
Sepanjang koridor lantai 3 setelah berusaha menghindari Kyoko, Leora terus menggandeng sebelah tangan Lardo. membuat Lardo mengamati tangan putih susu Leora yang saat ini tengah menggenggam erat sebelah tangannya sambil menarik senyum tipis.
Leora yang menyadari Lardo tengah tersenyum sambil menatap tangannya yang di genggam oleh Leora, Leora sontak melepas genggaman tangan itu. "Ada apa? kenapa kau tersenyum sendiri seperti tadi?" Cetus Leora secara tiba-tiba. Lardo menggeleng pelan dengan wajah gugupnya. "Tidak, tidak ada apa-apa." Balas Lardo sedikit tersentak.
"Kau pasti merasa bahagia karena aku sudah menggenggam tanganmu tadi, apa kau mau coba lagi?" Tawar Leora yang membuat Lardo membulatkan matanya setelah mendengar pertanyaan yang di berikan oleh Leora tadi, hal itu membuat pipi Lardo berubah menjadi kemerahan. "Kau ini bicara apa..." Lardo menggaruk pelipisnya yang tidak terasa gatal sambil menahan rasa malu yang menyelimuti perasaannya.
Leora tertawa renyah. "Nanti siang, aku akan menunggumu di kantin." Lardo langsung teringat dengan ajakannya kepada Leora tadi malam untuk makan siang bersama dengannya. "Tidak, aku akan menjemputmu. kau tunggu saja di depan kelas, kita pergi ke kantin bersama-sama." Wajah Leora bersemu merah mendengar ucapan Lardo.
"Baiklah."
Lardo menarik senyum lebar, "Rasanya sudah cukup lama kita tidak berbincang seperti sekarang ini." Leora menundukkan kepala sambil meremas ujung roknya. "Aku merasa sangat senang karena kau tidak menghindariku lagi."
"Maafkan aku." Lardo menggerakkan sebelah tangannya lalu mengusap puncak kepala Leora pelan dengan sangat lembut. "Tidak masalah, jangan minta maaf seperti itu." Merasakan sentuhan lembut di puncak kepalanya membuat wajah Leora semakin bersemu di buatnya. "Aku harus segera ke kelas sekarang." Ucap Leora sedikit kikuk.
"Baiklah, kalau begitu sampai nanti." Balas Lardo yang hanya di jawab dengan senyuman tipis dari Leora. Leora langsung melangkah pergi menuju kelasnya yang juga berada di lantai yang sama dan berada tak jauh dari kelas Lardo. Lardo tersenyum lega sambil menatap punggung Leora yang perlahan-lahan menjauh meninggalkannya lalu setelah itu Lardo melangkah masuk ke dalam kelas.
Siang ini semua murid kelasan Lardo mengikuti pelajaran olahraga yang di selenggarakan di lapangan sekolah, materinya yaitu bola voli. anak perempuan kelasan Lardo sangat antusias mengikuti materi olahraga kali ini, berbeda dengan Lardo dan juga beberapa teman laki-lakinya yang lain. "Dimitri, apa kau bisa bermain bola voli?" Tanya Keisuke yang tengah duduk di pinggir lapangan bersama dengan Lardo dan juga yang lainnya.
"Sedikit." Jawab Lardo singkat setelah itu menenggak sebotol air mineral miliknya. "Huh... kenapa kita tidak diperbolehkan bermain bola basket?" Tanya Keisuke dengan nada malasnya. "Materi bola basket sudah kita pelajari minggu lalu, seharusnya kita mempelajari materi bulu tangkis saja." Ujar Tatsuya. Lardo hanya tertawa pelan mendengar perbincangan teman-temannya.
Lardo tanpa sengaja melihat Kyoko lewat di pinggir lapangan bersama dengan dua orang temannya sambil membawa beberapa buku tulis. kedua mata Kyoko pun tertuju pada Lardo saat itu. hal ini langsung di sadari oleh teman-teman Lardo. "Dimitri, bukankah Kyoko dari kelas 2 tengah menatap ke arahmu?" Ucap Keisuke sambil merangkul bahu Lardo dengan pandangan yang terarah pada Kyoko.
