
"Aku ingin, kau menjelaskan sesuatu kepadaku."
"Tentang apa?" Tanya Leora dengan tatapan penuh rasa penasaran yang seketika menyelimuti dirinya. "Tentang kau yang selalu saja menghindariku beberapa hari yang lalu." Jawaban yang diberikan Lardo membuat Leora mendelikkan matanya berkali-kali.
"Ohh... tentang itu."
Leora menghela nafas berat lalu menggenggam sebelah pergelangan tangan Lardo secara tiba-tiba sehingga membuat Lardo sempat tersentak karena terkejut. "Baiklah, aku akan memberitahumu. kita pergi sekarang." Lardo mengernyitkan dahinya dalam. "Pergi kemana?"
"Sudah, ikuti saja."
Sepanjang jalan, Leora terus menggandeng tangan Lardo membuat kedua mata Lardo terus terfokus padanya. Leora membawa Lardo ke lokernya lalu dalam beberapa detik kemudian, Lardo langsung mendelikkan matanya berkali-kali karena merasa tidak percaya.
"Me-menjijkan sekali." Semua isi di dalam loker Leora sangat berantakan dan dipenuhi dengan sampah, Lardo sama sekali tidak mengerti bagaimana bisa hal itu terjadi sedangkan Leora hanya memejamkan matanya sambil melipat kedua tangan di depan dada.
"Kemarin juga banyak sekali surat di dalam lokerku yang isi di dalam suratnya mayoritas memintaku untuk menjauhimu, jika tidak mereka akan melakukan suatu hal yang lebih parah lagi." Ucap Leora menjelaskan. "Jadi surat itu-"
"Iya, surat itu berasal dari semua penggemarmu di sekolah ini. maka dari itu beberapa hari ini aku memutuskan untuk menjauh darimu, bukan karena masalah Hayate, bahkan aku sudah melupakan persoalan itu. tapi karena hal ini."
Lardo melangkah mendekati loker milik Leora lalu mengeluarkan salah satu barang yang berasal dari sana. "Kenapa kau tidak membersihkan lokermu dengan segera?" Tanya Lardo menoleh sedikit ke arah belakang, berhadapan dengan Leora.
"Aku sibuk belajar untuk persiapan ulangan harian, maka dari itu aku belum memiliki waktu untuk membersihkannya." Lardo tertegun paham. lalu ia menghela nafas pelan, menggulung lengan bajunya dan meletakkan tasnya di lantai. "Baiklah, sebagai pertanggung jawaban, aku akan membersihkan lokermu sekarang." Ucap Lardo yang langsung membuat Leora ternganga.
"Oi, apa maksudmu?"
__ADS_1
Lardo menoleh ke arah Leora lalu menggerakkan ibu jari dan juga jari telunjuknya untuk menyentil dahi Leora pelan, Leora sempat meringis kesakitan lalu menatap wajah Lardo dengan tatapan sinisnya. "Membersihkan lokermu, memangnya mau apa lagi? kau duduk diam disini, tapi jika kau ingin pulang lebih dulu, bukan masalah."
"Tidak, aku akan menemanimu sampai selesai." Bantah Leora yang langsung membuat Lardo tersenyum tipis. Lardo melangkah pergi mengambil alat-alat kebersihan yang berada di gudang sekolah lalu membersihkan loker milik Leora dengan cepat agar tidak memakan waktu lama. "Apa kau butuh bantuan?" Tanya Leora menawarkan diri.
"Tidak, tidak perlu."
Leora terduduk di lantai sambil terus mengamati Lardo yang sedari tadi sibuk dengan aktivitasnya. ia membersihkan loker milik Leora dengan sangat teliti bahkan sampai tidak ada debu yang terlihat sedikit pun. "Ah... ternyata kau ini juga pandai bersih-bersih, ya?" Tanya Leora yang membuat Lardo menghentikan aktivitasnya lalu terkekeh pelan. "Tidak juga."
"Aku hanya tidak suka melihat sesuatu yang kotor, itu sangat mengganggu." Sambung Lardo. Leora tersenyum tipis, meskipun terkadang Lardo sangat menjengkelkan dengan sifat dinginnya, tapi tidak bisa di pungkiri kalau dia memang murid yang cerdas, baik hati dan juga bertanggung jawab.
"Dasar bodoh." Celetuk Leora.
Lardo yang tidak sengaja mendengar hal itu langsung menaikkan sebelah alisnya. "Apa kau tadi mengatakan aku bodoh?" Leora tergagap mendengar pertanyaan Lardo lalu menggelengkan kepala cepat. "T-ti-tidak." Melihat ekspresi Leora saat itu membuat Lardo menggelengkan kepala sambil terkekeh pelan merasa heran.
