Legenda Sang Pahlawan : Another World Of Venatra

Legenda Sang Pahlawan : Another World Of Venatra
62 - Akhirnya, Aku Telah Sampai Padamu


__ADS_3

"Waaaahhhh!!" Aku tiba-tiba terbangun di kamar kosku dengan keringat yang memenuhi tubuhku. Aku menoleh dan terus mengamati disekitar kamarku. "Jadi, selama ini aku hanya bermimpi? Tapi kenapa itu terasa nyata sekali," lirihku pelan.


Kepalaku terasa pusing terasa begitu banyak memori yang telah membanjiri otak kecilku dan kenangan saat lalu terasa sangat nyata. "Aku lebih baik mandi terlebih dahulu." Aku segera mandi dan membersihkan diri. setelah itu, kepalaku sudah terasa baik daripada saat lalu.


'Terus melangkah melupakanmu, perlahan hati terasa mengganggu ...' Suara handphone ku berbunyi, lebih tepatnya alarm. Aku segera mematikan alarm dan melihat waktu pada handphoneku.


01 - Juni - 2020


07 : 45


"Oh ****, hari senin waktunya kuliah pagi." Aku segera berpakaian rapi dan segera pergi ke kampus sendiri. "Hari senin adalah hari yang paling menyebalkan," gumamku dalam hati. Hari senin adalah hari dimana kuliahku masuk pagi, yang seharusnya pagi-pagi itu enaknya rebahan dan bersantai ria sambil menonton anime atau baca komik.


Beberapa menit kemudian, aku masuk kedalam ruang kelas kuliahku. Untungnya masih belum ada guru masuk. Seperti biasa, aku menjadi penyendiri dan berjalan ke bangku terbelakang sendiri.


Tak lama kemudian, dosen masuk dan dibelakangnya terdapat seseorang wanita seumuranku yang sama persis  seperti Silvia yang di dalam mimpiku. "Bagaimana ini mungkin? Apakah mimpiku itu sebagai pertanda karena aku akan bertemu dengannya?" Batinku sambil mengerutkan kening.


"Selamat pagi, sekarang prodi kita mendapati mahasiswi pindahan dari universitas exyezet." Dosen mata kuliahku menyampaikan info mengenai mahasiswi yang di sampingnya.


"Mari perkenalkan dirimu." Dosen menepuk pundak mahasiswi tersebut.


"Perkenalkan, nama saya Silvia Safitri, biasa dipanggil Silvia. Salam kenal semuanya dan mohon bantuannya," ucap Silvia dengan sangat sopan.


"Kamu silahkan duduk di tempat yang kosong." Dosen mempersilahkan Silvia. Silvia segera mengangguk dan berjalan ke tempat yang kosong. Anehnya, dia berjalan ke arahku dan langsung duduk disampingku yang kebetulan emang tak ada siapapun yang mau duduk disampingku denganku.


Aku tertegun dan pura-pura mengabaikan Silvia yang duduk di sampingku. Para mahasiswa-mahasiswi lainnya menoleh dan menatap ke arahku. Tatapan yang seperti seekor singa yang mendapati mangsanya. "Apa salahku coba?!" Geramku dalam hati.


"Mari kita mulai mata kuliah hari ini ...." Dosen segera memulai perkuliahanya yang terasa bosan kalau monoton. Silvia yang disampingku menyentuh bahuku dan berkata. "Permisi, apa aku boleh lihat catatanmu?"


Suara Silvia terdengar tepat ditelingaku. Suara yang sama persis dengan suara yang telah kudengar dalam mimpiku. "Boleh, ini. Tapi punyaku tak lengkap, jika kamu mau. Kamu bisa meminjam anak cewek yang lebih suka menulis," ucapku, namun aku masih memberikan catatanku padanya.


"Aku hanya melihatnya sebentar, hanya mencocokkan dengan apa yang aku pelajari di universitasku sebelumnya," jawab Silvia dengan senyumnya yang begitu terpatri pada ingatanku.

__ADS_1


"Oh iya, siapa namamu?" Tanya Silvia.


"Oh iya, namaku Raizhen," jawabku spontan dan menyadari ada yang salah.  "Oh bukan, namaku Arif Senpaii. Panggil aja Arif."


"Ehe, kamu kenapa? Kok kayak kebingungan," respon Silvia dengan tawa kecil. Aku hanya membalas Silvia dengan senyumku.


