
Burung Phoniex mulai terbang dan menuju ke kota Evanest.
Di dalam perjalanan, Angin sepoi sepoi menyegarkan wajah, rambut berkibar kibar, tawa anak anak makin sering terdengar meski itu takkan bisa sepenuhnya melupakan hal hal yang telah mereka alami.
"Apakah ini kota evanest.?" Silvia bertanya kepada Zhiev yang tak jauh darinya.
"Iya, ini masih di perbatasan kota." Jawab zhiev.
"Bisa terlihat disana, masih ada pasukan yang siaga menjaga perbatasan kota evanest" imbuh zhiev sambil menunjuk ke arah bawah dimana banyak pasukan berjaga jaga.
Aku yang di belakang tak terlalu tertarik dengan perbincangan mereka. Aku hanya tertarik dengan hadiah apa yang aku dapatkan tadi terutama sebuah Ramuan Rentang Kehidupan level 2.
Aku segera mengecek nya.
"Status item"
"Ding"
Nama : Ramuan Rentang Kehidupan
Level : 2
Manfaat item :
Jika diminum, Dapat menambah Rentang Kehidupan Sebanyak 4 tahun.
Keterangan :
Sebuah Ramuan yang terbentuk akibat konsentrasi sumber kehidupan yang padat dan luas.
"4 tahun ? Bukan nya ini terlalu sedikit untukku yang hanya berumur 2 tahun lagi?" Ucapku dengan sedikit kecewa, karena Ramuan Rentang Kehidupan yang kudapatkan tak menambah rentang kehidupanku menjadi 2 digit.
"Itu masih lebih baik daripada tidak sama sekali kan?" Sahut sistem.
"Iya juga sih, sekarang perlihatkan status peralatan Helm Darah yang aku dapatkan tadi sis." Ucapku.
"Ding"
Nama : helm darah bintang 4(☆☆☆☆)
Dapat menambah ketahanan sebesar 5 dan stamina sebesar 2
"Barang bagus, daripada helm pemula yang masih aku pakai" ucapku sambil mengangguk angguk.
"Sis, ganti helm pemula yang kupakai dengan Helm Darah" Imbuhku dan memberi perintah pada sistem.
"Ding"
"Peralatan sudah terpakai"
Sistem dengan cepat memberitahuku.
"Oh ya, tampilkan item pusaka kota." Aku teringat dengan item pusaka kota yang kudapatkan saat mengalahkan si Raja bodoh.
"Ding"
Di depanku muncul sebuah layar transparan warna biru.
Di layar itu, terdapat gambar sebuah mahkota emas yang bersinar, ini tampak persis dengan apa yang di pakai Raja bodoh.
"Apa mahkota emas ini adalah item pusaka kota.? Tanyaku pada sistem.
"Ya iyalah, udah jelas jelas juga 😑" sistem menjawabku dengan judes.
"Ehe ehe ehe, tampilkan status item pusaka kota ini." Ucapku kepada sistem dengan cengengesan.
"Ding"
__ADS_1
Nama item : Pusaka Kota Showa
Manfaat item :
jika di pakai, orang yang memakai akan menjadi pemilik kota showa.
Keterangan :
Sebuah mahkota emas yang menjadi pusaka sebuah kota showa. Setiap orang yang memakai ini, akan di hormati semua makhluk di kota Showa dan kota lainnya.
"Uwuuuuwuuuu, jadi kota tadi itu namanya Showa." Gumamku sendiri dalam hati.
"Ding"
"Anda telah menerima misi tersembunyi"
"Bangkitkan Kota Showa menjadi Kota yang dapat di banggakan"
"Hadiah misi : Belum ditentukan, tergantung dengan pencapaian pemain"
"Jika gagal, anda tak berhak memiliki pusaka kota showa."
Tiba tiba sistem mengagetkanku dengan sebuah misi yang terpapar di layar transparan warna biru.
"Misi tersembunyi ? Harus Membangkitkan kota showa yang kumuh ?" Tanyaku heran pada sistem.
Bagaimanapun, itu pasti berat. Di kota showa bahkan tak ada penduduk satupun sekarang, perumahan disana sudah kumuh dan tak layak pakai. Dan masalah utama nya adalah masih ada monster yang berkerliaran di luar sana.
"Iya, anda harus membangkitkan kota showa dalam waktu 10 tahun!" Sistem memperingatkan.
"Boro boro 10 tahun, aku nemu Ramuan Rentang Kehidupan aja belum membuat umurku jadi 10 tahun." Ucapku dengan kebingungan, kecewa dan sedih.
Sistem hanya diam denhan ucapanku.
