
Bel pulang sekolah berbunyi, Lardo melangkah menuju loker untuk berganti sepatu lalu berniat untuk pulang namun ia menemukan sepucuk surat di dalam lokernya yang membuat ia tertegun cukup lama sebelum membaca surat itu.
Lagi dan lagi, surat itu adalah surat pemberian murid perempuan yang sama sekali tidak dikenal olehnya. di dalam surat itu menuliskan bahwa ia meminta Lardo untuk pergi ke halaman belakang sekolah karena ia ingin membicarakan hal penting kepada Lardo.
Dengan sangat terpaksa Lardo menyempatkan dirinya untuk menemui murid perempuan itu di belakang sekolah, dan yang benar saja... ia melihat seorang murid perempuan tengah duduk di sebuah kursi yang terletak di halaman belakang sekolah sambil memandangan lurus ke depan.
"Kau..."
Murid perempuan itu menoleh ke arah Lardo dan menarik senyum lebar saat Lardo sudah datang menemuinya. "Lardo, akhirnya kau datang. aku sudah menunggumu sejak tadi." Lardo menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Ada apa?" Murid perempuan itu menggerakkan sebelah tangannya untuk mengajak Lardo berjabat tangan dengannya sebagai tanda perkenalan. Lardo pun membalas jabatan tangan murid perempuan itu yang langsung membuat dia semakin tersenyum hingga memperlihatkan deretan gigi putih bersihnya yang cukup rapi.
"Aku Echi Yamate, ketua ekskul seni. aku ingin mengajakmu makan malam bersama denganku hari ini, apa kau ada waktu senggang?" Lardo menggelengkan kepalanya cepat sebagai jawaban sehingga membuat Yamate langsung memasang sorot wajah sedihnya. "Ahhh... sayang sekali. padahal aku sudah membelikan bahan-bahan makanan kemarin malam dan berniat untuk memasakanmu makanan yang spesial. tapi nampaknya kau sangat sibuk hari ini."
Lardo hanya terdiam, tidak menggubris ucapan Yamate sama sekali. "Yamate, aku sedang terburu-buru. jika tidak ada hal lain yang ingin kau bicarakan, aku akan pulang sekarang juga." Lardo membalikkan badannya hendak beranjak pergi. namun secara tiba-tiba Yamate melingkarkan kedua tangannya memeluk Lardo dari belakang.
Hal ini membuat Lardo benar-benar terkejut tidak karuan. "Kumohon... ikutlah makan malam bersama denganku!" Pinta Yamate dengan nada suara yang terdengar bersungguh-sungguh. Lardo tidak menggubris ucapan Yamate, ia langsung melepas pelukan Yamate. namun karena tenaga yang dikeluarkan Lardo terlalu berlebihan, hal ini membuat Yamate tersungkur hingga terjatuh ke tanah.
"Arghhh..." Yamate meringis kesakitan di bagian punggungnya karena terjatuh. secara spontan hal ini membuat Lardo merasa bersalah, ia langsung mendekat ke arah Yamate untuk memeriksa kondisi Yamate saat ini. "Maafkan aku, apa kau baik-baik saja? apa ada yang sakit? aku akan membawamu ke UKS sekarang." Lardo baru saja hendak membopong tubuh Yamate namun secara tiba-tiba...
plak!
Sebuah tamparan yang lumayan keras mendarat di pipi mulus Lardo sehingga membuat Lardo terdiam mematung setelah mendapat tamparan itu. ia menoleh ke sosok wanita yang menampar pipi Lardo dan ternyata wanita itu adalah Leora.
"Aku muak melihatmu bertingkah semena-mena pada semua wanita." Lardo terdiam dan menatap ke arah Leora dengan tatapan lekatnya.
Leora membantu Yamate bangkit dari duduknya dan membopong tubuh Yamate lalu berniat membawanya ke UKS. namun sebelum itu, ia membalikkan tubuhnya sedikit menoleh ke arah Lardo dengan tatapan kesalnya namun Lardo hanya memasang ekspresi datar yang membuat Leora merasa sangat jengkel.
__ADS_1
"Jangan hanya karena kau di kagumi banyak wanita, kau bisa memperlakukan mereka semaumu." Lardo sama sekali tidak mengerti, mengapa Leora terlihat sangat marah pada dirinya.
Lardo membiarkan Leora pergi bersama dengan Yamate menuju UKS sedangkan dirinya memutuskan untuk duduk di kursi yang terletak di belakang sekolah sambil terus terdiam tanpa sepatah kata pun. "Kenapa dia menjadi seperti itu?"
.........
Leora menemani Yamate di UKS hingga nyeri punggungnya mereda. Leora tidak mengerti mengapa dia langsung melayangkan tamparannya pada Lardo secara tiba-tiba seperti tadi. ia menatap tangan yang ia gunakan untuk menampar Lardo dengan rasa bersalah yang menyelimutinya saat itu.
"Leora." Leora menoleh ke arah Yamate dan tersenyum tipis padanya. "Kenapa kau menampar Lardo seperti tadi?" Tanya Yamate menatap Leora penasaran.
