
Beberapa hari kemudian, Lardo kembali ke sekolah karena kondisinya yang sudah mulai membaik dan berangsur pulih. Dokter pun sudah mengatakan bahwa Lardo bisa kembali beraktifitas seperti semula.
Rossa mengingatkan Lardo untuk tidak melakukan hal yang dapat membahayakan dirinya lagi karena Rossa tidak ingin melihat Lardo dalam kondisi seperti kemarin.
"Jaga dirimu baik-baik, belajar yang tekun. nanti langsung pulang ke rumah, jangan pergi ke tempat lain tanpa izin dari ibu." ucap Rossa memperingatkan, sementara Lardo hanya menganggukkan kepalanya mengerti.
Lardo sudah selesai menghabiskan sarapan miliknya, lalu ia meraih tas yang ia letakkan di atas meja kecil lalu berpamitan pada ayah dan juga ibunya sebelum berangkat ke sekolah.
Ia merasa sangat lega karena akhirnya ia bisa kembali bersekolah seperti sedia kala, karena selama masa pemulihan di rumah menjadi satu hal yang sangat membosankan untuk dirinya.
"HEI, ANAK BODOH!"
suara yang terdengar sangat familiar tiba-tiba meneriaki Lardo dari belakang. Lardo langsung menoleh dan mendapati sosok yang meneriakinya barusan.
"Shenna." Shenna terlihat berlari kecil menghampiri Lardo lalu terengah-engah karena kelelahan. "Akhirnya kau kembali bersekolah, betapa aku sangat merindukan anak bodoh ini mengenakan seragam sekolah." Ucap Shenna dengan pipi yang mengeluarkan semburat merah karena merasa sangat senang.
"Kau dengar ini! aku berjanji mulai sekarang akan menjaga dirimu sebaik mungkin dan tidak akan membiarkan orang lain menyakiti dirimu." Lardo tersenyum kecil saat mendengar semua kata-kata yang di lontarkan oleh Shenna.
"Apa yang kau katakan?" Tanya Lardo setengah bingung meskipun tingkah Shenna hari ini terlihat sangat menggemaskan tapi ia menjadi sedikit berbeda dengan tingkahnya yang seperti ini.
"Aku mengatakan yang sebenarnya, aku berjanji kalau aku akan menjaga dan melindungimu, apa kau tidak dengar? apa kau tidak punya telinga?"
Lardo mengarahkan sebelah tangannya di puncak kepala Shenna lalu mengusapnya perlahan-lahan sambil terkekeh pelan. "Dasar gadis bodoh." Ledek Lardo lalu melangkah meninggalkan Shenna.
"HEI, TUNGGU SEBENTAR!"
Shenna secara tiba-tiba langsung menarik seragam yang dikenakan oleh Lardo sehingga membuat Lardo menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Kau ini, kau memang manusia yang tidak tau sopan santun dan juga tidak tau terima kasih ya? aku sedang berbicara denganmu, bahkan aku berjanji untuk melindungimu tapi kau malah menganggapku angin lalu." protes Shenna yang nampaknya merasa geram karena perlakuan Lardo terhadap dirinya.
Lardo hanya terdiam dengan tatapan datar lalu kembali melangkah meninggalkan Shenna. Shenna menghentakkan kakinya berkali-kali karena merasa kesal dan langsung mengejar langkah Lardo yang perlahan-lahan mulai menjauh.
"Kenapa kau mengabaikanku? apa aku melakukan kesalahan?"
Lardo menggelengkan kepalanya dengan tatapan yang masih terfokus lurus ke depan. "Lalu kenapa kau tidak menggubris ucapanku tadi? bukankah itu hal yang sangat tidak sopan, Tuan Dimitri." tegur Shenna menyipitkan matanya dengan kedua tangan yang ia lipat di depan dada.
"Aku tau, hanya saja jika aku terus meladenimu nanti kita akan terlambat ke sekolah dan mendapat hukuman dari guru. apa kau mau?" Shenna baru tersadar akan hal itu lalu terkekeh malu sambil menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal.
"Iya, kau benar. hehehe..."
Mereka sampai di sekolah 10 menit sebelum bel masuk berbunyi. Murid-murid yang berada di dalam kelas sempat terkejut karena Lardo sudah mulai kembali bersekolah hari ini.
"Hei, pengemis! kenapa kau masuk ke sekolah hari ini? ketahuilah bahwa kelas menjadi sangat nyaman dan juga tentram tanpa kehadiranmu." Cibir Axel yang membuat Shenna menoleh ke arah Lardo sementara Lardo hanya terdiam dengan pandangan yang tengah terfokus pada sebuah buku bacaan di atas meja.
