Lord Of Athlanda

Lord Of Athlanda
worried


__ADS_3

Lardo, Leora dan juga Fujimoto sudah sampai di perpustakaan kota sejak 3 jam yang lalu. mereka terlihat sangat sibuk dengan beberapa buku yang tengah mereka baca hingga terciptalah suasana hening di antara mereka.


Lardo saat itu memilih untuk duduk berhadapan dengan Leora, sedari tadi ia terus menggeluti dirinya dengan sebuah buku tebal pelajaran Matematika dan juga IPA. sedangkan Leora sibuk dengan sebuah komik yang terus menerus membuat ia tersenyum tidak karuan.


"Berhenti tersenyum karena buku kekanak-kanakan itu, kau benar-benar sangat menjengkelkan." Celetuk Fujimoto yang nampaknya merasa terganggu dengan tingkah laku Leora. Leora langsung mengerucutkan bibirnya kesal sambil menatap sinis ke arah Fujimoto. "Kau juga sangat menjengkelkan, bedebah!" Balas Leora tidak mau kalah.


Lardo tidak menggubris keributan antara Fujimoto dan juga Leora. ia berusaha untuk terbiasa akan hal itu karena sedari tadi Leora dan juga Fujimoto selalu membuat kegaduhan hanya karena suatu hal kecil. "Kau itu!!!" Leora mengepalkan sebelah tangannya sambil memejamkan mata menghadap ke arah Fujimoto. "Diam kau, bocah ingusan!" Ejek Fujimoto pada Leora.


Hal ini membuat Lardo menutup buku yang tengah ia baca lalu menatap 2 orang di hadapannya dengan ekspresi datar. "Jika kalian terus membuat keributan, aku tidak akan segan menendang kalian keluar dari sini." Ancam Lardo dengan nada suaranya yang terdengar dingin.


"Nah, Lardo! kenapa kau harus mengajakku pergi bersama dengan si tua bangka sialan ini? aku benar-benar muak dengannya." Geram Leora yang masih menatap tajam ke arah Fujimoto tanpa memperdulikan ancaman Lardo tadi. "Kau seharusnya tidak ikut pergi bersama denganku dan juga Dimitri, dasar maniak blade buster!" Sahut Fujimoto.


Lardo menghela nafas pelan lalu meraih kedua bukunya dan memutuskan untuk pindah tempat duduk. hal ini membuat Leora dan juga Fujimoto terdiam beberapa menit lalu kembali berdebat tiada puasnya. "Huh... mereka itu kenapa sih?" Gumam Lardo pelan.


Lardo merasa sedikit tidak enak badan, kepalanya terasa pening dan juga suhu tubuhnya meningkat tidak seperti biasanya. ia memijat tengkuknya pelan sambil terus memfokuskan diri pada buku di hadapannya. belakangan ini memang ia sering kali merasa lebih lelah dari biasanya, mungkin karena terlalu memaksakan diri untuk belajar.


Fujimoto menyusul Lardo dan ikut duduk bersama dengannya. "Oi, Dimitri. kenapa kau pindah kesini? disini sangat panas, apa kau tidak merasa terganggu?" Lardo menatap Fujimoto datar lalu kembali mengalihkan pandangannya kembali pada buku di hadapannya. "Berisik!" Balas Lardo yang sedikit menekankan ucapannya sehingga langsung membuat Fujimoto terdiam sambil terkekeh pelan.


Leora menopang dagunya sambil memandang ke luar jendela, komik yang ia baca tadi sudah di biarkan tergeletak di atas meja. ia mengingat kejadian saat ia menanyakan sesuatu pada Lardo tadi.


"Lalu apa arti diriku di dalam hidupmu?"

__ADS_1


"Kau itu... kau... kau hanya anak kecil yang menjengkelkan sih.""Kau itu... kau... kau hanya anak kecil yang menjengkelkan sih."


Leora menghela nafas pelan sambil memejamkan matanya lalu menundukkan kepalanya di atas meja. "Menyebalkan darimana? apa dia tidak sadar kalau dirinya jauh lebih menyebalkan." Gumam Leora pelan. ia mengangkat kepalanya dan mengarahkan pandangannya ke arah Lardo. "Kenapa dia dingin sekali? bahkan rasanya sifat dinginnya itu dapat mengalahkan dinginnya Air Conditioner di perpustakaan ini." ia mengalihkan pandangannya dari Lardo dan kembali terfokus pada komik di hadapannya.


Fujimoto menyipitkan matanya ke arah Leora yang tempat duduknya terpisah dengan mereka. "Lardo, lihatlah... bukankah dia sudah seperti gadis yang menyedihkan? duduk sendirian seperti itu layaknya gadis lajang."


