Lord Of Athlanda

Lord Of Athlanda
a tiring first day


__ADS_3

Lardo tengah duduk di dalam kelas sambil membaca sebuah komik naruto miliknya saat jam istirahat kedua. dia sama sekali tidak berniat untuk pergi ke kantin karena ia merasa sangat malas jika kejadian saat jam istirahat pertama terulang kembali. jadi ia memutuskan untuk tetap berada di dalam kelas meskipun dirinya merasa sangat lapar sekarang.


Brak!


Lardo terkejut karena secara tiba-tiba seseorang datang menghampirinya lalu menggebrak mejanya. ia mengalihkan pandangan ke arah seseorang yang menggebrak mejanya barusan, dan ternyata orang itu adalah...


"Cih, bodoh."


"K-KAUUU?!!! ADA PERLU APA KAU DISINI, PEREMPUAN ALIEN?!" Ternyata sosok pelaku yang baru saja menggebrak mejanya adalah Leora. Leora memutuskan untuk duduk pada sebuah bangku yang terletak di hadapan Lardo.


"Kau ini, benar-benar tidak keluar kelas karena takut pada mereka, ya?" Tanya Leora dengan jari jemari yang ia gerakkan untuk membuka sebungkus chiki. "Untuk apa aku takut dengan mereka?" Tanya Lardo menyangkal rasa takutnya.


"Karena memang kenyataannya seperti itu." ucap Leora mempertegas. ia merogoh sebuah tas kecil yang ia bawa lalu mengeluarkan bekal miliknya. "Ini, makanlah." Lardo terdiam melihat Leora menawarkan bekal yang ia miliki kepada dirinya. "Tidak perlu." mendengar jawaban singkat yang diberikan Lardo membuat Leora melipat kedua tangannya di depan dada.


"Cepat makan! kau sama sekali belum makan sejak tadi pagi." ia juga mengeluarkan sebotol minuman dingin dari dalam tas kecilnya dan memberikan sebotol minuman itu kepada Lardo. "Ini untukmu juga." Lardo hanya terdiam melihat Leora yang secara tiba-tiba bersikap perhatian terhadap dirinya. melihat Lardo yang hanya terdiam sedari tadi membuat Leora merasa sangat jengkel.


"Tenang saja, tidak ada racun di dalam makanan itu. kau bisa memakannya dengan tenang." Lardo mengarahkan ibu jari dan juga jari telunjuknya untuk menyentil dahi Leora hingga ia meringis kesakitan. "OIIII, PRIA BODOH! APA YANG KAU LAKUKAN?!"


"Tidak ada."


Mendengar Leora memanggil dirinya dengan sebutan pria bodoh membuat Lardo seketika teringat pada Shenna. Shenna selalu saja memanggil Lardo dengan sebutan bocah bodoh karena Lardo seringkali bersikap menyebalkan saat bersama dengan Shenna.


"Kau adalah bocah bodoh kesayanganku."


"Aku tidak akan melupakanmu, bocah bodoh."


Lardo dapat mengingat dengan jelas bagaimana ekspresi Shenna yang merasa sangat puas setelah memanggil Lardo dengan sebutan "bocah bodoh". itu adalah panggilan yang sangat Lardo rindukan, suara riangnya dan juga ekspresinya yang sangat ceria ketika tengah bersama dengan Lardo membuat Lardo merasa sangat merindukan Shenna sekarang ini.


"Oi, ada apa?"


Tiba-tiba Leora membangunkan Lardo dari lamunannya, sehingga membuat Lardo sedikit terkejut. "Tidak ada apa-apa." Leora mengerjapkan matanya berkali-kali lalu menatap Lardo dengan tatapan bingung.


"Kau sedang memikirkan apa?" Mendapat pertanyaan seperti itu dari Leora membuat Lardo menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Tidak." Leora kembali terfokus pada layar ponsel miliknya sedangkan Lardo mulai berniat untuk memakan bekal yang Leora berikan padanya.


"Kenapa kau pindah ke Preston? bukankah Athlanda lebih baik?" Tiba-tiba saja Leora memberikan pertanyaan itu kepada Lardo sehingga membuat Lardo sempat terdiam beberapa menit. "Entahlah, ibuku yang memutuskan untuk pindah kesini."