Tidak lama kemudian, loker milik Leora kembali seperti semula, rapih dan juga bersih. Leora tersenyum puas dengan hasil pekerjaan Lardo. "Terima kasih." Ucap Leora pelan namun masih dapat di dengar oleh Lardo. "Sama-sama." Balas Lardo yang entah kenapa langsung membuat pipi Leora berubah menjadi merah padam.
Lardo mengambil tas miliknya yang tergeletak di atas lantai lalu melangkah pergi dari area sekolah bersama dengan Leora yang berjalan di belakangnya. langkah Lardo 2 kali lebih besar dibandingkan langkah Leora, sehingga Leora terus menggenggam sedikit ujung jas seragam yang Lardo kenakan agar tidak tertinggal jauh.
"Kenapa mereka berani berhadapan denganmu? kau kan wakil ketua osis sekolah kita." Tanya Lardo pada Leora yang berada di belakangnya saat itu. "Jabatan tidak menjamin segalanya, bahkan Hayate yang menjabat sebagai ketua osis pun masih sering di ganggu oleh murid-murid usil seperti mereka." Jawab Leora yang membuat Lardo mengangguk paham.
"Tapi bukankah kau bisa melawan mereka? jika kau diam saja mungkin mereka bisa terus mengganggumu." Leora menaikkan pandangannya menatap ke arah punggung laki-laki di hadapannya dengan tatapan sinis. "Lebih baik aku diam dibanding harus menanggapi mereka, itu hanya membuang-buang waktuku saja." Lardo mengakui memang apa yang di ucapkan oleh Leora barusan itu ada benarnya juga.
kruyuk kruyuk~
Leora terkejut dan langsung menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangannya. Lardo yang menyadari hal itu pun langsung menoleh ke belakang dan menemukan Leora tengah membulatkan matanya lebar dengan wajah memerah menahan malu.
__ADS_1
"Kau lapar ya? baiklah, kita akan pergi ke sebuah restoran di dekat sini. kebetulan aku ingin sekali makan tempura udang." Ucap Lardo yang langsung melangkah pergi sementara Leora masih terdiam di tempat sambil ternganga saat melihat Lardo mengajaknya untuk pergi makan.
"Sialan, memalukan sekali!" Desis Leora kesal.
Mereka sudah sampai di sebuah restoran lalu memesan makanan yang mereka inginkan. "Sebenarnya aku bisa makan setelah sampai di rumah nanti." Ucap Leora yang masih merasa malu. ia memalingkan wajahnya dari Lardo dan terus menatap ke arah luar jendela. "Sudahlah, tidak masalah. dibandingkan aku harus menggendong tubuh gendutmu itu saat kau pingsan karena kelaparan, lebih baik menyempatkan diri untuk makan sebentar." Balas Lardo yang langsung mendapat tatapan sinis dari Leora.
"Diam kau, bedebah!"
Leora melipat kedua tangannya sejajar di depan dada sambil mengerucutkan bibirnya kesal. sementara Lardo tengah tersibuk dengan buku rumus matematika di hadapannya.
"Semangkuk kakiage dan juga tempura udang dengan onigiri ayam sudah siap." Ucap seorang pelayan yang mengantarkan makanan mereka. "Terima kasih." Leora menatap makanan pesanan Lardo sambil berdecak terheran-heran. "Ternyata porsi makanmu ini banyak juga ya." Celetuk Leora yang langsung membuat ekspresi wajah Lardo berubah menjadi datar.
"Karena aku belum sempat memakan apapun sejak tadi pagi." Leora yang tengah melepaskan plastik sumpitnya langsung mengerjapkan matanya berkali-kali. "Benarkah? apa kau tidak merasa lapar sama sekali?"
"Entahlah, beberapa hari ini aku di sibukkan dengan latihan tes untuk masuk universitas pilihanku." Jawab Lardo dengan nada suara yang terdengar lesuh. Leora ber-oh ria mendengar jawaban Lardo. "Bukankah ujian kelulusan akan dimulai 5 bulan lagi?" Tanya Leora memastikan.
"Benar, tapi ibuku selalu memintaku untuk terus berlatih dari jauh-jauh hari." Jawab Lardo.
Leora dapat mengerti, karena berasal dari keluarga yang tidak terlalu berkecukupan pasti membuat Lardo harus berjuang lebih keras untuk masa depannya. Leora menatap wajah Lardo sambil tersenyum lebar. "Oi, pria bodoh." Lardo yang saat itu tengah menyantap makanan miliknya langsung terdiam sambil menatap bingung ke arah Leora.
"Kau harus terus bersemangat, ya?"
"Hah?"
Tidak seperti biasanya, sosok Leora yang sekarang berada di hadapannya menjadi sosok yang sangat imut dan juga menggemaskan. tersenyum lebar dengan bibir manisnya membuat kedua matanya sedikit menyipit.
__ADS_1
Lardo menghela nafas pelan lalu ikut tersenyum bersama dengan Leora. "Tentu saja." Jawab Lardo yang membuat senyum Leora semakin tercetak jelas.