
Aku melihat Ruangan di balik pintu merah semu itu...
Ruangan yang seperti ruang penyiksaan manusia, banyak jeritan jeritan yang ku dengar dari mereka, mereka merintih kesakitan dan minta pertolongan.
"Aaaghhh, tolong kami"
"Tolonggg"
"Lepaskan kamiii!!!!"
"Aaagh, bunuh kami!!"
"Kami sudah tak tahan!!!"
"Dengan penderitaan ini"
"Selamatkan kami!!"
Aku makin mendengar jeritan mereka, aku makin merasa bingung, gemetar, marah, bagaimana bisa raja bodoh se tega ini terhadap para manusia.
Di dalam ruangan itu, ada sebuah penjara besi, banyak manusia yang hanya menyisakan badan dan juga kepala, mereka menjerit kesakitan di balik jeruji.
Tangan kaki sudah terputus bersih dan di tumpuk di pojok penjara hingga ada yang membusuk menghitam lebam.
Darah masih menetes dari sisa badannya, sesekali aku bahkan melihat dari banyaknya manusia yang mata nya tercongkel dari wajahnya, bahkan hidungnya terpotong bersih.
Perbedaan manusia dengan mayat hidup adalah adanya darah, sedangkan manusia yang kulihat ini benar benar manusia murni yang masih hidup, jika mereka menjadi mayat hidup, mereka takkan berdarah seperti ini.
Aku ingin menolong mereka yang menjerit kesakitan,sayang nya aku tak punya kemampuan yang maha kuasa yang dapat mengembalikan anggota tubuh mereka, meski aku punya kemampuan regenerasi, itu takkan mungkin bisa mengembalikan kaki tangan mereka.
"Ya tuhaaan, aku masih terlalu naif, aku masih mengira ini hanyalah sebuah permainan yang hanya ada para monster untuk dikalahkan"
"aku bahkan melupakan sifat buruk dari para manusia yang mempunyai kekuasaan, yang berambisi hingga melupakan rakyat nya, yang hanya memikirkan kegoisan nya" Ucapku pelan dengan minitikkan air mata.
Aku mulai masuk ke dalam penjara dan seketika mendengar suara lemah yang membuat hatiku benar benar pilu.
"Nak, tolong bunuh saja kami, meski kamu membawa kami keluar dari sini, kami takkan bisa hidup lebih lama"
Aku mencari siapa yang berbicara itu, akhirnya aku menemukan seorang kakek kakek yang terlentang menghadap langit penjara serta nafasnya seakan akan sudah saatnya habis.
"Semua orang yang disini telah di beri racun yang dapat membuat orang mengalami kesakitan dan keperihan berlipat lipat kali" tambah kakek tua itu dengan suara pelan ditambah dengan suara bising dari manusia lain yang meminta pertolongan, aku hampir tak mendengar yang di katakan kakek tua itu.
Aku benar benar marah
"Tuhan, Maafkan aku."
"Aku akan terima apapun hukumanmu"
"Aku akan mengantarkan para manusia ini ke surgamu"
Aku memantapkan tekadku dan menebas para manusia yang masih hidup di penjara ini.
"Slash slash"
"Ding"
"Anda membunuh Makhluk yang tak berdosa"
"Dosa anda bertambah 1"
Suara sistem pun terdengar.
"Bahkan jika dosaku bertambah sampai seukuran gunung, aku takkan berhenti dan mengakhiri penderitaan manusia yang disini" Aku berteriak keras kepada sistem.
__ADS_1
Bahkan, Saat aku pertama kali mulai menebas dan membunuh manusia yang di dalam penjara, manusia yang lain seakan akan pasrah dan seakan akan menunggu giliran akan kematian nya
Ini membuatku semakin tak tega, tapi
"Slash slash"
Aku hanya terus menebas leher mereka sekali tebasan, agar tak menambah kesakitan yang mereka alami.
Darah terciprat ke mana mana, air mataku mengalir ke pipi dan menetes ke bawah.
"Ding"
"Anda membunuh Makhluk yang tak berdosa"
"Dosa anda bertambah 1"
"Ding"
"Anda membunuh Makhluk yang tak berdosa"
"Dosa anda bertambah 1"
"Ding"
"Anda membunuh Makhluk yang tak berdosa"
"Dosa anda bertambah 1"
"Ding"
"Anda membunuh Makhluk yang tak berdosa"
"Dosa anda bertambah 1"
"Aku akan membunuhmu raja bodoh, aku akan memotong tubuhmu seperti yang kau lakukan pada para manusia" aku benar benar mengutuk raja bodoh dalam hatiku.
