Lord Of Athlanda

Lord Of Athlanda
I'll be waiting for you here


__ADS_3

Brakkk!


Shenna tersungkur diatas lantai ruang tamu dengan dahi yang nyaris mengenai tepi meja. terlihat Tuan Vans tengah berdiri di hadapannya dengan tatapan kesal sambil berkacak pinggang.


Shenna meringis kesakitan, lutut Shenna memerah akibat di dorong terlalu keras oleh Tuan Vans. Ia hanya bisa pasrah mendapat perlakuan seperti ini dari Tuan Vans. Tuan Vans merasa sangat kesal karena Shenna terus saja menemui Lardo meskipun ia sudah melarangnya berkali-kali.


Hal ini membuat dirinya geram sehingga memperlakukan Shenna seperti sekarang dengan harap agar Shenna berhenti menemui Lardo. "Kau selalu saja menentang ucapan ayah, ayah sudah berkali-kali memperingatkan dirimu untuk berhenti menemui atau bergaul dengan Lardo, tapi kau masih saja melakukan hal itu." Shenna yang masih terduduk di atas lantai hanya bisa mendengar ucapan ayahnya tanpa membalasnya sepatah kata pun.


"Bergaul dengan mereka hanya membuat keluarga kita mendapat bala, apa kau mau keluarga kita mendapatkan bala?" Shenna berdecih pelan sehingga membuat Tuan Vans menaikkan sebelah alisnya.


"Berhenti memerintahku untuk melakukan tindakan diskriminasi seperti itu. kau lupa bahwa suatu saat kau pun bisa jatuh miskin, apa kau mau diperlakukan seperti itu sebagai karmanya?" Shenna mengucapkan apa yang barusan dia ucapkan dengan cukup lantang tanpa terdengar nada takut sedikit pun.


Shenna merasa sudah cukup muak dengan tingkah Tuan Vans yang terus menerus seperti ini, terlihat tidak manusiawi dan tidak memiliki hati nurani.


"Berhenti menentang dan turuti saja apa yang aku ucapkan, kau selalu saja menentang apa yang aku perintahkan padamu. dimana letak rasa hormatmu padaku?!" Bentak Tuan Vans yang mulai merasa geram.


"Aku ini... putrimu atau budakmu?"


Shenna berusaha untuk bangkit berdiri sekuat tenaga dengan kakinya yang saat itu tengah cedera. Menatap Tuan Vans dengan tatapan sinis sambil mengepalkan kedua tangannya erat. "Karena kau putriku maka kau harus mematuhi semua ucapanku."


"Cih... jangan harap. aku tidak akan pernah mau mengikuti apa yang kau perintahkan jika itu tidak searah dengan jalan pikiranku." ucap Shenna tegas.


"Baiklah, kalau begitu silakan pergi dari rumahku dan jangan kembali lagi. jika kau memang tidak mau mematuhi apa yang aku ucapkan dan perintahkan padamu, silakan langkahkan kakimu keluar dari rumahku. aku akan lupakan bahwa aku memiliki seorang putri." Kata-kata yang di ucapkan Tuan Vans membuat hati Shenna terasa sangat remuk.


Ternyata memang tidak ada rasa kasih sayang untuk Shenna di dalam hati ayahnya itu, semua ini sudah terlihat dari bagaimana cara Tuan Vans memperlakukan Shenna mulai dari Shenna masih kecil hingga Shenna menjadi gadis remaja seperti sekarang.


"Aku tidak menyangka bahwa aku memiliki ayah berhati keji sepertimu." Shenna langsung pergi meninggalkan Tuan Vans dan masuk ke dalam kamarnya. Ia menangis terisak seorang diri di dalam sana.


Memeluk bantal dengan sangat erat, membiarkan air matanya terus mengalir berjatuhan membasahi bantal yang berada di dalam peluknya itu.


__ADS_1


Shenna sangat benci saat ia harus menangis sendirian seperti ini, menyesali takdir mengapa ia harus dilahirkan dalam keadaan kekurangan kasih sayang dari keluarganya sendiri. tidak ada ibu yang menemani di sela isak tangisnya, ia selalu seorang diri.


Disaat gadis remaja lain menceritakan bahwa cinta pertama mereka adalah ayahnya, justru Shenna merasakan yang sebaliknya. ia merasa bahwa ayahnya lah penyebab patah hati pertamanya.


...


Keesokkan harinya, Shenna pergi ke gubuk Lardo dengan tatapan lesuh dan kelopak mata yang terlihat sedikit membengkak. Ia pergi menemui Lardo karena besok Lardo sudah tidak lagi tinggal di Athlanda.


Benar,


Besok adalah hari dimana Lardo akan pindah ke Preston dan Shenna akan ditinggalkannya sendirian disini.


"Kau sudah menyiapkan barang-barangmu?" Tanya Shenna dengan nada suara yang terdengar cukup pelan. "Sudah." Jawab Lardo singkat. Mereka berdua memang terlihat menjadi sedikit berbeda sejak kepulangan Derry dari rumah sakit, karena mereka berdua tau bahwa hari perpisahan mereka sudah semakin dekat. Lardo sangat tidak menyangka bahwa dia akan meninggalkan sahabat dekatnya ini.


"Besok kalian berangkat menuju Preston dengan menggunakan apa?" Tanya Shenna pada Lardo yang saat itu tengah melipat beberapa pakaian miliknya lalu ia masukkan ke dalam sebuah kotak yang ukurannya lumayan besar.


"Kereta, ibuku sudah membeli tiket keretanya." Shenna tertegun mendengar jawaban yang diberikan oleh Lardo.


"Lardo."


