
Kyoko melingkarkan tangannya pada sebelah tangan Hayate, membuat jarak di antara mereka semakin dekat. jujur saja dengan keberadaan Kyoko yang sedekat itu dengannya membuat Hayate benar-benar merasa bingung.
"Jika kau bersedia membantuku, bukankah akan ada sedikit celah untukmu agar bisa mendekati Leora?" Kyoko berbisik manja di depan telinga Hayate. "Kyoko, apa yang sebenarnya kau pikirkan? bagaimana bis-" Kyoko menutup mulut Hayate dengan meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Hayate. "Jangan banyak bicara, aku melakukan ini karena aku mencintai Lardo!" Ucap Kyoko tegas yang membuat Hayate langsung terdiam seketika. Kyoko menurunkan jari telunjuknya dari depan bibir Hayate, dan saat itu juga senyum tipis terukir dari bibir Hayate sehingga membuat Kyoko sempat mendelik merasa bingung.
"Bagaimana bisa kau mencintai seorang pria yang bahkan sama sekali tidak mencintaimu, jangankan mencintaimu, bahkan menoleh padamu saja tidak sama sekali." Kyoko terlonjak mendengar ucapan Hayate yang sangat menusuk relung hatinya.
"Aku berhak mencintai siapa saja sesuai dengan keinginanku!" Bantah Kyoko tidak terima. "Begitu juga dengan dia, kau tidak bisa memaksakan kehendakmu pada Lardo karena Lardo pun berhak mencintai siapa saja sesuai dengan keinginannya." Kyoko mengepalkan tangannya erat, bibirnya bergetar menahan tangis, air mata mulai menggenangi pelupuk matanya saat itu.
"Hayate! kau..."
Hayate menggerakkan sebelah tangannya ke puncak kepala Kyoko lalu mengusapnya pelan. "Kau tidak bisa terus menerus bersikap egois seperti itu, sama dengan halnya dirimu yang tidak ingin hidupmu di atur oleh orang lain, orang lain pun merasakan hal seperti itu. mereka pasti juga tidak menginginkan kau mengatur tentang hidup mereka. jadi biarkan Lardo memilih wanita terbaik menurut dirinya, jika memang kau bukan pilihan dia, kau bisa mencari pria lain yang jauh lebih baik dibandingkan dia." Kyoko meremas ujung roknya sambil menundukkan kepalanya berusaha untuk menahan air mata. "Bukankah kau juga mencintai Leora? kenapa kau tidak berusaha untuk mendapatkan hatinya?"
"Aku tidak mencintai dia seperti apa yang kau pikirkan, rasa sayangku pada Leora hanya sebatas seorang ketua kepada wakil ketuanya, tidak lebih dari itu. aku memang sempat merasa cemburu karena perhatian Leora selalu terfokus pada Lardo, tapi aku tidak pernah berambisi untuk merebut Leora dari pria itu. aku hanya ingin Leora jatuh cinta pada orang yang tepat, orang yang menurutnya benar-benar bisa menjaga hatinya dengan baik tanpa melukai hatinya sedikit pun. meskipun aku tidak bisa memilikinya, dengan melihatnya bahagia saja sudah lebih dari cukup bagi diriku sendiri. itulah yang dinamakan cinta yang sebenarnya." Kyoko terdiam mendengarkan ucapan Hayate, tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja membasahi pipi mulusnya tanpa sepengetahuan darinya.
"Hayate..." Kyoko melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Hayate lalu memeluk Hayate erat, ia membiarkan dirinya menangis di dalam pelukan Hayate, sebelah tangan Hayate pun tergerak untuk mengusap punggung Kyoko akan merasa sedikit lega. "Kenapa, kenapa kau masih tidak berubah?"
Hayate menarik senyum tipis lalu mengusap puncak kepala Kyoko perlahan-lahan. "Karena aku tau, titik mencintai paling tinggi adalah mengikhlaskan." Kyoko semakin terisak di dalam pelukan Hayate, Hayate sama sekali tidak terkejut akan hal itu, ia bahkan sudah sangat terbiasa.
Kyoko masih sama seperti 8 tahun yang lalu, dia masih seperti anak kecil yang hanya bisa menangis jika tidak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.
-Flashback On-
__ADS_1
"Hayate, kau ingin main apa hari ini?"
"Bagaimana dengan Mortal Combat?" Tanya Hayate kecil yang sudah mendudukkan tubuhnya di samping Kyoko kecil sambil menggenggam sebuah dualshock. "Baiklah, jika kalah jangan menangis ya?" Tanya Kyoko kepada Hayate membuat Hayate langsung memutar bola matanya sinis.
"Iya, iya."
Mereka kemudian menghabiskan waktu bersama untuk memainkan game itu sampai pada akhirnya game yang mereka mainkan di menangkan oleh Hayate. "Kyokooo! kau lihat sendiri kan! kali ini aku yang jadi pemenangnya, akhirnya aku bisa mengalahkanmu!"
