
Tak terasa, waktu cepat berlalu. Tepatnya 2 jam lebih aku menebas dan terus menebas. Cidera pun dimana mana, namun masih belum membahayakan nyawa.
Aku melihat sekeliling tapi tak melihat Feifei, bahkan bawahannya pun tak terlihat. "Apa mereka semua mati? Hmm, langit hitam menutupi bulan yang menerangi, Feifei dan lainnya pasti berbaur menjadi 1 dengan kegelapan."
Segera, aku mengalihkan fokusku ke pasukan tengkorak dan terus menyerang.
'Clank clank slash slash'
"Tuan, ini benar-benar aneh!" Ungkap Kurotama yang membuatku merasa bingung dan segera bertanya. "Apanya yang aneh?"
Kurotama segera menjawab. "Coba tuan rasakan setiap tebasan yang tuan arahkan ke pasukan tengkorak." Aku segera mencoba untuk lebih merasakan tebasan yang aku layangkan.
"Apa ini yang kau maksut, kurotama?" Tanyaku yang sedikit mengerti apa yang dimaksut oleh si Kurotama. Saat pedangku mengenai salah satu pasukan tengkorak. Mereka tiba tiba langaung menghilang bagai asap, ini seperti saat diriku pertama kali bertemu Mayat Hidup Zombie beberapa hari lalu.
"Iya Tuan, perasaan yang aku rasakan ini benar-benar menggangguku," jawab Kurotama.
"Lebih baik Tuan pergi mencari pembunuh wanita dan para bawahannya, Tuan terlalu jauh dari mereka," imbuh Kurotama yang khawatir dengan perasaan aneh yang mengganggunya. Pembunuh wanita yang dimaksut oleh Kurotama adalah tak lain si Feifei yang berniat membunuh saat awal bertemu.
"Baiklah," tanpa pikir panjang, aku segera mencari Feifei dalam gelap malam sambil terus menebas, memenggal para pasukan tengkorak. Aku terus mencari namun tak menemukan Feifei. "Apa dia ada di belakangku jauh?"
"Iya Tuan, menurutku anda terlalu maju, mundurlah dan mencari pembunuh wanita. Aku akan membantu dalam pencarian," ungkap Kurotama padaku.
"Ding"
"Segera minta bala bantuan dan segera berkumpul dengan sekutu." Suara dari sistem yang lama kudengar namun terus ku abaikan. Aku hanya mengangguk dan terus mencari Feifei sambil menghabisi para pasukan tengkorak.
20 menit kemudian, masih belum ada tanda-tanda dari Feifei dan bawahannya. Aku masih terus menebas para pasukan tengkorak dan menerobos dengan mudah. "Ini makin terasa mudah, setiap tebasan dapat menghabisi si tengkorak."
Beberapa sa'at kemudian, aku mendengar suara Feifei yang menggema keras. "Para pasukanku, mari kita berkumpul menjadi 1 titik area pusat." Aku yang mendengarnya, segera lari dan menerobos pasukan tengkorak yang menghalangi dan menuju ke sumber suara dari Feifei.
"Bentuk sebuah lingkaran dan pertahankan area kita." Feifei memberi instruksi ke bawahannya dan juga padaku yang sudah di samping Feifei sambil menebas para pasukan tengkorak yang berada di sekitar.
"Tuan Pahlawan, apa kau juga merasa aneh?" Tanya Feifei padaku.
"Iya, aku juga merasa aneh. Keanehan ini seakan membuatku seperti tertindas tanpa sebab," jawabku.
"Berapa bawahanmu yang masih hidup dan bagaimana keadaan Zhiev dan pasukannya?" Tanyaku pada Feifei.
Feifei mendecakkan lidah. "Pasukanku tinggal 58 termasuk kamu, Tuan Pahlawan. Sedangkan Zhiev, aku rasa dia aman di bagian belakang."
"Sekarang mari kita fokus dengan pasukan tengkorak yang berada di depan kita. Para pasukanku, mari kita pertahankan area lingkaran kita dan membasmi tengkorak yang ada di depan kita." Instruksi dari Feifei membuat para pasukannya berteriak bersemangat dan segera menebas para tengkorak yang mendekati mereka. Aku yang mendengarnya segera mempererat pegangan pedangku si Kurotama dan menebas si tengkorak yang tepat didepanku.