"Wakil ketua!"

__ADS_1


Terlihat 2 orang murid laki-laki yang berjalan mendekat ke arah Lardo dan juga Leora. Leora terus memandangi mereka berdua dengan tatapan dinginnya. "Apa?"


"Kau terlihat sangat dekat dengan anak baru ini, apa kalian sudah berpacaran?" Mendengar pertanyaan yang diberikan oleh salah satu murid laki-laki yang menghampiri mereka membuat Leora dan juga Lardo tercengang. Secara tiba-tiba Leora melayangkan tinjunya kepada murid laki-laki itu sehingga membuat Lardo bungkam seribu bahasa. "APA YANG KAU PIKIRKAN?! LAGIPULA UNTUK APA AKU BERPACARAN DENGAN PRIA INI?!" Ucap Leora dengan nada suara yang terdengar sangat kesal.


Lardo hanya bisa menopang dagunya sambil mengamati hal yang sedang terjadi di hadapannya saat ini. "Ti-tidak... kami kira kau berpacaran dengannya karena sedari tadi kalian terlihat sangat dekat." Leora melipat kedua tangannya di depan dada sambil mendengus kesal. "BAGAIMANA BISA KALIAN MENYIMPULKAN SUATU HAL TANPA BUKTI YANG JELAS?!"


Lardo tiba-tiba bangkit dari duduknya dan meninggalkan mereka bertiga yang tengah sibuk berdebat. ia melangkah ke arah toilet pria lalu sesampainya di toilet, ia membasuh wajahnya dengan air yang mengalir di wastafel. "Huh... melelahkan sekali menghadapi mereka semua."


Ini adalah hari pertama Lardo bersekolah di tempat ini tapi sudah banyak hal yang ia temui. Setelah mengeringkan wajahnya, Lardo kembali melangkah menuju kelas karena sebentar lagi waktu jam istirahat kedua segera berakhir.


"JANGAN COBA-COBA DEKATI PANGERAN!"


"KAU INI SIAPA BERANI MELARANGKU?! PANGERAN ADALAH MILIK KITA BERSAMA!"


Setelah melangkah keluar dari toilet, tiba-tiba terdengar suara gaduh yang sepertinya berasal tidak jauh dari tempat Lardo berada sekarang. Lardo segera mencari asal kegaduhan itu dan mendapatkan 6 orang siswi yang tengah berdebat.


"JAUHI PANGERAN! JANGAN BERANI-BERANI MENDEKATINYA, KALAU KAU BERANI MENDEKATI PANGERAN, KAMI TIDAK AKAN MEMAAFKANMU!" Lardo terkejut karena salah seorang dari ke 5 siswi itu mendorong seorang siswi yang tengah berdebat dengannya.


Lardo segera menangkap tubuh seorang siswi yang nyaris terjatuh itu. ke 5 siswi yang bertingkah semena-mena barusan langsung terdiam dan memasang wajah cemasnya karena seseorang yang mereka sebut pangeran tengah berada di hadapannya dan melihat apa yang mereka lakukan kepada siswi lain barusan.


"PA-PA-PANGERANNN?! apa yang kau lakukan disini? ahhh... apa kau sedang mencari udara segar?"


Lardo memasang ekspresi datarnya lalu memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana dan mengarahkan sebelah tangannya lagi untuk menggenggam tangan siswi yang nyaris terjatuh itu. Lardo membawanya pergi meninggalkan mereka semua yang saat ini tengah memasang ekspresi terkejut sekaligus ketakutan.


"ASTAGA!!! Pangeran terlihat marah kepada kita."


"Apa yang harus kita lakukan?!"


"Bagaimana iniii???"


Setelah sampai di lantai 2, Lardo melepaskan genggaman tangannya meskipun sedari tadi banyak sekali murid yang terus mengamati Lardo. tapi Lardo sama sekali tidak perduli dengan apa yang akan mereka semua pikirkan. "Sekarang mungkin sudah aman." Ucap Lardo membalikkan badannya menghadap ke arah perempuan yang ia selamatkan tadi.


