
Shenna mengajak Rossa datang ke rumahnya untuk meminta bantuan kepada ayahnya dalam pengobatan Tuan Dimitri. Sementara Lardo dan juga Sakura pergi ke rumah sakit untuk menemani Tuan Dimitri yang tengah berada di ruang ICU. awalnya Rossa sangat terkejut, karena Shenna mengajaknya pergi ke rumah keluarga Vans.
Ia dapat menyimpulkan bahwa Shenna adalah anggota dari keluarga Vans. Rossa sempat memandangi wajah Shenna dengan sangat lekat cukup lama, ia tidak percaya bahwa anak perempuan yang berhati lembut dan juga baik ini adalah anggota dari keluarga Vans yang terkenal dengan kekejamannya pada keluarga miskin di Athlanda.
"Bibi, bibi tunggu di ruang tamu saja. aku akan memanggil ayah kemari untuk menemui bibi." Ucap Shenna mempersilahkan Rossa untuk duduk di sebuah sofa yang terletak di ruang tamu rumah keluarga Vans.
"Pelayan, buatkan minuman dan juga cemilan untuknya." Pelayan itu menganggukkan kepala menuruti ucapan Shenna sebelum akhirnya Shenna pergi menuju ruang kerja Tuan Vans.
Rossa tidak bisa mengatakan sepatah kata pun karena dia masih sangat tidak percaya kalau Shenna adalah anak dari seorang pria yang dulu pernah memperlakukan Lardo dengan seenaknya.
"Nyonya Dimitri..."
Panggil seorang pria dengan suara yang menggema hampir ke seluruh ruangan. Rossa langsung mencari dimana keberadaan pria itu dan ia menemukannya tengah menuruni anak tangga dengan Shenna yang berada di belakangnya.
"Apa telah terjadi sesuatu sehingga membuatmu datang kepadaku?" Tanya pria itu yang sudah sangat di kenal oleh Rossa. Tuan besar keluarga Vans yang tidak lain adalah ayah Shenna.
"Ayah, kumohon perlakukan dia dengan baik." Pinta Shenna dengan nada suara yang terdengar sedikit memohon.
"Apakah itu perlu, putriku tersayang?" Rossa langsung mengalihkan pandangannya ke arah Shenna dengan tatapan mirisnya, ia merasa kasihan melihat seorang gadis yang sangat baik hati dan tidak sombong ini memiliki ayah seperti Tuan Vans. Sifat mereka berdua bahkan sangat bertolak belakang.
Tuan Vans kini sudah berada di hadapan Rossa sambil menarik senyum miring sedangkan Rossa hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
"Apa tujuanmu datang kemari?"
"Tuan Vans, bisa kita bicara empat mata?" Tanya Rossa yang langsung membuat Tuan Vans menaikkan sebelah alisnya.
"Nampaknya pembicaraan yang cukup serius, baiklah... kita bicara di ruanganku." Ucap Tuan Vans mempersilahkan.
Shenna melemparkan sorot mata khawatir kepada Rossa, ia takut ayahnya memperlakukan Rossa dengan tidak baik. Rossa pun mengikuti langkah Tuan Vans menuju ke ruangannya.
__ADS_1
Baru beberapa langkah menjauhi Shenna, Shenna langsung menarik tangan Tuan Vans sehingga membuat Tuan Vans sedikit terkejut. Shenna menggenggam tangan Tuan Vans erat dengan tatapan memohon penuh ketidakberdayaan.
"Ayah, berjanjilah padaku untuk bersikap baik pada Bibi Rossa." pinta Shenna yang sama sekali tidak di gubris oleh Tuan Vans. Tuan Vans melepaskan genggaman Shenna dari tangannya lalu kembali melangkah menuju ruang kerjanya yang di ikuti oleh Rossa.
Shenna tidak bisa melakukan apapun, ia hanya bisa menyerahkan semuanya pada Tuhan. karena bagaimana pun juga hanya ayahnya lah harapan satu-satunya yang bisa membantu Keluarga Dimitri untuk membiayai pengobatan Derry yang tidak lain adalah ayah Lardo.
Rossa dipersilahkan masuk ke dalam ruang kerja Tuan Vans yang lumayan besar, ruangannya terlihat sangat rapi, dan juga bersih. Banyak sekali berkas yang berada di beberapa rak dan juga berbagai macam penghargaan yang di susun sejajar dengan sangat rapi.
"Katakan apa tujuanmu datang kesini?"
"Suamiku tertimpa musibah, ia mengalami kecelakaan dan terluka cukup parah. Ia harus segera mendapatkan perawatan intensif, karena jika tidak suamiku tidak dapat diselamatkan. Aku sama sekali tidak memiliki biaya untuk membayar semua pengobatannya, maka dari itu aku datang kemari untuk meminjam uang kepadamu. aku berjanji akan segera mem-"
Belum selesai Rossa menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Tuan Vans meminta Rossa untuk berhenti berbicara.
"Kau akan mendapatkan apa yang kau mau, bahkan lebih dari apa yang kau mau asalkan kau harus memenuhi syaratku."
