Lord Of Athlanda

Lord Of Athlanda
annoying girl


__ADS_3

Bel istirahat berbunyi, Lardo langsung pergi menuju kantin untuk membeli makan siang karena dirinya sudah merasa sangat lapar. sepanjang perjalanan menuju kantin, semua murid selalu saja memandang ke arahnya.


Lardo terus merasa bingung, sebenarnya apa yang dilakukan oleh mereka? karena sejak pertama kali Lardo datang ke sekolah tadi pagi, mereka semua selalu bertingkah aneh terhadap Lardo.


"Itu... itu... PANGERANNNN?!!!!"


Tiba-tiba terdengar suara bising yang berada tak jauh dari Lardo. saat Lardo menoleh ke arah sumber suara, terlihat 4 orang murid perempuan yang tengah menatap ke arah Lardo dengan tatapan berbinar-binar.


Lardo menghela nafas pelan dan berusaha tidak perduli dengan mereka semua. setelah itu ia melanjutkan langkahnya menuju ke kantin. "Pa-PANGERANNNNNN!!! TUNGGU SEBENTAR!!!" Lardo menoleh ke arah belakang dan melihat segerombolan murid perempuan yang mengejar dirinya.


Karena Lardo merasa terkejut, ia langsung berlari kencang untuk menghindari mereka semua. segerombolan murid perempuan itu terus memanggil nama Lardo tanpa henti dan mencari dimana keberadaan Lardo. karena sekarang Lardo sudah bersembunyi di sebuah taman yang berada tak jauh dari kantin.


"Bo...bodoh. aku lelah sekali."


Lardo mendudukkan dirinya di sebuah bangku taman dengan nafas terengah-engah akibat kejaran murid perempuan itu. perutnya yang terasa lapar membuat dirinya merasa tidak bertenaga.


"Kenapa kau menghindari mereka?"


Tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan yang mengejutkan Lardo. Lardo secara spontan langsung menoleh ke sumber suara lalu menemukan seorang murid perempuan tengah bersandar di sebuah dinding dengan kedua tangan yang ia lipat di depan dada sambil menatap ke arah Lardo.


"Kenapa aku harus meladeni mereka, buang-buang waktu." jawab Lardo malas dengan tatapan kesalnya karena merasa lelah serta lapar secara bersamaan.


"Aaaah... ternyata sosok yang mereka sebut pangeran itu tidak memiliki hati ya." Murid perempuan itu melangkah menghampiri Lardo dengan tatapan jengkelnya lalu duduk bersama dengannya di bangku taman itu. "Lagipula kenapa mereka memanggilku dengan sebutan pangeran? aku bukan anggota kerajaan, menyebalkan sekali." rutuk Lardo kesal sambil menopang dagunya.


"Mereka bilang kau sangat tampan dan berkharisma layaknya anggota kerajaan, makanya mereka menyebutmu dengan sebutan pangeran. pangeran... yang... menyebalkan..." ledek murid perempuan itu yang membuat Lardo tertegun menatapnya.


"Diam kau."


Murid perempuan itu tertawa singkat karena merasa menang sudah berhasil membuat Lardo kesal. "Ini... ambilah." Murid perempuan itu memberikan Lardo sebuah roti yang ia keluarkan dari dalam saku roknya. Lardo langsung terdiam sesaat waktu murid perempuan itu memberikan roti miliknya kepada Lardo.


"Untukku?"


Murid perempuan itu mengangkat sebelah alisnya dan menatap Lardo dengan tatapan sinis. "Bodoh, jika tidak mau, aku akan mengambilnya lagi." Lardo menggertakkan giginya saat mendengar murid perempuan itu memanggilnya dengan sebutan bodoh.


"Aku tidak butuh."

__ADS_1


"Ohhh, benarkah? baiklah jika seperti itu. aku akan mengambil rotiku kembali." Lardo tak menggubris ucapan murid perempuan itu. ia melipat kedua tangannya di depan dada dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Mereka hanya terdiam tanpa ada niat untuk saling berbicara. murid perempuan itu membuka bungkusan roti yang tadinya ingin ia berikan kepada Lardo dan berniat untuk memakannya. tapi Lardo melirik ke arahnya sekilas lalu kembali mengalihkan pandangannya.


"Kenapa?"


Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh murid perempuan itu, Lardo hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaan darinya.


"KENAPAAA KAU MENATAPKU TADI?!" Tiba-tiba perempuan itu merasa sangat geram karena Lardo selalu mengabaikan setiap ucapannya. "Tidak." Lardo menjawab pertanyaan murid perempuan itu dengan singkat sehingga membuat tatapan murid perempuan itu seketika berubah menjadi datar.


"Huh... baiklah, aku akan kembali ke kelas. sebaiknya kau berhati-hati dengan semua penggemarmu itu, mereka mampu berlari 1000 kilometer hanya untuk mengejarmu." ucap murid perempuan itu sebelum melangkah pergi meninggalkan Lardo. Lardo langsung mematung mendengar apa yang di ucapkan oleh murid perempuan itu tadi.


"Menyebalkan sekali."


Lardo bangkit dari duduknya dan melangkah pergi untuk kembali ke kelas. tapi baru saja ia ingin kembali ke kelasnya, beberapa murid perempuan langsung menghampirinya sambil berteriak histeris.


"PANGERANNNNN!!! KAMI MENCARIMU SEDARI TADIIIII!!!" Lardo sangat terkejut dengan kehadiran mereka di dekat Lardo. seketika mereka langsung mengerumuni Lardo sehingga membuat Lardo tidak bisa berkutik.


