Legenda Sang Pahlawan : Another World Of Venatra

Legenda Sang Pahlawan : Another World Of Venatra
55 - Pedang Jiwa Hitam


__ADS_3

Aku dan Ragnar mengikuti Vir.


Di perjalanan sering terdengar pujian untukku dari para penduduk yang sangat ramah.


"Tuan pahlawan, anda yang terbaik."


"Anda yang paling tampan"


"Tuan, jadikan aku muridmu."


"Anda yang paling kuat tuan pahlawan"


Aku hanya tersenyum kepada para penduduk sambil terus mengikuti Vir.


Hanya beberapa menit. Vir berhenti di depan sebuah rumah kecil dan memasukinya. Tanpa ajakan dari Vir, Aku dan Ragnar juga perlahan masuk ke rumah tersebut.


"Waaaauuhh, banyak sekali pedang disini." Seruku yang melihat banyak pedang di dalam ruang itu. Banyak pedang yang di gantung di dinding, ada yang tertata rapi seperti di sebuah museum yang menyimpan barang bersejarahnya.


"Apa disini juga ada kapak?" Celetuk Ragnar tiba tiba.


"Disini hanya ada pedang, silahkan pilih pedang yang kamu mau tuan pahlawan." Ucap Vir yang masih tetap tak berekpresi. Ragnar sedikit kecewa karena di tempat ini tak menyediakan kapak.


"Apa disini milikmu semuanya?" Tanyaku pada Vir.


"Lebih tepatnya, ini adalah milik keluargaku sejak dahulu, yang diturunkan dari generasi ke generasi. Sedangkan, aku adalah generasi ke 17 yang mewarisi tempat ini." Jawab Vir dengan wajah yang terpancar ada kesedihan di balik ucapannya.


"Apa tak masalah, jika pedang disini akan aku bawa dan kugunakan?" Tanyaku pada Vir. Jika ini diturunkan dari generasi ke generasi, seharusnya pedang pedang di tempat ini adalah hal berharga milik keluarga Vir.


"Tak apa, pilih salah satu yang ada disini. Selain itu, tinggal aku sendiri dari generasiku yang masih mempunyai nyawa dan tangan untuk terus menggunakan pedang." Jawab Vir.


"Dan, para generasiku yang dulu pasti akan merasa senang jika pedang disini digunakan oleh tuan pahlawan." Tambah Vir dengan senyuman.


"Baru pertama kali melihat senyum si Vir, namun senyum itu benar benar membawa kesedihan yang dalam. Aku tak akan bertanya mengenai keluarganya Vir." Gumamku dalam hati.


"Lalu.. aku akan mem.." sebelum ucapanku berakhir Ragnar tiba tiba menyela percakapanku. "Apa yang terjadi pada keluargamu? Dari awal kita bertemu, kamu tak pernah tersenyum seperti saat ini. Bahkan, kau hanya mengucapkan kalimat kata yang dingin padaku, Zhiev dan juga Lily. Kamu selalu lebih suka menyendiri, kami.. kami selalu ingin mengerti tentangmuuu Virrr!!" Ragnar bertanya mengenai keluarganya Vir. Aku terdiam saat ini, sebenarnya aku juga ingin mengerti mengenai apa yang dialami Vir dan keluarganya.


"Hmm, Itu hanya masalalu. Aku menyendiri untuk mengasah pedangku dan menebas musuhku." Ucap Vir yang kembali tanpa ekspresi.


"Cihh, kamu hanya maniak pedang" Geram Ragnar pada Vir.


"Tuan pahlawan, silahkan memilih pedang sebelum malam tiba." Vir mengabaikan ucapan Ragnar dan menyuruhku agar segera memilih salah satu pedang disini.


Lalu, Aku segera melihat lihat pedang yang ada disini tapi semuanya sama saja, tak ada yang menarik buatku. Aku pergi ke sisi lain dan mengamati dari banyaknya pedang. Ada satu pedang yang mengusik batinku.

__ADS_1


Dari banyaknya pedang yang berada disini, hanya 1 pedang yang masih bersarung. Ini benar benar membuat batinku penasaran mengenai pedang itu.


"Semua pedang disini adalah pedang yang tanpa ada nya sebuah sarung pedang. Namun, mengapa pedang ini masih tertutupi sarung pedang Vir?" Tanyaku pada Vir dan segera mengambil pedang yang masih berselongsong itu.


"Itu adalah pedang yang sejak ada dari generasi pertama keluargaku dan diyakini bahwa jika ada yang bisa menggunakan pedang itu dan membuka sarung pedangnya. maka.." tiba tiba Vir berhenti bicara dan membuka lebar mulutnya saat melihatku membuka pedang itu dengan mudah.


"Waw, ini benar benar hebat. Aura kematian begitu terpancar dalam pedang ini." Aku yang tak memperhatikan ucapan Vir. Setelah mengambil pedang itu aku langsung membuka dan memuji pedangnya. Pedang yang berwarna hitam pekat dengan aura kematian yang kental.


"Tunggu tunggu, bagaimana tuan pahlawan bisa membuka itu?" Tanya Vir dengan heran.


"Seperti ini" Aku memasukkan pedang itu kedalam sarungnya dan ku tarik pedangnya lagi dari sarung pedangnya.


"Apa ada yang salah?" Tanyaku dengan heran.


"Ini ini.. hmm, aku akan menjadi salah satu pedangmu tuan pahlawan." Vir yang masih heran. Tiba tiba menunduk layaknya ksatria yang tunduk pada tuannya.


