Lord Of Athlanda

Lord Of Athlanda
about the past


__ADS_3

Keesokkan harinya, saat itu tengah jam istirahat. Shenna pergi ke kantin untuk membelikan jus buah kepada Lardo karena Lardo terlihat cukup kelelahan hari ini.


Ia mengejar beberapa materi yang sempat tertinggal karena ia pergi bersama dengan kepala sekolah dan guru pembimbing untuk menghadiri lomba cerdas cermat beberapa hari lalu.


"Kau sudah berusaha keras hari ini, aku meneraktirmu jus buah sebagai apresiasi atas kerja kerasmu." Lardo langsung ternganga melihat segelas jus buah melon yang berada di hadapannya.


Tanpa basa basi, ia langsung meraih segelas jus itu dan menenggaknya hingga tersisa setengah. "Pelan-pelan, bodoh. kau bisa mati tersedak nanti." Cibir Shenna sambil memasang ekspresi datarnya saat melihat Lardo meminum jus buah itu dengan sangat bersemangat hingga hanya tersisa setengah gelas.


"Terima kasih, kau baik sekali."


Shenna hanya menarik senyum tipisnya lalu menangkup wajahnya sambil menatap ke arah Lardo. Lardo menaikkan sebelah alisnya bingung saat mendapat tatapan seperti itu dari Shenna.


"Ada apa?"


Shenna menggelengkan kepalanya cepat sebagai jawaban. "Kau ini memang sosok pria yang menggemaskan ya."


Shenna memberikan tatapan kagumnya kepada Lardo yang membuat Lardo langsung terkejut saat melihatnya.


"Kau ini kenapa, hah? kenapa tiba-tiba memujiku seperti itu?" Tanya Lardo bingung.


"Tidak, aku hanya teringat pada sosok anak laki-laki yang bertemu denganku 10 tahun lalu saat aku tengah berumur 4 tahun." Lardo tidak mengerti dengan ucapan Shenna, ia hanya melipat kedua tangannya di depan dada dan mendengarkan semua ucapan Shenna dengan seksama.


"Saat aku tengah pergi sendirian untuk berjalan-jalan di sekitar rumah dengan wajah murung, anak itu langsung menghampiriku dan bertanya apa yang terjadi padaku."


-Flashback on-


Sore itu Shenna kecil memutuskan untuk pergi keluar karena ia merasa bosan apabila terus menerus berada di dalam rumah. Ayahnya selalu sibuk dengan tugas kantor sampai tidak memiliki waktu luang untuk bermain bersama dengannya sementara neneknya sedang beristirahat di kamar.


Shenna kecil berkeliling ke sekitar rumah dan bermain di taman yang berada tak jauh dari rumahnya. Ia berdiri dan terdiam sambil melihat banyak sekali anak-anak yang tengah sibuk bermain bersama dengan teman-temannya bahkan orang tua mereka disana.


Ingin sekali ia merasakan hal itu, dimana ia bisa bermain bersama ayah dan juga ibunya dan menghabiskan waktu seharian di luar rumah, mungkin itu akan menjadi satu hal yang sangat menyenangkan.


Shenna kecil terus saja menatap pemandangan yang berada di hadapannya dengan tatapan tidak berdaya dan penuh rasa kesepian. Dia tidak memiliki siapa pun yang bisa membagi waktu mereka untuk bermain dengannya.


Memang terkadang ada pengasuh dan juga beberapa pelayan di rumah yang selalu menemani Shenna bermain, tapi tetap saja rasanya akan sangat berbeda. tidak seperti saat di temani oleh kedua orang tua.


Tiba-tiba ada sosok anak laki-laki yang berjalan mendekati Shenna, Shenna yang menyadari kedatangan sosok anak laki-laki itu langsung menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Hei, sedang apa kau disini?"


Ia berjongkok di hadapan Shenna sambil memandangi wajahnya dengan tatapan yang sangat lembut lalu meraih kedua tangan Shenna dan menggenggamnya erat.



Shenna kecil awalnya merasa sangat takut dengan sosok anak laki-laki yang tidak ia kenal itu, tetapi anak laki-laki itu tersenyum manis kepada Shenna dan bersikap baik kepadanya.


"Tidak perlu takut seperti itu, aku bukan anak nakal. apa kau sendirian disini?" Shenna kecil hanya menganggukkan kepalanya ragu-ragu. Mendapat anggukkan kepala dari Shenna, sosok anak laki-laki itu langsung mengajak Shenna bermain bersama dengannya.


"Kau jangan merasa kesepian lagi, ya? mulai sekarang kita akan berteman, aku akan selalu menemanimu dan tidak pernah membiarkanmu merasa kesepian lagi." Ucap anak laki-laki itu yang membuat Shenna kecil tersenyum lebar.


Ia membuat Shenna kecil tertawa dan merasa sangat bahagia. Sebelum pada akhirnya ayah Shenna datang dan melihat Shenna tengah bermain dengan anak laki-laki itu, beberapa pengawalnya langsung menarik anak laki-laki itu menjauh dari Shenna dan membawa Shenna pulang ke rumah.


Shenna terus menangis sambil menjerit minta di lepaskan namun mereka sama sekali tidak menggubris jeritan Shenna.