"Ini adalah pusat kota." Zhiev berbicara kepada semua orang termasuk aku.
Sebuah kota yang penuh dengan salju, terpapar indah dengan sinar matahari yang menyinari.
Salju pun tak meleleh, meski tersinari dengan sinar matahari. Di sana juga ada sebuah istana yang megah dengan perpaduan warna antara biru laut dan putih.
Semua penduduk kota terlihat ramai ramai dan bahagia, mereka saling membantu dan saling menghormati.
"Hmmm, alangkah baiknya jika di bumiku seperti ini juga. Saling menghormati sesama tanpa ada perbedaan ras, agama atau apapun." Ucapku pelan sambil menghela nafas panjang.
Dikota ini, aroma dan bau yang tercium di hidungku begitu menyegarkan. Tak seperti bumiku yang penuh dengan asap pabrik dan kendaraan.
"Meski begitu aku masih mencintai bumiku." Gumamku dalam hati dan mengingat orang orang yang menyayangiku di bumi.
"Berpeganglah yang erat, kita akan mendarat." Zhiev memperingatkan semuanya.
"Whussss whussss." perlahan burung phoniex es mendarat di depan istana yang megah.
Semuanya mulai turun satu persatu dari burung phoniex es.
"Waaah, kakak kakak, istananya indah"
"Kak, aku ingin masuk ke dalam istana."
Anak anak sangat antusias dan berkeinginan masuk.
"Ehhe, adek adek. Saat ini kalian ikuti kakak ke mansion kakak aja ya, disana juga bagus kok tempatnya." Ucap Zhiev yang membujuk anak anak.
Anak anak saling memandangi dan tak segera menjawab bujukan Zhiev.
"Baiklah kalau gitu kak, kami akan mengikuti kakak terlebih dahulu." Ucap natasha.
"Ayo ikuti kakak Zhiev yaa.!!!" Imbuh natasha yang di maksutkan kepada anak anak.
__ADS_1
"Yaudah kak."
"Ayo ke rumah kakak"
Anak anak pun setuju untuk mengikuti Zhiev.
"Untuk si pahlawan Zhen dan Silvia, silahkan masuk ke istana terlebih dahulu, tuan putri ingin bertemu dengan kalian." Ucap Zhiev dengan sopan.
"Baiklah." Sahut Silvia yang terlihat ingin segera memasuki istana.
Aku hanya diam.
"Ayo masuk Zhen." Ajak silvia dan menarik tanganku untuk masuk ke istana.
Zhiev pun berbalik dan mengantarkan anak anak ke mansion nya.
"Kreeeek"
Suara pintu terbuka, kami pun melangkah masuk ke istana.
Di dalam istana begitu indah nan luas tapi terlalu sepi, kami pun terus melangkah dan melangkah hingga ke aula istana.
Di aula istana, lebih tepatnya di dekat jendela istana ada seorang wanita cantik menatap jendela. Wanita itu berambut biru laut yang panjang hingga ke pinggulnya. Postur tubuhnya yang menggoda dan tinggi badannya yang melebihiku.
"Akhirnya kalian datang para pahlawan" wanita itu menoleh dan melihat ke arahku dan silvia.
Saat aku melihat wajahnya, Aku terpesona dengan wajahnya yang begitu putih nan cantik tanpa noda apapun.
Namun, wajahnya terlihat seperti sedih, dingin dan bingung.
"Iya putri, jika kami datang terlambat, maafkan kami." Silvia menunduk dan dengan hormat berbicara pada tuan putri.
Aku pun mengikuti gerakkan silvia.
"Pahlawan, jangan terlalu sopan padaku, aku punya permohonan. aku mohon kepada kalian untuk menyelamatkan kota ini." Ucap tuan putri dengan sedih.
"Aku mungkin seorang tuan putri, tapi aku tak bisa menyelamatkan kota ini. Aku hanya mempunyai kemampuan mambaca masa depan tapi tak memiliki kemampuan untuk merubah masa depan." Tambah nya dan terlihat air mata akan jatuh disudut matanya.
Tuan putri pun segera mengusap matanya.
"Baiklah tuan putri, Kami akan" Ucapku dan silvia dengan serentak.
Lalu..
Suara sistem tiba tiba terdengar di pikiranku dan juga silvia.
"Ding"
"Anda telah menerima Misi Utama"
"Selamatkan Kota Evanest dari invasi monster"
"Imbalan belum ditentukan, tergantung pencapaian pemain"
Terimaksih atas dukunganya.
jika ada saran atau kritik, komentar yaaaa !!!
agar cerita makin menarik.
jangan lupa like vote
kasih bintang 5 ya.
__ADS_1