Leora tertegun beberapa detik lalu menjawabnya dengan nada suara yang terdengar gugup. "Aku melihat dia mendorongmu hingga kau terjatuh, karena merasa kesal aku langsung menamparnya. aku juga spontan melakukan hal itu karena aku tidak suka melihat ada seorang pria yang memperlakukan seorang wanita dengan kasar." Yamate menarik senyum tipis lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, dia tidak mendorongku. aku yang dengan sangat kurang ajar tiba-tiba memeluk dia tanpa seizin darinya. mungkin karena terkejut dan merasa tidak nyaman dengan apa yang aku lakukan, ia melepaskan pelukannya dariku. namun tubuhku terasa sangat lemas dan tidak bertenaga sehingga aku langsung terjatuh saat dia melepaskan pelukannya dariku."
Leora membulatkan matanya terkejut mendengar penjelasan yang diberikan oleh Yamate. rasa bersalah semakin menyelimuti dirinya saat itu. ia langsung beranjak dari UKS, meninggalkan Yamate yang berada disana dan mencari keberadaan Lardo. Leora yakin Lardo masih berada di sekolah saat ini.
Ia terus berlari mencari keberadaan Lardo di beberapa tempat namun ia tidak kunjung menemukan Lardo. sampai saat ia memutuskan untuk mencari Lardo di lapangan basket, dan akhirnya ia menemukan Lardo tengah terduduk di sebuah kursi yang berada disana. Leora melihat Lardo hanya terdiam menatap lurus ke arah depan.
Tanpa basa basi, Leora langsung mendekat ke arah Lardo. Lardo yang menyadari kedatangan Leora langsung menoleh ke arah Leora. Leora hanya menundukkan kepalanya dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya saat itu.
Leora tidak mampu menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya karena ia benar-benar merasa bersalah atas perlakuannya terhadap Lardo tadi. "Aku..."
"Ada apa?"
Lardo menatap Leora dengan tatapan bingungnya sementara Leora berusaha menahan air matanya yang terus saja jatuh membasahi pipi mulusnya.
"Maafkan aku."
"Maaf... maaf karena selalu berburuk sangka padamu." Mendengar permintaan maaf dari Leora membuat Lardo bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Leora. tapi baru saja hendak mendekati Leora, kedua tangan Leora menarik tubuh Lardo ke dalam pelukannya dan memeluk Lardo dengan sangat erat. hal ini membuat Lardo terdiam dan tidak tau harus berkata apa.
__ADS_1
"Kenapa..."
"Kenapa aku menangis dan merasa bersalah karena sudah menampar wajahmu?" "Kenapa..." Lardo terdiam mendengarkan setiap ucapan yang keluar dari mulut Leora.
"Aku sering menampar wajah banyak laki-laki, tapi kenapa aku harus menangis karena sudah menampar wajahmu?" Leora mengepalkan tangannya dan memukul dada bidang Lardo berkali-kali sambil terus menangis di pelukannya.
"Maafkan aku..."
Lardo merasa sangat tidak tega melihat Leora menangis seperti saat ini, ia meraih kedua bahu Leora
dan berniat untuk melepaskan pelukan Leora perlahan-lahan namun hal itu di cegah oleh Leora yang langsung menggelengkan kepalanya cepat. "Jika kau berani melepas pelukannya, aku tidak akan segan membunuhmu sekarang juga."
Lardo tau bahwa Leora tidak ingin Lardo melihatnya menangis maka dari itu ia langsung memeluk tubuh Lardo secara tiba-tiba. Lardo mengarahkan sebelah tangannya ke puncak kepala Leora lalu mengusap kepala Leora lembut.
"Jangan gunakan kesempatan ini untuk melakukan hal-hal yang mesum!" Ucap Leora memperingatkan. Lardo menarik senyum tipis lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Kau memang selalu berburuk sangka terhadap diriku."
Leora di dalam pelukan Lardo langsung mengerucutkan bibirnya kesal, "Habisnya kau itu adalah pria mesum yang menyebalkan." Balas Leora yang membuat Lardo terkekeh pelan.
Lardo mengarahkan kedua tangannya untuk membalas pelukan Leora. dan seketika pelukan mereka semakin erat dan tubuh mereka pun semakin dekat. "Apa kau terkesan dengan tamparan yang aku berikan pada wajahmu tadi?"
"Eummm... lumayan. sepertinya kau mengeluarkan seluruh tenagamu untuk melakukan hal itu." Jawab Lardo membuat Leora tertawa mendengarnya. "Anggap saja itu sebagai kenang-kenangan yang aku berikan untukmu."
Leora melepaskan pelukannya pada Lardo perlahan-lahan lalu memberanikan dirinya untuk menatap mata Lardo yang saat ini juga tengah memandang ke arahnya. "Apa kau sudah memaafkan aku?" Lardo menggeleng pelan sebagai jawaban sehingga membuat Leora kembali memasang wajah cemberut tanda kesal.
"Apa yang harus aku lakukan agar kau mau memaafkan aku?" Tanya Leora bingung. Lardo mengarahkan sebelah tangannya ke puncak kepala Leora lalu mengacak-acak rambut Leora pelan. "Aku ingin, kau menjelaskan sesuatu kepadaku."
__ADS_1
"Tentang apa?" Tanya Leora dengan tatapan penuh rasa penasaran yang seketika menyelimuti dirinya. "Tentang kau yang selalu saja menghindariku beberapa hari yang lalu." Jawaban yang diberikan Lardo membuat Leora mendelikkan matanya berkali-kali.
"Ohh... tentang itu."