
Bel pulang sekolah pun berbunyi, Shenna dan juga Lardo pulang bersama menuju rumah mereka masing-masing. Dalam perjalanan pulang, mereka banyak bercerita tentang berbagai macam hal dan keduanya pun mulai terlihat sangat akrab.
"Kadang aku dan juga Lili bermain bersama dan duduk di atas batu besar di depan gubuk sambil menikmati senja." Ucap Lardo menceritakan.
"Benarkah? itu pasti satu hal yang sangat menyenangkan." Lardo menganggukkan kepalanya mantap, menyetujui apa yang di ucapkan oleh Shenna. "Terkadang aku berfikir bahwa aku bisa mendapatkan kebahagiaan dengan cara yang sederhana."
Shenna tersenyum miris setelah mendengar semua cerita Lardo, meskipun keluarga Lardo adalah keluarga yang sederhana. ia merasa bahwa ia tidak seberuntung Lardo karena Lardo hidup penuh dengan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Lardo mengajak Shenna untuk beristirahat di sebuah taman sambil bercerita tentang kehidupan masing-masing dari mereka. Lardo sangat bersemangat menceritakan semua tentang kisahnya kepada Shenna tetapi Shenna malah sebaliknya.
Ketika Lardo meminta Shenna untuk menceritakan tentang bagaimana kehidupannya bersama dengan keluarga dia, Shenna hanya tersenyum tipis dengan pandangan yang terlihat tengah menyimpan banyak kesedihan.
"Kau sangat beruntung karena ayah dan ibumu sangat menyayangimu. karena aku tidak pernah merasakan hal itu. Ibuku meninggal setelah melahirkanku, aku di rawat oleh ayah dan juga nenek. namun nenekku juga menyusul ibu saat aku berusia 4 tahun, dan sekarang aku hanya punya ayah. setelah nenek meninggal, aku diurus oleh pengasuh, karena ayah sangat sibuk dengan pekerjaannya. terkadang aku juga merasa kesepian saat malam tiba, karena hanya ada aku seorang diri tanpa siapa pun." Lardo terdiam mendengar cerita dari Shenna.
Ternyata hidup Shenna penuh dengan cobaan, tidak seperti apa yang dipikirkan oleh Lardo. "Ayahku memberikanku kehidupan yang sangat layak, penuh dengan harta dan juga uang, tetapi aku tidak pernah merasa perlu dengan itu semua. aku hanya memerlukan kasih sayang darinya."
Shenna meraih kedua tangan Lardo dan menggenggamnya dengan sangat erat. "Kau sangat beruntung, banyak sekali orang yang ingin berada di posisimu. keluargamu saling menyayangi dan saling mendukung satu sama lain. kau tidak akan pernah merasa kekurangan atas itu semua."
Tanpa Shenna sadari, air mata mengalir dari pelupuk mata Shenna. Lardo pun dengan cepat menghapus air mata yang mengalir di atas pipinya dengan sangat lembut. "Kau tidak perlu bersedih, sekarang kau bisa menganggap keluargaku itu keluargamu juga. kami akan selalu menyayangimu."
Mendengar ucapan Lardo membuat Shenna mengangkat kepalanya dan menatap Lardo dengan tatapan sendunya. "Benarkah?"
Lardo menganggukkan kepalanya lalu tersenyum lebar, "Kau tidak perlu khawatir lagi, nanti aku akan mengajakmu bertemu dengan keluargaku dan bermain bersama dengan kami." Shenna dengan spontan langsung memeluk tubuh Lardo sehingga membuat Lardo langsung terdiam mematung.
__ADS_1
"Terima kasih, Kau sangat baik terhadap diriku." Ucap Shenna yang masih berada di dalam pelukan Lardo. Lardo perlahan-lahan membalas pelukan dari Shenna dan mengusap kepalanya dengan lembut.
"Kau... Kau tidak perlu berterima kasih seperti itu. Kita adalah seorang tem-"
"Tidak, kita adalah sahabat." potong Shenna yang membuat Lardo terdiam beberapa detik lalu menarik senyumnya. "Iya, kita adalah sahabat." Shenna merasa sangat nyaman saat berada di pelukan Lardo.
Ia seperti memiliki sosok kakak, sahabat, sekaligus teman ketika Lardo hadir di dalam hidupnya. Shenna perlahan-lahan melepas pelukannya pada Lardo lalu Lardo melihat pipi Shenna sudah memerah karena menahan malu.
"Lebih baik kita pulang sekarang, karena ayah dan ibumu pasti akan sangat khawatir jika kau pulang terlambat." Lardo tersenyum mendengar ucapan Shenna lalu mengusap rambut Shenna perlahan-lahan. "Baiklah, kita akan pulang sekarang."
