Lord Of Athlanda

Lord Of Athlanda
fighting for the future


__ADS_3

Akhir pekan telah tiba, sesuai janji yang Lardo berikan kepada Shenna. Lardo ingin mengajak Shenna pergi ke toko buku untuk membeli salah satu buku rumus matematika keluaran terbaru yang ia incar selama ini.


Sebenarnya Lardo sudah memiliki banyak sekali buku rumus matematika tapi menurutnya buku yang ia miliki belum terlalu lengkap. Ia juga ingin membeli beberapa buku pelajaran untuk di pelajari saat merasa bosan di rumah.


"Kenapa kau membeli semua buku, maksudku apa kau tidak ingin membeli barang yang lain?" Tanya Shenna sambil melihat-lihat buku yang saat itu tersusun rapi di setiap rak.


"Jika kau sudah membeli buku dan mempelajarinya, ilmu yang kau dapatkan dari buku itu mampu membuatmu membeli sesuatu yang lain sepuasmu." Shenna tertegun cukup lama, ia terkadang sangat takjub melihat kegigihan Lardo dalam belajar agar dia menjadi orang yang sukses di masa depan.


"Ah... kau benar." Lardo melirik sekilas ke arah Shenna yang saat itu tengah membaca sebuah buku lalu tersenyum tipis.


Sama seperti Lardo, Shenna juga membeli beberapa buku bacaan untuk menambah koleksi buku bacaannya di rumah. Setelah berkunjung ke toko buku, Lardo mengajak Shenna untuk makan siang bersama di sebuah restoran.


Meskipun bukan restoran mewah, tapi Lardo dapat menjamin semua menu masakan di restoran ini seperti menu masakan restoran bintang 5. "Jika aku mengajakmu makan disini, apa kau tidak merasa malu?" Tanya Lardo menghadap kepada Shenna yang saat itu tengah berdiri di belakangnya.


"Kau ini bicara apa? aku sama sekali tidak masalah pergi ke tempat makan mana pun sekalipun itu adalah kedai di pinggir jalan." Jawab Shenna. Lardo langsung tersenyum melihat kesederhanaan di dalam diri Shenna sekalipun ia lahir di sebuah keluarga yang cukup berada.


Mereka akhirnya masuk ke dalam restoran itu dan memilih tempat duduk sebelum memesan makanan yang mereka inginkan. Lardo hanya memesan nasi goreng kimchi ditemani oleh segelas teh lemon hangat begitu juga dengan Shenna.

__ADS_1


"Kau harus bisa menghemat uang jajanmu, jangan jadi anak yang boros. kau harus rajin menabung untuk bekal di masa depanmu nanti." ujar Shenna, Lardo yang saat itu tengah membaca buku barunya langsung menganggukkan kepala mengerti.


"Kau tau..." Ucap Shenna mencoba untuk mencari topik agar ia bisa mengobrol bersama dengan Lardo. "Ada apa?" tanya Lardo bingung, ia meletakkan buku yang berada di genggamannya ke atas meja lalu memfokuskan pandangannya pada Shenna.


"Kemarin aku dengar ada anak baru di kelas 8B, dia bernama Sakura. keluarganya adalah keluarga yang cukup sederhana, dia hanya tinggal di sebuah kontrakan bersama dengan keluarganya. dan banyak yang bilang kalau dia di tindas oleh murid-murid sekelasnya karena berasal dari keluarga miskin yang tidak memiliki tempat tinggal sendiri." Lardo yang mendengar cerita itu langsung menyandarkan tubuhnya dengan kedua tangan yang ia lipat di depan dada sambil memasang ekspresi datar.


"Aku kemarin mencoba untuk mencarinya di dalam kelas dan mencoba untuk mengajak dia bermain bersama, tetapi dia tidak menggubris ajakan ku dan mengatakan bahwa semua siswa di sekolah kita sama saja, yang hanya akan memandang rendah semua orang miskin." sambung Shenna.


"Aku sebenarnya tidak cukup paham dengan pemikiran beberapa orang kaya di Athlanda, mereka memandang rendah orang-orang tidak berada dan hanya memprioritaskan orang-orang yang kaya raya. Sebenarnya tindakan rasis seperti ini tidak pantas untuk dijadikan suatu kebiasaan." Simpul Lardo yang langsung mendapat anggukkan setuju dari Shenna.


