Legenda Sang Pahlawan : Another World Of Venatra

Legenda Sang Pahlawan : Another World Of Venatra
48 - Menuju Kota Evanest


__ADS_3

Saat kita (Aku, Zhiev dan Anak anak) berada di luar, aku melihat sekeliling dan terkejut.


"Kenapa jadi seperti iniii?????" Ucapku dengan suara pelan keheranan.


"Aku yakin. tadi pas Aku masuk ke area bawah tanah, disini itu perumahan yan bagus dan rapi? Kenapa Sekarang kok jadi sebuah Rumah kumuh yang tak layak pakai?" Ku bertanya pada Zhiev yang juga merasa keheranan.


"Entah, aku merasa aneh sekarang." Jawab Zhiev yang terus melihat sekitar.


"Mungkin tuan putri kota Evanest mengetahuinya." Imbuh Zhiev.


"Zheeeennnn, tempat ini telah berubah tiba tiba!!!" Teriak silvia dan berlari ke arahku dan Raisa si ratu kalelawar terbang di atas silvia.


Raisa terbang langsung memasuki diriku (kedalam tempat khusus yang di sediakan sistem).


"Iya, aku juga tau, apakah ini ilusi? Apakah yang aku lawan di area bawah tadi juga ilusi?" Aku bertanya tanya


Tiba tiba Silvia tepat di depanku dan berniat bermain dengan anak kecil yang aku gendong.


"Zhen, siapa anak kecil ini???, uluh uluh comelnyaaaa.Hehe, aku gendong donggg!!" Lirih Silvia dan mulai menggendong anak yang aku gendong tadi.


Aku menuruti saja kemauan Silvia dan masih terus melihat sekeliling di kawasan ini.


5 menit kemudian..


"Kak, kakakk.." Aku menengok dan melihat Anak yang menarik tangan kananku.


"Ada apa dek?" Tanyaku sambil mengelus kepalanya.


"Itu kak, dari awal kota ini memang seperti ini, saat kami dipaksa orang menjijikkan ke area bawah ini pun seperti ini kak!!" Ucap anak itu yang terlihat berumur 13/14 tahun.


"Ouh, iya kah dek? Hehe, makasih ya Adek manisss." Ucapku dengan lembut.


"Siapa namamu dek?" Ku bertanya padanya.


"Namaku Natasha kak. Oh iya kak, apa aku bisa melakukan sihir seperti kakak kakak?" Ucap Natasha sambil melirik ke anak anak yang lainnya.


Natasha berniat untuk melindungi anak anak yang lain, karena Hanya Dia yang sudah berumur 14 tahun dan yang lain rata rata berumur 7 hingga 10 tahun.


"Adeeek, jangan terlalu terbebani yaaa!!! aku akan membawa kalian ke tempat yang aman dan kalian semua pasti akan di ajari sihir atau ilmu pedang di tempat itu." Ucapku sambil mengelus pipi natasha.


"Kak, apa itu benar? Hiks hiks. kak, keluarga kita semua sudah tak ada, aku masih tak bisa menerima ini?. Hiks hiks." Natasha tiba tiba menangis dan memengaruhi anak yang lain.


"Kakakkk, jaga kamiiiii."


"Kak, aku lapar."


"Hiks hiks, aku ingin bertemu ibuuu."


Banyak rengekan dari anak anak terus terdengar.


"Jangan nangis adek adek, nih kakak punya apel yang rasanya manis seduuniaa." Ucap Silvia yang berniat untuk menenangkan mereka.


Anak anak langsung berlari dan memeluk kaki silvia.

__ADS_1


"Adek adek, kakak juga punya lho kalau apel." Ucapku sambil mengeluarkan sebuah apel kuning.


Tapi tak ada yang menghampiriku bahkan mengabaikan aku sepenuhnya.


Natasha tiba tiba tertawa karena melihat ekspresiku yang terlihat bodoh dan semua anak anak ikut tertawa.


"Sis, apa tadi benar benar ilusi?" Tanyaku pada sistem.


"Ding"


"Sudah tak diragukan lagi,kota ini awalnya hanya sebuah ilusi, tapi bukan area bawah tanah nya." Ucap sistem dengan yakin.


"Tapi siapa yang bisa menjadikan sebuah kota menjadi ilusi, kalau bukan..."


"Kaki tangan Raja Iblis"


Aku dan sistem berbicara bersamaan.


*-*-*-*-*-*-*-*-**-*-*-*-*-**-*--**-*-


tanpa di ketahui si Main Character.


Di sebuah pemakaman/kuburan, ada sosok berjubah dan menutupi seluruh tubuhnya.


"Hachuuuu." Suara bersin


"Siapa yang berbicara tentangku ya?? Bikin konsentrasi buyar saja." Ucap nya menggerutu.


