
Setelah sarapan bersama, Shenna dan juga Lardo pergi ke sebuah taman yang terletak di belakang rumah sakit. Sepanjang perjalanan tidak ada yang membuka mulut untuk berucap sepatah kata pun, keduanya sama-sama terdiam.
Lardo yang sebenarnya ingin memulai pembicaraan pun menjadi canggung setelah melihat raut wajah Shenna yang nampak muram. Mereka berdua terduduk di sebuah kursi panjang yang berhadapan dengan sebuah air mancur.
Sekitar beberapa menit, belum ada pembicaraan di antara mereka. Lardo menarik nafas pelan lalu melirik ke arah Shenna yang hanya terdiam sambil menatap lurus ke arah depan.
"Kau baik-baik saja?"
Dengan spontan Shenna menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, dia yang sedari tadi tidak menatap Lardo sama sekali langsung mengalihkan pandangannya ke arah Lardo.
"Aku mendengar pembicaraanmu dengan ibumu tadi." Lardo sedikit terkejut mendengar ucapan Shenna. Lalu ia mengedarkan pandangannya ke sembarang arah dengan wajah pucat pasi.
"Kau ingin pergi kemana?"
Lardo tertunduk sambil melipat kedua tangannya, nafasnya terasa sangat berat, ia hanya bisa memejamkan matanya lalu terdiam sesaat tanpa langsung menjawab pertanyaan yang di berikan oleh Shenna.
"Aku tidak tau, namun sepertinya hal itu tidak akan terjadi." Shenna menaikkan sebelah alisnya, melemparkan tatapan seriusnya kepada Lardo yang tengah terdiam sambil menatap lurus ke arah depan.
"Bukankah ibumu bilang keluarga kalian harus melakukannya?"
Lardo tidak tau harus menjawab apa semua pertanyaan yang Shenna berikan padanya, karena bagaimana pun juga ia tidak setuju dengan keputusan yang di ambil oleh ibunya untuk pindah dari Athlanda ke Preston.
Lardo sangat mengerti mengapa Shenna terus menerus memberikan pertanyaan mengenai keputusan ibunya itu, karena Shenna sangat tidak ingin Lardo pergi meninggalkan Athlanda.
"Kapan keluargamu akan pergi?"
"Setelah ayah kembali dari rumah sakit."
Mendengar jawaban yang di berikan oleh Lardo membuat air mata Shenna langsung membendung di pelupuk matanya. Shenna tidak tau harus mengatakan apalagi, ia tidak tau harus melakukan cara apa agar hal itu tidak terjadi.
__ADS_1
"Bagaimana dengan sekolahmu?"
"Ibu bilang, dia akan mendaftarkan aku sekolah disana." Sakit, hati Shenna rasanya seperti di remas hingga remuk tak tersisa. Nafasnya pun terasa semakin tercekat. Shenna menarik nafas dalam-dalam dan terus berusaha untuk membendung air matanya itu agar tidak tumpah. ia tidak ingin menangis di hadapan Lardo untuk kali ini.
"Lalu bagaimana dengan janjimu?"
Lardo menoleh ke arah Shenna yang saat itu kedua matanya terlihat sudah sangat memerah karena menahan air mata yang terbendung di pelupuk matanya, Lardo merasa sangat tidak tega melihat Shenna dalam kondisi seperti ini.
Lardo sangat tidak tega apabila harus dengan sangat terpaksa meninggalkan Shenna dan pindah ke tempat lain, ia tau bahwa Shenna pasti akan merasa kesepian lagi sekalipun sekarang dia sudah memiliki Sakura yang bisa menemaninya kapan pun.
"Bisakah kau menepati janjimu?"
Shenna menggerakkan kedua tangannya untuk meraih kedua tangan Lardo lalu menggenggamnya dengan cukup erat, Shenna menatap kedua punggung tangan yang terlihat sangat bersih dan juga putih itu sambil tersenyum tipis berusaha menahan tangis.
"Kau berjanji untuk selalu bersama denganku dan tidak akan pergi jauh dariku, apa kau bisa menepatinya?" setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh Shenna hanya membuat Lardo sukses tidak berdaya. hingga pertahanan Shenna runtuh dan air mata yang sedari tadi ia bendung pun mengalir membasahi pipi mulusnya.
Shenna menundukkan kepalanya sambil menangis dengan kedua tangan Lardo yang masih berada di dalam genggamannya. "jangan pergi, kumohon." permohonannya terdengar sangat lirih, nada suaranya cukup menyayat hati Lardo.
Lardo sangat tidak tega melihat Shenna menangis seperti sekarang ini, ia menggerakkan kedua tangannya untuk menangkup wajah kecil Shenna lalu menghapus air mata yang mengalir dari pelupuk matanya.
