
Aku dan Silvia segera duduk di kursi yang sudah di sediakan oleh Zhiev.
"Jadi, Tuan Putri telah memberitahuku bahwa invasi monster akan terjadi pada besok malam," Ucap Zhiev padaku dengan tegas.
"Sebelum itu, sekali lagi. Namaku Zhiev, pemimpin pasukan ksatria sihir dan tepatnya pasukan yang menjaga perbatasan di barat kota," Ucap Zhiev sambil memperkenalkan diri dan mulai memperkenalkan yang berada di ruang tamu.
"Sedangkan wanita pejuang cantik ini bernama Lily, dia adalah pemimpin pasukan ksatria sihir khusus wanita yang menjaga perbatasan di selatan kota." Zhiev memperkenalkan wanita cantik seorang manusia setengah hewan.
"Lalu ada sang raksasa bernama Ragnar, dia adalah pemimpin pasukan ksatria sihir yang kebanyakan semua pasukanya adalah Ras Raksasa pejuang yang menjaga perbatasan di timur kota."
"Sedangkan pria pendiam ini adalah Vir si ahli pendekar pedang. Dia pemimpin pasukan ksatria sihir yang berspesialisasi dalam ilmu pedang yang menjaga perbatasan di utara kota." Zhiev memperkenalkan semuanya satu persatu kepada kami.
"Halo semuanya." Aku dan Silvia menyapa mereka.
"Halo." Hanya Lily, si pejuang cantik yang membalas sapaan kita. Vir hanya tersenyum, sedangkan Ragnar si raksasa, Ia tak peduli.
"Baiklah, mari kita mulai pembahasan mengenai rencana strategi kita!" Ucap Zhiev dengan semangat. Dia.tak sabar untuk segera melawan musuh musuh yang kuat.
"Tunggu Tunggu!!, apakah dia benar benar sang pahlawan? Bahkan levelnya pun persis pasukan kita? Mungkin dia hanya sekedar prajurit!." Ucap Ragnar mengejekku dan Silvia. Memang benar level kami rendah bahkan cocoknya hanya disandingkan dengan para prajurit ksatria sihir. Para pemimpin pasukan ksatria sihir, seperti Zhiev dan Ragnar levelnya sudah di angka 20, sedangkan levelku dan Silvia masih dalam belasan.
"Ragnar, jaga ucapanmu!!" Teriak Zhiev yang geram terhadap ucapan Ragnar tadi, Karena Hanya Zhiev yang mengerti kemampuanku. tentu saja ia tak terima jika penyelamat hidupnya di bandingkan seperti para prajurit.
"Bukanya itu benar, memang mereka tak seperti para pahlawan. Mereka hanya pantas di sebut prajurit," Ragnar terus memojokkanku.
"Terus, Apa maumu Pemimpin?" Ucapku sambil menekankan kata pemimpin.
"Haha, Mari kita berduel terlebih dahulu dan buktikan bahwa dirimu pantas di sebut pahlawan!" Ragnar mengajakku untuk berduel.
"Jangan terima tuan pahlawan!" Zhiev dan Lily mengatakan hal yang sama padaku. Silvia di sampingku juga menarik pakaianku agar tak menuruti duel tersebut.
"Baiklah, mari kita selesaikan dengan cepat," Semangat tempurku telah membara, akan sayang sekali jika duel ini ditolak.
"Hahah, selain itu. jika kamu kalah, kamu harus menyerahkan nona pahlawan cantik itu padaku, akan sangat sia sia jika wanita cantik seperti dia bersama pahlawan lemah, haha!" Ragnar ternyata mengincar Silvia sejak lama dan mengajakku berduel untuk mendapatkanya.
"Jangannnn mau zheeennn!" Ucap Silvia dengan suara pelan hingga hanya terdengar tepat di telingaku. Aku hanya memegang tangan kirinya memberi tanda bahwa ini akan baik baik saja.
"Baiklah, jika kamu yang kalah. Kamu harus menjadi Anjingkuu!" Ucapku dengan Amarah yang terlintas di dalam mataku.
"Baji**n, karena kau berani ingin merebut Kekasihku. Aku akan memberikanmu hadiah yang terbaik dariku." Gumamku dalam hati.
"Aahahah, baiklah. Karena Aku takkan kalah kepadamu orang yang lebih rendah dariku. Haha," Ucap Ragnar percaya diri dan meremehkanku.
"Apa kita disini berniat membahas Strategi ATAU hanya berniat membandingkan kemampuan kita?" Vir yang dari tadi diam tiba tiba memberi suara yang mencekam.
"Jika sekarang tak jadi membahas strategi, saya akan kembali ke pelatihan pedang lagi." Ucap Vir yabg berbalik dan melangkah pergi.
"Hmmm, karena sudah seperti ini. Pembahasan Strateginya akan di lakukan nanti sore," Ucap Zhiev sambil menghela nafas mengambil keputusan.