"Pangeran, terima kasih karena sudah membantuku." Lardo terdiam beberapa saat lalu menarik senyum tipisnya. "Tidak masalah, lain kali usahakan untuk tidak berurusan dengan murid seperti mereka."


"Baik, Pangeran."


Lardo menghela nafas pelan lalu mengarahkan sebelah tangannya ke atas pundak siswi itu. "Jangan panggil aku dengan sebutan itu, panggil saja aku Lardo." Pipi siswi itu seketika merah padam karena merasa sangat bahagia bisa berada sedekat ini dengan Lardo. meskipun baru sehari bersekolah di tempat ini, nampaknya Lardo sudah sangat populer di kalangan murid perempuan.

__ADS_1


"Baiklah, aku harus kembali ke kelas."


Lardo melangkah meninggalkan siswi itu lalu kembali ke kelasnya sementara siswi itu masih terdiam mematung dengan pipi yang masih memerah.


Tiba-tiba siswi itu menyusul langkah Lardo dan menggenggam pergelangan tangannya sehingga membuat langkah Lardo terhenti. Lardo membalikkan tubuhnya menghadap ke arah siswi itu yang sekarang tengah terdiam dengan tatapan malu.


"Pang- eummm... maksudku Lardo."


"Ada apa?"


Siswi itu menghela nafas pelan lalu memberanikan diri untuk menatap mata Lardo. ia melangkah maju agar ia sedikit mendekat kepada Lardo dan setelah itu ia memandangi wajah Lardo dengan tatapan lekatnya. mengamati setiap jengkal wajah Lardo yang sangat mulus serta bersih.


"Aku menyukaimu, ayo kita berkencan!"


Mendengar ungkapan perasaan itu secara tiba-tiba membuat Lardo tertegun sambil mengerjapkan matanya berkali-kali. namun beberapa menit kemudian, Lardo menarik senyum tipis sambil menatap ke arah siswi itu dengan tatapan hangat. "Terima kasih, atas perasaanmu. tapi maaf, aku tidak bisa menerimanya. karena aku tidak berniat untuk kencan dengan siapapun."


Air mata seketika menggenang di pelupuk mata siswi itu, sehingga membuat Lardo terdiam sesaat sambil memandanginya. "Tapi... tapi aku sangat menyukaimu."


tap tap tap


Leora melangkahkan kakinya menaikki tangga lantai 2, dia sedari tadi mencari-cari dimana keberadaan Lardo tapi tak kunjung ia temukan. maka dari itu ia memutuskan untuk mencari Lardo di lantai 2.


"Kau bisa mendapatkan seseorang yang lebih menghargai perasaanmu." Leora mendengar ada suara yang familiar baginya. ia melangkahkan kaki untuk menghampiri sumber suara itu dan pada akhirnya ia menemukan Lardo yang saat itu tengah berbicara dengan seorang siswi.


"Jadi kau tidak bisa menerima perasaanku ini?"


Air mata mengalir membasahi pipi mulus siswi itu, Leora yang melihat kejadian ini hanya terdiam sambil menyandarkan tubuhnya di sebuah dinding. ia melipat kedua tangannya di depan dada dengan pandangan terus mengamati ke arah Lardo dan juga siswi itu.


"Maafkan aku."


Setelah mendengar permintaan maaf dari Lardo yang tidak bisa membalas perasaannya, siswi itu pergi meninggalkan Lardo sambil menangis tersedu-sedu. hal ini membuat Lardo terdiam dan menarik nafas berat. "Wah... kau ini jahat sekali, pria bodoh." Lardo sangat terkejut karena tiba-tiba Leora sudah berdiri di sampingnya.


"Dia sepertinya sangat menyukaimu." Simpul Leora yang sama sekali tidak di gubris oleh Lardo. Lardo hanya diam mematung dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya. "Siapa nama perempuan itu?" Tanya Leora sambil menoleh ke arah Lardo.


"Tidak tau."


Leora ternganga setelah mendengar jawaban yang di berikan Lardo, "HEEEEE.... BA-BAGAIMANA BISA DIA JATUH CINTA PADA SEORANG PRIA YANG BAHKAN TIDAK MENGETAHUI SIAPA NAMANYA?!"

__ADS_1


__ADS_2