
Keesokkan harinya, Shenna berkunjung ke rumah sakit untuk menjenguk ayah Lardo. Hari ini ayah Lardo sudah bisa di pindahkan ke ruang inap karena kondisinya yang semakin membaik.
Shenna berkunjung ke rumah sakit sambil membawa beberapa buah-buahan segar yang sempat ia beli di supermarket terdekat. Lardo yang melihat kedatangan Shenna langsung menarik senyum tipis.
"Kau sudah datang." Shenna menutup pintu ruangan ayah Lardo di rawat lalu menghampiri Lardo yang tengah duduk di sebuah kursi samping ranjang sambil memfokuskan pandangan ke arah Shenna.
"Sesuai apa yang aku katakan kemarin kalau aku akan datang lagi kemari. Aku membawakan buah-buahan segar untuk ayahmu, semoga kondisinya semakin membaik."
Shenna memberikan sebuah keranjang kecil yang berisikan berbagai macam buah segar kepada Lardo. Lardo langsung menggerakkan sebelah tangannya untuk menerima buah-buahan segar yang di berikan oleh Shenna.
"Terima kasih, seharusnya tidak perlu repot-repot seperti ini." Ucap Lardo. Shenna hanya terkekeh pelan lalu mendudukkan tubuhnya di sebuah sofa yang berada di dalam ruangan itu.
"Bagaimana kondisi ayahmu sekarang?" Tanya Shenna pada Lardo yang tengah meletakkan buah-buahan pemberian Shenna tadi di atas nakas yang berada di samping ranjang. "Semakin membaik, seperti yang kau lihat. Hanya memerlukan sedikit waktu untuk memulihkan kondisinya." Jawab Lardo menjelaskan. Shenna langsung mengerti apa yang Lardo maksud. ia bersyukur kalau Derry bisa melewati masa kritisnya dengan sangat cepat, "Dia memang orang yang kuat, kau tenang saja. ayahmu akan segera pulih." simpul Shenna.
Lardo tersenyum tipis lalu melemparkan tatapannya ke arah Derry yang masih tertidur pulas. "Apa ibumu tidak datang hari ini?" Tanya Shenna yang sedari tadi tidak melihat keberadaan Rossa di rumah sakit.
"Ibuku sejak semalam pulang, ia harus mengurus Lili dan istirahat sebentar. entah kapan ia kembali lagi kesini. aku tidak mengizinkan dia terus menerus berada disini, aku takut dia kelelahan nantinya." Jawab Lardo yang sempat membuat Shenna merasa terkesima karena sikapnya yang sangat perduli terhadap kedua orang tuanya.
"Lalu apa kau sudah sarapan?"
Lardo bergumam cukup lama, lalu dia menggelengkan kepalanya sambil terkekeh pelan. "Huft... dasar bocah bodoh. kau memperdulikan kondisi orang lain sampai tidak memperdulikan kondisimu sendiri. kau mau makan apa? aku akan pergi membelikan sarapan untuk dirimu." Lardo menggelengkan kepala menolak saat mendapat tawaran dari Shenna. "Tidak perlu, aku makan buah-buahan yang kau berikan saja. itu cukup untuk mengganjal rasa lapar." Shenna secara tiba-tiba langsung menatap Lardo dengan tatapan sinisnya.
"Tidak, kau harus makan yang lain. dengar-dengar di rumah sakit ini ada beberapa restoran dengan menu makanan yang enak. kebetulan aku juga belum sarapan, aku akan membelinya dan membungkusnya untuk kita makan disini. aku ingin sekali mencicipi gyudon dengan daging **** dan juga telur kocok di atasnya. pasti sangat lezat, apa kau mau juga?" Lardo hanya bisa menganggukkan kepala pelan, menuruti apa yang dikatakan oleh Shenna.
Shenna langsung tersenyum lebar setelah itu bangkit dari duduknya. "Baiklah kalau begitu, aku akan pergi kesana sebentar. kau tetaplah disini, jangan pergi kemana-mana. apa kau ingin minum sesuatu? aku akan membelikannya sekalian untukmu." Lardo menarik senyum karena melihat Shenna yang sangat bersemangat hari ini, "mungkin saja moodnya sedang bagus." pikir Lardo dalam hati.
__ADS_1
"Aku ingin calpis soda."
"Baiklah, aku akan membelikannya untukmu. aku pergi dulu sebentar." Ucap Shenna yang langsung melangkah pergi keluar ruangan. sementara Lardo tidak bisa berhenti tersenyum saat melihat tingkah Shenna yang cukup ceria hari ini.
"Ada apa dengan wanita itu?"
Shenna keluar dari lift dan sekarang ia sudah berada di lantai dasar. banyak sekali restoran yang berada di lantai dasar. aroma makanan pun sangat harum tersebar dimana-mana. Shenna mencari restoran favoritenya yang menjual gyudon. Mengingat Lardo yang juga ingin makan gyudon, Shenna memesan dua gyudon dengan daging **** dan juga telur kocok sebagai topping.
"Lardo pasti sangat menyukainya."
Ia sudah selesai membeli gyudon dan juga calpis untuk dirinya serta Lardo. setelah membeli itu semua, ia berniat untuk kembali ke lantai atas. mencium bau gyudon yang sangat harum cukup menggoda indra penciuman Shenna.
