
"Kenapa sepi banget? Dimana Silvia dan Zhiev?" Ucapku pelan sambil melihat sekeliling Mansion dan berjalan menuju kamar.
"Dikamar juga nggak ada, dimana ya Silvia?" Gumamku dihati.
"Ah sudahlah. Sis, apakah kamu belum menemukan informasi mengenai pedang jiwa hitam ini" tanyaku pada sistem sambil melihat lihat pedang jiwa hitam yang sudah kulepas dari sarungnya.
"Ding"
"Aku sudah mencari informasi di pusat data namun masih belum menemukan apapun yang mengenai itu, Masih Sama seperti sebelumnya"
"Ding"
Nama item : Pedang Jiwa Hitam
Keterangan : ??????????
????
????
????
????
????
????
Sistem memberitahuku dan memperlihatkan status item pedang jiwa hitam yang penuh degan tanda tanya.
"Hmm, ini benar benar aneh?" Keheranan muncul di raut wajahku.
"Ding"
"Namun, aku punya sedikit argumen disini. Aku merasa pedang jiwa hitam ini bukanlah pedang dari dunia venatra, Melainkan dari dunia lain. Jika memang pedang jiwa hitam berasal dari dunia lain, ini benar benar masuk akal bila aku tak bisa menemukan data informasi dari pedang jiwa hitam." Sistem menjelaskan argumennya.
"Itu masuk akal, jika pedang jiwa hitam bukan dari dunia venatra. Maka sang pengembara yang du ceritakan oleh Vir itu adalah..."
"Makhluk dari dunia lain." Ucapku dengan sistem bersama sama.
"Hm, tapi kenapa makhluk dari dunia lain kesini? Dan meninggalkan pedang jiwa hitam disini? Apa pedang ini sengaja disembunyikan disini olehnya?" Tanyaku pada sistem.
"Aku kurang mengerti. Sekarang, aliri darahmu ke pedang itu. Sejak aku melihatnya, aku merasa dia menginginkan darahmu." Suruh Sistem padaku.
"Kalau begitu, Raisa keluarlah terlebih dahulu." Raisa pun muncul dengan bentuk anak kecil perempuan yang menggemaskan.
"Tuan, pedang itu benar benar menakutkan. Aura darinya bahkan dapat membuatku rasanya ingin tunduk padanya." Ucap Raisa tiba tiba.
"Aku tahu, meski begitu pedang jiwa hitam sangat cocok denganku. Dengan warna hitam kesukaanku dan aura yang mendominasi." Ucapku sambil tersenyum pada Raisa.
"Apalah kamu mau minum darah?" Tanyaku pada Silvia.
"Baik tuan, aku sudah lama tak meminum darah dari tuan, ehe." Jawab Raisa dengan centil.
"Sriiitttt" kulukai telapak tanganku hingga berdarah dan mengaliri darahku ke pedang jiwa hitam.
Namun tak ada yang terjadi, tak ada perubahan apapun pada pedang jiwa hitam.
"Tak ada apa apa sis." Ungkapku pada Sistem. Namun sistem tak menjawab.
"Berubahlah bentuk ke kalelawar dulu dan minum darahku, aku tak ingin melihat kau meminum darah pada bentuk anak kecil yang murni ini." Ucapku sambil membayangkan seorang anak kecil perempuan meminum darah. Itu benar benar merusak citra seorang anak kecil yang manis. Segera Raisa berubah bentuk menjadi kalelawar dan menghisap darahku.
"Ding"
"Poin pengalaman Raisa meningkat"
"Ding"
"Poin pengalaman Raisa meningkat"
"Ding"
"Poin pengalaman Raisa meningkat"
__ADS_1
Setiap hisapan membuat Raisa meningkatkan poin pengalamannya.
Beberapa saat kemudian. Asap hitam yang penuh aura kematian mulai keluar dari pedang jiwa hitam dengan kilatan merah dan putih di titik tertentu. Raisa yang melihat asap itu langsung masuk kedalam diriku dan gemetar dibuatnya.
"Ding"
"Tenanglah dan fokuskan mana sihirmu ke seluruh tubuhmu" Instruksi dari sistem padaku.
Asap hitam perlahan memasuki hidungku, telingaku, mulutku bahkan mataku. Aura kematian menyelimuti tubuhku, aku hanya menutup mataku dan tetap tenang sesuai perintah Sistem.
Sedikit demi sedikit, asap hitam yang penuh aura kematian berbaur dengan mana sihirku dan mulai menyatu menjadi satu. Keringat mulai keluar dan menetes dari wajahku.
20 menit kemudian. Tanpa kusadari, tangan kananku yang memegang pedang jiwa hitam menjadi menghitam kelam. Sedangkan, Pedang jiwa hitam yang awalnya hitam pekat sekarang memancarkan sebuah warna keemasan kemerahan dan keabu abuan.
"Ding"
"Anda telah memahami sihir elemen kegelapan"
"Ding"
"Inteligen dan kekuatan sihir meningkat +3"
Sistem terdengar di pikiranku.
