Lord Of Athlanda

Lord Of Athlanda
stay with me


__ADS_3

Di tengah gelapnya gudang hari itu, Shenna perlahan-lahan mulai sadarkan diri. ternyata Tuan Vans sama sekali tidak membukakan pintu gudang untuknya, bahkan sama sekali tidak memeriksa bagaimana kondisinya.


"Sakit sekali..."


Shenna berusaha untuk mendudukkan tubuhnya dan bersandar di dinding sambil menahan rasa lapar dan juga haus yang saat itu mulai menguasai dirinya.


"Tolong..."


Ia tidak mampu lagi bersuara keras, hanya ada sisa tenaga di dalam dirinya. ia tidak tau kalau Tuan Vans akan setega ini memperlakukan putrinya sendiri. "Emely, ku mohon bukakan pintunya." Pinta Shenna pada salah satu pelayan di rumahnya.


Pintu Gudang tak lama kemudian terbuka lebar, memperlihatkan dua orang pelayan yang bekerja di rumah keluarga Vans masuk dan melihat kondisi Shenna yang sangat lemah.


"Nona, kau baik-baik saja?"


"Apa ayah benar-benar berniat untuk membunuhku, Farida?" setelah mengucapkan itu, Shenna lagi-lagi tak sadarkan diri. membuat kedua orang pelayan yang bernama Farida dan juga Alma terkejut. ia langsung memanggil Tuan Vans dan meminta bantuan kepada beberapa pelayan untuk membawa Shenna ke dalam kamarnya.


Tak lama kemudian dokter pun datang, dokter menjelaskan kepada Tuan Vans tentang kondisi Shenna saat ini. tak ada sorot wajah khawatir yang terlihat di wajahnya, ia bahkan tidak merasa panik sedikit pun saat Shenna tidak sadarkan diri.


"Tubuh Shenna sangat lemah, dia kekurangan cairan di tubuhnya dan juga kelaparan. aku tidak tau apa yang terjadi pada anak ini tapi aku sarankan jangan biarkan dia telat makan dan kekurangan minum karena itu dapat membahayakan kondisinya." ucap dokter yang hanya membuat Tuan Vans mengangguk paham.


"Aku akan memberikan beberapa obat dan juga vitamin, harap diperhatikan kapan harus meminumnya. kalau begitu saya permisi." Tuan Vans mengantar sang dokter yang sudah beranjak meninggalkan rumahnya dan kembali memeriksa kondisi Shenna.


Ia mengecup dahi Shenna sekilas lalu mengusap rambutnya perlahan-lahan, "Ayah harap kau mengerti, ayah melakukan ini demi kebaikanmu. ayah tidak ingin kau bergaul dengan pengemis itu dan mendapat bala karena dirinya."

__ADS_1


Tuan Vans membiarkan Shenna beristirahat di kamarnya seorang diri. wajahnya sangat pucat dan juga tubuhnya yang sangat lemah membuat semua pelayan di rumah itu merasa kasihan terhadap dirinya.


Mereka menganggap perlakuan Tuan Vans sudah sangat keterlaluan hingga berani melukai anaknya sendiri. tapi mereka tidak bisa melakukan apapun. bagaimana pun juga mereka bekerja pada Tuan Vans, hanya membawa suatu masalah jika mereka menentang Tuan Vans nantinya.


Shenna perlahan-lahan membuka mata lalu melihat ke sekeliling ruangan. dia sudah berada di dalam kamarnya. ada bekas infus di tangan kanannya. ia sudah dapat menebak pasti Tuan Vans memanggil dokter setelah Shenna tidak sadarkan diri lagi.


Shenna tidak perduli dengan itu semua. dia hanya ingin bertemu dengan Lardo saat ini juga, dan melihat bagaimana kondisi Lardo karena Shenna sangat mengkhawatirkan dirinya.


"Aku harus pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi Lardo, tapi bagaimana caranya?" jalan satu-satunya adalah pergi melewati pintu belakang rumah agar tidak ada satu orang pun yang mengetahuinya.


Shenna turun dari kasur, berjalan ke arah lemari pakaian dan mengambil mantel miliknya. setelah itu ia bergegas pergi keluar kamar. melihat kondisi luar kamar yang sangat sepi, Shenna dengan cepat langsung pergi menuju pintu belakang.


Ia melihat semua pelayan tengah sibuk dengan urusan mereka masing-masing hingga tidak menyadari kepergian Shenna dari sana. Shenna berhasil kabur dari rumah tanpa sepengetahuan siapa pun.