Shenna menjadi sangat tidak sabar untuk menyantap makanan ini bersama dengan Lardo. Lalu baru saja ingin melangkah masuk ke dalam ruang rawat ayah Lardo, Shenna mendengar sedikit pembicaraan yang terdengar lumayan jelas dari dalam ruangan.
Shenna mengintip sedikit pada jendela dan terlihat Rossa berada di dalam sana dan ia tengah berbincang bersama dengan Lardo. dari raut wajah mereka seperti memperlihatkan bahwa mereka tengah membicarakan hal yang serius.
"Lardo, kita harus melakukannya."
"Tapi kenapa?"
"Kau tidak perlu mengetahuinya, kita akan segera pindah ke Preston setelah ayahmu keluar dari rumah sakit."
Shenna yang samar-samar mendengar percakapan mereka menjadi sangat terkejut sekaligus tidak mengerti. Air mata langsung terbendung di pelupuk matanya. "Apa benar Lardo akan pergi meninggalkan Athlanda? apa benar Lardo akan meninggalkan aku juga?" Shenna merasa dadanya terasa sangat sesak. jika memang hal itu akan terjadi, ia mungkin orang pertama yang akan menentang keputusan keluarga Lardo untuk pergi meninggalkan Athlanda.
Shenna memutuskan untuk duduk pada sebuah bangku yang berada di luar ruangan. Ia meletakkan makanan dan juga minuman yang ia beli tadi tepat di sampingnya lalu duduk terdiam dengan pandangan lurus ke arah depan.
__ADS_1
"Kita akan segera pindah ke Preston setelah ayahmu keluar dari rumah sakit."
Kata-kata itu membuat Shenna tak kuasa membendung air matanya. ia menutupi wajah cantiknya itu dengan kedua tangannya dan membiarkan semua tangisnya tumpah di dalam sana. "Lardo, jangan pergi." Ucap Shenna di sela-sela tangisnya.
Ia tidak perduli terhadap orang-orang, dokter atau pun perawat yang berlalu lalang di depannya. Sekalipun keputusan ini masih belum jelas, hanya saja sudah membuat hati Shenna terasa sangat sakit.
Hampir 5 menit Shenna menumpahkan seluruh kesedihannya, ia mengusap air matanya lalu meraih plastik berisikan makanan itu sebelum beranjak pergi ke toilet untuk membasuh muka. Shenna terdiam cukup lama di dalam toilet, ia memandangi pantulan dirinya pada sebuah cermin yang berada disana.
"Shenna, tenangkan dirimu. bersikaplah seakan-akan kau tidak mengetahui hal itu." Shenna menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya cukup berat.
Shenna memutuskan untuk keluar dari toilet dan pergi ke ruang rawat ayah Lardo. Ia berusaha untuk tetap terlihat ceria di hadapan Lardo dan juga Rossa, ia tidak ingin mereka berdua mengetahui kalau Shenna tengah bersedih sekarang.
Shenna mengetuk pintu ruang rawat itu sebelum masuk dan mendapat jawaban dari dalam sana yang mempersilahkan Shenna untuk masuk. Shenna pun membuka pintu perlahan-lahan dan melihat Rossa tengah duduk di sebuah kursi yang berada di samping ranjang ayah Lardo sedangkan Lardo tengah duduk terdiam di atas sofa.
"Bibi, kau sudah datang." Sapa Shenna dengan nada suara yang terdengar sangat ramah. Rossa tersenyum hangat ke arah Shenna lalu menganggukkan kepalanya pelan. "Bibi baru saja tiba, beberapa menit yang lalu." Jawab Rossa kepada Shenna.
Shenna menghampiri Lardo dan memberikan makanan itu kepada Lardo, "Bibi, aku membeli dua gyudon tadi. apa kau mau?" Tanya Shenna menawarkan.
Rossa langsung menggelengkan kepalanya cepat sebagai jawaban. "Tidak perlu, Shenna... Bibi sudah makan sebelum pergi ke rumah sakit tadi."
"Benarkah? apa kau sungguh-sungguh tidak ingin mencicipi gyudon ini?" Tanya Shenna sekali lagi, jawaban Rossa pun masih tetap sama. akhirnya Shenna menyantap sendirian gyudon miliknya lalu melirik ke arah Lardo yang sama sekali tidak menyentuh makanan serta minuman miliknya itu.
"Kenapa? apa kau tidak suka?"
Shenna memandang wajah Lardo dengan tatapan bingungnya sementara Lardo hanya menatap lurus ke arah depan dengan tatapan yang seakan-akan menyimpan rasa kesal teramat dalam. "Tidak, aku sangat menyukainya." Jawab Lardo yang membuat Shenna tertegun cukup lama.
__ADS_1
Lardo pasti memikirkan apa yang di ucapkan oleh ibunya tadi. secara tiba-tiba rasa sesak pun kembali menyelimuti perasaan Shenna. Shenna berusaha untuk menarik nafas dalam lalu menghembuskannya secara berulang agar ia merasa sedikit tenang.
"Lardo, setelah makan nanti. apa kita bisa bicara berdua?" Tanya Shenna yang membuat Lardo langsung terdiam seketika.