
Terlihat ekspresi wajah dari mereka yang menggambarkan wajah wajah putus asa, antara kebingungan keraguan dan ketakutan.
"Apa yang terjadi?" Ku beranikan bertanya pada semua orang yang berada dalam istana.
"Tuan Pahlawan, jika ada musuh yang pasti tak bisa kamu kalahkan. Apa yang kamu lakukan?" Pertanyaan aneh dari tuan putri evanest.
"Aku akan lari/kabur dari pertarungan, meski dianggap pengecut. Namun, menurutku itu lebih baik daripada mati karena ambisi atau amarah semata." Jawapku dengan sopan.
"Jika saat lari dari pertarungan, kamu menemukan jalan buntu, apa yang akan kamu lakukan?" Tuan putri evanest terus bertanya.
"Aku akan memperjuangkan nyawaku, melawan musuh dan menyerangnya sekuat tenaga, hingga aku tak bisa menggerakkan tubuhku!" Ucapku dengan penekanan pada kata terakhir.
"Itu bagus, namun masalah kita disini bukan sebagai individu namun kelompok." Ucap tuan putri yang membuat aku mengerti permasalahan yang terjadi.
"Besok malam kita akan terserang oleh pasukan tengkorak yang melebihi 125.000 prajutrt tengkorak, bukan 50.000. Lalu, jika kita berniat kabur dari sini, itu takkan bisa dilakukan. karena diluar sana juga mengalami pertempuranya masing masing dan kita juga pasti menemui kematian meski kita dan para penduduk pergi dari kota ini." Tuan Putri menjelaskan permasalahan yang sudah aku tebak garis besarnya.
"Kita benar benar buntu dalam situasi ini, kemungkinan kita menang melawan pasukan tengkorak tak lebih dari 10% dan itupun sudah pasti banyak korban jiwa yang berguguran." Imbuh Tuan putri yang terlihat begitu sedih memikirkan penduduknya.
"Tuan putri, lebih baik kita tetap berjuang sekuat tenaga mempertahankan kota Evanest ini." Usul Feifei yang begitu mencintai kota Evanest.
"Yang menjadi permasalahan disini adalah apa yang akan terjadi Setelah kita menang peperangan melawan pasukan tengkorak besok malam? Dan peperangan itu telah membuat para pasukan dari kota evanest berguguran kan? Lalu bagaimana kita menahan invasi monster selanjutnya? Belum tentu juga semua disini masih bisa hidup!!" Ucapku yang membuat semua orang disini terlihat makin menunduk dan suram. Bahkan, Lily yang ahli dalam strategi pun hanya bisa diam dan termenung.
"Hmm, misal kita mengajak para penduduk entah laki atau perempuan yang dapat bertarung dan bergabung dengan kita gitu bagaimana? selain anak anak dan kakek nenek?" Saranku sambil melihat Lily dan Silvia.
"Meski begitu, waktu kita tak banyak untuk mempersiapkan segalanya, lalu, senjata yang dapat digunakan hanya cukup digunakan oleh para pasukan kota. Kita benar benar dalam situasi buntu." Ucap Zhiev sambil mengacak ngacak rambut putih keperakanya.
"Aku punya usul disini, namun ini juga beresiko besar. Mari kita lakukan penyergapan!!" Usul Lily.
"Namun, Kita takkan bisa melakukan itu dengan skala besar. Hanya skala kecil dari kita dan pasukan kita." Imbuh Lily. Perkataan Lily ada benarnya, jika kita melakukan penyergapan dengan skala besar, waktu yang akan dilakukan untuk persiapan akan cukup lama serta membutuhkan tenaga ekstra dan meski begitu penyergapan belum tentu berhasil.
"Bukannya itu sama saja bunuh diri?" Ucap Vir yang tanpa ekspresi dengan muka datarnya.
"Jika tak seperti itu, apa yang harus kita lakukaaan? Setidaknya kita bisa mengurangi jumlah pasukan tengkorak yang menuju kota kita, sedangkan pasukan kota kita akan bersiap di perbatasan timur untuk menghadang pasukan tengkorak yang datang." Ucap Lily yang terlihat begitu tertekan dengan situasi ini.
"Jika penyergapan yang hanya bertujuan untuk mengurangi jumlah pasukan tengkorak yang datang ke kota Evanes. Aku akan mengurus itu dengan pasukan yang aku bina. Sedangkan kalian yang menjaga perbatasan, bagaimanapun kalian harus dapat membuat para penduduk ikut berjuang dan bergabung dengan pasukan kalian. Setidaknya yang dapat membantu kalian dalam pertempuran besok malam." Ucap Feifei mengajukan dirinya.
"Dan aku akan mengajak tuan pahlawan bersamaku." Tambah Feifei yang membuatku terkejut.
"Tidak," Ucap Silvia, Ragnar dan Vir secara bersamaan.
__ADS_1
"Kenapa tidak?" Tanya Feifei kepada mereka dengan suara yang tak mengenakkan.
"Aku akan ikut, kalian tetaplah disini. Selain itu, kalian terlalu lemah." Ucapku pada Silvia, Ragnar dan Vir dengan penekanan pada kalimat terakhir.
"Mereka semoga mengerti maksutku." Gumamku dalam hati.
