
Lardo tengah dalam perjalanan pulang bersama dengan Leora, karena rumah mereka searah maka dari itu Lardo membiarkan Leora untuk pulang bersama dengannya. "Teman-temanku selalu bercerita tentang Athlanda. dia bilang Athlanda adalah kota yang sangat ia impikan, ia juga sangat ingin tinggal di sana." Sedari tadi Lardo hanya terdiam dan memasang telinganya untuk mendengar cerita Leora yang terus membahas perihal Athlanda.
"Bagaimana kehidupanmu selama disana? apa menyenangkan?" Lardo tertegun lalu menoleh ke arah Leora sekilas. "Tidak, sebenarnya tinggal disana tidaklah semenyenangkan yang kalian kira." Leora mengerjapkan matanya berkali-kali karena merasa tidak percaya.
"Benarkah?"
"Iya, dulu ayahku adalah seorang pengusaha. saat itu usiaku baru 3 tahun, bisnisnya terkenal hampir dimana-mana, tapi suatu hari rekan kerja ayahku menipunya dalam sebuah investasi. perusahaan ayahku mengalami kerugian yang cukup besar hingga pada akhirnya perusahaannya mengalami kebangkrutan. keluargaku benar-benar kehilangan segalanya, kami hanya tinggal di sebuah gubuk kecil yang terletak di belakang gereja. ini adalah masa-masa yang sulit untuk keluargaku. banyak keluarga kaya di Athlanda yang menghina keluargaku setelah hal itu terjadi." Leora tercengang mendengar apa yang di ceritakan oleh Lardo. "Aku juga tidak memiliki teman satu pun, orang-orang kaya di Athlanda tidak mengizinkan anak mereka untuk bergaul dengan keluarga miskin. hal ini sempat membuatku merasa sangat kecewa karena mereka menganggap bahwa melarang anak mereka bergaul dengan anak dari keluarga miskin adalah suatu tradisi turun temurun."
"Tapi, temanku bilang kalau suasana di Athlanda sangat damai, lebih dari Preston. semua orang disana hidup bersama-sama dan saling tolong menolong satu sama lain." Lardo menggeleng pelan, menolak pendapat itu. "Bagi ibuku, tinggal di Athlanda benar-benar sangat menyiksa. ibu dan ayahku berjuang keras agar mereka mampu menghidupi kedua anaknya, ibuku juga memintaku untuk tetap melanjutkan sekolah. setelah memutuskan untuk menuruti permintaan ibuku dan kembali bersekolah, akhirnya aku mendapatkan seorang teman, bahkan sekarang ia sudah menjadi seorang sahabat. dia perempuan yang baik, perhatian, dan juga pengertian. dia selalu saja mendukungku dalam hal apapun, seseorang yang mampu mengubah hidupku, seseorang yang membuatku ingin berjuang lebih keras lagi."
"Siapa?"
Lardo menundukkan kepalanya dengan tatapan datar lalu menghembuskan nafas berat. "Dia teman sekelasku yang bernama Shenna, dia berasal dari keluarga kaya, namun anehnya dia tidak suka bergaul. banyak sekali orang yang ingin berteman dengannya, tapi dia selalu saja menyendiri. dia anak yang cerdas, sebelum aku bersekolah disana, dia selalu menduduki peringkat pertama. tapi setelah aku datang, aku berhasil merebut posisinya dan dia berada di bawahku. dia tau segala hal tentang diriku, terkadang kami juga menghabiskan waktu untuk bermain bersama, belajar, dan melakukan segala hal yang kami inginkan. dia tidak pernah membiarkan aku menyerah, entah kenapa setiap ucapan yang keluar dari mulutnya selalu membuatku ingin bangkit dari keterpurukan."
Leora tersadar, sosok Shenna itu sangatlah berharga untuk Lardo. Leora mengerjapkan matanya dengan gerak gerik yang sedikit gugup. "ASTAGA! Sebagai seseorang yang baru saja mengenalmu seharusnya aku tidak mengetahui lebih dalam mengenai keluargamu."
Lardo mengalihkan pandangannya ke arah Leora lalu tersenyum tipis. "Hahaha... tidak masalah. lagipula itu bukanlah sebuah rahasia yang harus di tutupi."