__ADS_1
"Aku dengar kalau Kyoko memiliki perasaan terhadapmu, anak-anak kelas 2 ramai membicarakan soal itu. kenapa kau tidak menerima perasaannya saja?" Sambung Tatsuya yang juga pandangannya tengah terfokus pada Kyoko. "Aku hanya menganggap dia sebagai adik tingkatku saja, tidak lebih dari itu." Jawab Lardo datar dengan jari jemari yang tengah membuka tutup botol air mineralnya lalu kembali menenggak air mineral itu.
"Apa kau tidak akan menyesal karena sudah menolak perasaannya? Kyoko adalah anak dari salah satu keluarga paling kaya di Preston, ayahnya memiliki perusahaan Furniture sedangkan ibunya adalah seorang model papan atas. aku yakin kau akan bahagia jika menjalin hubungan dengannya." Simpul Tatsuya yang sama sekali tidak di hiraukan oleh Lardo. Lardo justru malah bangkit dari duduknya dan berjalan ke tengah-tengah lapangan untuk bermain bola voli.
"Tatsuya, aku rasa kau sudah mengatakan satu hal yang salah. kau tau kan kalau Lardo itu sangat dekat dengan Wakil Ketua Osis yang bernama Leora, mungkin saja Lardo memiliki perasaan terhadap Leora oleh karena itu ia menolak perasaan Kyoko padanya." Ucap Keisuke yang langsung mendapatkan tatapan sinis dari Tatsuya. "Bukankah kau juga mengatakan hal yang sama denganku?" Keisuke hanya menyengir lebar mendengar ucapan Tatsuya.
.........
Bel jam makan siang berbunyi, Leora mengeluarkan sekotak bekal makan di dalam tasnya lalu melangkah keluar kelas. seperti apa yang di ucapkan oleh Lardo, Lardo akan menjemput Leora di kelasnya lalu mereka pergi ke kantin bersama-sama.
Leora bersandar di dinding depan kelas sambil memainkan ponselnya, namun secara tiba-tiba muncul Kyoko bersama dengan salah satu temannya yang bernama Hilde. Hilde dan juga Kyoko menghentikan langkahnya tepat di hadapan Leora, membuat Leora yang tengah terfokus pada layar ponsel saat itu menaikkan pandangannya menatap kepada mereka berdua.
"Kau pasti ingin pergi makan siang bersama dengan Kak Lardo, benar 'kan?" Tanya Kyoko yang hanya mendapat tatapan datar dari Leora. hal ini membuat Kyoko semakin kesal dengan Leora, ia menggenggam sebelah pergelangan tangan Leora dengan sangat kencang namun masih tidak mendapatkan respon apapun dari Leora. "Bukankah aku sudah memperingatkanmu untuk menjauh dari Kak Lardo?" Suara Kyoko terdengar sangat tajam di telinga Leora, namun hal ini tidak membuat Leora merasa takut saat berhadapan dengan Kyoko.
Lardo tiba-tiba datang dan menarik sebelah tangan Leora agar Leora menjauh dari hadapan Kyoko. hal ini membuat Kyoko sangat terkejut dengan kehadiran Lardo secara tiba-tiba di dekat mereka, Kyoko menatap wajah Lardo yang sekarang sudah dipenuhi dengan amarah. "K─ Kak Lardo?" Kyoko mendadak menjadi sangat gugup hingga ia sulit untuk mengucapkan sepatah kata pun di hadapan Lardo.
"Apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan pada Leora barusan?" Tanya Lardo dengan nada suara yang terdengar datar namun sangat menakutkan di telinga Kyoko. "Apa begini caramu agar bisa mendapatkan cinta dariku? yaitu dengan cara menjelek-jelekkan kekurangan orang lain." Kyoko sontak menundukkan kepalanya, ia tidak berani menatap kedua mata Lardo saat ini. ia merasa sangat takut dan tidak tau harus mengatakan apa sebagai bentuk membela diri.
"Kenapa kau diam? apa kau bisu? apa jangan-jangan kau sudah menyadari kesalahanmu?" Kyoko berdecih kesal pada Lardo, ia langsung menaikkan pandangannya dan menatap kedua mata Lardo tajam. "Cih, lalu apa begini caramu membalas perasaan seorang wanita yang mencintaimu?"
