
Keesokkan harinya saat jam pulang sekolah, Lardo pergi ke sungai yang terletak tak jauh dari sekolahnya berada. banyak yang bilang kalau air di sungai itu sangat jernih, dan lingkungan sekitarnya pun bersih. maka dari itu ia menyisihkan waktunya untuk mengunjungi sungai itu.
Setelah beberapa lama di perjalanan, akhirnya Lardo sampai di sungai yang dimaksud oleh teman-teman sekelasnya. Lardo melangkahkan kakinya mendekati sungai itu dan duduk di antara rerumputan sambil menatap pemandangan disana. suara desir air yang terdengar begitu hangat membuat Lardo merasa sangat tenang saat berada di tempat ini.
Suasananya sangat indah, ditambah lagi pemandangan matahari yang saat itu mulai tenggelam terpantul di sungai. "Damai sekali." ucap Lardo menarik senyum tipis.
"Oi!"
Lardo terkejut dengan suara itu dan spontan langsung menatap ke arah belakang. ia menemukan sosok Leora yang tengah melipat kedua tangannya dan memasang ekspresi sinis tengah berada di tempat yang sama dengannya. "Kkkk-kau? DASAR PENGUNTIT SIALAN! BENAR-BENAR TIDAK TAU MALU!" Ucap Lardo geram yang sama sekali tidak di gubris oleh Leora.
"Untuk apa aku mengikutimu, lagipula aku memang sering datang ke tempat ini." jawab Leora yang membuat Lardo ternganga di tambah lagi saat Leora memutuskan untuk duduk di sampingnya. "Jika kau merasa terganggu dengan kehadiranku, aku akan segera pergi dari sini." ujar Leora memberikan tatapan sinisnya.
Lardo menggeleng pelan lalu menghembuskan nafas berat. "Tidak masalah." Jawab Lardo seadanya, tidak menolak sama sekali. Leora tersenyum tipis lalu mengalihkan pandangannya ke arah depan. "Semenjak sibuk dengan rencana festival musim panas di sekolah, aku jadi jarang datang kesini." Ucap Leora membuka pembicaraan.
"Pasti sibuk, kan?" Tanya Lardo.
"Iya, benar-benar sibuk. harus mengikuti rapat, pulang ke rumah selalu menjelang malam, tidak bisa tidur pulas karena banyak pr yang juga harus dikerjakan. benar-benar melelahkan." Lardo memandang Leora yang terlihat tengah menundukkan kepalanya lesuh. ia memilih untuk mendengarkan saja apa yang Leora ucapkan.
"Tapi aku sudah seharusnya bekerja keras, mengingat kalau ini memang jalan hidup yang sudah di tentukan. mau tak mau, suka tak suka, kita tetap harus melakukannya. benar kan?" Leora menoleh ke arah Lardo yang saat itu tengah menatap lekat ke arahnya. entah kenapa Lardo menemukan kesedihan di mata Leora yang berusaha Leora sembunyikan.
__ADS_1
Tiba-tiba Leora memukul kepala Lardo sedikit keras sehingga membuat Lardo langsung meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya. "KAU?! KENAPA SUKA SEKALI MEMUKUL SECARA TIBA-TIBA SEPERTI INI?!" Teriak Lardo yang membuat Leora menyipitkan matanya. "Kau yang menatapku dengan tatapan mesummu itu." sinis Leora yang membuat Lardo langsung melongo saat mendengar ucapannya.
Suasana kembali hening, hanya terdengar suara kicauan burung dan juga desir air yang saling beradu. "Eummm... jadi soal rencana festival musim panas. apa yang akan kalian laksanakan?" tanya Lardo berusaha untuk memecah keheningan.
"Penampilan musik, dan juga pertunjukan kembang api. bukankah itu yang paling di tunggu-tunggu saat merayakan festival musim panas?" Tanya Leora. Lardo hanya menganggukkan kepalanya setuju dengan pendapat Leora. Leora menghela nafas lalu meraih tas yang tergeletak disampingnya sebelum bangkit dari duduknya. "Baiklah, waktunya pulang. sampai bertemu besok, dah." Tiba-tiba saja. tiba-tiba dia datang dan tiba-tiba dia pergi.