Tak lama kemudian, langit hitam mulai memudar, menampakkan bulan indahnya. Menerangi lapangan perang yang penuh dengan pasukan tengkorak. Di antara pasukan tengkorak manusia, ternyata ada beberapa tengkorak hewan yang bergerak dan berlari cepat ke arahku dan Feifei.
'Tarian 7 bayangan' Feifei yang telah mengaktifkan skillnya tiba-tiba menghilang dari sampingku dan menjadi 7 bayangan yang menyerang pasukan tengkorak manusia dan juga tengkorak hewan yang mendekat. Aku yang melihat kemampuannya hanya bisa melongok dan membuka mulut lebar-lebar membentuk sebuah huruf 'O'
"Aku harus punya skill yang lebih banyak dan yang keren, hehe." Gumamku dalam hati yang terpesona dengan kemampuan Feifei. Hanya beberapa saat berlalu, Feifei sudah mengalahkan banyak Pasukan tengkorak dan kembali ke sampingku.
"Sungguh melelahkan dan menguras banyak mana," Gerutu Feifei dan masih terus mengalahkan pasukan tengkorak yang tiada habismya. Aku mengabaikan Feifei dan hanya fokus dengan pasukan tengkorak dan terus menebasnya. Disela sela itu aku melihat tengkorak hewan dan melihat status statistiknya.
"Status Monster"
"Ding"
Nama : Tengkorak Hewan.
__ADS_1
Level : 2 0
Kekuatan : 3 0
Kekuatan sihir : 1 0
Stamina : 2 0
Kecepatan : 2 9
Ketahanan : 1 8
Inteligen : 1 0
Kesehatan : 4 0 0
Mana : 8 0
Skill kemampuan :
Cakaran : mencakar dan mencabik-cabik musuh
Gigitan koyak : menggigit dan mengoyak musuh dengan gigi tulangnya.
Lolongan : membuat suara teriakan aneh yang dapat membingungkan musuh.
Keterangan : Tengkorak hewan yang dibangkitkan oleh kaki tangan raja iblis dan menjadi Tengkorak hewan Hidup. Dengan menggunakan sihir terlarang, tengkorak hewan dapat bergerak sendiri dan menuruti semua perkataan dari si pembangkit.
Aku menghela nafas panjang dan bergumam dalam hati. "Lagi-lagi kaki tangan raja iblis, perjalananku masih jauh."
Teriakan keras yang mengerikan terdengar jelas di telingaku. "Dimana sumber suara ini?"
"Tuan, kita akan menghadapi lawan yang cukup sulit kali ini. Dari aura yang terpancar dari teriakannya, itu sangat kaya akan aura kematiannya. Sangat berbeda dengan yang telah kita lawan," ungkap Kurotama yang membuatku lebih waspada. Aku menoleh ke arah Feifei. "Apa kamu mendengar teriakan itu Fei, apa kamu tahu itu?"
"Aku tidak tahu, tapi aura kematiannya begitu mengerikan. Elemen kegelapanku terasa ditelan jika dibandingkan sengan aura kematian yang terpancar dari teriakannya tadi," jawab Feifei yang terus berjuang dan terus menebas para pasukan tengkorak dengan belatinya. Feifei adalah pengguna belati dan elemen sihir kegelapan. Aura kematian itu adalah sumber dari sihir kegelapan. Sama halnya dengan sumber kehidupan yang tak lain adalah sumber dari sihir cahaya.
"Apa yang harus kita lakukan seka ...," sebelum aku selesai bertanya, suara kepakan burung memotong percakapanku. Aku mendongak ke atas dan melihat 3 burung phoniex es yang terbang diatasku menghempaskan para pasukan tengkorak dengan sihir yang digunakan para pasukan Zhiev yang menaiki burung phoniex es.
"Cepatlah turuuuuunnnnn!!!!" Teriakan keras dari Feifei mengguncang gendang telingaku yang ditujukan kepada Zhiev dan pasukannya. Segera burung phoniex es mendarat. Sedangkan, Zhiev dan pasukannya langsung turun dari burung phoniex es tersebut.
"Apa yang terjadi Fei? Apa kita akan menggunakan strategi lain?" Tanyaku yang masih kebingungan dengan keputusan Feifei.
Feifei menghembuskan nafas lelah. "Dengarkan aku semuanya, bersiaplah pertempuran hidup dan mati. Lawan kita kali ini adalah sesuatu yang seharusnya kita lawan di posisi kita saat ini." Suara Feifei pelan. Namun, terdengar ke seluruh pasukannya yang disekitarnya.
