Lord Of Athlanda

Lord Of Athlanda
thanks, God


__ADS_3

"Alasan apa?"


Lardo memejamkan matanya dengan kedua tangan yang sengaja ia lipat di depan dada. "Apa yang terjadi padamu? mengapa kau terlihat sangat penasaran seperti ini tentang hidupku?"


Shenna membuka matanya lebar-lebar setelah mendengar pertanyaan dari Lardo. "APA-APAAN?! jangan berfikir kalau aku merasa penasaran atau perduli dengan dirimu. Karena sama sekali tidak."


"Benarkah? tapi mengapa kau melindungiku dari anak-anak nakal itu? jika memang kau tidak perduli dengan diriku, kau mungkin akan membiarkanku dilukai oleh mereka." secara spontan Shenna menendang tulang kering sebelah kanan Lardo sehingga membuat Lardo meringis kesakitan.


"Kau ini memang anak yang bodoh, ya? bagaimana bisa aku membiarkan seseorang berusaha melukai orang lain. Itu adalah sebuah tindakan kejahatan. Lagipula jika mereka melukaimu hingga babak belur, siapa yang akan membayar biaya pengobatanmu? apa kau ingin merepotkan kedua orang tuamu setelah melihat bagaimana kondisi mereka?" Lardo langsung tersadar dengan apa yang dikatakan oleh Shenna memang ada benarnya juga.


Dia menggaruk belakang kepalanya lalu tersenyum lebar, "Ah... kau benar, Shenna. kalau begitu aku sangat berterima kasih karena kau sudah menyelamatkanku tadi." ucap Lardo terkekeh pelan.


"Dasar, bocah bodoh."


Shenna kembali melangkah meninggalkan Lardo yang langsung termenung saat melihat Shenna mulai meninggalkan dirinya. "Hey! tunggu sebentar." Lardo meraih sebelah tangan Shenna sehingga membuat Shenna menghentikan langkahnya.



"Bodoh, apa yang kau lakukan?!"


Shenna membuka matanya lebar-lebar karena terkejut saat melihat Lardo menggenggam pergelangan tangannya dengan sangat erat.


"Terima kasih sekali lagi, atas bantuanmu." Shenna menggigit bibir bawahnya lalu terus memandangi Lardo yang mulai melangkah pergi meninggalkannya.


"Si bodoh itu, ternyata dia cukup berani juga." batin Shenna. Shenna pun segera bergegas kembali ke rumahnya karena hari terlihat sudah sangat petang.


Lardo baru saja sampai di gubuk kecil milik keluarganya, terlihat ibunya tengah sibuk mengurus Lili yang tak lain adalah adiknya.

__ADS_1


"Ibu, aku sudah pulang."


"Putraku sudah kembali, ya? bagaimana hari pertamamu di sekolah? apakah kau mendapat teman yang banyak? apa mereka memperlakukanmu dengan baik?" tanya Rossa, Rossa Dimitri adalah ibu dari Lardo.


"Ah... tentu saja, Bu." jawab Lardo tersenyum tipis. Rossa tau bahwa putranya tengah berbohong kali ini, karena sangat terlihat dari sorot wajahnya bahwa ia tengah menyembunyikan sesuatu.


"Ibu, apa yang kau masak hari ini?"


Rossa dengan penuh semangat langsung memperlihatkan nasi goreng udang buatannya. "Ibu memasak nasi goreng udang kesukaanmu, karena ini adalah hari pertama kau kembali bersekolah. jadi kita harus merayakannya."


Lardo yang tengah duduk saat itu langsung termenung sambil memandang ke arah nasi goreng udang buatan Rossa. "apakah uang ibu cukup untuk membuat masakan ini?" Rossa sempat terdiam cukup lama saat mendengar pertanyaan dari Lardo.


Namun setelah itu ia tersenyum lebar lalu mengecup puncak kepala Lardo. "Jangan khawatir, anakku. Lagipula ibu sangat jarang memasak makanan kesukaanmu, jadi kali ini ibu rasa tidak masalah." Lardo sempat menghembuskan nafasnya pelan tetapi tak lama kemudian ia menarik senyum manisnya lebar-lebar.


Bagaimana pun juga Lardo harus menghargai usaha ibunya yang sudah melakukan berbagai macam hal untuk membahagiakan dirinya.