"Kalian tetaplah menjaga kota saja, meski kami mengurangi jumlah pasukan tengkorak yang menyerang, belum tentu kita dapat mengurangi banyak dari mereka." Tambahku.
"Tunggu, kalian jangan memutuskan seenaknya." Ucap Tuan putri yang dimaksutkan kepadaku dan Feifei.
"Maafkan kami tuan putri" Feifei segera menunduk dan memohon ampunan. Aku segera mengikuti Feifei.
"Bawa Zhiev bersama kalian, Lily, Ragnar, Vir, Nona pahlawan dan juga Aku selaku tuan putri kota ini, mari kita menjaga kota dan membujuk para penduduk yang dapat membantu kita. Untuk bergabung dalam pasukan dari pihak kita." Tuan putri memberi keputusan sekaligus sebuah perintah.
"Baik Tuan putri" Ucap Serentak semua orang selain Tuan putri.
"Kami akan segera melakukan persiapan tuan putri." Semua orang mulai keluar dari istana dan meninggalkan tuan putri sendiri dalam istana.
Setelah meninggalkan istana, kami masih berkumpul di luar istana.
"Aku akan mempersiapkan pasukanku, kita akan bertemu di perbatasan timur" Ucap Feifei kepada semua orang terutama kepadaku dan Zhiev. Seketika itu Feifei segera menghilang ke gelap malam.
"Zhiev, mari ikuti aku. Untuk membahas mengenai pasukanmu yang kamu bawa dan pasukanmu yang akan menjadi pasukan udara saat melindungi perbatasan." Ujar Lily yang terlihat memikirkan pasukan udara yang mengendarai phoniex es sebagai tombak utama pertempuran.
"Oke" jawab Zhiev dan segera mengikuti Lily.
Sekarang didepan istana tinggal Aku, Silvia, Ragnar dan Vir. Mereka diam membisu seperti kecewa dengan apa yang aku putuskan.
"Hmmm, Maafkan aku jika tadi ucapanku salah. Aku hanya memikirkan apa yang menurutku itu yang terbaik bagi kita." Aku segera minta maaf kepada mereka.
"Tidak tuan, kami hanya menyadari bahwa kami terlalu lemah." Ucap Vir.
"Aku akan menjadi kuat tuan dan menjadi pedang tajam yang membantai musuh tuan." Ucap Ragnar dengan tatapan berapi api.
"Jadilah kuat dan segera menjaga punggungku dan juga Silvia." Ucapku pada mereka sambil tersenyum hangat.
"Baik tuan, Aku dan Ragnar akan memberi instruksi ke pasukan kita." Segera Ragnar dan Vir pergi meninggalkan Aku dan Silvia.
"Ehmmm, Silviaa." Ucapku.
__ADS_1
"Apa? Mari kita pergi ke mansionnya Zhiev." Ucap silvia yang segera menggandeng tanganku.
"Baiklah, mari." Ucapku dengan tersenyum ke arah Silvia.
Dalam perjalanan Silvia terus diam dan hanya berjalan menuju ke mansion sambil menggandeng tanganku dengan erat.
Beberapa saat kemudian, kami sudah berada di Mansion dan memasuki kamar.
"Kenapa kamu selalu seperti ini? Aku juga ingin bertarung bersamamu? Aku juga inginnn...." sebelum ucapan Silvia berakhir aku segera memeluknya.
"Hiksss, aku tak ingin kau tinggalkannn." Silvia menangis di dekapanku.
"Maafkan aku, tapi aku akan menjaga diriku diluar sana" Ucapku sambil menyakinkan Silvia.
"Kamu harus untuk itu.. hiks" Ucap Silvia.
"Raisa, keluarlah." Ucapku dan Raisa segera keluar dengan bentuk anak kecilnya.
"Aku akan segera menjaga kak Silvia Tuan." Raisa segera mengerti maksutku mengeluarkannya dari tubuhku.
"Aku akan selalu mengawasimu menjagamu melalui mitraku Silvia, Raisa akan segera memberitahumu jika aku kenapa napa. Dan juga sebaliknya, jika kamu kenapa napa, Raisa akan memberitahuku dan segera aku akan menemuimu." Ucapku sambil mengelus rambut Silvia.
"Baiklah," Silvia menatap mataku.
Aku segera memegang dagunya dan perlahan ku kecup bibir manisnya. Silvia hanya menutup matanya dan ku terus menikmati setiap momen indah yang kurasakan. Disisi lain, Raisa hanya bengong dengan apa ia lihat saat ini.
Hingga beberapa saat.
"Tok tok tok, mari kita berangkat tuan." Terdengar suara Zhiev yang mengetuk pintu dan mengajak segera berangkat ke misi penyergapan.
Aku segera mengakhiri ciumanku dengan Silvia dan mengucapkan beberapa kalimat kepada Silvia dan Raisa. "Aku berangkat, kamu tidurlah silvia. Raisa kamu juga harus tidur untuk mempersiapkan tubuh kalian dalam pertarungan besok"
Setelah itu, Aku segera meninggalkan mereka dan mengikuti Zhiev menuju ke perbatasan timur kota dan bersiap pergi ke misi berbahaya dengan Zhiev dan juga Feifei.
Jika ada saran dan kritik, silahkan ya.
__ADS_1
jangan lupa like vote dan bintang 5 nya. Makasih