Lardo hanya terdiam membiarkan Leora melangkah pergi dan kembali menatap suasana sungai yang sangat menenangkan. Setelah hari mulai malam, baru Lardo berniat untuk pulang. ia tidak tau apa yang akan dikatakan oleh ibu dan ayahnya karena ia pulang terlambat hari ini.
"Aku pulang."
Setelah melepas sepatu yang ia kenakan, Lardo melangkah masuk ke dalam rumahnya dan melihat Rossa tengah duduk di ruang tamu bersama dengan Lili. "Ibu." panggil Lardo yang membuat Rossa menoleh ke arahnya. "Kau pulang terlambat, apa ada ekskul di sekolah?" Lardo menggelengkan kepalanya pelan lalu memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu. "Tidak, aku pergi ke sungai yang berada di dekat sekolah tadi. mencari udara segar." jawab Lardo yang membuat Rossa mengangguk paham.
"Tentu saja." Setelah menjawab pertanyaan Rossa, Lardo langsung melangkah pergi menuju kamarnya dan bersiap untuk mandi. tapi secara tiba-tiba ia mengingat kejadian-kejadian yang menimpanya bersama dengan Leora. "Kalau ini memang jalan hidup yang sudah di tentukan. mau tak mau, suka tak suka, kita tetap harus melakukannya." Seketika Lardo teringat dengan ucapan Leora itu.
"Kau benar, mau tak mau, suka tak suka, kau tetap harus melalui semuanya."
.........
"Permisi! Permisi! ada pasien darurat!"
__ADS_1
Para perawat mendorong sebuah ranjang menuju ruang ICU dengan langkah terburu-buru. terdapat seorang gadis yang terus saja batuk mengeluarkan darah. tak hanya itu, bahkan lubang hidungnya pun mengeluarkan darah yang lumayan banyak.
itu adalah Shenna Ravans.
Kondisi Shenna semakin parah sejak 3 hari yang lalu, tapi hal ini baru diketahui oleh Tuan Vans sekarang. Tuan Vans merasa sangat cemas dengan keadaan putri satu-satunya itu. Dokter yang berjaga pun sudah masuk untuk menangani Shenna. lampu tanda ruang ICU berubah menjadi warna merah.
Tuan Vans tidak mengerti apa yang menimpa Shenna sebenarnya? apa kondisinya benar-benar separah ini? kondisi terakhir Shenna ditemukan olehnya sangat menyedihkan. Shenna tertidur di ranjang dengan sebuah buku berjudul 'ayah' yang penuh dengan tetesan darah.
Hingga pukul 11 malam, Tuan Vans tetap menunggu di depan ruang ICU. Shenna tak kunjung keluar dari ruang ICU padahal dokter keluarga pun sudah tiba sejak 2 jam yang lalu untuk ikut menangani Shenna. dan tak lama kemudian, lampu ruang ICU yang awalnya berwarna merah kini sudah berubah menjadi hijau. pintu ruang ICU pun terbuka, Dokter Reinhart yang tidak lain adalah Dokter keluarga Ravans keluar bersama dengan dua orang perawat.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada putriku?"
Dokter Reinhart mengajak Tuan Vans untuk ikut ke ruangannya sambil membicarakan hal ini. betapa terkejutnya Tuan Vans saat diberitahu bahwa Shenna ternyata mengidap Leukimia setelah menjalani tes darah dan juga beberapa pemeriksaan.
"Ini sudah lama di deritanya." Tuan Vans benar-benar merasa sangat lemas saat mendengar hal itu. "Apakah masih ada kesempatan untuk menyembuhkannya?" Dokter Reinhart tersenyum tipis lalu mengangguk. "Kami akan berusaha keras untuk menyembuhkan Shenna, kau tidak perlu khawatir, Vans."
Tuan Vans mempercayakan kondisi putrinya pada Dokter Reinhart. pantas saja ia melihat kondisi tubuh Shenna akhir-akhir ini semakin memburuk, tubuhnya juga semakin mengurus. ia bahkan sungkan untuk makan. Tuan Vans tau kalau Shenna merasa sangat terpuruk karena kepergian Lardo dari Athlanda.
"Ayah hanya ingin memberikan yang terbaik untuk dirimu." gumam Tuan Vans sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1