
"Aku tidak bohong."
Keesokkan harinya di sekolah, Lardo mengaku bahwa anak laki-laki yang di temui oleh Shenna hari itu adalah dirinya.
Shenna yang merasa gemas mendengar pengakuan dari Lardo hanya bisa tertawa terbahak-bahak hingga seisi kelas dapat mendengar dengan jelas tawanya itu.
"Kau ini pasti sedang bercanda kan? SANGAT TIDAK LUCU!" Gebrak Shenna yang tiba-tiba merubah ekspresinya menjadi sangat menyeramkan sehingga membuat jantung Lardo berdegup kencang karena terkejut.
"Aku tidak bohonggg... anak laki-laki itu memang benar diriku. tapi jika kau tidak percaya, yasudah... aku tidak akan memaksa kau untuk percaya dengan pengakuanku ini." Shenna berusaha menahan tawa lalu berdeham pelan sebelum kembali menyipitkan matanya sinis.
"Tentu saja, aku tidak percaya. bagaimana bisa anak laki-laki yang berhati lembut dan juga manis itu menjadi sosok yang menyebalkan sepertimu?"
Mendengar ucapan Shenna membuat Lardo langsung melipat kedua tangannya di depan dada, memasang ekspresi kesal andalannya dan juga mengerucutkan bibir sebal.
"Hahahahahahaha... kau tenang saja, aku sangat mempercayaimu. aku tau kalau kau adalah anak itu, karena matamu sama seperti matanya saat sedang menatapku hari itu, kau memiliki bentuk wajah dan juga warna rambut yang sama dengannya, serta kau juga selalu mengatakan bahwa kau tidak akan pernah membiarkan aku merasa kesepian. sama seperti apa yang di ucapkan oleh anak itu dulu." Ucap Shenna menjelaskan.
Lardo langsung membulatkan matanya kesenangan, "BENARKAH? APA KAU PERCAYA PADAKU?" Shenna mendengus sebal saat tingkah laku Lardo langsung berubah seketika menjadi seperti sosok anak kecil.
"Iya, aku percaya."
Lardo meraih tangan Shenna dan menggenggamnya erat, "Kau memang seharusnya mempercayaiku karena apa yang aku ucapkan semuanya adalah sebuah kebenaran." Shenna menarik senyum tipis saat melihat Lardo merasa senang seperti sekarang.
"Berhubung kau sudah bertemu denganku, anak laki-laki yang selama ini kau cari-cari, apa yang akan kau lakukan padaku?" Shenna menggerakkan sebelah tangannya untuk mengusap puncak kepala Lardo dengan lemah lembut.
"Terima kasih banyak, kau benar-benar menepati janjimu bahwa kau tidak akan pernah membiarkan aku sendirian dan merasa kesepian." Ucap Shenna tersenyum lebar, senyum itu membuat Lardo terdiam. senyum yang sangat Lardo sukai, dan senyum yang sangat candu untuk dirinya.
Lardo mendekatkan tubuhnya pada Shenna sehingga membuat Shenna terkejut dan spontan menjauh sedikit dari Lardo. Ia membulatkan matanya dan menatap Lardo dengan seksama.
__ADS_1
"Berterima kasih saja masih kurang tau."
Ucap Lardo yang membuat Shenna merasa bahwa jantungnya kali ini berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya, di tambah lagi jarak diantara mereka berdua lumayan dekat.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"
Lardo tersenyum miring sambil mengusap dagunya, "Bagaimana jika kau mentraktirku makan siang, aku merasa sangat lapar sekarang." Ucap Lardo yang langsung membuat Shenna merasa lega.
Shenna takut jika Lardo meminta hal yang aneh-aneh terhadap dirinya, tetapi untungnya Lardo hanya minta di traktir makan siang oleh dirinya. bukan satu hal yang merepotkan.
"Ahhh... akhirnya rasa laparku pun pergi jauh-jauh dariku, aku merasa sangat lega."
Shenna menggelengkan kepalanya terheran-heran dengan tingkah laku Lardo yang semakin hari semakin menyebalkan untuknya. tapi hal itu justru menambah ketertarikan Shenna pada Lardo.