"Aku pun berfikir seperti itu, seharusnya mereka menyamaratakan semua orang tanpa memandang dia orang miskin atau kaya. Jika hal seperti ini dijadikan suatu kebiasaan maka semua orang yang tinggal di Athlanda tidak akan pernah bersatu."


Tiba-tiba seorang pelayan mendekat ke meja Lardo dan juga Shenna sambil membawa pesanan mereka berdua. "Permisi, pesanan sudah siap." Shenna mempersilahkan pelayan itu untuk meletakkan semua menu makanan pesanan mereka di atas meja, setelah itu pelayan pun pergi.


"Aku sama sekali tidak mengerti, mengapa hal ini terlihat seperti suatu tradisi turun temurun pada kehidupan orang-orang kaya di Athlanda. mereka seperti enggan untuk bergaul dengan orang miskin dan terus memperlakukan orang-orang miskin dengan cara yang tidak adil." Ucap Lardo heran.


"Dulu di Athlanda ada sebuah keluarga yang terkenal dengan kekayaaan mereka, keluarga itu bernama keluarga Cardles. Mereka memiliki banyak sekali pelayan yang dipekerjakan di rumah mereka. Dan salah seorang pelayan membuat Tuan muda dari keluarga itu jatuh cinta. Keluarga Cardles sangat menentang hubungan mereka berdua karena Tuan muda adalah anak semata wayang keluarga itu. ayah dan ibunya meminta Tuan muda keluarga Cardles untuk memutuskan hubungannya dengan si pelayan namun ia tetap bersikeras melanjutkan hubungannya." Lardo menatap Shenna dengan tatapan serius sambil terus menyimak semua yang di ceritakan olehnya.

__ADS_1


"Karena terus di tentang oleh keluarganya, Tuan muda keluarga itu akhirnya memutuskan untuk bunuh diri bersama dengan sang pelayan sampai akhirnya garis keturunan keluarga Cardles terputus karena Tuan muda mereka meninggal dunia. semenjak adanya kejadian itu, semua orang kaya di Athlanda melarang anggota keluarganya untuk bergaul dengan orang miskin karena mereka menganggap bahwa orang miskin hanyalah pembawa bencana bagi mereka." Sambung Shenna.


Seketika Lardo teringat kejadian 1 tahun lalu, dimana Tuan Vans menendang dirinya dan menyeret Lardo untuk segera pergi meninggalkan area rumahnya.


"Usir anak ini dari halaman rumahku, dia hanya akan membawa bala untuk desa kita!" Kata-kata itu bahkan masih terekam sangat jelas dipikiran Lardo. Lardo sangat heran mengapa hal keji yang sangat tidak manusiawi seperti itu menjadi suatu kebiasaan di Athlanda.


"Jadi semacam tradisi turun temurun setiap keluarga kaya di Athlanda, ya?" tanya Lardo yang langsung mendapat anggukkan kepala dari Shenna. "Sebenarnya aku pun dilarang untuk bergaul dengan keluarga miskin tapi apabila hal ini tidak di tentang, akan ada banyak keluarga miskin yang tersakiti dan diperlakukan dengan cara tidak adil." Lardo membenarkan ucapan Shenna karena dirinya sendiri bahkan keluarganya sudah pernah merasakan hal itu.


"Pemikiran seperti ini memang harus di ubah, jangan sampai hanya karena 1 kesalahan yang pernah terjadi di masa lalu membuat banyak orang-orang yang hidup tidak berkecukupan merasa tersiksa di masa depan." Simpul Lardo.


Mereka menghentikan pembicaraan mereka sejenak dan menyantap pesanan mereka dengan lahap setelah itu kembali ke rumah mereka masing-masing. Saat di perjalanan pulang, Lardo terus berfikir bagaimana caranya mengubah pemikiran sempit semua keluarga kaya di Athlanda agar tidak lagi melakukan tindakan rasis seperti itu.


"Shenna,"


"Ada apa?" Tanya Shenna yang langsung menoleh ke arah Lardo.


"Suatu saat nanti aku akan berusaha keras untuk menghilangkan mindset seperti itu dari pikiran mereka. kau tenang saja. Rakyat Athlanda akan segera bersatu dan hidup dengan damai tanpa memandang status mereka." Shenna kembali tertegun mendengar kata-kata yang di ucapkan Lardo barusan.

__ADS_1


"Apa kau yakin? maksudku... itu bukanlah hal yang mudah pastinya." Lardo memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana lalu tersenyum lebar. "Itu bukan hal yang sulit, kau lihat saja nanti."


__ADS_2