Mendengar suara bising yang entah darimana, perempuan yang tadi bertemu dengan Lardo di taman melangkah keluar dari toilet. ia melirik ke arah kerumunan murid perempuan itu dan menghampirinya.


Ternyata benar apa yang di pikirkan olehnya, banyaknya murid perempuan itu tengah mengerumuni Lardo yang hanya terdiam di antara mereka. "Cih." Melihat Lardo yang tidak berkutik sama sekali, membuat perempuan itu berdecih pelan.


Ia berusaha untuk melewati kerumunan itu dan mendekat ke arah Lardo lalu meraih tangannya. "HENTIKAN! Kalian semua... kenapa membuang-buang waktu kalian untuk mengejar pria tidak berguna seperti dirinya?!!!" Tanya perempuan itu tegas sehingga membuat murid perempuan yang lain terkejut mendengarnya.


Lardo tercengang mendengar ucapan perempuan itu. "Apa yang dia katakan? ti...tidak...berguna?!" Lardo tak mengerti mengapa perempuan yang tengah menggenggam tangannya sekarang sangat menyebalkan.


"Wa...wakil ketua... anu, apa kau baru saja mengatakan pangeran tidak berguna?" sahut salah seorang murid yang tak lain adalah salah satu penggemar Lardo juga. "Pangeran, pangeran, pangeran, berhenti memanggil pria ini dengan sebutan menjijikan itu!" bentaknya kesal.


"Wakil ketua, maafkan kami."


Lardo terdiam saat mendengar semua murid perempuan yang mengerumuni dirinya menyebut perempuan yang tengah menggenggam tangannya itu dengan sebutan wakil ketua. tiba-tiba ia teringat dengan kejadian tadi pagi, waktu ia menabrak ketua osis sekolah ini.


-Flashback On-


"Kau pasti kesulitan dengan buku-buku ini, biar aku bantu." ucap perempuan itu menawarkan bantuan. siswa laki-laki yang bertabrakan dengan Lardo pun tanpa sungkan memberikan beberapa buku bacaan kepada perempuan itu agar di bawa olehnya.

__ADS_1


"Kau kemana saja, Leora? aku mencarimu di ruang osis tapi tidak ada." Lardo hanya bisa terdiam sambil menatap ke arah dua siswa yang tengah berbicara di hadapannya.


"Eummm... Anu... Maaf, ketua. aku sedikit kesiangan hari ini." jawab perempuan bernama Leora itu dengan nada suara yang terdengar gugup. "Baiklah, tidak masalah."


-Flashback Off-


Lardo tiba-tiba tertawa terbahak-bahak saat mengingat kejadian tadi pagi, ia tidak menyangka bahwa murid perempuan yang membantu ketua osis tadi pagi adalah perempuan yang tengah menggenggam tangannya sekarang.


"HAHAHAHAHA... kalian sebut perempuan ini apa? wakil ketua? bagaimana bis-"


BUGHHH!!!


Tiba-tiba perempuan itu melayangkan tinjunya kepada Lardo sehingga membuat murid perempuan lain yang tengah mengerumuni mereka seketika terkejut. "Perhatikan ucapanmu itu, pria bodoh." ucap perempuan yang barusan melayangkan tinjunya kepada Lardo sambil tersenyum puas.


"Pa-pangerannn... apa kau baik-baik saja?"


Tanya salah satu murid perempuan yang ikut serta mengerumuni Lardo. "aku ba-"


"Kalian tidak perlu khawatir, meskipun dilindas truk beribu kali pun dia akan tetap baik-baik saja, benarkan pria bodoh?" tatapan Lardo seketika berubah menjadi datar saat mendengar ucapan perempuan yang bernama Leora itu.


"OIIII, KALIAN! Jelaskan padaku bagaimana bisa perempuan tak memiliki hati seperti dia men-" Secara tiba-tiba Leora merangkul Lardo dan menyeret Lardo keluar dari kerumunan itu sambil membelai puncak kepala Lardo gemas.


"Sudah...sudah... sekarang pangeran kalian harus kembali ke kelasnya." Lardo melipat kedua tangannya di depan dada sambil memasang wajah kesal karena Leora terus menyeret dirinya menuju kelas.


"Lepaskan."


"Tidak." jawab Leora sambil tersenyum sumringah.


"Kau ini... apa-apaan?" Tanya Lardo dengan nada suara yang terdengar malas. "Tenang, tenang. kau akan baik-baik saja kalau ada aku di sampingmu." Lardo mendengus kesal mendengar ucapan Leora yang sangat menyebalkan. "SEBENARNYA KAU INI SALAH SATU PENGGEMARKU JUGA KAN?! MAKANYA KAU BERSIKAP SEPERTI INI SAMPAI TIDAK MAU MELEPASKANKU!" Ucap Lardo kesal tetapi malah membuat Leora tertawa geli.


"HAHAHAHAHA... bodoh." Leora tiba-tiba menyentil dahi Lardo sehingga membuat Lardo menggeram sambil mengepalkan tangannya.


"Untuk apa aku menjadi salah satu penggemar dari pangeran bodoh seperti dirimu?" mendengar ucapan Leora membuat Lardo terdiam dan kembali memasang ekspresi datarnya.


"KAUUU?!!!"

__ADS_1


Melihat reaksi Lardo sekarang membuat Leora tertawa terbahak-bahak. "Sudah, sudah... kau ini kenapa menggemaskan sekali, pria bodoh?"


__ADS_2