Meskipun mereka hidup di dalam keluarga yang tidak terlalu berkecukupan, tapi mereka berusaha untuk saling membahagiakan satu sama lain. Terlihat bahwa Rossa dan juga Derry sangat amat menyayangi putra dan juga putrinya bagaimana pun kondisi finansial mereka berdua.


Rossa berfikir, "Walaupun dia harus tidak makan seharian, ia sangat rela. asalkan kebutuhan kedua anaknya selalu tercukupi."


Lardo baru saja menyelesaikan makan malamnya lalu ia duduk di atas batu besar yang berada di depan gubuknya. ia memandang langit yang dipenuhi dengan bintang-bintang berkilauan.


Rossa yang melihat putranya tengah termenung sendirian pun langsung menghampirinya. "Hei, apa yang kau lakukan disini?" Lardo melirik ke arah Rossa sambil tersenyum kecil lalu menggelengkan kepalanya.


"Tidak, Ibu. Aku hanya tengah bersyukur kepada Tuhan karena dia memberikan kalian untuk menemani hidupku."


Rossa menarik senyum lebar saat mendengar ucapan putra kesayangannya itu. ia ikut duduk di atas batu besar itu sambil merangkul tubuh kecil Lardo yang suatu saat nanti akan tumbuh dewasa.

__ADS_1


"Lardo, kau ingin tau sesuatu?"


Lardo menatap ke arah Rossa dengan sorot wajah yang terlihat penasaran. "Apa?" tanyanya.


"Kau, Lili, dan juga ayahmu adalah hadiah pemberian Tuhan paling indah yang pernah ibu miliki. dan ibu berjanji kepada Tuhan bahwa ibu akan menjaga kalian dengan baik. Ibu tidak akan meninggalkan kalian dalam keadaan apapun dan akan terus menemani kalian sampai kapan pun." Rossa membuat Lardo terus saja tersenyum saat mendengar semua ucapannya.


"Ibu merasa sangat bahagia saat bersama dengan kalian, suatu kebahagiaan yang tidak pernah ibu temui sebelumnya. dan ibu rasa apabila tidak ada kalian di dalam hidup ibu, ibu tidak akan pernah merasa sebahagia ini." Sambung Rossa dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


"Ibu selalu ingat saat ibu mengucapkan janji di hadapan Tuhan, bahwa ibu akan selalu tunduk dan melayani ayahmu, baik dalam keadaan suka maupun duka, kaya maupun miskin, sehat maupun sakit sampai maut memisahkan kita. setelah memberikan ayahmu kepada ibu, Tuhan dengan berbaik hati memberikan ibu kedua anak yang sangat baik dan juga manis seperti kalian. kalian adalah hadiah paling membahagiakan di dalam hidup ibu, dan kalian harus selalu mengingat hal itu."


Lardo memeluk Rossa dengan sangat erat dan menangis di bahunya. begitu pun dengan Rossa yang sejak tadi tak kuasa menahan tangis.


Lardo tidak menyangka bahwa mendapat kasih sayang dari kedua orang tuanya ternyata lebih penting dibandingkan mendapatkan harta dan juga tahta di dunia ini.


"Ibu ingin kau selalu merasa bahagia, putraku. ibu akan lakukan segala hal demi kebahagiaanmu sekalipun ibu harus mengorbankan nyawa ibu, kau dan Lili harus tetap hidup bahagia."


Lardo menangis terisak di dalam pelukan Rossa. tidak dapat terukur betapa ia sangat menyayangi ibunya. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan bekerja keras agar ia bisa membuat keluarganya hidup bahagia dan keluar dari masalah ini lalu memiliki kehidupan yang layak.


"Hey, kalian! apa yang kalian lakukan disana? cepat masuk! semakin malam akan terasa semakin dingin. itu tidak akan baik untuk kesehatan kalian berdua."


Lardo dan juga Rossa terkejut saat Derry memanggil mereka berdua untuk segera masuk ke dalam gubuk. Rossa pun mengarahkan kedua tangannya untuk membersihkan sisa air mata yang mengalir di pipi putranya.


"Sekarang masuklah, besok kau harus pergi ke sekolah. ibu tidak ingin kau sakit." Lardo menganggukkan kepalanya setuju lalu kembali ke dalam gubuk untuk beristirahat.


Sementara Rossa berdiam diri sejenak sambil memandang langit-langit malam bersamaan dengan angin yang berhembus sangat lembut menerpa kulitnya.


"Tuhan, kuucapkan terima kasih atas mereka di dalam hidupku." gumam Rossa lalu menarik senyum tipis.

__ADS_1


__ADS_2