"Sama seperti kau yang tidak menyukai air mata, aku pun begitu."
Lardo menarik tubuh Shenna yang saat itu terus bergetar karena menangis terisak ke dalam pelukannya. ia memeluk tubuh itu dengan sangat erat dan juga hangat. mengusap punggung Shenna agar tangisnya mereda, dan sesekali membelai puncak kepalanya penuh dengan kelembutan.
"Aku...aku tidak ingin kau pergi."
Lardo menganggukkan kepalanya cepat sambil terus mengusap punggung Shenna, "Tidak... aku tidak akan pergi. aku akan selalu berada disini bersama denganmu." Ucap Lardo berusaha menenangkan Shenna.
Namun tangis Shenna tak kunjung mereda, Lardo melepaskan peluknya perlahan-lahan lalu menangkup wajah Shenna sambil memandangi matanya lekat. "Jangan menangis, ya? kumohon... apa kau ingin aku membelikanmu sesuatu agar kau berhenti menangis?" Shenna menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Mendengar ucapan Shenna membuat Lardo terdiam, ia menatap Shenna yang terus saja menangis terisak dengan tatapan tidak tega. Ia meraih sebelah tangan Shenna dan mengecupnya singkat lalu mengusap lembut punggung tangannya.
"Sudah, cupcupcup... jangan menangis lagi. aku akan usahakan untuk selalu berada di sampingmu, aku tidak akan berpisah denganmu. jadi jangan menangis lagi, ya?" Lardo beralih mengusap puncak kepala Shenna sampai tangis Shenna sedikit mereda.
"Aku tak ingin melihatmu menangis, apalagi kau menangis karena diriku." Shenna mengarahkan pandangannya ke arah Lardo lalu spontan memeluk tubuh Lardo dengan sangat erat. tangisnya kembali pecah, kini ia terlihat seperti seorang bayi yang sangat tidak ingin kehilangan ibunya.
"Lardo... aku tidak akan pernah mau melepaskanmu, aku tidak akan pernah mau jauh darimu, kau adalah orang pertama yang mampu membuatku merasa bahagia."
Lardo tau, Shenna terlihat sangat menyayanginya dan sangat tidak ingin kehilangan dirinya. keberadaan Lardo memang seberharga itu untuk Shenna. hanya Lardo yang mampu membuat Shenna tersenyum, dan merasa tidak kesepian lagi karena Shenna tau bahwa Shenna sekarang sudah memiliki Lardo.
Setelah menjalani 14 tahun penuh dengan kesendirian, akhirnya kedatangan Lardo merubah segalanya. Lardo yang bersedia menjadi teman Shenna, menemani Shenna kapan pun dan dimana pun, mengajari Shenna tentang banyak hal, sehingga membuat Shenna merasa sangat nyaman dengan keberadaan Lardo.
Shenna takut jika rasa sepi akan kembali menyapa dan menjadi temannya apabila Lardo pergi meninggalkan dirinya. karena hal yang paling Shenna takuti adalah kesepian.
"Shenna, dengarkan aku." Lardo menangkup wajah Shenna dan menatap wajah cantik itu dengan sangat teliti. "Jika memang aku harus pergi, percayalah bahwa aku akan kembali lagi kepadamu. aku akan kembali kepadamu, kembali menyapamu setelah perjalanan panjang. dan akan aku ceritakan apa yang sudah aku lalui selama itu."
Shenna hanya terdiam dengan wajah yang masih berada di dalam tangkupan kedua tangan Lardo, sedangkan kedua matanya terus di tatap lekat oleh pria itu. "Jadi jangan khawatir, sejauh apapun aku pergi. kau akan selalu bersama denganku, walaupun ragamu berada jauh dariku. begitu pun sebaliknya. kemana pun kau pergi, aku akan selalu bersamamu, menggenggam tanganmu erat, dan tidak akan pernah melepaskan genggaman itu. karena aku berada disini." Lardo menunjuk ke arah dada Shenna sambil tersenyum tipis.
"Aku berada di hatimu."
Shenna tak kuasa menahan senyum bahagia setelah mendengar apa yang baru saja Lardo ucapkan, kata-kata yang sangat menenangkan hatinya.
Ia tidak melepaskan pandangannya dari mata Lardo. tersenyum lebar sambil menatap Lardo lekat lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Lardo.
"Lardo."
"Ada apa?"
__ADS_1
Shenna sedikit mengeratkan pelukannya pada tubuh Lardo, sehingga membuat Lardo merasa semakin dekat dengan Shenna. "Kau harus ingat bahwa kau akan selamanya menjadi bocah bodoh kesayanganku." Lardo menarik senyum tipis lalu terkekeh pelan setelah mendengar ucapan Shenna.
"Tentu, aku akan selalu mengingatnya."