Zhiev yang tak jauh dariku mendekati Feifei. "Kami akan selalu siap mengorbankan nyawa untuk kota evanest." Ujar Zhiev tegas dengan senyum khasnya. Pasukan Zhiev pun bersorak semangat penuh makna.
"Semoga keajaiban datang." Ucap Feifei yang terdengar penuh harap. Sedangkan aku tak begitu mengerti mengenai setuasi ini. Hanya mengerti sebatas garis besarnya saja. "Jadi apa aku bisa mengalahkan musuh yang akan datang ini?" Gumamku pelan dalam hati.
Beberapa detik kemudian, Langit yang sudah menampakkan bulan cerah. Tiba-tiba berubah dengan warna merah, bulan ikut menjadi merah. Para pasukan tengkorak diam tak bergerak dan segera berlutut seperti ksatria yang menunggu Tuannya.
"Selamat datang, Tuanku."
"Selamat datang, Tuanku."
"Selamat datang, Tuanku."
__ADS_1
Para pasukan tengkorak mulai bersorak, suaranya memenuhi lapangan perang.
"Fokus dan segera membentuk formasi. Kita akan bertarung dan saling menjaga punggung." Perintah Feifei terdengar jelas. Pasukannya Zhiev dan pasukannya Feifei segera membentuk sebuah formasi melingkar. Dengan 2 baris lingkaran, baris pertama yang terdepan adalah baris pertahanan dan penyerangan fisik yang dipimpin oleh Feifei. Sedangkan baris kedua adalah baris pertahanan sihir untuk melindungi pasukan baris depan. baris kedua juga untuk penyerangan sihir jarak jauh yang dipimpin oleh Zhiev. Burung phoniex Es yang mendarat, segera terbang kembali dengan 1 orang yang menaikinya dan terbang mengitari diatas formasi pasukan kami.
Aku mengikuti formasi dan berdiri disamping Feifei di baris pertama. Sedangkan Zhiev berdiri disisi yang berlawanan dari Feifei di baris kedua.
"Selamat datang, Tuanku."
"Selamat datang, Tuanku."
"Selamat datang, Tuanku."
Suara dari pasukan tengkorak makin keras dan makin keras. Di area kehampaan, tepatnya di atas para pasukan tengkorak. Muncul sosok menyeramkan dari ruang kosong. Jantungku berdetak kencang karena hanya dari kemunculannya saja. "Ini benar-benar bahaya." Gumamku dalam hati.
Sosok menyeramkan telah menampakkan keseluruhan tubuhnya, meski tertutupi jubah hitam. Hanya wajahnya yang terlihat begitu jelas. 8 matanya yang berjajar kebawah berwarna merah tanpa sebuah hidung, mulut dan tanpa kulit.
"Jangan gentar!!" Teriak Feifei menyadarkanku. Semua pasukan kami bersiap menyerang, terutama penyerang sihir jarak jauh. Semua pasukan kami fokus dengan apa yang ada di depannya.
Pasukan kami seperti seekor domba yang memasuki kawanan srigala, para pasukan tengkorak mengelilingi pasukan kami. Ditambah munculnya sosok menyeramkan membumbuhi pertempuran ini.
Sosok menyeramkan itu menjulurkan tanganya ke depan, memperlihatkan sebuah mulut di telapak tangannya. Dengan kuku panjang tajam menghiasi telapak tangan merah gelapnya. Sebuah sihir diucapkan dari mulutnya.
"Dimensi kosong"
Hanya sekejap mata, tiba-tiba muncul sosok lain yang berdiri di samping sosok menyeramkan itu. Sosok tersebut seperti asap hitam yang berkumpul membentuk sebuah tubuh.
"Ahhaha, apakah kalian suka dengan pertunjukannya?" Ucap Sosok tersebut.
"Ding" suara Sistem terdengar di pikiranku.
"Kaki tangan Raja Iblis telah muncul"
"Misi telah diterima"
Aku segera melihat status kaki tangan raja iblis dan sosok menyeramkan disampingnya yang mempunyai 8 mata di wajahnya.
"Status monster"
"Ding" aku tertegun karena melihat status statistik miliknya.
"Apakah aku bisa melawannya?" Lirihku pelan.
jika ada yang tak difahami, bisa tanya di komentar.
terimakasih atas dukunganya.
saran dan kritik dipersilahkan.
alur ceritanya sekarang sedikit dipercepat..
jan lupa like dan lain lain 😅😅
__ADS_1