
Sore ini setelah pulang sekolah, Shenna pergi ke belakang gereja, tempat dimana gubuk yang di tinggali keluarga Lardo berada. namun sekarang gubuk itu sudah tidak ada lagi. hanya ada halaman luas dengan sebuah batu besar yang berada di depannya.
Shenna dapat mengingat dengan jelas kalau Lardo sering sekali duduk di atas batu itu saat petang sambil menikmati langit senja yang sangat bersinar. tapi sekarang hal itu tidak akan terjadi lagi.
Shenna melangkahkan kakinya menuju batu besar itu, entah kenapa kakinya mendadak menjadi lemas dan bergetar. ia dapat merasakan dadanya sangat sesak dan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. ia terjatuh di bawah batu besar itu dan menumpahkan seluruh air matanya.
"Aku benci..."
"Aku benci menjadi selemah ini." ucapnya dengan nada suara yang terdengar sangat miris.
Shenna mencengkram erat ujung roknya dan menangis tersedu sambil menundukkan kepala. baginya, ini semua berlalu dengan begitu cepat. ada banyak hal yang belum bisa ia lakukan bersama dengan Lardo, ada banyak rencana yang pada akhirnya hanya menjadi sia-sia saja.
"Kenapa rasanya aku tidak bisa jauh darimu?" Shenna tidak perduli semenyedihkan apa dirinya sekarang. Hari-hari Shenna sangat berbeda setelah Lardo pergi darinya. ia mengharapkan hari pertama tahun ajaran baru akan di mulai dengan penuh keceriaan bersama dengan Lardo tapi harapan itu kandas seketika.
tes
Tiba-tiba ada tetesan darah yang mengalir dari lubang hidung Shenna. Shenna membulatkan matanya lebar dan bergegas menghapus darah yang mengalir dari lubang hidungnya ini. tapi darah itu terus mengalir tanpa henti sehingga membuatnya merasa sangat frustasi dengan keadaannya sekarang.
"AAAAAAAA! Aku benci semua ini. Ke... kenapa aku terlihat sangat menyedihkan?"
Shenna menundukkan kepalanya dan membiarkan darah yang mengalir dari hidungnya itu terus menetes. "Aku sangat merindukanmu... sangat merindukanmu." setiap kata yang di ucapkan Shenna terdengar sangat menyedihkan di tambah lagi dengan melihat bagaimana keadaannya saat ini.
"Kenapa semua orang yang aku sayangi meninggalkan aku sendirian?"
Shenna mengepalkan tangannya erat. wajahnya yang terlihat sangat pucat, rambutnya yang sudah tidak lagi tertata, Shenna berfikir apabila Lardo melihat kondisinya saat ini, ia pasti akan sangat marah terhadap Shenna.
Shenna berusaha untuk bangkit dari duduknya, ia mengusap darah yang terus mengalir dari hidungnya dengan menggunakan sapu tangan yang ia milikki lalu pergi meninggalkan tempat itu dan segera pulang ke rumah.
Saat dalam perjalanan pulang, Shenna berusaha untuk menutupi kesedihannya agar tidak ada orang yang mengetahuinya. ia hanya terdiam dengan tatapan datarnya sambil terus melangkah menuju rumah.
"Shenna?"
__ADS_1
Secara tidak sengaja Sakura melihat Shenna di seberang jalan, wajahnya yang sangat lesuh dan penampilannya yang sedikit berantakan membuat Sakura merasa sangat khawatir sehingga ia segera menghampiri Shenna.
"SHENNA!" Panggil Sakura dengan sedikit berteriak. Shenna menoleh ke arah belakang dan menemui sosok Sakura tengah berlari menghampirinya. setelah berada di hadapan Shenna, Sakura terlihat sangat kelelahan dengan nafas yang terengah-engah.
"Sakura? ada apa?" Shenna mengarahkan sebelah tangannya ke pundak Sakura dan menatapnya dengan tatapan bingung. "Aku melihatmu dari seberang sana, kau terlihat sangat lesuh maka dari itu aku menghampirimu. apa kau baik-baik saja?" Shenna tersenyum kecil setelah mendengar pertanyaan Sakura.
