
Tiba tiba sistem terdengar memberitahuku mengenai Raisa.
"Ding"
"Raisa (Ratu Vampir) dalam tahap kebangkitan."
"Beri dia darahmu, untuk menstimulasi kebangkitanya dengan lancar."
Aku tertegun dengan situasi ini.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana caranya agar Raisa keluar dan meminum darahku?" Tanyaku pada sistem.
"Ding"
Dalam seketika Raisa ada di depanku, biasanya ia terbang di atas bahuku sekarang dia lemas lunglai di depanku.
Aku segera menggigit jariku hingga berdarah, lalu ku masukkan jariku ke dalam mulutnya.
"Ding"
"Kesehatan anda berkurang"
"Ding"
"Kesehatan anda berkurang"
"Ding"
"Kesehatan anda berkurang"
Darahku / kesehatanku terus berkurang karena dihisap oleh Raisa. Sayapnya dan tubuhnya mulai berubah, yang awalnya hitam pekat menjadi mulai memerah dan memerah bahkan persis dengan warna Darah.
"Ada apa ini? Kenapa Raisa jadi merah?" Silvia yang keluar dari kamar mandi tersentak kaget dengan warna kulit raisa yang menjadi berwarna merah yang membara.
"Raisa mengalami perubahan, kamu cepatlah berpakaian. Jangan hanya diam saja dengan balutan handukmu itu," Ucapku mendesak Silvia agar segera berpakaian. Jika Silvia terus memakai handuk, itu sama saja mengundang singa ke kawanan domba.
"Jangan menatap tubuhku terus terusan. Dasar mata keranjang!!!" Teriak silvia yang buru buru ke ruang ganti.
"Laki laki emang serba salah dah, bukan hanya saja di bumiku duniaku, ternyata di dunia lain sama saja," Ungkapku pelan sambil menggelengkan kepala.
"Aaghh, tuannn!" Raisa seperti mengerang kesakitan.
"Tahan Raisa. Kamu lagi di masa awakening/pembangkitan, tubuhmu akan mengalami perubahan. Ini seperti yang di alami oleh gadis muda yang disaat masa pubertas," Ungkapku pada Raisa.
"Buk," handuk terbang mengenaiku.
"Bagaimana bisa seperti itu kau samakan dengan masa pubertas?" Silvia melemparkan handuk nya bekas dia mandi. Aroma harum masih tercium di handuk tersebut.
"Heheh, kan sama gitu, sama sama mengalami perubahan," jawabku dengan cengengesan.
"Kamu cantik sekali silvia," Aku menoleh ke arah Silvia yang telah berganti pakaian. Sekarang Silvia benar benar cantik, parasnya yang menarik seperti putri di cerita dongeng.
Silvia hanya tertunduk malu dan berjalan mendekatiku, sedangkan Raisa masih diam menahan kesakitan.
"Ding"
"Kesehatan anda kurang dari 10 poin"
__ADS_1
Sistem menyadarkanku.
"Ah, silvia cepat beri aku kesehatan." Aku buru buru menyuruh Silvia untuk memulihkan kesehatanku.
"Pemulihan kesehatan" "Healing"
Silvia segera menggunakan kemampuanya dan melakukan seperti yang aku minta.
Detik menjadi menit, waktu terus berjalan, malam pun tiba. Tapi Raisa masih terus mengerang kesakitan dan trtus terusan menyedot darahku hingga aku pucat.
"Silvia, kamu tidurlah di sebelahku sini, di bagian sisi kasur yang kosong ini." Aku membujuk Silvia yang sudah terlihat ngantuk dengan mata sedikit memerah.
"Tapi.. Raisa belum selesai kebangkitanya. Aku ingin menunggu hingga selesai terlebih dahulu," Ucap silvia.
Tak lama kemudian.
"Shringggggggg" cahaya merah cerah keluar dari tubuh Raisa yang menyilaukan mata hingga menerangi ruangan kamar tidur tempatnya berada. Bahkan Cahaya nya menembus kaca jendela hingga dapat terlihat dari jendela kamar tidur.
Aku dan Silvia menutup mata hingga cahaya mulai redup dan redup. Aku pun mulai membuka mata dan melihat Raisa yang telah berbeda.
"Hehe, Tuan Tuan. Aku telah sangat berubah," Ucap Raisa yang terus melihat tubuhnya yang benar benar telah berubah.
"Ternyata Raisa benar benar bisa berubah seperti ini," Dugaanku dari awal ternyata benar. Tapi aku masih belum bisa mempercayainya apa yang kulihat.
"Waaaah, Raisa kamu benar benar imut sekarang," Silvia memeluk Raisa yang begitu imut sekarang.
Raisa yang telah berubah menjadi anak perempuan kecil yang begitu cantik nan imut dan tampak seperti lagi berumur 5/6 Tahun dengan rambut hitam panjang yang mempercantik dirinya.