Lardo melipat kedua tangannya sejajar di depan dada, menatap Kyoko yang tengah menatap tajam kepadanya dengan tatapan santai. ia menghela nafas panjang lalu tersenyum tipis. "Aku tidak pernah memintamu untuk jatuh cinta padaku dan aku juga tidak pernah berjanji padamu bahwa aku akan membalas cintamu itu." Kedua tangan Kyoko terkepal erat mendengar jawaban yang diberikan oleh Lardo.
__ADS_1
"Kau ternyata tak lain hanyalah seorang bajingan." Lardo tersenyum sungging, "Sebelum mengatakan bahwa aku seorang bajingan, sebaiknya kau bercermin lebih dulu. apa kau sudah jauh lebih baik dari diriku?" Leora sama sekali tidak menyangka bahwa Lardo akan menanggapi Kyoko hingga sebegitunya.
Leora sadar bahwa keluarga Kyoko termasuk dalam keluarga yang paling berpengaruh di Preston, Kyoko bisa dengan mudah membalas perlakuan Lardo padanya dengan cara apapun. karena menyadari hal itu, Leora dengan cepat menggenggam tangan Lardo dengan sangat erat, membuat Lardo langsung menoleh ke arah Leora. "Sudah cukup, ayo kita pergi sekarang." Lardo menganggukkan kepalanya lalu pergi bersama dengan Leora menuju ke kantin. meninggalkan Kyoko yang masih mematung di tempat dengan perasaan kesalnya bersama Hilde.
...............
"Untuk apa mengatakan hal seperti itu kepada Kyoko tadi?" Tanya Leora yang sedari tadi hanya diam tanpa menyentuh bekal makan siangnya sama sekali. begitu juga dengan Lardo. ucapan Leora membuat Lardo menopang dagu dengan sebelah tangannya lalu menatap datar ke arah Leora. "Lalu apa kau pikir aku akan membiarkan Kyoko mengatakan hal yang tidak-tidak kepadamu seperti tadi?"
"Kau sama saja menempatkan dirimu dalam bahaya."
"Aku tau, tapi aku merasa apa yang aku lakukan adalah hal yang tepat. aku tidak menyesal karena sudah melakukan itu, Kyoko tidak pantas menggunakan kekuasaan yang dia miliki untuk menginjak harga diri orang yang berada di bawahnya." Leora menatap Lardo dengan sangat lekat.
"Kau seharusnya tidak perlu melakukan itu."
"Kenapa?"
"Aku tidak ingin kau berada dalam bahaya hanya karena diriku. aku sangat takut apabila Kyoko nanti akan melakukan sesuatu untuk membalas perbuatanmu kepadanya tadi. bagaimana jika dia berniat untuk mencelakakanmu?" Terlihat raut wajah penuh kekhawatiran dari Leora saat itu, membuat Lardo tersenyum tipis lalu mengusap puncak kepala Leora pelan.
"Kau tidak perlu merasa takut, hal itu tidak akan terjadi. percayalah padaku." Balas Lardo berusaha meredakan kekhawatiran Leora padanya. "Tidak ada yang bisa menjamin kalau Kyoko tidak akan melakukan hal itu." Tiba-tiba saja Hayate duduk pada bangku yang berada di hadapan Lardo dan juga Leora sambil membawa sekotak es lemon segar miliknya. "Ketua?" Leora terkejut dengan kehadiran Hayate secara tiba-tiba di hadapan mereka berdua.
"Maaf karena sudah mengganggu makan siang kalian, tapi rasa cemas dalam diri Leora padamu bisa aku benarkan." Ucap Hayate pada Lardo. "Aku berteman dengan Kyoko sejak kami masih kecil hingga sampai saat ini. aku sangat mengerti bagaimana sifatnya. dia bisa melakukan apapun agar mendapatkan apa yang dia inginkan, dan aku harap kau dan juga Leora bisa lebih waspada terutama Leora. karena Leora sangat dekat dengan Lardo sedangkan Kyoko menginginkan Lardo untuk menjadi miliknya." Ucapan Hayate membuat Leora dan juga Lardo mengerutkan alis mereka dalam.
__ADS_1
"Dia tidak akan membiarkan satu hal pun menghalangi langkahnya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, perlu kau ingat kalau Kyoko berasal dari keluarga kaya paling berpengaruh di Preston. dia bisa melakukan hal gila apapun dengan sangat mudah, ditambah lagi dengan apa yang Lardo lakukan padanya tadi. aku bahkan tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kedepannya."