"Aku baik-baik saja."
Sakura tertegun beberapa menit saat melihat mata Shenna yang sedikit memerah dan juga sembap. Sakura tau bahwa Shenna tengah menyembunyikan kesedihannya agar ia terlihat baik-baik saja di depan orang lain. "Mau berjalan-jalan sebentar? oh ya! aku dengar ada sebuah toko makanan yang sedang mengadakan promo buy 2 get 1, apa kau mau pergi kesana bersamaku?"
Shenna mendelikkan matanya berkali-kali lalu menganggukkan kepalanya pelan. "Baiklah kalau begitu, ayo kita kencan!" Sakura meraih sebelah tangan Shenna dan menggenggam jari jemarinya hangat. hal ini membuat Shenna terasa sangat nyaman dan sedikit bahagia. "Aahhh... aku sangat lapar sejak tadi siang. makanya aku berniat untuk mengajakmu untuk pergi makan."
"Apa kau tidak pergi ke kantin?"
Sakura menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Kelasku yang sekarang sangat menyebalkan, aku selalu di ejek karena membawa bekal dari rumah. lagi pula apa masalahnya? bukannya itu bagus untuk memperhemat uang pengeluaran?" Shenna tertawa pelan mendengar bagaimana kesederhanaan Sakura.
"Eummm... Sakura?"
"Iya, ada apa? apa ada yang ingin kau bicarakan?"
Sakura langsung memasang ekspresi senang saat mendengar tawaran yang diberikan oleh Shenna tapi ekspresi senangnya itu langsung hilang seketika karena ia takut merepotkan Shenna. "Tidak perlu repot-repot, aku akan membayarnya sendiri. lagipula makanan di tempat itu tidak terlalu mahal." jawab Sakura menolak.
"Apa kau pernah kesana?"
Sakura menggaruk belakang kepalanya sambil tersenyum malu. "Sebenarnya belum pernah, aku hanya menebaknya. tapi semoga saja harga makanannya tidak mahal, jika mahal itu pasti akan sangat mengecewakanku." ucap Sakura yang membuat Shenna tertawa lagi.
Sakura yang melihat Shenna tertawa sekarang jadi merasa sedikit lega, karena setidaknya Shenna tidak berlarut-larut dalam kesedihan.
Mereka berdua sudah sampai di sebuah toko yang di maksud oleh Sakura. memang benar toko itu sedang mengadakan promo buy 2 get 1. mereka langsung memasuki toko itu dan memilih untuk duduk di kursi belakang.
"Apa ada event spesial? makanya mereka mengadakan promo buy 2 get 1 seperti ini?" Tanya Shenna dengan pandangan mata yang tengah berkeliling mengamati setiap sudut toko itu. "Yup! kau benar sekali! mereka memberikan promo untuk merayakan satu tahun toko ini. dengar-dengar sih begitu." Shenna menganggukkan kepalanya paham.
__ADS_1
Mereka memesan segelas kopi dan juga semangkuk ramen sehingga mendapatkan bonus gratis segelas kopi dan juga semangkuk ramen lagi. "siapa yang akan memakannya? aku sudah merasa sangat kenyang." ucap Shenna menyandarkan tubuhnya pada bangku dengan tatapan yang tengah terfokus ke arah luar jendela.
"Aku! aku yang akan menghabiskannya, kau tenang saja." ucap Sakura bersemangat.
Shenna tersenyum kecil sambil menganggukkan kepalanya pelan. tiba-tiba saja ia teringat kejadian waktu hidungnya kembali mengalami mimisan sore tadi setelah cukup lama tidak mengalaminya. "untuk kesekian kalinya, ya?" batin Shenna berbicara.
"Jadi bagaimana kondisi kelasmu yang sekarang, Shen? apakah kau sudah mendapatkan teman baru?" Shenna menggeleng pelan lalu menatap Sakura dengan tatapan hangat yang seakan-akan terlihat di paksakan. Sakura dapat melihat ada kesepian yang mendalam tengah di alami ole Shenna semenjak Lardo pergi meninggalkannya.