Perlahan, pedang kembali ke warna aslinya dan asap hitam mulai memudar seiring berjalanya waktu.
"Ding"
"Anda terikat dengan pedang jiwa hitam"
"Ding"
"Pedang jiwa hitam sekarang adalah mitra anda"
Sistem lagi lagi terdengar dan membuatku menjadi heran dengan situasi ini.
Aku membuka mataku. "Ha? Pedang ini adalah mitraku sekarang? Bukannya mitra itu hanya untuk monster yang dijinakkan seperti Raisa, yang awalnya ratu vampir?" Tanyaku pada sistem.
"Entah, aku juga tak begitu tahu. Tapi memang inilah terjadi, pedang jiwa hitam telah mengakuimu dan menganggapmu sebagai tuannya yang asli" Jawab sistem.
"Dasar maniak sihir" Ejek sistem padaku.
"Oh iya. Status Item" Aku mengarahkan pandanganku ke arah pedang jiwa hitam dan melihat statusnya.
"Ding"
Nama mitra : belum di namai
Title : Pedang jiwa hitam (??????)
Kemampuan 1 : Aura Kematian (??????)
Kemampuan 2 : Tersegel (?????)
Kemampuan 3 : Tersegel (?????)
Kemampuan 4 : Tersegel (?????)
Kemampuan 5 : Tersegel (?????)
Kemampuan 6 : Tersegel (?????)
Kemampuan 7 : Tersegel (?????)
Kesetiaan : (Hanya terikat dengan Arif Raizhen.)
"Waw, ada kemampuannya tapi sayangnya masih belum bisa digunakan. Lalu bagaimana cara membuka segel dan membuat tanda tanya ini mengungkapkan kemampuanya?" Tanyaku pada sistem.
"Entah" Hanya satu kata dari sistem yang membuatku tak berdaya. Aku terdiam memikirkan cara tapi hanya 1 cara yang terpikirkan dalam diriku yakni menjadi lebih kuat dan lebih kuat.
"Sekarang, Pedang Jiwa hitam ini akan aku panggil Blacksoul.haha," Ucapku dengan semangat dan seakan akan nama itu adalah yang terbaik menurutku.
"Hey, bisakah kamu memberi nama untukku yang lebih baik?" Pedang Jiwa Hitam tiba tiba berbicara.
__ADS_1
"Waaaaa, pedangnya bisaaa ngomonggg!!!" Teriakku dengan kaget.
"Waaaaa, pedangnya bisa ngomong!!!" Ucap Sistem mengikuti teriakanku yang juga kaget karenanya.
"Bagaimana bisa?" Tanyaku dan tanya sistem yang merasa heran dengannya.
"Bukan nya tuan sendiri yang membangkitkanku? Sudah wajar aku bisa berbicara." Jawab pedang jiwa hitam.
"Tapi engkau pedang lho, mana bisa?" Aku masih terheran heran dengan pedang jiwa hitam.
"Aku sudah tak punya energi untuk menjelaskan, sudah 3000 tahun aku menunggumu tuan. Aku akan tidur lagi dan mengisi energi dari tuan dan beri aku nama yang terbaik tuan." Tambah Pedang Jiwa Hitam.
"Ding"
"Mana anda berkurang - 1"
"Ding"
"Mana anda berkurang - 1"
"Ding"
"Mana anda berkurang - 1"
Sistem memberitahuku bahwa manaku terus berkurang dan berkurang.
"Jadi ini yang dimaksut mengumpulkan energi dariku? Mengambil mana dariku untuk dijadikan energinya sendiri." Pikirku.
"Sis, apakah kamu punya rekomendasi nama buat si pedang jiwa hitam?" Tanyaku pada sistem.
"Pikirkanlah sendiri." Jawab sistem yang terlihat cuek.
"Bagaimana jika namanya adalah Kurotama?" Pikirku.
"Baiklah sistem. pedang jiwa hitam, ku beri nama Kurotama." Ucapku. Pedang jiwa hitam diam tak ada jawaban dan
"Ding"
"Penamaan berhasil"
"*Na**ma mitra anda sekarang Kurotama"
"kesetian Kurotama telah meningkat menjadi Max*"
"Mitra anda sekarang telah ada 2 : Raisa dan Kurotama"
Pemberitahuan dari sistem terdengar dipikiranku. Aku pun menghela nafas lega.
Kurotama yang awalnya diam tiba tiba berseru. "Awas tuan, Ada pembunuh belakangmu!"
Aku segera menyerong badanku dan mengarahkan pedangku ke arah belakang tepat ke sampir leher pembunuh. Sayangnya, sebuah belati telah tertempel di depan leherku.
"Siapa kamu?" Tanyaku pada pembunuh. Sedikit saja aku bergerak, aku pasti akan mati terkena belati.
jika ada saran dan kritikan, jangan lupa berkomentar ya.
Kurotama no ken adalah bahasa jepang yang artinya pedang jiwa hitam.
Terimakasih.
☆☆☆☆☆
jangan lupa
__ADS_1