
Lardo tidak marah pada sosok perempuan yang sekarang tengah duduk di sampingnya, perempuan itu adalah Leora. sedari tadi Leora hanya terdiam sambil menundukkan pandangannya dan sesekali meremas ujung roknya pelan. hal ini membuat Lardo merasa sedikit canggung sekaligus bingung harus memulai percakapan dari mana.
"Selama 3 hari ini, kau terlihat sangat menghindariku. sebenarnya ada apa?" Tanya Lardo pelan dengan nada suara yang terdengar cukup lembut. "Kau tidak pernah berbicara denganku, bahkan disaat aku baru saja ingin memulai pembicaraan denganmu, kau selalu ingin beranjak pergi." Sambung Lardo namun Leora tetap bungkam, hal ini membuat Lardo menghela nafas pelan.
"Ada apa? apa ada masalah keluarga?"
1 menit, 2 menit, 3 menit, hingga 5 menit kemudian, Leora sama sekali tidak menggubris ucapan Lardo. Lardo menggerakkan sebelah tangannya untuk meraih sebelah tangan Leora sehingga hal ini membuat Leora cukup terkejut lalu mengalihkan pandangannya kepada Lardo.
"Jika kau memutuskan untuk terus menerus diam, aku tidak akan dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi." Ucap Lardo secara langsung sambil menatap kedua mata Leora lekat. apa yang di ucapkan Lardo di benarkan oleh Leora, dengan bersikap seperti sekarang ini hanya akan membuat dirinya terlihat sangat egois di hadapan Lardo. Leora menatap Lardo dengan pandangan bingung.
Sikapnya terhadap Lardo selama beberapa hari ini membuat dia merasa cukup bersalah. karena keegoisannya ia memilih untuk menghindari Lardo sementara Lardo yang tidak tau menahu tentang apa yang sebenarnya terjadi merasa sangat kebingungan. "Aku..."
"Kenapa?"
"Apa aku terlihat kekanak-kanakan karena sudah menghindarimu?" Tanya Leora pelan yang langsung menundukkan pandangannya, ia sangat ragu apabila harus menatap mata Lardo yang tengah menatap serius kepadanya saat ini. "Tidak, aku tau kau menghindariku karena satu alasan khusus. sebelumnya kau tidak pernah menghindariku tanpa suatu alasan, benar 'kan?" Leora terdiam, Lardo cukup mengerti dirinya. ia tidak menyalahkan Leora yang bertingkah kekanak-kanakan karena sudah menghindarinya.
"Aku hanya menyalahkan diriku sendiri, aku yang bodoh karena terlalu banyak berharap." Lardo mengerutkan dahinya merasa bingung, ia tidak mengerti maksud dari ucapan Leora yang sebenarnya.
"Tidak, tidak, tidak. lupakan." Leora menggelengkan kepalanya cepat sambil terkekeh pelan membuat Lardo sempat terdiam cukup lama. "Kau, apa kau sedang mencintai seseorang?" Tebak Lardo yang langsung membuat Leora membulatkan matanya lebar. "Tidak, aku tidak sedang mencintai siapa pun."
"Lalu apa maksud dari ucapanmu tadi?"
"Tidak ada apa-apa." Jawab Leora cepat. Lardo merasa Leora tengah menyembunyikan sesuatu dari dirinya. terlihat jelas dari sorot wajahnya saat itu.
__ADS_1
"Lardo."
"Ada apa?"
"Kenapa seseorang harus merasakan jatuh cinta?"
Baru saja Lardo hendak menjawab pertanyaan Leora namun Leora kembali melanjutkan ucapannya. "Terlebih lagi ia jatuh cinta pada seseorang yang sama sekali tidak mengetahui tentang perasaannya. bukankah menurutmu itu hanya akan membuat dia merasa sakit hati? selain itu, jatuh cinta pada seseorang yang sama sekali tidak mengetahui tentang perasaan orang tersebut hanya akan menjadi satu hal yang sia-sia."
"Kau salah."
"Jatuh cinta bukan lah satu hal yang sia-sia, semua tergantung dengan bagaimana cara seseorang mengungkapkan cintanya tersebut. jika kau hanya diam tanpa ada niat untuk mengungkapkan perasaanmu, baru kau boleh menganggap bahwa hal itu adalah hal yang sia-sia. karena tanpa berbicara, tanpa menyatakan apa yang sebenarnya kau rasa, seseorang yang kau cintai tidak akan mampu mengetahui hal itu. mereka bukan cenayang yang bisa membaca bagaimana isi hatimu. mungkin memang akan terasa sulit untuk mengumpulkan keberanian saat kau ingin mengungkapkan perasaanmu yang sebenarnya, tapi akan jadi lebih sulit lagi jika kau hanya diam tanpa ada niat untuk mengungkapkan perasaanmu, dan melihat bagaimana orang yang kau cintai mencintai orang lain selain dirimu. disaat seperti itu, kau tidak akan bisa menyatakan perasaanmu yang sebenarnya pada dia dan perasaanmu terhadapnya hanya akan berakhir sia-sia."