"Huh... seharusnya kau mulai membuka diri dan mencari teman baru di kelasmu agar nanti saat kau menjalani ujian, kau bisa dengan mudah mendapatkan contekan. ahhh... itu terdengar sangat menenangkan, bukan?" Tanya Sakura berbangga diri.
"Lalu bagaimana denganmu sendiri? apa kau sudah mendapatkan teman baru?" Sakura terlihat sedikit terkejut saat mendengar pertanyaan yang di berikan oleh Shenna. "Eummm...anu, tentu saja sudah. meskipun dia terlihat seperti orang bodoh, tapi mungkin saja dia bisa sedikit di andalkan." Entah kenapa saat mendengar Sakura menyebutkan kata bodoh membuat Shenna teringat kepada Lardo.
"Dasar anak bodoh, kau tidak perlu khawatir. kita akan tetap berteman, aku tidak akan membiarkanmu merasa kesepian lagi."
Shenna masih mengingat dengan jelas apa yang Lardo ucapkan dulu. dia bilang kalau dia tidak akan pernah meninggalkan Shenna dan membiarkannya merasa kesepian, ia bahkan sudah berjanji untuk hal itu. tapi sekarang rasa sepi yang sangat menyakitkan seakan-akan tengah berusaha untuk menguasai perasaan Shenna.
Sakura menggenggam tangan Shenna sehingga langsung membuat Shenna tersadar dari lamunannya itu. "Shenna? apa ada sesuatu? kau tengah memikirkan apa?" Shenna menggelengkan kepalanya cepat lalu tersenyum kecil. "Ti-tidak, tidak apa-apa. aku tidak sedang memikirkan apa-apa" jawab Shenna.
"Benarkah?"
Shenna menatap mata Sakura lekat dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. ia langsung menurunkan wajahnya ke atas meja dan menangis terisak di sana. Sakura yang melihat hal ini langsung meraih kedua tangan Shenna, menggenggam tangan itu dengan erat sambil mengusap punggung tangannya.
"Kau tidak akan pernah mampu menyembunyikan rasa sedih dan juga sepi yang tengah kau alami sekarang dari diriku." Ucap Sakura yang membuat tangis Shenna menjadi sedikit lebih kencang.
"Aku sangat mengkhawatirkannya, Sakura..."
Hati Sakura terasa sangat sakit mendengar ucapan itu, Shenna masih saja tidak bisa merelakan kepergian Lardo hingga saat ini. dia masih mengharapkan Lardo untuk kembali kepadanya sekarang juga.
"Jika kau terus menerus bersikap seperti ini, itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri." ucap Sakura yang langsung membuat Shenna menggelengkan kepalanya cepat. "Aku tidak perduli..."
"Kau memang tidak perduli, tapi apakah Lardo akan membiarkan hal itu terjadi? dimana kau terus menyiksa dirimu dengan cara seperti ini, terus menangis, bersedih meratapi kepergiannya. dan mengharapkan dia untuk segera kembali kepadamu. hal itu hanya akan membuat Lardo merasa sedih, karena tandanya kau tidak mempercayai dia. kau tidak percaya padanya bahwa dia akan kembali lagi kesini, bukankah dia sudah berjanji padamu?"
__ADS_1
Isak tangis Shenna semakin kencang, ia menaikkan pandangannya dan menatap ke arah Sakura dengan derai air mata yang terus saja berjatuhan. "Aku ingin dia kembali padaku. aku sangat membutuhkannya, Sakura. aku sangat membutuhkannya." Sakura memindahkan posisi duduknya yang tadi berada di hadapan Shenna menjadi berada di samping Shenna sekarang.
Ia merangkul tubuh kecil Shenna dan memberikan pelukan hangat sambil sesekali mengusap punggung Shenna agar tangisnya mereda. "Dia akan kembali padamu, di waktu yang tepat. kau harus mempercayainya."