"Tuan, apa aku cantik?" Raisa tiba tiba menanyakan pertanyaan bodoh yang jelas jelas sudah tahu jawabanya.
"Kamu benar benar cantik, bahkan kamu lebih cantik daripada Silvia, hehe," Aku memuji Raisa sambil mengelus ngelus kepalanya.
"Oooouhhhhh, jadi gituuuu," Silvia memberi tatapan kematian pada diriku. Jiwaku tiba tiba beegetar ingin segera kabur dari pandanganya.
"Eheheh, tapi sayangnya aku masih belum sebesar kak Silvia. Butuh level 30, aku akan bisa sebesar dan setinggi kak Silvia." Ucap Raisa yang tak sabar untuk menjadi besar.
"Hehe, Aku akan terus menunggu ituuu," Aku tersenyum bahagia.
"Raisa, tapi kamu jangan ambil tuanmu ini dariku yaaaaa! Hehe," Silvia seakan akan memiliki sedikit persaingan terhadap Raisa.
"Kak Sil, Aku dari awal sudah milik tuanku. Bagaimanapun Aku adalah milik tuan dan tuan adalah pemilikku. Ehe," Ucap Raisa menggoda Silvia.
"Aaaakhhh, Raisaaaaa. Ku cekik kauuuuuuu!" Teriak Silvia bercanda dengan Raisa.
Raisa Silvia pun kejar kejaran dan tawa terdengar di kamar tidur ini.
"Aaaahhh, tuannnnn," Raisa bersembunyi di belakangku.
"Hehe, Sudahlah Silvia. Kamu segeralah Tidur, tak baik untuk kesehatan kulitmu jika tidur malam malam, tapi apa kita tidur bersama?" Tanyaku pada Silvia.
"Ituuu.. hmm.. jikaa.. kamu mau.. tak apa.. tapi jangan.. melakukan hal.. hal yang .. aneh ya.." Ucap Silvia dengan terbata bata sambil menunduk malu dan memainkan jari jemarinya.
"Jangan lupakaan akuu!" Teriak Raisa yang bersembunyi di belakangku.
"Hehe, oh iya Raisa, Apa kamu bisa menjadi Kalelawar lagi sesukamu?" Tanyaku pada Raisa yang terlihat cemberut karena terlupakan.
__ADS_1
"Aku masih bisa menjadi kalelawar dan terbang sesukanya. Selain itu, aku memiliki Kemampuan baru tuan." Ucap silvia sambil bergaya kek artis yang lagi mengadakan sesi pemotretan.
"Apa ituu?" Tanyaku penasaran.
"Deadly Lightning, Petir kematian"
Raisa mengucapkan sihir dan tiba tiba di tangan mungilnya muncur sebuah petir merah yang dapat ditembakkam ke arah yang diinginkan.
"Wawwww, ini sama seperti kemampuan misil air rajaku. Bedanya cuma dalam elemenya, haha, aku harus segera bereksperimen mengenai Sihir lagi," Ucapku dengan Semangat yang membara.
"Baiklah mari kita tidur," Imbuhku pada Raisa dan Silvia.
Aku tidur dengan Silvia. Sedangkan Raisa berada di antara Aku dan Silvia.
Waktu terus berjalan, matahari mulai terbit.
"Tok tok tok tok"
Suara pintu terketuk, Silvia pun membukanya dan melihat pelayan manis membawakan beberapa piring makanan.
"Terima kasih yaa," Ucap silvia yang ramah kepada pelayan itu.
"Selain itu nona, setelah anda makan. Anda dan tuan pahlawan disuruh Tuan Zhiev turun ke rumah tamu, katanya ada hal penting yang akan di bicarakan. Saya undur diri nona pahlawan," Ucap pelayan itu dan segera kembali.
Kita pun makan bersama. Baru kali ini Raisa bisa makan dan baru kali ini Aku dan Silvia bisa makan nasi seperti di dunia kami.
Setelah itu, Aku dan Silvia menuju ke Ruang tamu, sedangkan Silvia menjadi kalelawar dan memasuki diriku.
Di Ruang tamu tersebut ada 4 orang selain Zhiev.
"Kemarilah Tuan pahlawan dan nona pahlawan, kita akan membahas strategi dalam menangani invasi monster yang sudah di ketahui kapan terjadinya itu." Zhiev seperti biasa menyambutku dengan ramah.
Aku dan Silvia segera duduk di kursi yang sudah di sediakan oleh Zhiev.
"Jadi, invasi monster akan terjadi pada......."
Terimakasih Atas dukungan nya.
Terimakasih atas Vote nya dan like nya.
Terimakasih atas saran dan kritiknya.
Semoga makin jadi lebih baik dan lebih baik.
__ADS_1