__ADS_1
"Lily, jika kamu ingin pergi, kamu boleh kembali sekarang." Tambah zhiev pada Lily. Namun Lily menggelengkan kepalanya dan berniat melihat pertandingan antara Aku dan Ragnar pemimpin pasukan Ras Raksasa.
Ras Raksasa di dunia ini tak sebesar seperti Raksasa yang di kenal di bumiku. Tinggi Ragnar di perkirakan hanya setinggi 2.25 meter dengan tubuh yang kekar dan berotot.
"Baiklah, mari menuju arena yang d alun alun kota. Agar dapat dinikmati oleh banyak orang pertarungan kita. Haha," Ragnar sangat bersemangat dalam pertarungan ini hingga mengajak ke pusat kota dan dilihat banyak penduduk.
"Baiklah," Aku segera menjawab. Silvia yang di sampingku masih khawatir jika aku kenapa napa.
"Lewat sini tuan pahlawan dan nona pahlawan." Zhiev seperti biasa dengan sopan berbicara padaku dan Silvia.
Setelah itu, kami berjalan menuju Arena yang di Alun alun kota.
Sesampai di alun alun kota, banyak penduduk tiba tiba mengkerumuni ke arah kita dan berniat menonton pertandingan yang akan terjadi.
"Apakah ini Arenanya?" Gumamku dalam hati. Di depan kami terdapat sebuah panggung berbentuk lingkaran dan di setiap sisi lingkaran terdapat tombak es yang tertancap sebagai pembatas dari area arena tersebut.
"Sebelum masuk, perlihatkan senjata kalian kepadaku. Aku akan menjadi wasit dalam pertandingan ini." Ucap Lily yang juga antusias dalam pertandingan ini. Hanya Silvia yang tak tertarik dengan pertandinganku ini.
"Tak apa, aku akan baik baik saja." Ucapku sambil mencubit pipi Silvia.
"Ini Adalah senjataku!" Ucap Ragnar dengan suara kerasnya hingga menyadarkanku dari kekenyalan pipi Silvia dan segera melepaskannya.
Senjata Ragnar adalah Sebuah Kapak besar yang tak jauh beda dengan kapak yang di pakai Hybrid BlackFire di area bawah tanah di kota Showa.
"Zhiev, buatkan aku pedang sihir es seperti yang kamu berikan padaku saat di Area bawah tanah. Aku kemarin melupakan pedangku disana. Hehe." Ucapku cengengesan.
"Pedang es" "pedang es"
Sebuah pedang muncul di masing masing tanganya. Dengan adanya sinar matahari ini makin menambah keindahan dari pedang es tersebut.
"Ini Tuan Pahlawan." Zhiev segera memberikan pedang es yang ia buat kepadaku.
"Terimakasihh." Ucapku.
"Baiklah, sekarang para penantang silahkan masuk ke Arena." Ucap Lily. Aku dan Ragnar segera memasuki Arena dan bersiap dalam pertempuran.
Saat aku masuk ke Arena bersama Ragnar. aku tak melupakan untuk segera melihat statusn statistiknya.
"Ding"
Nama : Ragnar
Title :
- Raksasa berbakat (semua statistik meningkat +2)
- Pemimpin pasukan Ksatria sihir (Semua statistik meningkat +3)
Ras : Raksasa
__ADS_1
Level : 2 0
Kekuatan : 3 5
Kekuatan sihir : 1 5
Stamina : 2 9
Kecepatan : 2 6
Ketahanan : 2 7
Inteligen : 1 5
Kesehatan : 5 8 0
Mana : 1 0 0
Keterangan : Terlahir dalam ras Raksasa yang kuat dalam kekuatan fisiknya. Pertahanan dan kecepatanya adalah hasil dari pelatihan nya. meskipun masih muda, ia sudah menjadi pemimpin salah satu pasukan ksatria sihir yang di hormati dan menjadi Raksasa Berbakat dalam Ras nya.
Keterangan tambahan : Menghormati yang lebih kuat darinya dan selalu memandang lemah orang yang di bawahnya.
"Jadi seperti itu, pantas saja jika ia memandangku rendah. Haha, aku akan memberi ia pelajaran." Gumamku dalam hati sambil tersenyum.
"Baiklah, sagera berada di tempat masing masing." Lily memberi instruksi. Aku dan Ragnar segera menempatkan diri di posisi yang berhadap hadapan dan segera menyiapkan segalanya.
"Pertandingan akan di berhentikan jika disalah satu pihak terluka parah atau menyerah, apa kalian mengerti? Tanya Lily. Aku dan Ragnar hanya mengangguk.
"Mari kita mulai pertandingan ini dalam hitungan ke 3," Lily segera berhitung.
"1"
"2"
"3, Mulai,"
\\*\\*\\*Terimakasih atas dukungan dan saran dari kalian semua.
jika ada saran atau kritik dipersilahkan\\*\\*\\*.
__ADS_1