Saat itu Shenna merasa, sepertinya ia akan selalu merasa kesepian seperti ini, ayahnya tidak akan membiarkan dia memiliki teman dan terus mengurung Shenna di dalam rumah sampai ia beranjak dewasa.


Seperti tidak ada lagi harapan untuk dirinya hidup dengan bebas, Shenna kecil bahkan mulai terbiasa dengan hal ini hingga ia menginjak umur 14 tahun.


Lardo terdiam mendengar cerita Shenna lalu menarik senyum tipisnya.


"Ternyata kau..." batin Lardo berbicara.


Lardo adalah sosok anak laki-laki yang bertemu dengan Shenna hari itu dan mengajak Shenna bermain bersama dengannya. namun sosok pria datang dan memerintahkan seluruh anak buahnya untuk menjauhkan Shenna dari dirinya dan membawa Shenna pergi begitu saja.


Lardo bahkan masih mengingat dengan jelas bagaimana jerit tangis dari Shenna kecil saat itu. Ingin sekali Lardo pergi menyelamatkan Shenna namun ia tidak tau dimana Shenna tinggal dan ia juga belum mengetahui siapa namanya pada saat itu.


"Aku tidak pernah bertemu dengan anak laki-laki itu lagi, ia memiliki mata yang indah sama sepertimu. maka dari itu aku sangat suka memandangimu sambil mengingat kejadian hari itu." Ucap Shenna meneruskan.


Lardo tersenyum sambil membayangkan bagaimana reaksi Shenna apabila ia mengetahui bahwa anak laki-laki itu adalah dirinya. Ia pasti akan sangat terkejut dan juga tidak percaya.


"Kau jangan khawatir, anak laki-laki itu sudah menepati janjinya untuk selalu menemanimu." Shenna tertegun saat mendengar ucapan Lardo. "Maksudmu?"


Lardo menggelengkan kepalanya lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dengan ekspresi datarnya. "Tidak, aku hanya asal berucap." Shenna langsung menatap lemas dan menghela nafas pelan.


Shenna berfikir, mungkin saja anak laki-laki itu sekarang sudah tumbuh dewasa dan menjadi sosok remaja pria yang baik serta bertanggung jawab.

__ADS_1


Jika memang ia boleh meminta kepada Tuhan, ia ingin sekali bertemu dengan anak itu dan berterima kasih karena ia sudah bersedia menemani Shenna saat Shenna merasa kesepian hari itu.


"Kenapa murung?"


Shenna yang saat itu tengah menundukkan kepalanya langsung menggeleng cepat sebagai jawaban.


"Apa kau tengah memikirkan anak laki-laki itu?" Pertanyaan Lardo membuat Shenna dengan cepat menoleh ke arahnya. "Tidak, aku tidak memikirkannya. hanya saja..."


"Ahhh... anak itu benar-benar beruntung karena mendapat kesempatan masuk ke dalam pikiranmu. lalu apa kau pernah memikirkanku?" Tanya Lardo yang membuat Shenna geram saat mendengar pertanyaan darinya.


"Hentikan, bocah bodoh! apa yang kau katakan?!" Shenna langsung memukul bahu Lardo berkali-kali hingga Lardo meringis kesakitan sambil meminta ampun.


Bel pulang sekolah pun berbunyi, Lardo dan juga Shenna seperti biasa pulang bersama karena rumah mereka kebetulan searah.


Lardo terlihat cukup lelah tetapi berbeda dengan Shenna yang masih terlihat sangat bersemangat. "Apa yang tengah kau pikirkan? wajahmu terlihat berseri-seri." Cibir Lardo sehingga membuat Shenna menatap sinis ke arahnya.


"Apa kau akan selalu mengomentari ekspresi wajahku? aku tidak sedang memikirkan apa-apa." Jawab Shenna kesal.


"Jangan bilang kau tengah bernostalgia sambil memikirkan sosok anak laki-laki yang menemanimu hari itu, yakan?" emosi Shenna langsung meledak dan berniat untuk memukul kepala Lardo menggunakan sepatu yang ia kenakan saat itu.


"KAU SELALU SAJA MEMBERIKAN PERTANYAAN YANG TIDAK BERALASAN, DASAR BOCAH BODOH!"


Shenna terus melayangkan pukulannya pada bahu Lardo sehingga membuat Lardo merasa sangat kapok dan tidak ingin menanyakan hal itu lagi kepada Shenna.


"Kau ini, sangat gemar memukuli seseorang, ya?" Tanya Lardo yang sudah kapok saat terus menerus mendapat pukulan dari Shenna terus pada bahunya.


"Itu pantas di dapatkan oleh bocah bodoh sepertimu." Ucap Shenna sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan memasang ekspresi wajah yang merasa bangga.


"Bagaimana jika aku adalah anak laki-laki yang bertemu denganmu hari itu?"



Shenna langsung mematung saat mendengar pertanyaan dari Lardo dan membungkam mulutnya rapat-rapat. Sebelum akhirnya kekesalannya itu kembali memuncak dan berniat untuk memukul Lardo lagi dengan tangannya sendiri hingga puas.


"APA YANG KAU KATAKAN?!!!"


"KYAAAA, TIDAKKK!"

__ADS_1


__ADS_2