
hari ini Lardo pergi ke sekolah lumayan pagi, dia terlihat sangat bersemangat hari ini. namun ketika dalam perjalanan menuju sekolah, Lardo tidak sengaja bertemu dengan Shenna yang tengah berhenti di sebuah kedai. Lardo pun segera menghampiri dia tanpa berfikir panjang.
"Shenna! Selamat pagi."
Sapa Lardo yang membuat Shenna langsung menoleh ke arahnya. "Kau sedang apa disini?" tanya Lardo bingung. "Membeli roti untuk bekal di sekolah nanti."
Lardo menganggukkan kepalanya mengerti, "Mau pergi ke sekolah bersama denganku?" tanya Lardo menawarkan, namun tawarannya itu membuat Shenna bingung, sebenarnya apa yang terjadi dengan Lardo? mengapa dia bersikap lembut sekali terhadap dirinya?
"Kau duluan saja." ucap Shenna. Namun Lardo dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Biar aku temani setelah itu kita pergi ke sekolah." Shenna menghela nafas pelan lalu mengiyakan ucapan Lardo.
Entah kenapa, kali ini Shenna nampak sangat lesuh dan juga lemas. tidak seperti hari kemarin. "Terima kasih, Pak." Shenna meraih sekantung roti lalu memasukkannya ke dalam tas setelah itu ia pergi menuju ke sekolah bersama dengan Lardo.
"Kau sedang sakit, ya?"
Pertanyaan yang di lontarkan oleh Lardo tidak mendapat jawaban sama sekali dari Shenna. Shenna memang selalu bersikap dingin kepada dirinya, tapi itu bukanlah suatu masalah bagi Lardo.
"Apa kau sudah mengerjakan PR yang diberikan oleh bu guru kemarin?" Tanya Lardo yang berusaha mencari topik agar mampu mencairkan suasana di antara dirinya dan juga Shenna.
"Sudah."
"Baguslah, bukankah PR yang bu guru berikan kemarin tidak terlalu sulit? aku bahkan mampu mengerjakannya hanya dalam beberapa menit." Ucap Lardo membanggakan diri. Shenna yang mendengar ucapan Lardo hanya terkekeh pelan. "Tentu saja, itu bukan soal yang sulit."
Mereka memasuki area sekolah lalu pergi menuju kelas. Terlihat suasana kelas yang sudah cukup ramai dipenuhi oleh murid-murid yang sudah datang dan beberapa di antara mereka mempusatkan perhatian mereka ke arah Lardo dan juga Shenna yang baru saja tiba.
"Shenna,apa yang kau lakukan? mengapa kau pergi bersama dengan pria ini?" Tanya salah seorang perempuan yang membuat Lardo langsung terdiam seketika.
"Memangnya kenapa jika aku pergi bersama dengan dia? apa urusannya dengan kalian semua?" Tanya Shenna dengan tatapan dingin nan menyeramkan.
__ADS_1
"Bagaimana jika ayahmu tau? dia pasti akan sangat marah karena kau bergaul dengan seorang pengemis." Shenna spontan mendekat ke arah perempuan itu dan menggenggam dagunya erat dengan sebelah tangannya.
"Sebaiknya kau jaga ucapanmu, mau dia seorang pengemis atau gembel jalanan, aku sama sekali tidak perduli. Bergaulah tanpa memandang bulu, nampaknya itu yang perlu kau pelajari." Perempuan itu terdiam dan memandang Shenna dengan tatapan takutnya.
Shenna melepaskan genggamannya dari dagu perempuan itu lalu kembali duduk di tempat duduknya begitu pun dengan Lardo. "Lihat lah, pengemis itu sekarang bersembunyi di balik sosok Shenna." bisik salah satu siswa.
"Ya, kau benar. Dia sepertinya tidak punya nyali sama sekali untuk melindungi dirinya sendiri." Baru saja Shenna hendak berdiri dan memberi pelajaran kepada dua siswa itu, namun dengan cepat Lardo menahan sebelah tangan Shenna.
Membuat Shenna menoleh ke arah Lardo dan melihat Lardo menggelengkan kepalanya, memberi tanda bahwa ia tidak perlu memperdulikan ucapan dari siswa itu.
Kegiatan pembelajaran pun di mulai, setelah menerangkan semua materi kepada murid-muridnya, guru mengadakan sesi tanya jawab.
"Baiklah, sekarang ibu akan memberikan pertanyaan kepada kalian semua. Siapa seorang perwira tinggi Jepang dalam Perang Dunia II yang terkenal prestasinya dalam Pertempuran Iwo Jima? yang bisa menjawab pertanyaan ini akan ibu beri nilai plus."
Dengan cepat Lardo mengacungkan jarinya membuat semua pandangan murid-murid dan juga guru beralih kepadanya. "Tadamichi Kuribayashi." Ucap Lardo dengan nada suara lantang yang langsung diberi tepuk tangan oleh guru itu.