Lardo meraih sebelah tangan Shenna dan menggenggamnya erat, setelah itu mereka pergi menuju rumah mereka masing-masing. Di bawah langit senja ini, Lardo berjanji bahwa dia akan selalu menemani Shenna dan mengusir semua rasa sepi yang ia rasakan.
-Di Rumah Shenna-
Shenna tengah terduduk di atas kasur sambil membaca sebuah majalah yang berada di genggamannya. Tanpa sengaja ia mengingat bagaimana ia secara tiba-tiba memeluk tubuh Lardo dengan sangat erat, dan mengingat bagaimana Lardo menggenggam tangannya sepanjang perjalanan pulang.
Shenna tak mengerti mengapa Shenna merasa sangat nyaman saat berada di samping Lardo, ia tidak lagi merasa sedih, sepi, dan juga suntuk seperti biasanya. Lardo selalu saja mencari cara agar Shenna tetap tersenyum saat bersama dengan dirinya. Hal itu membuat Shenna merasa sangat bahagia.
Hal-hal sederhana yang Lardo lakukan bahkan mampu membuat Shenna tertawa. berbagai macam lelucon dan juga gurauan diberikan Lardo agar Shenna tidak lagi merasa sedih.
"Dia memang pria sederhana yang baik hati. Pasti saat dia beranjak dewasa nanti, akan ada banyak wanita yang jatuh hati padanya tak perduli dengan status keluarganya." Gumam Shenna.
tes!
Secara tiba-tiba ada darah yang menetes dari lubang hidung Shenna. lagi-lagi Shenna mengalami mimisan. ia langsung mengambil tissu yang berada di atas nakas dan menyumbat hidungnya dengan tissu itu.
__ADS_1
"Sialan, jangan sampai ayah tau tentang hal ini. jika dia mengetahuinya, dia pasti akan sangat khawatir."
Shenna memang selalu saja mimisan tapi tidak ada yang mengetahui hal ini selain dirinya sendiri. ia selalu menyembunyikan hal ini dari ayahnya bahkan pengasuhnya. Shenna tau bahwa ayahnya sangat sibuk dengan urusan pekerjaan, maka ia tidak ingin membuat ayahnya khawatir dan urusan pekerjaannya jadi terganggu.
darah yang mengalir dari hidungnya semakin banyak, sudah berlembar-lembar tissu ia gunakan untuk menghentikan darah itu. "kenapa darahnya semakin banyak? ini tidak seperti biasanya." Shenna langsung bergegas menuju toilet untuk mencuci muka. dan tak lama kemudian darah yang mengalir dari hidungnya pun terhenti.
Hal ini sering sekali terjadi, Shenna selalu berharap hal ini tidak terjadi saat dia tengah berada di sekolah ataupun saat tengah bersama dengan ayahnya.
"Akan menjadi satu bencana jika aku mimisan di hadapan ayah." Selama ini Shenna menganggap itu hanyalah sesuatu hal yang biasa, maka dari itu ia tidak pernah memeriksakan dirinya ke dokter.
Shenna tidak tau apa yang sebenarnya terjadi ada dirinya, mengapa ia sering sekali mengalami hal ini.
"Kau baik-baik saja, Shenna. jangan khawatir." Ucap Shenna pada dirinya sendiri. Tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka dan memperlihatkan sosok ayahnya tengah berdiri di depan pintu.
"Ayah, ada apa?"
"Kau tidak turun untuk makan malam, ayah mengantarkan makan malam untukmu." Pria itu mempersilahkan seorang pelayan untuk masuk ke dalam kamar Shenna dengan kedua tangan membawa nampan yang berisikan menu makan malam.
"Kau tidak perlu repot-repot seperti ini, ayah. aku bisa turun sendiri untuk makan malam." Ujar Shenna merasa tidak enak kepada ayahnya.
"Nona, Vans. Ini makan malammu." Shenna menganggukkan kepalanya mengerti. "Terima kasih, bibi. kau boleh pergi sekarang." ucap Shenna mempersilahkan.
"Ayah berfikir kau kelelahan karena seharian sibuk di sekolah, makanya ayah meminta pelayan mengantarkan makan malam untukmu." mendengar apa yang dikatakan Tuan Vans membuat Shenna menarik senyum tipis. Ternyata ayahnya sangat memperhatikan dirinya.
Setelah itu Tuan Vans kembali ke ruang kerjanya dan meminta Shenna untuk tidak menunda makan malamnya. Shenna pun segera menyantap menu makan malam yang sudah di siapkan tadi hingga habis tak tersisa.
__ADS_1
Shenna termenung mengingat semua ucapan Lardo, ternyata apa yang Lardo ucapkan itu benar, bahwa kasih sayang kedua orang tua lebih berharga dibandingkan harta dan juga tahta di dunia ini.