Ia pergi dengan taksi menuju gubuk belakang gereja tempat keluarga Lardo tinggal. namun tidak ada ayah dan ibu Lardo disana, menurut penjaga gereja, mereka pergi ke rumah sakit terdekat karena Lardo di rawat disana. maka dari itu Shenna langsung pergi kesana tanpa basa basi.


Tak membutuhkan waktu lama, Shenna sampai di depan lobby rumah sakit dan pergi ke loket untuk mencari kamar Lardo di rawat. setelah itu petugas loket memberi tau kepada Shenna bahwa kamar rawat Lardo berada di lantai 6 nomor 31A.


Ia pergi mencari lift dan turun di lantai 6 lalu mencari kamar nomor 31A.


Shenna melihat dari luar kaca pintu, sosok Lardo masih terbaring di atas ranjang tidak sadarkan diri dengan perban yang berada di dahi dan juga tangan kanan Lardo. Ia perlahan-lahan membuka pintu kamar itu dan menghampiri Lardo yang berada di ranjang sana.


Shenna tak kuasa menahan tangisnya, ia spontan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya lalu melihat kondisi Lardo dari dekat. banyak luka lebam yang terlihat di wajahnya. ini semua terjadi karena orang-orang suruhan ayahnya.

__ADS_1


"Hei, anak bodoh. aku datang."


Shenna meraih tangan Lardo dan menggenggam tangannya erat. ia menarik sebuah bangku yang letaknya tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang lalu mendudukkan tubuhnya sambil terus memandangi Lardo dengan air mata yang berjatuhan.


"Aku... aku sangat khawatir terhadap dirimu. apa kau baik-baik saja? bagaimana kondisimu sekarang?" Shenna mengusap air matanya yang sedari tadi terus saja mengalir, ia tak mampu menahan tangisnya saat melihat kondisi Lardo sekarang.


Lardo dalam kondisi seperti ini karena dia memberontak terhadap orang-orang itu dan pergi menolong Shenna. maka dari itu Shenna merasa sangat bersalah dalam hal ini.


"Cepat bangun, lihatlah aku sedang menangis sekarang. kau bilang kau tidak akan membiarkan aku menangis. kau juga bilang kau tidak akan membiarkan aku bersedih. cepatlah bangun dan marahi aku karena sedang bersedih sekarang." Shenna menundukkan kepalanya dan terisak di bawah sana. mengapa hal seperti ini harus menimpa hidup Lardo yang sama sekali tidak bersalah?


"Kau berjanji kalau kau tidak akan meninggalkan aku sendirian karena takut aku merasa kesepian. kalau begitu bangun lah sekarang, jangan tinggalkan aku sendiri. bukan kah kau akan selalu menemaniku? aku juga akan selalu menemanimu, akan selalu berada di sampingmu." Shenna mengusap kepala Lardo perlahan-lahan sambil terus memandangi wajahnya.



"Cepat bangun, jangan biarkan aku sendirian disini." Shenna menutup wajahnya dan menumpahkan seluruh tangisnya di dalam sana. "Lardo, cepat bangun." Tanpa Shenna sadari, jari jemari Lardo bergerak perlahan-lahan.


Dan kelopak matanya pun terbuka sedikit demi sedikit. Lardo mengerjapkan matanya berkali-kali lalu melihat ke arah Shenna yang tengah menutup wajahnya sambil menangis terisak. "kenapa menangis? aku baik-baik saja." Shenna spontan langsung menurunkan kedua tangannya lalu melihat ke arah Lardo.


Lardo sekarang sudah sadarkan diri dan hal itu membuat Shenna merasa sangat senang. Shenna menarik senyumnya tipis dengan air mata yang masih terus berjatuhan.


"Jangan menangis." Lardo meraih tangan Shenna yang berada tak jauh di dekatnya lalu menggenggam tangan itu dengan cukup erat. "Aku baik-baik saja, jangan khawatir, ya?" Shenna langsung memeluk Lardo dan menangis di dalam pelukannya.


Lardo berusaha sekuat tenaga untuk menenangkan Shenna, meskipun kondisinya saat ini masih sangat lemah. "Jika aku berjanji kalau aku tidak akan meninggalkanmu maka aku tidak akan pernah meninggalkanmu. aku akan berusaha untuk menepati janjiku." Shenna melepas pelukannya dari Lardo dan tersenyum lebar.

__ADS_1


"Jangan tinggalkan aku, kumohon. tetaplah bersama denganku." Lardo menarik senyum tipis saat mendengar ucapan Shenna lalu mengusap punggung tangannya dengan sangat lembut.


"Aku berjanji, kau boleh pegang janjiku."


__ADS_2