Aku merasa mual dengan yang ku alami saat ini, tapi aku masih terus menebas manusia yang masih hidup.
Aku juga masih terus meneteskan air mata dan terus mengaliri pipiku dengan air mataku.
Saat aku hampir selesai menebas para manusia dalam penjara ini.
Masih ada satu orang yang masih hidup dalam penjara.
Aku menghampirinya, dan mendekatkan telingaku ke mulut orang yang masih hidup itu, karena aku melihat nya menggerakkan mulutnya hendak berbicara.
"Nak, terimakasih telah mengantarkan kami ke surga, tolong balas dendamkan dendam kami dan semua ini ke raja bodoh"
"Kami semua disini adalah para pejuang yang menolak untuk mengikuti perintah dari raja bodoh untuk menjadi anak buah nya (mayat hidup)"
"Hasilnya, kami di hukum disini,Laki laki maupun perempuan di perlakukan sama disini, semua di potong bersih"
"Jika kamu melihat anak anak kami dan cucu kami, jika mereka masih hidup tolong selamatkan, jika mereka sudah mati tolong antarkan anak cucu kami ke surga" ucap orang tua itu dengan suara yang benar benar kecil dan lambat dalam bicaranya.
"Baiklah, aku akan"
Aku memberi penghormatan terakhir kepada nya dan membunuhnya.
Kepalanya terputus tapi dia masih tersenyum.
"Ding"
"Anda membunuh Makhluk yang tak berdosa"
__ADS_1
"Dosa anda bertambah 1"
Suara sistem terus terdengar setelah aku membunuh nya.
"Ding"
"Anda telah menerima misi"
"Bunuh Raja bodoh, balas dendamkan kepedihan penduduk kota ini"
"imbalan : ??????"
Setelah menerima misi, Aku langsung keluar dari ruangan itu dan duduk merenung, bersandar di pintu warna merah semu.
"Ya tuhaan"
Aku gemetar ketakutan, merasa bersalah, hawa dingin menusukku, bau darah amis mengosongkan pikiranku, aku baru pertama kali membunuh manusia, warna darah nya seakan akan menghantuiku, ini benar benar menyesakkan hati, pikiranku benar benar kacau untuk saat ini.
*-*-*-*
Di tempat silvia dan raisa berada.
"Raisa, kenapa hatiku tak tenang ? Apakah tuanmu dia baik baik saja ?" Tanya silvia kepada raisa dengan rasa khawatir yang mendalam.
"Tuanku pasti baik baik saja" jawab raisa dengan optimis
"Semoga saja, aku tak ingin jika dia kenapa napa" jawab silvia.
Raisa hanya diam.
"Aku sejak tadi, mencium aroma bau darah dari tuanku dan juga bau darah dari manusia lain"
"Semoga tuanku baik baik saja" gumam raisa dalam.hati.
*-*-*-*-*
Aku masih bersandar di pintu warna merah semu, pikiranku masih kacau.
Beberapa menit kemudian, aku sudah sedikit dapat tenang dan pikiranku yang kacau sudah mulai jernih.
Aku mulai bergerak menyusuri lorong yang sama sebelum aku memasuki pintu warna merah semu ini.
Aku Hanya melangkah maju belasan langkah dan aku sudah melihat pintu yang sama dengan yang tadi, pintu yang berwarna merah semu dengan cahaya merah darah yang mengelilingi pintu tersebut.
Aku mendekati pintu tersebut dan mendorong pintu itu hingga terbuka.
"Sungguh biad*p baj*ngan kau raja bodoh!!!!!".
Pikiranku sekarang benar benar kacau dan hampir pingsan saat melihat kejadian yang di dalam nya.
ini mengandung kekerasan, jadi perlu di jadikan konten dewasa.
jangan terlalu di bayangin, takutnya mengganggu pikiran pembaca.
jika perlu di ubah dalam hal konten kekerasanya, akan saya merevisi nya nanti malam.
jika ada saran dan komentar, silahkan beri saya saran dan kritikan yang membangun.
__ADS_1