Sebelumnya Lardo yang lebih sering menggenggam tangan Shenna lebih dulu, dan ini adalah kali pertama Shenna meraih dan menggenggam tangan Lardo dengan sangat erat. Lardo dapat merasakan kehangatan pada tangan Shenna yang saat itu terus menggenggam tangannya sampai ke dalam kelas.
"Kau jangan terlalu sering makan di kantin, usahakan bawa bekal dari rumah agar uang sakumu bisa kau tabung. itu jauh lebih baik agar kau pun bisa belajar hemat." Ujar Shenna yang hanya di jawab dengan anggukkan oleh Lardo.
"Tidak ada yang bisa menjamin makanan kantin itu makanan sehat loh, jadi usahakan konsumsi makanan dari rumah. itu jauh lebih sehat. kau mengerti, kan?" Lardo mengangguk sekali lagi.
Shenna yang melihat Lardo hanya menjawab ucapannya dengan anggukkan kepala langsung mengerucutkan bibirnya kesal dengan kedua tangan yang ia lipat di depan dada.
"Dasar, bocah bodoh yang menyebalkan." mereka kembali ke tempat duduk mereka masing-masing dan kembali menyambung pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Mengingat kejadian 10 tahun lalu saat kita bertemu pertama kali, kau terlihat sangat cantik dan menggemaskan." Puji Lardo pada Shenna yang membuat Shenna terkejut dan merasa malu.
"Aku tau. Aku memang menggemaskan." Seketika ekspresi wajah Lardo langsung berubah menjadi datar saat mendapatkan reaksi Shenna yang sangat percaya diri.
"Aku tidak dapat mengingat dengan jelas wajah ayahmu, yang aku ingat tubuhnya lumayan tinggi, benarkan? aku melihatnya sebelum ia membawamu pergi dariku." tanya Lardo berusaha mengingat bagaimana sosok Tuan Vans itu yang tak lain adalah ayah Shenna itu.
Selama ini Lardo tidak tau kalau ayah Shenna adalah Tuan Vans. Shenna bahkan tidak pernah menceritakan tentang sosok ayahnya pada Lardo.
Shenna merasa sangat malas apabila harus membahas sosok ayahnya, karena Shenna menganggap Tuan Vans sudah bukan ayahnya lagi saat dia mulai berani menyakiti fisik Shenna. bukan hanya fisik tetapi mentalnya pun juga di sakiti oleh Tuan Vans.
"Iya, kau benar." Jawab Shenna malas.
"Bagaimana kabarnya sekarang? apa dia baik-baik saja?" Tanya Lardo yang membuat Shenna terdiam dan menghela nafas pelan.
"Lardo, aku sangat tidak bersemangat jika harus membahas tentang dirinya." Lardo langsung mengerutkan keningnya bingung saat mendengar ucapan Shenna. "Kenapa? apa hubunganmu dengan dia tidak begitu baik?" Tanya Lardo memastikan.
Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Shenna untuk menjawab pertanyaan Lardo, Lardo dapat mengerti bahwa dugaannya benar. hubungan Shenna dan juga ayahnya memang tidak baik. Lardo dapat melihat itu semua dari sorot wajah Shenna yang mendadak murung saat membahas tentang sosok ayahnya.
"Baiklah, tidak perlu meneruskan pembicaraan ini. Akhir pekan nanti apa kau ingin ikut aku pergi ke toko buku? aku ingin membeli buku rumus matematika keluaran terbaru." Shenna menarik senyum tipis lalu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Lardo sangat menyukai senyuman itu, ingin sekali Lardo melihatnya setiap saat. senyuman Shenna terasa begitu candu untuk Lardo, maka Lardo tidak akan membiarkan hal jahat semacam apapun menimpa Shenna sehingga membuat senyum itu hilang.
Lardo ingin melihat Shenna selalu tersenyum seperti sekarang. Lardo tidak ingin melihat Shenna merasa sedih.
"Jangan murung lagi, aku tidak suka kau menjadi murung seperti tadi." Lagi-lagi perhatian yang diberikan oleh Lardo membuat Shenna tersipu malu.
Ia selalu saja merasa tidak berdaya saat mendapat perhatian dari Lardo, ingin rasanya ia pergi ke langit ke tujuh untuk memberitahukan kepada para malaikat betapa senangnya dia saat ini.
__ADS_1
"Iya..." Jawab Shenna dengan nada suara yang terdengar sangat lembut.