Lardo menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah Shenna yang memanggil namanya itu. "Ada apa?" Dari tatapannya, Shenna terlihat sangat sedih. Lardo dapat menyadari itu semua. Lardo sedikit mendekat ke arah Shenna dan menatap wajah sedih gadis itu. "Kau... benar akan kembali lagi kesini kan?" Tanya Shenna dengan nada suara yang terdengar sedikit ragu.


Lardo menarik senyum tipis lalu menggerakkan sebelah tangannya untuk mengusap kepala Shenna lembut. "Tentu, aku akan kembali lagi." Jawab Lardo yang meskipun jawabannya masih belum mampu melegakan perasaan Shenna.


"Aku akan menunggumu disini."


Tidak hanya Shenna yang berat di tinggalkan oleh Lardo, Lardo pun juga sangat keberatan apabila harus meninggalkan Shenna. Lardo khawatir apabila ada sesuatu yang akan menimpa Shenna saat ia sedang tidak bersama dengan Shenna.


"Selama aku tidak berada di sampingmu..." Lardo melepaskan sebuah gelang tali berwarna hitam yang terikat di pergelangan tangannya lalu memberikan gelang itu kepada Shenna. awalnya Shenna sempat terdiam sambil memandangi gelang pemberian Lardo namun Lardo tiba-tiba mengikatkan gelang itu pada pergelangan tangannya.


"Kau kenakan gelang ini. Aku berharap gelang ini akan selalu membuatmu terus teringat pada diriku." Shenna menarik senyum kecil lalu menatap ke arah Lardo. "Tanpa gelang ini, aku juga akan selalu mengingat dirimu."

__ADS_1


"Benarkah?"


"Iya."


Lardo meraih kedua tangan Shenna dan menggenggamnya erat. menatap mata Shenna dengan tatapan lekat sambil sesekali mengusap punggung tangan gadis itu dengan sangat lembut. "Mungkin ini akan menjadi satu perjalanan panjang, kau harus bisa melalui ini sementara waktu tanpa diriku." Ucap Lardo yang membuat Shenna terdiam sambil menundukkan kepalanya.


"Nanti setelah semuanya selesai, kita akan kembali bersama lagi. aku berjanji." Sambung Lardo yang membuat air mata Shenna langsung menggenangi pelupuk matanya.


"Ini sulit, sangat sulit." batin Shenna merutuk sedih. Tiba-tiba Lili dan juga Rossa masuk ke dalam gubuk dan menghampiri Lardo yang tengah duduk di lantai bersama dengan Shenna.


"Lardo, Pendeta Heyer datang untuk menyapa kita sebelum pindah besok." Ucap Rossa yang membuat Lardo menganggukkan kepalanya mengerti lalu bangkit dari duduknya dan pergi keluar gubuk diikuti oleh Shenna, Rossa dan juga Lili.


"Hai, nak." Sapa pendeta Heyer dengan senyum lebarnya. Pendeta Heyer adalah seorang pendeta yang bertugas di gereja depan gubuk keluarga Dimitri. beliau bisa di bilang sangat dekat dengan Keluarga Dimitri sejak awal mereka tinggal di belakang gereja.


"Pendeta Heyer, senang bertemu denganmu." Lardo mendekati pendeta Heyer dan berdiri di sampingnya. "Lardo, Tuhan memberkatimu beserta keluargamu. Aku dengar keluargamu akan pindah ke Preston esok hari maka dari itu aku berkunjung untuk mengucapkan salam perpisahan." Lardo tersenyum lebar melihat kemurahan hati pendeta Heyer.


"Terima kasih, pendeta. Kami sangat senang bisa mengenalmu dengan baik selama kami tinggal disini." Ucap Lardo dengan nada suara yang terdengar sangat hangat.


Pendeta Heyer menarik Lardo ke dalam pelukannya dan mengusap punggung Lardo dengan perlahan-lahan. "Kau adalah anak baik, suatu saat nanti di masa depan. Kau akan menjadi kebanggaan keluargamu, percayalah padaku." Ucap pendeta Heyer.


Ucapan pendeta Heyer membuat Rossa, Lili, Shenna dan juga Lardo menarik senyum. Lardo berharap bahwa apa yang di ucapkan oleh pendeta Heyer benar menjadi kenyataan. "Nona Shenna, kau berada disini juga." Pandangan mata pendeta Heyer beralih ke arah Shenna yang berdiri di samping Rossa.


"Aku... eummm, ya. aku datang untuk membantu keluarga Dimitri mengemasi barang-barang mereka." Pendeta Heyer tersenyum mendengar jawaban yang di berikan oleh Shenna.


"Kau memang gadis yang sangat baik meskipun kau terlahir dari keluarga yang terkenal dengan kekejamannya, Tuhan pasti sangat mengasihimu karena Tuhan suka mengasihi orang-orang yang rendah hati"


Ucapan Tuan Vans membuat Lardo terdiam dan menoleh ke arah Shenna. "Terkenal dengan kekejamannya?" batin Lardo merasa bingung. Rossa menatap ke arah Lardo yang nampaknya mulai terheran dengan ucapan pendeta Heyer.


"Tidak, pendeta. keluarga Shenna tidak sekejam yang kau bayangkan, suamiku bahkan di tolong oleh keluarganya agar mendapat pengobatan dari rumah sakit dan bisa sembuh seperti sekarang, itu semua berkat kebaikan hati keluarga Shenna." Lardo membenarkan apa yang di ucapkan oleh ibunya dan ia berfikir mungkin saja pendeta Heyer telah salah menilai.


Shenna melirik ke arah Rossa yang saat itu tengah berdiri di sampingnya "Kenapa Bibi Rossa seperti tengah melindungi nama baik keluargaku?" Batin Shenna bingung.

__ADS_1


__ADS_2