Legenda Sang Pahlawan : Another World Of Venatra

Legenda Sang Pahlawan : Another World Of Venatra
67 - Kultivator Dan Dunia Kultivator


__ADS_3

"Hmm, itu aku baru cerita di asal duniaku. Sebelum aku ke dunia ini, aku juga pernah ke dunia lain yang disebut dengan Dunia Kultivator." Saat Kurotama mengucap kata 'kultivator', diriku merasa terkejut dan segera bertanya ke Kurotama. "Apakah dunia Kultivator ini adalah tempat yang penuh dengan para Kultivator?"


"Iya, di dunia tersebut penuh dengan Kultivator, seorang praktisi yang mengejar kekuatan dan keabadian. Selain itu, Tuan terakhir diriku juga adalah seorang Kultivator," ungkap Kurotama. Tuan terakhir yang dimaksut adalah tuan yang menggunakan pedang kurotama sebelum aku.


Di samping itu, Aku benar-benar merasa bahwa Kultivator yang dimaksut Kurotama adalah hal yang sama dengan Kultivator yang pernah aku baca di novel online.


"Apa para kultivator memiliki yang namanya dantian? Qi ? Tingkat Kultivasi?" tanyaku penasaran.


"Iya tuan, seingatku ada ungkapan yang Tuan sebutkan. Tapi, bagaimana Tuan tau?" Kurotama merasa aneh.


"Haha, ternyata para Kultivator beneran ada. Di duniaku berasal, ada.sebuah buku bacaan yang bercerita tentang hebatnya para kultivator dan aku baca itu buku. Hehe," jawabku sambil tertawa kecil.


"Terus, apa yang terjadi pada tuanmu itu? Dan mengapa kamu pergi ke dunia Venatra ini?" tanyaku.


"Itu, aku kurang ingat tentang kejadian yang sebenarnya. Aku hanya ingat bahwa tuanku mengalami hukuman surgawi dan aku yakin dia sekarat saat itu," ungkap Kurotama.


"Entah apa yang terjadi setelah itu, aku tiba-tiba dibawa olah tuanku waktu itu kemari dan akhirnya ia menghilang begitu saja." lanjut Kurotama dengan suara serak seperti menahan tangis.


"Itu mungkin hanya sebatas rohnya saja yang membawaku kemari, dia juga telah menyegelku dengan sarung pedang yang ia buat dan menyakini bahwa seseorang yang dapat membuka segelku adalah tuanku yang sebenarnya." Kurotama menjelaskan kepadaku. Aku mengerti garis besarnya dan mengangguk-angguk.


"Jadi? Apa hukuman surgawi itu?" tanyaku, aku seperti pernah mendengar kata itu dalam novel online yang ku baca. Sayangnya aku melupakannya.


"Hukuman surgawi adalah hukuman dari dewa, tuanku adalah jenius yang menentang langit. Karena bakatnya, para dewa iri dan menghukumnya, aku baru bersamanya baru selama 4 sampai 5 tahun lamanya dan akhirnya aku dipindahkan ke dunia ini olehnya," ucap Kurotama. Dari suaranya, ia seperti sedang sedih dan penuh amarah.


"Kamu jangan bersedih apalagi marah, kapan-kapan kita akan mengunjungi dunia itu dan mencari Tuanmu itu. Sapa tau dia masih hidup," ungkapku dengan yakin. Semua kultivator mengejar keabadian, sapa tau tuan terakhir dari Kurotama mengalami hal yang tak terduga dan mencapai keabadian.


"Mungkin, tapi hanya 1 persen kemungkinan. Selain itu, meski aku menemui tuanku yang dulu, aku masih akan tetap mengakuimu sebagai tuanku. Tuanku yang dulu juga telah mempercayakan diriku kepada orang yang sanggup membuka segelku, yang tak lain adalah dirimu tuanku." Kurotama mengucapkannya dengan tegas.


"Baiklah, maka sudah diputuskan. Jika aku memiliki kemampuan, maka kita pasti akan mengunjungi dunia Kultivator ini," ujarku serta memberi harapan kepada Kurotama dan menghapus simpul hatinya.


"Sebenarnya aku tertarik dengan dunia Kultivator ini Kurotama, aku juga ingin menjadi salah satu Kultivator ini," lanjutku.


"Baik tuan, aku akan istirahat dan memulihkan energiku darimu Tuan," jawab Kurotama ceria.


