh Kurotama dengan suara penuh emosi yang tak bisa dijelaskan.
__ADS_1
"Perlahan, dia membunuh dan merampas harta korbannya. Singkat cerita warna asli diriku berubah menjadi merah. Aku lupa saat itu, berapa banyak yang telah dibunuh olehnya. Untungnya, orang yang menggunakanku terbunuh oleh seseorang. Sedangkan diriku diamankan di sebuah tempat," lanjut Kurotama.
"Lalu?" Aku penasaran dengan lanjutan ceritanya dan ingin terus mendengarkan kelanjutan ceritanya.
"Lalu, entah bagaimana caranya dan entah apa yang sebenarnya terjadi, ceritaku persis seperti awal lagi. Aku ditemukan oleh seseorang yang awalnya baik dan akhirnya ia termakan oleh keserakahan. Entah berapa kali lingkaran setan itu berlalu," ungkap Kurotama, aku yang mendengarnya seolah-oleh merinding membayangkan manusia yang dengan mudahnya membunuh manusia lainnya dengan dasar keserakahannya.
"Akhirnya warnaku menjadi hitam seeprti ini, penuh darah, diriku telah membawa keserakahan orang yang menggunakanku dan membawa dendam orang yang telah aku bunuh, aku ... aku tak tau, apa salahku? Kenapa ... kenapa aku diciptakan untuk membunuh dan membunuh? Ken ... kenapa?" kesedihan terpancar dalam suara Kurotama, aku bingung seketika saat mengerti kesedihan Kurotama. Dia hanyalah sebuah alat dan akhirnya diperalat terus menerus.
"Tuan putri mengatakan bahwa diri tuan telah terkutuk adalah hal wajar, karena ... karena aku ... karena aku selalu membuat manusia yang menggunakanku ... yang menggunakanku pasti menjadi serakah akhirnya ... aku takut, jika tuan akan menjadi serakah seperti pengguna diriku sebelumnya," ungkap Kurotama yang ternyata sangat memperdulikan aku.
"Kamu bisa tenang, jika aku mulai serakah, aku pasti akan terkena hukuman dan akhirnya mati," jawabku santai. Dalam diriku ada sistem yang dapat membunuhku seketika jika ada hal yang tak seharusnya dilakukan oleh pahlawan, apalagi membunuh manusia tanpa sebab.
Aku tersenyum kepada Kurotama. Detik berikutnya aku menoleh ke arah Raisa berada. Ia ternyata ketiduran dengan wajah polosnya.
"Oh ya, terus bagaimana kamu bisa ke dunia ini? Terus bagaimana dengan tuanmu sebelumnya?" tanyaku pada Kurotama.
"Hmm, itu aku baru cerita di asal duniaku. Sebelum aku ke dunia ini, aku juga pernah ke dunia lain yang disebut dengan Dunia ....
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberi saya like atau saran supaya cerita ini lebih bagus dan lebih baik.
Jika kalian berkenan. kalian bisa baca novel dari kakakku yang berjudul "Menggapai Pelangi" dengan genre Action, Romance dan Comedy.
__ADS_1
Ceritanya bagus kok dan sangat cocok buat kalian yang suka genre romantis komedi.