"Ha, apa maksutmu Vir??" Aku masih heran dan bertanya tanya.


"Engkau adalah yang selama ini dicari keluargaku" Ucap Vir yang membuatku bertanya tanya.


"Berdirilah dan jelaskan semuanya kepadaku." Ucapku memberi perintah pada Vir.


"Tuan, pedang itu menakutkan." Ragnar yang pemberani tak takut akan musuh. Sekarang, merasa ketakutan hanya karena melihat pedang.


"Terimakasih tuan." Vir segera menjawab. "Ini adalah kisah yang diturunkan dari generasi ke generasi. Pedang yang menunggu kedatangan pemilik aslinya."


"Pemilik asli?" Tanyaku pada Vir.


"Iya, dari kisah yang saya dengar. Pedang itu disebut pedang jiwa hitam." Ucap Vir dengan serius.


"Pedang jiwa hitam yang anda pegang adalah sebuah pedang yang dibawa oleh pengembara yang mampir ke tempat keluargaku pada generasi pertama. Sang pengembara memberi kami pedang jiwa hitam untuk membayar balas budi kami karena telah menjaga dan merawatnya saat itu." Tambah Vir.


"Apa sang pengelana terluka saat itu dan apa tak ada yang bisa menggunakan pedang jiwa hitam?" Aku bertanya sambil melihat ke arah pedang yang kupegang.


"Aku kurang tahu mengenai sang pengembara. Pedang jiwa hitam tak ada yang bisa menggunakannya selama 17 generasi ini kecuali pemimpin pada generasi pertama. Ia tak bisa membuka pedang jiwa hitam dari sarungnya. Namun, ia bisa menggunakan pedang jiwa hitam yang masih bersarung itu untuk menebas dan mencincang para musuh dengan ganas." Ucap Vir.


"Namun setelah kematian pemimpin pada generasi pertama, pedang jiwa hitam sudah tak ada yang bisa menggunakanya. Meski, generasi ke 2 dan ke 3 meniru apa yang dilakukan pemimpin generasi pertama, yakni menggunakan pedang jiwa hitam yang masih bersarung untuk menebas musuh. Hasilnya itu hanya menjadi benda tumpul yang tak bisa menebas apapun. Sudah 16 generasi berlalu tapi masih belum ada yang bisa meniru yang dilakukan pemimpin pada generasi pertama. Dan sejak itu, generasi ke generasi mulai menurun karena banyaknya kejadian dan akhirnya hanya aku yang tersisa dari generasi keluargaku." Tambah Vir sambil mendongak ke atap rumah untuk menahan air matanya.


"Jadi seperti itu yang terjadi." Gumamku dalam hati.


"Dan karena anda dapat membuka pedangnya, Maka anda diyakini sebagai pemilik asli pedang itu. Sedangkan, aku akan menjadi pedangmu dan mengikuti semua perintahmu." Ucap vir padaku dengan tegas.


"Apakah itu sebuah keharusan? Apa kamu harus menjadi pedangku?" Aku bertanya pada Vir. Karena jika itu tak sebuah keharusan, aku tak ingin mengikat kehidupan Vir yang bebas dan tertuju pada pedang.

__ADS_1


"Iya tuan, ini adalah keyakinan dari keluargaku. Aku beruntung dapat melihat bentuk pedang jiwa hita yang tersimpan dalam sarungnya selama 17 generasi." Ucap Vir dan segera berlutut di hadapanku. Anehnya Ragnar juga mengikuti Vir dan segera berlutuh menghadap ke arahku.


"Hmmm, baiklah sekarang kau Vir dan juga Ragnar adalah pedangku." Ucapku sambil menghela nafas panjang.


"Eh tuan, aku memakai kapak bukan pedang. Jadi aku akan menjadi kapakmu tuan." Celetuk Ragnar yang membuatku ingin menjitak kepalanya.


"Ya ya ya, terserah kau Ragnar." Ucapku tak peduli. Vir hanya tersenyum dan Ragnar cengengesan sambil menggaruk kepalanya.


Singkat cerita...


"Aku akan segera kembali ke mansion si Zhiev dan akan aku bawa pedang jiwa hitam ini Vir." Ucapku dan segera pergi dari rumah yang penuh pedang.


Saat aku keluar rumah itu. 


"Kenapa kalian masih mengikutiku?" Aku menengok kebelakang dan melihat 2 orang yang tak lain Ragnar dan Vir yang mengikuti.


"Aku ingin menjagamu tuan," jawab kedua orang itu secara bersamaan.


"Halah halah, tak perlu untuk itu. Aku ingin segera pergi sendiri, jadi jangan ikuti aku " Ucapku sambil menatap dingin kearah mereka.


"Baik tuan." Aku segera pergi dan melihat bahwa mereka sudah tak mengikutiku.


"17 generasi? Berapa total tahun itu?" Gumamku di perjalanan.


Secara tak sadar. Tiba tiba aku telah mencapai kediaman Zhiev dan segera masuk dan menuju ke kamarku dan Silvia.



jika ada saran atau kritik di persilahkan. jangan lupa like vote and kasih bintang 5.



oh ya jangan lupa di favorit ya kalau suka.



jika kalian mempunyai gambar pedang hitam yang bagus, bisa share ke aku 😅, untuk visual pedang hitam ini.



lah, aku ngomong ma siapa sih ini. ?


wkwkw.

__ADS_1


__ADS_2