Kyoko hanya terdiam sambil melihat Hayate yang tengah tertawa puas atas kemenangan mengalahkan Kyoko. "Sudah aku bilang, suatu saat nanti aku pasti bisa mengalahkanmu! ternyata benar kan apa yang aku katakan dulu! hahahahahahaha..."
"Aku... aku tidak suka kalah... hiks... MAMAAAAA!!!" Hayate terkejut bukan main karena Kyoko menjerit secara tiba-tiba, untung saja kedua orang tua Kyoko sudah pergi bekerja, karena kalau tidak, mungkin Hayate akan di marahi oleh mereka berdua. "Heyyyy, sudah-sudah. jangan menangis seperti ini. kita coba untuk main lagi, ya? akan ku pastikan kau yang akan menjadi pemenangnya."
Kyoko mengusap air mata dengan kedua tangannya lalu mengangguk pelan. "Jika kau menang lagi, kita harus main lagi sampai aku yang menjadi pemenangnya." Hayate tersenyum lebar, ia mengangguk semangat tanda mengiyakan ucapan Kyoko. "Mungkin lebih baik seperti ini dibandingkan Kyoko menangis lagi seperti tadi." Batin Hayate berbicara. setelah itu mereka berdua kembali melanjutkan game yang mereka mainkan hingga Kyoko berhasil memenangkan game tersebut.
Ia melompat kegirangan bersama dengan Hayate yang juga ikut merasa senang karena Kyoko sudah tidak merasa sedih lagi.
-Flashback Off-
Hayate masih terus mengusap puncak kepala Kyoko, tangis Kyoko pun perlahan-lahan mulai mereda. ia masih terdiam di dalam peluk hangat Hayate. ia dapat mengingat dengan jelas kalau dulu Hayate sering sekali memeluk tubuh Kyoko saat Kyoko merasa sedih atau tengah menangis seorang diri. sejak dulu mereka berdua memang selalu berteman baik, Hayate selalu berada di samping Kyoko di saat Kyoko membutuhkan dirinya.
__ADS_1
Meskipun saat mereka berdua sudah beranjak remaja dan mereka tidak lagi sedekat dulu, kehangatan itu masih juga tidak berubah di dalam diri Hayate. hanya Hayate lah yang dapat mengerti bagaimana sifat Kyoko yang sebenarnya.
"Kau tidak perlu menangis seperti ini lagi, di tambah kau menangis hanya untuk seorang pria yang sama sekali tidak pernah melirik ke arahmu." Kyoko menggenggam erat seragam yang dikenakan oleh Hayate bahkan Hayate dapat merasakan genggaman itu. "Aku... aku sangat menyayanginya, meskipun ia tidak mengetahui kasih sayangku kepadanya, entah kenapa aku masih ingin terus berusaha agar ia bisa merasakan kasih sayangku itu." Hayate menganggukkan kepalanya pelan tanda mengerti.
"Aku tau, kau memang selalu saja keras kepala. huh... mau bagaimana lagi... aku bahkan tidak bisa menghentikan keinginanmu itu."
Kyoko melepas peluknya pada tubuh Hayate perlahan-lahan, ia menatap wajah Hayate yang tengah menatapnya dengan tatapan teduh.
"Baiklah, aku akan berusaha sekali lagi. jika dia memang tidak bisa membalas perasaanku padanya, aku akan berusaha untuk mengikhlaskannya bersama dengan yang lain." Hayate tersenyum mendengar keputusan Kyoko. "Baiklah jika itu keputusanmu, kau harus terus berusaha dengan caramu sendiri, jangan gunakan cara yang licik hanya untuk mendapatkan apa yang kau inginkan." Kyoko mengerucutkan bibirnya karena mendengar ucapan Hayate seperti seakan-akan tengah menyudutkan dirinya.
"Iya, iya. aku akan berusaha dengan caraku sendiri." Hayate meletakkan sebelah tangannya di atas bahu Kyoko sambil tersenyum hangat hingga matanya sedikit menyipit. "Yasudah, aku harus segera ke kelas sekarang. sampai nanti." Hayate melangkah pergi meninggalkan Kyoko.
Kyoko membalikkan tubuhnya menatap punggung Hayate yang sudah sedikit menjauhinya. "Hayate!" Panggil Kyoko dengan nada suara yang terdengar cukup keras. Hayate menoleh ke arah Kyoko dan melihat Kyoko tengah tersenyum kepadanya. "Terima kasih." Hayate tersentak sedikit dengan apa yang dilihatnya sekarang ini.
Senyum itu, dan ucapan terima kasih yang lolos dari bibir Kyoko. rasanya sudah cukup lama bagi Hayate tidak mendapatkan senyum dan juga ucapan terima kasih seperti tadi. hal itu terakhir kali ia rasakan saat Kyoko tersesat di jalan dan di temukan oleh Hayate saat mereka masih duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar.
"Rasanya sangat lucu jika mengingat tentang persahabatan kita dulu, ya?" Batin Hayate berbicara. Hayate hanya menjawab ucapan terima kasih Kyoko dengan senyum hangatnya lalu kembali pergi menuju kelas sebelum bel masuk berbunyi.
__ADS_1