
Shenna terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan selimut putih yang tengah menyelimuti tubuhnya. di punggung tangannya terdapat selang infus yang dipasang sejak 2 hari yang lalu.
Beberapa hari ini kondisi kesahatannya memang tidak stabil, jadi dokter keluarga Vans menyarankan Shenna untuk tetap di rawat hingga kondisinya pulih kembali. Shenna memang tidak begitu yakin jika tubuhnya akan bertahan dalam jangka waktu yang lama lagi.
Rasanya sudah terlalu banyak rasa sakit yang menemani hidupnya selama ini, meskipun berasal dari keluarga yang sangat berada dan terpandang, ia tidak pernah menginginkan hal mewah, ia hanya menginginkan kasih sayang seorang keluarga.
Ia ingin ada seseorang yang menganggap bahwa hidup Shenna sangat penting untuknya, ia ingin ada seseorang yang menganggap Shenna sebagai alasan hidupnya menjadi lebih bahagia.
Shenna dapat merasakan kenop pintu di gerakkan, lalu perlahan-lahan pintu ruangan Shenna terbuka dan memperlihatkan Tuan Vans yang sudah berpakaian rapi lengkap dengan jasnya.
"Kau sudah sadar?"
Shenna hanya terdiam melihat Tuan Vans yang melangkah mendekat kepadanya dan berdiri tepat di samping ranjang tidurnya. "Bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Tuan Vans menggerakkan jari jemarinya untuk mengusap lembut puncak kepala Shenna. "Sudah lebih baik dari semalam." Jawab Shenna dengan nada suara yang terdengar cukup pelan.
Tuan Vans mengeluarkan sebatang rokok dari saku jasnya lalu di bakar rokok itu di hadapan Shenna. "Sial." Rutuk Shenna dalam hati. Shenna sangat tidak suka bau asap rokok, di tambah lagi ayahnya sekarang tengah menikmati sebatang rokok yang di apit antara jari telunjuk dan juga jari tengahnya di hadapan Shenna yang tengah sakit.
Seperti tidak ada rasa kasihan yang terbesit di hati Tuan Vans melihat kondisi putri semata wayangnya yang begitu lemah saat itu. nampaknya penyakit yang di derita oleh Shenna belum cukup menyadarkan hati ayahnya, hati Tuan Vans masih sangat angkuh untuk mencurahkan kasih sayangnya pada Shenna. padahal kasih sayang itulah yang sangat Shenna nanti-nantikan selama ini.
"Ayah akan pergi."
"Pergi kemana?" Tanya Shenna mengerutkan dahinya. "Ke Jerman, untuk beberapa hari karena ada urusan bisnis." Jawab Tuan Vans yang sekarang sudah duduk di kursi yang terletak di samping ranjang tempat Shenna tengah berbaring sekarang.
"Tapi Shenna sedang sakit, yah."
Tuan Vans menghembuskan asap rokok dari dalam mulutnya sehingga asap rokok itu menyebar hingga ke seluruh ruangan. ia menghela nafas pelan sambil memejamkan matanya. "Ayah sudah meminta pelayan kita terutama Emely untuk menjagamu selama kau masih harus di rawat disini." Hati Shenna rasanya sakit, sangat sakit. di saat seperti ini ia justru sangat mengharapkan kehadiran Tuan Vans di sisinya, tapi lagi dan lagi, Tuan Vans lebih mementingkan urusan bisnis dibandingkan putrinya sendiri.
"Ayah..." Panggil Shenna terdengar lirih.
Tuan Vans hanya berdeham pelan menyahuti panggilan Shenna. "Dulu waktu Shenna lahir, apa ayah merasa senang?" Shenna ingin sekali menangis saat melontarkan pertanyaan itu pada sosok laki-laki yang tengah duduk di samping ranjangnya. "Tidak terlalu."
__ADS_1
Shenna meremas ujung selimutnya dengan erat, ia merasa sangat sesak mendengar jawaban itu keluar dari mulut ayahnya sendiri. "Dulu ayah sangat menginginkan seorang anak laki-laki sebagai pewaris seluruh aset milik keluarga kita dan mengurusi perusahaan keluarga kita setelah ayah tidak ada, tapi nampaknya Tuhan berkehendak lain." Ucap Tuan Vans sambil kembali menyesap sebatang rokoknya. Shenna merintis merasa sakit jauh di dalam lubuk hatinya.
"Begitu, ya."
Shenna menarik senyum tipis untuk menutupi rasa sakit yang tengah ia rasakan saat ini.
"Kapan ayah pergi?" Tanya Shenna masih dengan senyum yang terukir di bibirnya. "Besok pagi, ayah mungkin tidak bisa mengunjungimu besok." Shenna menganggukkan kepala pelan. "Bukan masalah, ayah cukup fokuskan diri ayah pada bisnis ayah sekarang, Shenna akan baik-baik saja disini." Mata Shenna terasa memanas, tapi ia berusaha untuk menahannya. Shenna tidak ingin menangis di hadapan Tuan Vans, itu hanya akan membuat dirinya terlihat sangat lemah.
"Baiklah, untuk saat ini kau hanya perlu fokus pada kesehatanmu. tidak perlu memikirkan hal lain." Shenna memejamkan matanya, rasa sakit yang begitu ia nikmati. ia mulai terbiasa dengan rasa sakitnya itu. ketidakperdulian Tuan Vans terhadap Shenna membuat Shenna harus terpaksa menelan mentah-mentah rasa sakit yang ada.
"Iya, Shenna mengerti."