"Benar sekali, Lardo. plus 10 untuk kamu." Semua murid-murid yang berada di dalam kelas tidak percaya bahwa Lardo ternyata cukup pintar karena bisa menjawab pertanyaan itu.
"Apakah ada yang bisa menjelaskan siapa sosok Hiroo Onoda?"
Dan lagi-lagi, Lardo mengacungkan jarinya untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh bu guru. " Saya bu!" ucap Lardo.
"Baiklah, Lardo. coba jelaskan siapa sosok Hiroo Onoda itu kepada ibu dan juga teman-temanmu." Lardo menganggukkan kepalanya mantap lalu berdiri di hadapan semua murid dan juga guru sekalian.
"Hiroo Onoda, adalah seorang perwira Angkatan Darat Jepang yang berpangkat Letnan Dua. Meski hanya seorang perwira menengah, Onoda menjadi legenda di Jepang setelah bertahan di hutan Filipina selama 29 tahun usai Perang Dunia II dan terus bertempur. Dia terus bertempur karena tidak mengetahui bahwa Perang Dunia II sudah berakhir dan Jepang telah menyerah." Jelas Lardo yang membuat guru itu tersenyum lebar mendengar jawaban yang diberikan oleh Lardo.
"Nampaknya Lardo adalah anak yang pintar." Batin Shenna berbicara setelah melihat Lardo bisa menjawab dua pertanyaan yang guru itu berikan.
__ADS_1
"Anak-anak lain juga harus bisa menjawab pertanyaan ini, jangan hanya Lardo yang menjawabnya." ujar guru itu.
"Iya, Bu." jawab semua murid bersamaan.
"Baiklah, Lardo. kau boleh duduk sekarang." Lardo tersenyum tipis lalu kembali ke tempat duduknya.
Shenna terus menatap Lardo dengan tatapan lekat dan juga penuh dengan perasaan tidak percaya. "Apa kau sudah mempelajari materi ini sebelumnya?" Tanya Shenna penasaran. "Tidak, aku hanya sedikit menghafal semua materi yang tadi ibu guru bahas." Shenna tidak menyangka bahwa Lardo bisa menghafal cukup banyak materi yang baru saja guru itu jelaskan, bahkan dirinya saja tidak mampu menghafal semua materi ini.
Murid-murid lain pun terheran-heran bagaimana Lardo bisa menjawab semua pertanyaan itu. karena mereka berfikir bahwa Lardo adalah sosok yang bodoh dan tidak memiliki kemampuan apapun.
Bel istirahat pun berbunyi, Lardo dan juga Shenna menetap di kelas tanpa ada niat pergi ke kantin. Mereka lebih memilih untuk menghabiskan jam istirahat mereka dengan membaca buku dan menikmati bekal yang mereka bawa dari rumah.
"Shenna."
"Ada apa?" Shenna langsung menjawab panggilan dari Lardo dengan cepat. Lardo pun memiringkan posisi duduknya agar berhadapan dengan Shenna yang saat itu tengah terfokus pada sebuah buku di atas meja.
"Siapa ayahmu sebenarnya? kenapa anak-anak itu bilang jika ayahmu mengetahui kau bergaul dengan diriku, dia akan sangat marah." tanya Lardo penasaran.
Shenna memijat pelipisnya pelan lalu mengalihkan pandangannya kepada Lardo. "Ayahku bukan siapa-siapa, apa kau takut hal itu terjadi?" tanya Shenna. Lardo mengangguk cepat sebagai jawaban atas pertanyaan Shenna.
"Kau satu-satunya temanku disini, aku tidak memiliki teman lain selain dirimu. jika ayahmu marah dan melarang kau berteman dengan aku, aku mungkin akan merasa sangat kesepian." ucap Lardo yang langsung membuat Shenna terdiam.
"Aku selalu saja sendirian sebelumnya, tidak memiliki teman karena semua merasa jijik terhadapku dan juga keluargaku karena kami adalah orang miskin yang hanya tinggal di dalam sebuah gubuk kecil. saat mengenal dirimu, aku merasa tidak kesepian lagi. aku merasa senang karena memiliki seorang teman." Shenna secara tiba-tiba menarik senyum tipis dan mengarahkan sebelah tangannya untuk menyentuh kepala Lardo lalu mengacak-acak rambutnya pelan.
"Dasar anak bodoh, kau tidak perlu khawatir. kita akan tetap berteman, aku tidak akan membiarkanmu merasa kesepian lagi." Lardo merasa sangat senang saat mendengar ucapan Shenna bahwa dia akan terus berteman dengan dirinya. bagi Lardo, ini adalah suatu kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Aku janji aku tidak akan meninggalkanmu, anak bodoh." Lardo menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
"Aku juga berjanji akan terus bersama denganmu. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian."