
"Usir anak ini dari halaman rumahku, dia hanya akan membawa bala untuk desa kita!" Perintah dari seorang pria kaya dengan nada suara yang cukup keras.
Remaja pria itu hanya terduduk lemas tidak berdaya sambil menahan rasa lapar yang menyiksa dirinya.
Ia berharap bahwa pria kaya yang tengah berada di hadapannya sekarang ini memberikannya sedikit roti atau keju namun yang pria itu lakukan malah sebaliknya, ia mengusir remaja ini dan menendang tubuhnya berkali-kali hingga remaja itu terduduk lemas.
"Putraku, Lardo!"
Seorang wanita dengan pakaian kumuh yang ia kenakan langsung menghampiri remaja itu dan memeluknya erat. derai air mata berjatuhan membasahi pipinya saat itu juga.
"Kami memang miskin, Tuan Vans. Tetapi kami masih memiliki harga diri dan juga hati nurani, tidak seperti dirimu. Kau sama sekali tidak punya hati. Putraku memang meminta sedikit makanan darimu, namun apabila kau merasa keberatan, kau bisa menolaknya dengan cara yang baik. Tidak perlu dengan cara seperti tadi."
Wanita itu menciumi puncak kepala Lardo yang tak lain adalah putranya, lalu membantu Lardo untuk berdiri perlahan-lahan.
"Terima kasih atau perlakuanmu terhadap putraku, yang perlu kau ingat adalah, bumi itu berputar, mungkin kau sekarang sedang berada di atas dan menikmati semua kekayaan serta kekuasaan yang kau miliki. Tapi lihat saja nanti, semoga Tuhan tidak memberikan keluargamu karma jahat atas apa yang telah kau lakukan."
Wanita itu lalu menggendong Lardo dan membawanya pergi menjauh dari kediaman Keluarga Vans. Dengan air mata yang terus berjatuhan dan juga isak tangis yang terus terdengar, ia tak kuasa mengingat bagaimana cara mereka memperlakukan putra sulungnya itu dengan cara yang sangat kasar.
"Ibu, kumohon jangan menangis."
Lardo mengusap pipi ibunya dengan sangat lembut sehingga membuat sang ibu tak kuasa menahan tangisnya. "Ibu, aku tidak suka apabila ada seseorang yang membuatmu bersedih. Aku akan membalas perbuatan mereka dengan caraku sendiri."
mendengar ucapan Lardo membuat Wanita itu menarik senyum tipis sambil berusaha menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
"Kau harus belajar dengan tekun, Nak. Agar ketika kau besar nanti, kau tidak akan di injak-injak oleh orang lain lagi."
-8 tahun kemudian-
Hari ini adalah hari pertama Lardo bersekolah, ia merasa sangat gugup dan juga tidak penasaran dengan bagaimana suasa di sekolah barunya nanti. Lardo sangat rindu datang ke sekolah. Dan sekarang hari yang ia tunggu-tunggu selama ini sudah tiba.
"Lihat! Bukankah dia adalah putra dari keluarga Dimitri?"
"Benarkah dia putra dari Keluarga pengemis yang tinggal di gubuk belakang gereja?"
__ADS_1
"Apakah dia pantas bersekolah disini? lihat saja pakaiannya sangat lusuh dan kusam. dia terlihat seperti pengemis jalanan."
Baru saja sampai di sekolah, Lardo sudah mendapat banyak sekali ejekan dari anak-anak lain. Namun Lardo berusaha untuk tidak perduli karena tujuan Lardo datang kemari adalah untuk belajar. Selain hal itu bukanlah urusan dia.
Ia terus teringat akan tujuannya yaitu belajar tekun dan membuat nama Keluarga Dimitri di hormati dan juga disegani. Jadi sejauh ini dia tidak akan perduli dengan semua ucapan orang-orang tengah hidupnya.
Lardo duduk di bangku kelas 2 sekolah menengah pertama. Sebelumnya ia pernah bersekolah namun terhenti karena Keluarga Dimitri tidak sanggup membayar biaya untuk Lardo bersekolah. Sehingga Lardo memutuskan untuk membantu kedua orang tuanya terlebih dahulu selama beberapa tahun.
Berhubung ini adalah hari pertama ia bersekolah, sebelum memulai pembelajaran Guru di kelas pun mempersilahkan Lardo untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu kepada teman-teman sekelasnya.
"Namaku Lardo Dimitri, kalian bisa panggil aku Lardo." ucap Lardo memperkenalkan diri. "Bagaimana dengan panggilan si pengemis? aku rasa itu lebih cocok untuk dirimu. HAHAHA..." sahut seorang anak laki-laki yang duduk di bangku paling depan.
Lardo hanya terdiam sambil mendudukkan kepala, menarik nafas sejenak lalu berusaha untuk menahan diri agar tidak terpancing emosi.
"Baiklah, Lardo. Kau dipersilahkan untuk duduk di bangku yang sudah tersedia." Lardo menganggukkan kepalanya paham lalu mengucapkan terima kasih kepada Guru itu sebelum melangkah menuju bangku kosong yang akan ia tempati.
Bangku kosong itu terletak di sebelah bangku anak perempuan yang tengah sibuk dengan sebuah buku dan juga pena yang berada di genggamannya.
Guru pun memulai kegiatan pembelajaran yang di awali dengan pelajaran matematika. Walaupun bagi Lardo ini sedikit sulit karena Lardo sudah sedikit lupa dengan beberapa rumus matematika ini, Lardo tetap berusaha memahaminya dengan baik.
Lardo tetap terfokus pada tujuannya yaitu belajar dengan tekun demi masa depan yang gemilang seperti apa yang dikatakan oleh ibunya.
Bel pulang sekolah pun berbunyi, Lardo membereskan semua buku dan memasukkannya ke dalam tas. Semua murid sudah pergi meninggalkan kelas dan pulang ke rumah mereka masing-masing.
Hanya tersisa beberapa murid yang masih berada di dalam kelas karena jadwal piket termasuk perempuan yang duduk di bangku sebelah Lardo.
Dia terlihat sangat dingin dan cukup pendiam, berbeda dengan anak-anak lainnya. Saat jam istirahat pun dia hanya duduk di dalam kelas sambil membaca buku tanpa berniat untuk pergi ke kantin.
Setelah selesai membereskan buku, Lardo pun melangkah keluar dari kelas dan pulang ke rumahnya tanpa menegur perempuan itu sedikit pun. Karena Lardo juga merasa takut apabila perempuan itu terganggu nantinya.
Saat di perjalanan pulang, tiba-tiba Lardo bertemu dengan murid-murid yang tengah bermain di sebuah taman. tanpa sengaja salah satu dari mereka menyadari keberadaan Lardo di sekitar sana dan segera menghampiri dirinya.
"Hei, Pengemis! kau mau kemana? mau pulang ke rumah gubukmu yang penuh dengan sampah itu, ya?" ejek salah satu anak itu yang mengundang gelak tawa murid-murid lain.
__ADS_1
Lardo hanya terdiam dan melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah. Namun secara tiba-tiba salah satu anak nakal itu menarik tas Lardo agar langkah Lardo terhenti. Dengan sangat terpaksa Lardo menghentikan langkahnya dan memutar balik tubuhnya sehingga berhadapan dengan murid-murid itu.
"Berani-beraninya kau bersekolah di sekolah kami? apa kau tidak tau jika kehadiranmu hanya akan membawa sial?! apa kau merasa pantas bersekolah disana? ingatlah bahwa kau sama sekali tidak pantas."
salah satu murid itu menarik kerah baju seragam yang dikenakan oleh Lardo dan nyaris melayangkan tinjunya namun niatnya dihentikan oleh teriakan seorang perempuan dari kejauhan.
"BERHENTI!"
perempuan itu,
perempuan itu adalah perempuan yang duduk di bangku sebelah Lardo. Ia dengan nada suara yang lantang berusaha menghentikan aksi salah satu murid itu yang berusaha melayangkan tinjunya di pipi Lardo.
"Shenna, apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya murid yang berniat memukul Lardo tadi.
"Hentikan ini semua atau aku akan melaporkan kalian ke kepala sekolah lalu kalian di keluarkan dari sekolah karena aksi kekerasan terhadap siswa lain!" ancam perempuan yang bernama Shenna itu.
Lardo tertegun melihat perempuan itu datang untuk menyelamatkannya. Dan memberikan ancaman kepada murid murid nakal itu.
"Kau tidak memiliki bukti, bagaimana kau bisa melaporkan kami? benarkan semuanya?" tanya salah satu murid itu kepada murid yang lain.
"Iya, benar!" jawab murid-murid itu serentak. Lalu Shenna mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam saku seragamnya dan memperlihatkan sebuah foto yang dimana mereka berusaha menyerang Lardo kepada semua murid itu.
"Sial! Shenna, kau berani sekali membantu anak ini! Kau akan menyesal suatu saat nanti." Setelah mengucapkan itu, mereka semua memutuskan untuk meninggalkan Lardo dan juga Shenna.
Lardo pun menarik nafas lega setelah mereka semua pergi meninggalkan dirinya.
"Terima kas-"
"Apa kau akan tetap diam saja saat mereka memperlakukanmu seperti itu?"
Secara tiba-tiba Shenna memotong ucapan terima kasih Lardo dan membuat Lardo tertegun cukup lama. Hal itu membuat Shenna berdecih pelan dan memutar bola matanya malas.
Shenna melangkah pergi meninggalkan Lardo namun Lardo berusaha mengejar langkah Shenna dan terus berjalan di belakangnya.
__ADS_1
"Hey, bukan seperti itu maksudku. Aku tidak melawan mereka karena satu alasan." ucap Lardo memberi penjelasan yang langsung membuat langkah Shenna terhenti saat itu juga.
"Alasan apa?"