"Ayah harus kembali sekarang, banyak hal yang harus ayah siapkan untuk keberangkatan menuju Jerman besok pagi." Tuan Vans bangkit dari duduknya, merapihkan sedikit jas yang ia kenakan, menggerakkan jari jemarinya untuk mengusap puncak kepala Shenna sekilas lalu pergi dari ruangan itu. Shenna hanya bungkam, ia tidak membalas ucapan Tuan Vans barusan. Shenna menarik nafas panjang sambil memegangi dadanya yang masih sedikit merasakan sakit.
Kenapa Kedatangan Tuan Vans menemui Shenna hanya tambah memperparah rasa sakit yang Shenna derita?
Shenna sudah kehilangan banyak sosok yang sangat ia sayangi, yang menjadi alasan untuknya tetap terus bertahan. ia merasa sangat merindukan Lardo, karena hanya Lardo lah sekarang prioritas utama di dalam hidupnya. Shenna sangat menantikan kepulangan Lardo ke Athlanda, Shenna sangat menantikan janji Lardo untuk menikahinya. mungkin bersama dengan Lardo lah hidup Shenna akan merasa jauh lebih bahagia dibandingkan saat ini.
Leora berjalan gontai menyusuri lorong sekolah seorang diri. karena terus memikirkan apa yang terjadi kemarin antara dia dan juga Lardo membuat waktu tidurnya berkurang. Leora tidak tau harus bersikap seperti apa saat berhadapan dengan Lardo nanti.
Malah ia berharap untuk tidak bertemu dengan Lardo hari ini, karena bertemu dengan Lardo hanya membuat Leora kembali teringat akan hal itu.
"Jadi memang tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi Shenna, ya?" Gumam Leora pelan meremas ujung roknya. Hayate melihat Leora tengah bersandang di sebuah pilar sambil menundukkan kepala, dengan cepat ia langsung menghampiri Leora tanpa berfikir panjang.
"Leora!"
Leora menoleh ke asal suara dan menemukan sosok Hayate tengah berlari mendekat kepadanya. Hayate mengerutkan dahi dalam melihat wajah Leora yang nampaknya tidak begitu bersemangat dari biasanya. "Kau baik-baik saja?"
__ADS_1
"Ah, ya! eummm... tentu, aku baik-baik saja." Jawab Leora terbata-bata. Hayate yang sekarang sudah berada di hadapan Leora langsung menggerakkan punggung tangannya ke dahi Leora sehingga membuat Leora langsung terkejut spontan.
"Suhu tubuhmu normal, apa ada sesuatu yang membebani pikiranmu?" Tanya Hayate kembali memastikan. Leora menggelengkan kepalanya cepat sambil terkekeh pelan. "Aku baik-baik saja, Ketua. jangan khawatir. hanya saja..." Hayate mengernyitkan dahinya sambil menatap lekat kepada Leora.
"Ada apa?"
"Hanya saja aku merasa sedih selepas menonton anime plastic memories semalam." Jawab Leora yang langsung membuat Hayate ternganga setelah itu memasang wajah datarnya. "Aku sampai tidak tertidur karena harus menyelesaikan episodenya, bukankah plastic memories itu anime yang sangat bagus?! aku akan merekomendasikan anime itu kepada teman-temanku yang lain!" Ekspresi wajah Leora langsung berubah menjadi sangat bersemangat sehingga membuat Hayate bingung lalu menggaruk pelipisnya yang tidak terasa gatal. "Ah, ya! sebenarnya aku tidak tau pasti tentang anime itu... namun, jika kau menonton anime itu sampai mengorbankan waktu tidurmu, sudah pasti itu anime yang sangat bagus."
"KAU BENAR SEKALI, KETUA!" Shenna mengacungkan kedua ibu jarinya sambil tersenyum lebar sementara Hayate hanya terkekeh pelan.
"Baiklah, Ketua. aku harus segera pergi ke kelasku sekarang, karena pelajaran sejarah akan segera di mulai. jika terlambat masuk kelas nanti, mungkin saja aku akan mendapatkan hukuman." Hayate tersenyum tipis lalu menganggukkan kepala mengerti.
"Tentu, semangat belajarnya, ya? Leora." Leora mengangguk pelan lalu melangkah pergi ke kelasnya meninggalkan Hayate yang masih terdiam di tempat. baru saja Leora pergi, Kyoko datang menghampiri Hayate yang saat itu masih menatap punggung Leora yang perlahan-lahan menjauh.
"Hayate."
Hayate terkejut melihat Kyoko secara tiba-tiba muncul di hadapannya. "Ada apa, Kyoko?" Kyoko meletakkan kepalanya di bahu Hayate membuat Hayate langsung memasang wajah kesal karena terkejut sambil berkacak pinggang.
"Aku, aku sangat membutuhkan bantuanmu." Hayate terdiam seribu bahasa karena merasa bingung dengan ucapan Kyoko yang secara tiba-tiba meminta bantuan darinya.
"Ada apa?"
"Aku tau kau memiliki perasaan terhadap wakilmu itu." Hayate mendelik dengan tatapan tajamnya. ia mendorong tubuh Kyoko menjauh darinya sedikit sehingga memperlihatkan wajah Kyoko yang tengah tersenyum licik menatapnya.
"Bagaimana jika kita bekerja sama?"
"Apa maksudmu?" Hayate sama sekali tidak mengerti dengan maksud ucapan Kyoko. Kyoko menggerakkan sebelah tangannya pada bahu kanan Hayate, mendekatkan kepalanya sedikit ke depan telinga Hayate lalu berbisik pelan. "Bantu aku jauhkan Leora dari Lardo." Hayate langsung membulatkan matanya terkejut, mulutnya ternganga karena merasa tidak menyangka dengan permintaan Kyoko barusan kepadanya.
__ADS_1
"Jangan gila!"