"Jika ini terus berlanjut, aku pasti menjadi baper dengan Silvia yang ada di sampingku," batinku dan pura-pura fokus dengan mata kuliah yang dijelaskan dosen di depan.


Mata kuliah hari ini adalah Struktur Konstruksi Bangunan dan Fisika bangunan. Dua mata kuliah tersebut penuh dengan angka-angka dan rumus yang membuatku malas. Akhirnya, aku tertidur menenggelamkan kepalaku di atas tasku yang ada di atas meja.


"Arif ... Ariff ...." Suara Silvia membangunkanku, aku menoleh ke arah Silvia secara tak sengaja. Saat tatapanku dengan tatapan silvia bertemu. Aku tersentak kaget dan segera memalingkan mukaku ke arah lain dan bergumam dalam hati. "Kenapa aku menjadi malu dan deg-deg an begini?!"


"Dosen sudah keluar, tapi meninggalkan sebuah tugas dan harus dikumpulkan nanti siang," ucap Silvia yang sudah mengetahui diriku yang sudah bangun. Aku yang mendengarnya hanya menjawabnya dengan satu kata. "Oke."


"Kenapa masih deg-deg an gini? Aku harus dapat menenagkan diriku sebelum aku salah tingkah dibuatnya," batinku dan segera mencoba menenangkan diriku, lebih tepatnya menenangkan detak jantungku yang berdetak cepat.


Mengenai tugas kuliahku, aku hanya menyerah dan berniat tak mengerjakan tugas. Angka dan rumus menurutku sangat membingungkan dan membuat gairah hidupku berkurang.


"Ini, aku sudah menyelesaikan tugasku. Kamu bisa menyalinnya!" Ungkap Silvia yang seolah-olah mengerti keadaanku dan ketidaksukaanku terhadap angka dan rumus.


"Tunggu!" Aku seketika berhenti karena mendengar teriakan Silvia. Aku menoleh ke arah sumber suara dan melihat Silvia yang terburu-buru menuju ke arahku.


"Ada apa?" Tanyaku padanya yang sudah berada di depanku.


"Aku juga tak tahu, tapi aku tiba-tiba merasa aneh dan kesepian saat kau tinggalkan," ucap silvia terang-terangan.


Aku tertegun dan berfikir sejenak. "Apakah mimpiku mengenainya mempengaruhinya?"


"Apa aku boleh bersamamu?" Tanya Silvia yang melihatku diam tanpa kata.


"Terserah," jawabku cuek dan segera melangkah pergi. Sedangkan Silvia terus mengikutiku dibelakangku.

__ADS_1


Dalam perjalanan menuju kosku, "Arif, dimana kamu tinggal?" Tanya Silvia yang pasti kurang faham dengan kawasan di sekitar universitas barunya.


"Aku tinggal di kos, tapi kenapa kamu masih mengikutiku?" Tanyaku padanya.


"Aku juga tinggal dikos lewat arah sini, jadi kita kayaknya jadi tetangga. Hehe," jawab silvia dengan senyum dan tawa kecilnya. Aku yang mendengar jawaban dari Silvia, merasa tak percaya. "Apakah itu benar?"


Silvia segera menjawab. "Benar, kosku berada di Gang pelangi RT 2 nomor 31,"


"Apaaaa?!" Aku tersentak kaget.


"Kenapa?" Tanya Silvia.


"Itu juga kosku, bagaimana bisa? Kosku adalah kos laki-laki!" Ujarku dengan ekspresi tak percaya dan juga heran.


"Tapi, aku memang tinggal di kos situ," jawab Silvia.


"Ah bagaimana bisa? Aku masih ingat dengan jelas bahwa kos yang aku tempati adalah kos lakk-laki," responku yang masih tak percaya.


"Jika kamu tak percaya, aku bisa membuktikan kepadamu, humm," ucap Silvia dengan cemberut namun masih tetap saja imut.


Aku mengabaikannya dan segera terus berjalan ke arah dimana kosku berada. Saat aku hampir sampai di kosku, suara entah darimana mengagetkan jiwa ragaku.


"Ding"


"Akhirnya, aku telah sampai padamu ...."



jangan lupa like nya ya, kalau ada saran atau kritik dipersilahkan.


__ADS_1


Selain itu, jika kalian berkenan. kalian dapat mampir ke cerita kakakku yang berjudul "Menggapai Pelangi" yang bergenre romence comedy, dijamin seru dah. terimakasih.


 


__ADS_2