Lardo memejamkan matanya sekilas lalu bangkit dari duduknya sehingga membuat Fujimoto langsung menatap ke arahnya begitu juga dengan Leora yang menyadari hal itu. "Kau mau kemana?" Tanya Fujimoto bingung.


"Bagaimana jika kita pulang sekarang? aku rasa sudah cukup untuk hari ini." Ajak Lardo yang membuat Fujimoto serta Leora tertegun. "Pulang sekarang?" Tanya Fujimoto memastikan. Lardo menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sambil tersenyum tipis.


"Ah, baiklah." Fujimoto ikut bangkit dari duduknya dan mengarahkan pandangannya pada Leora. "Oi, anak kecil. ayo kita pulang!" Leora memasang ekspresi datarnya saat mendengar panggilan yang di lontarkan oleh Fujimoto padanya. "Berhenti memanggilku anak kecil atau akan ku-"


"Lain kali kita akan mengunjungi perpustakaan lagi bersama-sama." Ujar Lardo memecah keheningan di antara mereka. Leora tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan.


"Tidak ada yang mengajakmu, bocah." Celetuk Fujimoto yang tengah memasang ekspresi datar menatap Leora dengan kedua tangan yang ia lipat sejajar di depan dada. "Kau benar-benar memancing emosiku sejak tadi!" Lardo memperhatikan wajah kesal Leora saat itu sambil tersenyum kecil.


"Fujimoto, kita akan berpisah di stasiun, benar kan?" Tanya Lardo membuyarkan suasana menegangkan di antara Fujimoto dan juga Leora. "Benar sekali." Jawab Fujimoto semangat.


"Nah kalau gitu kita akan berpisah disini." Fujimoto tertegun mendengar ucapan Lardo. "Kita sudah sampai di stasiun." Sambung Lardo yang langsung membuat Fujimoto sontak menoleh ke arah sekitarnya. tanpa sadar mereka sudah tiba di stasiun setelah berjalan cukup lama dari perpustakaan kota. "Baiklah kalau begitu. kau hati-hati di jalan ya, Dimitri. segera hubungi aku kalau nenek lampir di sampingmu itu berani mengganggumu." Sindir Fujimoto sambil tertawa kecil yang membuat Leora ingin sekali menendang bokong Fujimoto saat itu juga.


Beberapa menit kemudian, Leora dan juga Lardo sudah berpisah dengan Fujimoto dan pergi menuju rumah mereka masing-masing. sesuai janji Lardo, Lardo akan mengantar Leora pulang sampai ke rumahnya. beruntung rumah Leora searah dengannya, karena jika tidak mungkin saja akan sangat merepotkan di saat kondisi Lardo tengah tidak baik saat ini.

__ADS_1


Nafas Lardo terhela pelan, membuat Leora langsung menoleh ke arahnya dan menatap Lardo lekat. "Ada apa?" Tanya Leora dengan sorot wajah khawatir. mata Lardo terpejam beberapa detik mencoba untuk tetap bertahan saat tubuhnya sudah terasa sangat lemas. "Tidak, tidak ada apa-apa." Jawab Lardo berbohong.


Ia melanjutkan langkahnya diikuti dengan langkah Leora yang berjalan di belakangnya seperti biasa. "Lardo." Panggil Leora dengan nada suara yang lumayan pelan.


"Hm?"


"Anu... eum..."


"Apa kau membutuhkan sesuatu?"


Leora langsung menggelengkan kepalanya cepat, "Ti-tidak, bukan itu maksudku." Lardo melirik ke arah belakang dengan ekor matanya. "Lalu?"


"Kau... aku harap kau jangan terlalu memaksakan dirimu." Tutur Leora terdengar gugup. Lardo menundukkan kepalanya sebentar sambil memejamkan matanya, lalu tersenyum tipis. "Akan aku usahakan." Jawab Lardo yang membuat Leora mengerutkan kedua alisnya.


"Jika kau tidak memperhatikan kondisi kesehatanmu, kau akan jatuh sakit nanti." Leora menatap punggung Lardo lekat dan secara tiba-tiba Lardo langsung membalikkan badannya ke arah belakang.


Kini mata mereka saling bertemu, saling memperhatikan satu sama lain. "Terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku, aku akan berusaha untuk tetap memperhatikan kondisiku." Ucap Lardo sontak membuat Leora tersadar dari lamunannya yang sedari tadi terus menatap Lardo dengan seksama.


"Baiklah, ayo kita pulang. aku takut ibumu akan merasa cemas nantinya." Ujar Lardo yang kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Leora yang masih terdiam di belakangnya.


"Huh... melihat kegigihannya seperti itu membuatku merasa cemas." Gumam Leora menatap punggung Lardo yang perlahan-lahan menjauh meninggalkannya.

__ADS_1


__ADS_2