Leora terdiam, ia di buat tidak bisa mengatakan sepatah kata pun karena ucapan Lardo barusan. "Aku..."
"Kenapa?"
"Aku sudah mengetahuinya." Leora mengerjapkan matanya
terkejut mendengar ucapan Lardo. "Benarkah?" Lardo tertawa pelan sambil menganggukkan kepalanya sedikit. "Iya, entah kenapa aku merasa bahwa semua itu terlihat sangat jelas. jika memang kau tidak sedang jatuh cinta pada seseorang, kau tidak mungkin menanyakan hal seperti tadi kepadaku."
Pipi Leora seketika berubah menjadi merah padam. "Jadi kau menghindariku karena kau takut orang yang kau cintai merasa cemburu?" Leora menggeleng dengan cepat sekali lagi. "TIDAK! bukan seperti itu." Bantah Leora tegas.
"Lalu seperti apa?"
__ADS_1
"Lardo, jika memang aku dekat dengan pria lain, ia pasti tidak akan merasa cemburu. karena ia sama sekali tidak mengetahui tentang bagaimana perasaanku terhadap dirinya. lagipula untuk apa merasa cemburu pada seorang wanita yang hanya ia anggap sebagai seorang teman?" Leora terlihat sedikit menekankan kata-kata terakhirnya sehingga membuat Lardo sempat terdiam seketika.
Lardo teringat akan kejadian tempo hari dimana Leora melontarkan sebuah pertanyaan kepadanya saat tengah berada di lapangan sekolah.
"HAHAHAHAHAHAHAHA... cemburu pada perempuan sepertimu? bagaimana bisa? HAHAHAHAHAHA."
"Kenapa? apa ada yang salah?"
"Bagaimana bisa mereka cemburu padamu? jelas-jelas kita hanya berteman, tidak lebih dari itu."
"Teman, ya?"
Lardo menundukkan kepalanya lalu tersenyum tipis, ia sekarang dapat mengerti alasan dibalik Leora yang terus saja menghindarinya. Leora pasti merasa kecewa pada dirinya yang hanya menganggap Leora hanyalah seorang teman disaat Leora menganggap Lardo lebih dari seorang teman.
Lardo memang tidak terlalu peka terhadap lingkungan sekitarnya, ia bahkan sampai tidak sadar bahwa perempuan yang selama ini menghabiskan waktu bersama dengannya jatuh cinta pada dirinya. "Aku rasa bukan masalah, apabila memang harus berhenti sampai disini. lagipula aku pun yakin jika pria yang aku cintai tidak akan memilihku pada akhirnya."
"Apa kau sudah mencobanya?"
"Hah?"
"Mencoba untuk menyatakan perasaanmu kepadanya?"
Leora menggeleng pelan sambil menundukkan pandangannya. hal ini membuat Lardo menarik senyum tipis, menggerakkan sebelah tangannya ke arah puncak kepala Leora lalu mengusapnya pelan. "Jika kau memang belum mencoba untuk mengungkapkannya, kau tidak diperbolehkan untuk menyimpulkan bagaimana akhirnya." Lardo bangkit dari duduknya, meraih tasnya lalu tersenyum ke arah Leora yang tengah menatap ke arah Lardo. "Hari ini aku harus mengikuti les tambahan, jadi aku harus segera pulang. kalau begitu, sampai besok." Lardo melangkah meninggalkan Leora yang masih terdiam di tempat.
__ADS_1
Sementara Leora hanya menatap punggung Lardo yang perlahan menjauh lalu menghilang dari pandangan matanya. ia tidak tau kenapa, namun hanya saja ia merasa bahwa Lardo sudah menyadari kalau seseorang yang Leora cintai adalah dirinya. maka dari itu disaat Leora memilih untuk berhenti memperjuangkan perasaannya, sikap Lardo seketika berubah.
"Aku ingin lebih dari ini, lebih dari sekedar teman. aku ingin menjadi seseorang yang juga berarti untukmu, sama seperti kehadiran Shenna yang sangat berarti di dalam hidupmu." Gumam Leora pelan sambil menundukkan kepala dan meremas ujung roknya.