Rossa mengerutkan dahinya bingung sekaligus penasaran. persyaratan seperti apa yang di maksud oleh Tuan Vans barusan. "Persyaratannya tidak banyak, hanya ada 2 syarat yang harus kau penuhi."
Tuan Vans menyeringai tipis lalu melipat kedua tangannya di depan dada sambil bersandar di kursi kebesarannya. "syarat pertama, setelah kau mendapatkan uang dari diriku. kau dan juga keluargamu harus pergi meninggalkan Athlanda dan jangan pernah kembali kesini. persyaratan kedua, aku ingin putramu menjauhi putriku. jika kau berani mengingkari persyaratannya, aku tidak segan-segan membuat nyawa suami dan juga putra putrimu dalam bahaya."
Tuan Vans bangkit dari duduknya dan berjalan menuju sebuah brankas kecil yang berada di dalam sebuah lemari besar. ia meraih sebuah amplop yang lumayan tebal dan melemparkan amplop itu ke atas meja tepat di hadapan Rossa.
"Itu uang senilai 15 miliyar, sembuhkan suamimu dan bawa keluargamu pergi dari Athlanda. Aku tidak ingin putramu masih berhubungan dengan putriku. Akan aku lakukan apapun juga agar putramu menjauhi putriku."
Rossa merasa hatinya sangat sakit saat mendengar semua persyaratan yang diberikan oleh Tuan Vans, satu sisi kebahagiaan Lardo dipertaruhkan dan satu sisi keselamatan suaminya juga sedang terancam sekarang.
"Aku terima semua syaratnya."
"Wow, benarkah?"
__ADS_1
Rossa menganggukkan kepalanya dengan berat hati, ia merasa sangat bersalah terhadap Lardo karena sudah menjauhi dirinya dari Shenna tapi ini semua ia lakukan dengan sangat terpaksa. ingin sekali rasanya Rossa menangis terisak karena rasa bersalah menyelimuti perasaannya saat itu.
"Persetujuan ini hanya akan menjadi rahasia antara kita berdua, bahkan Shenna, Lardo atau suamimu tidak boleh mengetahui hal ini. Kau tidak perlu membayar uang tebusannya, hanya saja kau harus mengikuti semua persyaratan yang aku berikan."
Rossa menganggukkan kepalanya paham. Tuan Vans memberikan amplop yang lumayan tebal itu kepada Rossa. Rossa dengan berat hati menerima amplop pemberian Tuan Vans penuh penyesalan.
"Kau punya waktu 10 hari untuk meninggalkan Athlanda, setelah pengobatan suamimu selesai, pergilah dari sini dan jangan pernah kembali." Rossa hanya terdiam tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
"Sekarang pergilah."
Rossa bangkit dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan Tuan Vans yang berada di dalam ruangannya setelah mengucapkan terima kasih. Shenna yang melihat Rossa sudah keluar dari ruangan Tuan Vans segera menghampirinya.
"Bibi, apa kau baik-baik saja?"
Rossa memandang Shenna sambil tersenyum tipis, ia mengarahkan sebelah tangannya untuk membelai puncak kepala Shenna dengan sangat lembut lalu menatap Shenna dengan tatapan penuh rasa bersalah.
"Bibi baik-baik saja, tidak terjadi apa-apa." Shenna menarik nafas lega dan melihat ke arah sebuah amplop yang lumayan tebal tengah berada di dalam genggaman Rossa.
"Ayah memberikan pinjamannya kepada bibi?" Rossa menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Shenna merasa sangat senang, ia berfikir bahwa Tuan Vans ternyata masih memiliki hati nurani dan rasa iba terhadap orang lain yang berasal dari keluarga tidak berkecukupan. Padahal nyatanya itu sama sekali tidak sesuai seperti apa yang ada di dalam pikiran Shenna.
"Baiklah, sekarang kita pergi ke rumah sakit. aku akan meminta supir pribadi keluargaku untuk mengantar kita ke rumah sakit. Lardo dan juga Sakura sudah menunggu cukup lama."
Rossa hanya menganggukkan kepalanya dan mengikuti Shenna yang melangkah masuk ke dalam mobil. melihat Shenna yang sangat perduli terhadap keluarganya membuat rasa bersalah di dalam diri Rossa semakin menjadi jadi. Ia hanya bisa terdiam di dalam mobil sambil menundukkan kepalanya memandang ke arah amplop tebal itu.
"Shenna, maafkan bibi." Batin Rossa berbicara. Ingin sekali Rossa menumpahkan seluruh air matanya. Ia tidak tau apa yang harus ia lakukan agar ia bisa menebus dosa yang telah ia lakukan ini.
Shenna memandang ke arah Rossa yang terus saja menundukkan kepalanya, Shenna mengarahkan sebelah tangannya untuk meraih tangan Rossa dan menggenggamnya erat.
__ADS_1
Rossa yang melihat Shenna tiba-tiba menggenggam tangannya langsung mengalihkan pandangannya ke arah Shenna. Shenna tengah tersenyum hangat menatap dirinya, tatapannya yang penuh dengan rasa sayang dan juga perduli membuat hati Rossa sangat tersayat melihatnya.
"Bibi, jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja, percayalah padaku."