"Tunggu!" sebelum Kurotama istorahat, ada hal penting yang ingin ku ketahui. "tapi bagaimana tuanmu dapat membawamu kesini?"

__ADS_1


"Aku tak mengingat itu, sudah 3000 tahun lamanya, sudah wajar jika aku melupakan beberapa hal. Jika aku mengingat sesuatu mengenai dunia Kultivator maupun mengenai tuan ku yang lalu, aku akan mengatakannya terus terang kepadamu tuanku," ucap Kurotama dan menyakinkanku.


"Baiklah, silahkan beristirahat." suruhku kepada kurotama.


Beberapa detik kemudian, manaku perlahan diserap Kurotama untuk memulihkan energinya. Aku sudah terbiasa dan tak begitu memperhatikan manaku.


Melalui pengalamanku, Ada batas tertentu yang dapat diserap oleh Kurotama. Yang dapat diserap Kurotama kurang lebih 50 persen dari total manaku. Kecuali aku mengijinkannya untuk menyerap lebih dari itu.


Aku segera rebahan menghadap langit kamarku, di sampingku ada Raisa dan Silvia yang tertidur pulas.


Aku memikirkan sesuatu mengenai para Kultivator ini, aku sekarang menjadi sangat ingin mencoba teknik kultivasi dan mencapai keabadian.


Tapi, itu bukanlah hal baik jika dipikirkan terus menerus. "Biarkan mengalir apa adanya, aku tak mau termakan oleh ambisi. Ambisi kemungkinan besar hanya akan mendatangkan kekecewaan, keserakahan, keegoisan dan hal-hal lain yang tak kuinginkan."


Aku menoleh dan memandang Raisa dan Silvia yang tidur di sampingku.  "Aku merasa aku sudah hidup dengan seorang istri dan anak, heheh."


Perlahan, aku tertidur dan bermimpi indah.


Sekejam mata, sore pun tiba ...


"Kemana mereka pergi?" Tanyaku sambil memandang sekitar. Kepalaku terasa pening saat ini.


"Tidur di pagi hari membuat kepalaku pusing jadinya, hm," gumamku sedikit menyesal karena tidur pagi hari. "Tapi apa boleh buat," tambahku.


Saat berikutnya, pintuku perlahan terbuka. Silvia dan Raisa masuk ke kamar sambil membawa makanan.


"Tuan, aku telah belajar memasak dengan Kak Silvia, hehe," tawa riang Raisa selalu menggemaskan. Aku hanya tersenyum mendengarnya.


"Zhen, kamu makan gih, aku sudah makan di bawah bersama Raisa dan Zhiev," ungkap Silvia, ia menyodorkan makanan kepadaku.


Aku pura-pura cemberut dan menggoda Silvia. "Apa kamu tadi bermesraan sama Zhiev?"


"Xixixixi," Raisa menahan tawa karena sudah mengerti maksut dariku. Bagaimanapun Raisa dan aku telah berbagi pikiran. Jadi ini tak bisa dihindari kecuali saat bicara dengan Sistem.


"Apaan sih, heheh, nggak lah. Selain itu, Zhiev tampak berbeda sa'at ini, tubuhnya penuh bercak biru dan kelihatan tak sehat," ujar Silvia.

__ADS_1


"Apa yang telah terjadi?" tanyaku oada Silvia.


"Katanya, dia akan baik-baik saja dan dari raut wajahnya. Sepertinya dia juga kurang tahu dengan keadaan tubuhnya sendiri," jawab Silvia.


Aku berdiri dan ingin bergegas melihat keadaan Zhiev. Namun, diriku ditahan Silvia untuk makan. Selain itu, Zhiev telah pergi ke istana.


Aku menuruti Silvia dan segera makan makanan yang ia bawa.


Silvia memandangku dan segera berkata. "Oh ya Zhen, apa kamu tahu bahwa kaki tangan raja iblis yang kita lawan itu adalah ...



Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberi saya like atau saran supaya cerita ini lebih bagus.



Jika kalian berkenan. kalian bisa baca novel dari kakakku yang berjudul "Menggapai Pelangi" dengan genre Action, Romance dan Comedy.



Ceritanya bagus kok dan sangat cocok buat kalian yang suka genre romantis komedi.



oh ya, jangan lupa mampir ke ceritaku yang lain :


\- Lazy\-X\-Hunter


\- Segel Sihir Dewa


\- Dewa Tiada Tara


\- Li Zhen : Penguasa Para Raja


__ADS_1


M A K A S I H


__ADS_2