"Tapi..."
Baru saja Shenna ingin meminta Lardo untuk melepaskan tangannya agar dia bisa menghajar Axel dengan tangannya sendiri, Lardo langsung mengarahkan tatapannya pada Shenna sehingga membuat Shenna langsung menuruti perintah dari Lardo untuk tetap diam di tempat.
Lardo memang tipikal orang yang cukup mudah memaafkan kesalahan orang lain, mengabaikan cibiran orang lain, dan juga tidak dendam terhadap orang lain. berbeda dengan Shenna yang bisa di bilang, cukup mudah terpancing emosi.
Kegiatan pembelajaran pun di mulai, Lardo harus mengejar banyak materi yang tertinggal di hari kemarin saat dia tidak masuk sekolah. tapi bukanlah hal yang sulit untuk Lardo, ia hanya perlu memahami materi inti maka semua akan menjadi sangat mudah.
"Kau butuh bantuanku? apa ada materi yang sulit kau mengerti?" Tanya Shenna, Lardo meletakkan sebuah pulpen yang saat itu berada di genggamannya di atas meja lalu ia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas kebaikan hati Shenna yang memberikan tawaran untuk membantu dirinya.
__ADS_1
"Tidak masalah, ini bukan hal yang sulit."
Shenna mempercayai ucapan Lardo lalu kembali terfokus pada tugas miliknya sampai pada akhirnya kegiatan pembelajaran pun selesai lalu mereka kembali ke rumah mereka masing-masing.
Hari ini Lardo tidak pulang ke rumah bersama dengan Shenna karena Shenna harus melaksanakan piket kelas yang membuat dirinya pulang sedikit lebih lama dari biasanya. Shenna meminta Lardo untuk pulang lebih dulu karena tidak ingin membuat kedua orang tua Lardo cemas, terlebih lagi dengan kondisi Lardo yang baru saja pulih.
Akhirnya Lardo menuruti ucapan Shenna dan pulang ke rumah seorang diri. Diperjalanan pulang, Lardo menikmati suasana petang yang cukup menenangkan. Terlihat matahari mulai terbenam dengan awan jingga yang mengelilinginya. kicauan burung pun memecah suasana jalan yang terasa sangat sepi karena jarang terlihat kendaraan yang berlalu lalang disana.
Tiba-tiba sebuah mobil melaju cepat dan berhenti di hadapan Lardo. hal ini membuat Lardo mengerutkan dahinya bingung dan terdiam beberapa menit lamanya.
Beberapa orang dengan memakai kaus hitam dan juga topeng terlihat melangkah turun dari mobil dan berdiri di hadapan Lardo. Lardo sama sekali tidak mengerti, sebenarnya siapa orang-orang ini dan apa yang mereka inginkan?
"Siapa kalian?"
Lardo menatap orang-orang yang berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam, tidak terlihat rasa takut sedikit pun yang menyelimuti perasaannya saat itu.
"Kami tidak akan bersikap kasar padamu, pria bodoh. jauhi Nona Shenna atau kami tak akan segan-segan menyakiti bahkan menghabisi seluruh anggota keluargamu." Ancam salah satu dari mereka yang membuat Lardo tersenyum miring lalu terkekeh pelan.
"Benarkah? apa kalian akan menyakiti keluargaku jika aku tidak ingin menjauhi Shenna?" tanya Lardo yang membuat orang-orang itu merasa geram dan mengepalkan tangan mereka kuat-kuat.
"Lakukan saja apa yang kami perintahkan jika kau tidak ingin melihat keluargamu berada di dalam bahaya." Lardo memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana lalu menatap orang-orang itu satu persatu dengan tatapan yang seakan-akan menganggap remeh mereka semua.
"Jika kalian berani membuat keluargaku berada di dalam bahaya, aku bersumpah bahwa aku tidak akan pernah membiarkan kalian hidup dengan tenang." Ancam Lardo balik yang membuat orang-orang itu terkejut.
Bukannya merasa takut dengan ancaman yang di berikan oleh mereka, Lardo malah memberikan ancaman balik kepada mereka semua sehingga membuat orang-orang itu berfikir bahwa Lardo sepertinya memiliki nyali yang cukup lumayan.
"Pikirkan dengan baik cara apa yang akan kalian gunakan untuk menyakiti keluargaku dan jangan sampai cara yang akan kalian gunakan itu gagal nantinya." Ucap Lardo memperingatkan lalu melangkah pergi meninggalkan mereka semua.
__ADS_1
"Bocah itu, berani beraninya dia!"
Ucap salah seorang di antara mereka yang merasa sangat geram terhadap Lardo.