Dia mulai mengucapkan sebuah mantra yang panjang.


"Kebangkitan Abadi"


Pemakaman/Kuburan itu tiba tiba mengeluarkan asap hitam dan di setiap kuburan muncul sebuah tengkorak manusia bahkan ada mayat binatang yang dapat bergerak sendiri.


"Kami semua berjanji akan selalu melayani Raja blis"


"Kami semua berjanji akan selalu melayani Raja iblis"


"Kami semua berjanji akan selalu melayani Raja iblis"


Tengkorak tengkorak itu dengan serentak mengucapkan janji setia kepada Raja iblis.


"Hahaa haha haha, Baiklah, Tunggu Sampai Semuanya berkumpul disini dan Mari kita menuju ke kota Evanest"


Ucap sosok itu dengan tawa yang keras.


Dan dengan sekejap, Kuburan yang penuh dengan tengkorak itu tiba tuba berubah menjadi sebuah perumahan yang persis sama seperti yang di lalui Main Charecternya.


*-*-*-*-*-*-**-*-*-*-**-*-*-**-*-*-*-*


Di tempat di mana main characternya berada.


"Zhiev, bagaimana cara kita pergi ke Kota evanest? Tanyaku pada zhiev.

__ADS_1


"Kita akan pergi dengan seekor burung Phoniex es, tapi bawahanku belum sampai disini" Ucap Zhiev.


"Mungkin harus menunggu sedikit lama." Tambah Zhiev.


"Jika harus menunggu, itu tak masalah. Yang bermasalah apakah di kota evanest akan aman untuk Anak anak ini? Mereka sudah tak punya keluarga dan mereka ingin belajar ilmu sihir dan pedang untuk melindungi dirinya sendiri." Ucapku panjang lebar kepada Zhiev.


"Untuk Saat ini, Kota evanest mungkin yang paling Aman. Sedangkan, untuk pelatihan Ilmu sihir dan ilmu pedang, kami masih belum melakukan nya lagi karena kita masih dalam situasi siaga, takutnya ada monster yang menjebol perbatasan kota evanest." Ucap Zhiev dengan tegas.


"Untuk Anak anak, akan saya tempatkan di mansion saya terlebih dahulu. Disana ada banyak penjaga yang menjaga mansion saya." Tambah Zhiev.


"Itu bagus, aku akan membantu kota Evanest atas kebaikan ini, oh bukan, itu adalah kewajibanku." Ucapku sambil menggelengkan kepala.


"Apa yang kau mau dariku Zhiev untuk membalaskan jasamu nanti?" Tanyaku pada Zhiev.


"Apakah pahlawan tak menyelamatkanku tadi? Anggap saja ini adalah kebaikanku karena pahlawan telah menyelamatkan hidupku." Ucap Zhiev dengan Rasa bersyukur yang amat dalam.


"Hehe, baiklah kalau gitu. Oh iya, lebih baik kamu panggil aku Zhen atau Arif, jangan panggil pahlawan. Sedangkan pahlawan wanita yang bermain dengan Anak anak adalah Silvia. Dia adalah Wanitaku." Ucapku.


"Wushhhh, wusshhhh" Suara kepakan sayap burung terdengar di langit langit.


Burung itu turun di depan kami dengan perlahan. Burung itu adalah Burung Phoniex es yang di maksut Zhiev tadi.


Burung Phoniex es dangan tubuh seperti burung pada umumnya, namun burung phoniex ini berwarna biru es dan sangat besarr sebesar pesawat terbang dengan sayap dan ekor nya yang indah berseri seri.


"Pemimpin, kami sudah mengikuti instruksi dan siap menuju ke kota evanest"


Seorang yang di duduk di kepala burung besar memberi laporan ke arah Zhiev.


"Baiklah, mari kita naik." Zhiev berbicata kepada semua orang yang ditempat.


"Anak anak, ikuti kakak Zhiev ya." Ucap Silvia kepada anak anak dengan senyumnya yang manis.


"Iya kakak cantiiikkk."


"Heheh, kakak juga ayo kesana."


Anak anak bersemangat dengan ajakan Silvia.


Silvia pun mengarahkan Anak anak untuk menaiki Burung Phoniex.


Saat semuanya telah naik, akhirnya aku naik di belakang sendiri untuk mengawasi anak anak.


"Baiklah, Mari berangkatttt ke kota Evanest. Pegangan yang erat yaaa." Ucap Zhiev dan memperingatkan kepada semua orang.


"Whusshhh"


Burung Phoniex es mulai terbang dan menuju ke kota Evanest.


 


Makasih atas dukunganya..


Jika ada saran atau kritik, silahkan komentar yaaaa!!!

__ADS_1


 


 


__ADS_2