__ADS_1
Tanpa sadar, Leora sudah sampai di depan rumahnya. rumah yang lumayan besar dengan pagar tinggi berwarna hitam, terlihat juga taman kecil di dalamnya membuat rumah ini terlihat sangat asri. tidak jauh berbeda dari rumah yang di tinggali Lardo dan juga keluarganya saat ini.
"Terima kasih, karena sudah mengizinkan aku pulang bersama denganmu." Mendengar ungkapan terima kasih dari Leora membuat Lardo menatap Leora dengan tatapan hangatnya. Leora sempat tertegun setelah melihat bagaimana Lardo menatap dirinya saat ini, tatapan yang sangat berbeda. saat di sekolah, Lardo selalu saja menjengkelkan hingga membuat Leora ingin sekali menendang wajahnya setiap saat. tapi sekarang, dia berubah menjadi sosok yang hangat.
"Kau tidak perlu berterima kasih seperti itu, rumah kita searah, bodoh." Ucap Lardo sambil menyentil dahi Leora sehingga membuat Leora meringis kesakitan. "KYAAA!!! BERANI-BERANINYA KAU?! CEPAT PULANG! AKU TIDAK INGIN BERLAMA-LAMA DENGAN PRIA MESUM SEPERTIMU!" Ucap Leora geram.
Lardo tiba-tiba terkekeh dan mengarahkan sebelah tangannya ke arah puncak kepala Leora lalu mengusap puncak kepala Leora pelan. hal ini membuat pipi Leora seketika berubah menjadi merah padam.
"A-apa yang kau lakukan?"
"Tidak, ada kotoran di kepalamu."
"Iya-iya... baiklah, aku pergi sekarang. dahhh, sampai bertemu besok." Setelah mengatakan itu, Lardo melangkah pergi menuju rumahnya. meninggalkan Leora yang saat itu masih mematung dan terdiam di depan pagar rumahnya. ia terus mengamati punggung Lardo yang perlahan-lahan mulai menjauh dan menarik nafas berat. "Huh... dasar pria bodoh kelas 3 yang sangat menyebalkan." gumam Leora pelan.
.........
Hari sudah mulai malam, Shenna tengah terdiam di balkon kamarnya sambil memandangi langit malam yang saat itu terlihat sangat cerah dengan sinar bulan yang meneranginya. terlihat surat yang di berikan oleh Lardo untuk Shenna saat itu tergeletak di sebuah meja yang berada di samping Shenna.
__ADS_1
Shenna tidak tau apa ia harus membukanya sekarang atau tidak. di satu sisi ia merasa sangat penasaran dengan isi di dalam surat itu, tapi di sisi lain ia juga merasa takut. ia hanya bisa memandangi surat pemberian Lardo yang hanya tergeletak di atas meja.
"Apa maksudmu membuatku merasa penasaran seperti ini, bocah bodoh?"
Pada akhirnya rasa takutnya pun mampu terkalahkan oleh rasa penasaran yang menguasai dirinya. akhirnya Shenna memutuskan untuk membaca surat pemberian Lardo. ia meraih surat itu dan membukanya perlahan-lahan. terlihat tulisan tangan Lardo yang sangat rapih bahkan lebih rapih dari tulisan tangan Shenna.
Shenna terdiam saat membaca kutipan terakhir surat itu. "Apa maksudnya? apa dia melamarku?" tiba-tiba pipi Shenna memanas dan menjadi merah padam. ia tidak menduga bahwa pria yang selama ini dikagumi olehnya meminta dia untuk menjadi pasangan hidupnya.
"Aku akan menunggumu kembali. setelah itu jadilah milikku sepenuhnya, aku tidak akan membiarkanmu pergi jauh lagi dariku." gumam Shenna sambil terus memandangi surat itu dengan senyum manisnya.
Tes
Shenna melihat ada tetesan darah di tangannya. ia tersadar bahwa lubang hidungnya kembali mengeluarkan darah. akhir-akhir ini Shenna memang sering sekali mengalami mimisan. tapi dia belum juga pergi ke dokter untuk memeriksanya.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja."
__ADS_1
itulah yang sering kali dia ucapkan pada dirinya sendiri. meskipun tubuhnya sudah semakin kurus dan wajahnya semakin terlihat lesuh, ia tidak pernah ingin orang-orang mengetahui hal itu. ia juga selalu berfikir bahwa dirinya akan selalu baik-baik saja. dan tidak pernah ingin mencari tau apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.