Lord Of Athlanda

Lord Of Athlanda
stay away from him


__ADS_3

Kondisi Lardo berangsur-angsur membaik, ia bahkan sudah bisa mendudukkan tubuhnya walau masih terasa cukup lemas. dari siang tadi Shenna selalu menemani Lardo, ia bahkan menyuapi Lardo ketika makan dan menjaga Lardo saat tertidur.


Shenna merasa sangat sedih melihat Lardo dalam kondisi seperti ini, ia berdoa kepada Tuhan agar tidak ada lagi hal yang jahat yang dapat membahayakan kondisi Lardo.


Bagaimana pun juga Shenna harus berbicara pada ayahnya untuk tidak menyakiti Lardo lagi dan membiarkan Shenna bersahabat dengan Lardo tanpa memandang bagaimana kondisi keluarganya.


Ia hanya ingin memiliki satu hubungan yang sehat tanpa harus membedakan si kaya dan si miskin.


"Shenna sayang."


Shenna menolehkan kepalanya mengarah ke sosok yang baru saja memasuki ruangan Lardo. itu adalah Rossa. Rossa tersenyum tipis dan menghampiri Shenna yang saat itu tengah terduduk disamping Lardo.


"Sudah malam, sayang. sebaiknya kau pulang. Bibi takut jika orang tuamu khawatir nanti." Shenna menundukkan kepalanya saat mendengar ucapan Rossa.


Sebenarnya ia sangat takut untuk kembali ke rumah, ia takut jika saat dia kembali ke rumah, Tuan Vans akan mengurungnya lagi di dalam gudang. Shenna takut Tuan Vans akan menyakiti dirinya lagi karena sudah pergi ke luar rumah tanpa izin darinya.


Tapi berada di sini pun juga tidak baik. Shenna tidak ingin merepotkan kedua orang tua Lardo nantinya. maka alangkah baiknya dia pulang saja ke rumah.


"Baiklah, bibi. aku akan kembali menjenguk Lardo di waktu senggang nanti."


Rossa langsung menggelengkan kepalanya cepat, "Tidak... itu tidak perlu. besok Lardo sudah bisa kembali ke rumah." ucap Rossa yang membuat Shenna mengerutkan dahinya bingung. "Bukankah kondisi Lardo belum sepenuhnya pulih?" Tanya Shenna yang membuat Rossa menghembuskan nafasnya berat.


"Maafkan paman dan juga bibi, Shenna. kami dengan sangat terpaksa harus membawa Lardo pulang dan merawatnya di rumah karena kami tidak mampu membayar biaya pengobatan di rumah sakit." Shenna merasa hatinya terenyuh mendengar jawaban yang di berikan oleh Rossa.


Benar, untuk biaya makan sehari-hari saja mereka sangat kesulitan. Apalagi jika untuk membayar semua biaya pengobatan rumah sakit. Hal ini pasti akan sangat membebani mereka berdua.

__ADS_1


"Sekarang cepat pulang, jika kau ingin menjenguk Lardo, kau bisa berkunjung ke rumah kami." Shenna mengangguk pelan sambil menarik senyum tipis.


"Baiklah, bibi. sekarang aku pulang dulu ya." Shenna membungkukkan tubuhnya lalu melangkah pergi keluar dari ruangan Lardo. Ia merasa sangat bersalah atas apa yang telah ayahnya lakukan kepada Lardo sehingga memposisikan Lardo serta keluarganya ke dalam situasi yang sulit ini.


Shenna berfikir seandainya ia mampu membantu keluarga Lardo, pasti semua akan terasa lebih mudah untuk di atasi.


Shenna pulang ke rumahnya dengan menaiki taksi, ia tidak tau apa yang akan terjadi nanti jika dirinya sudah sampai di rumah. apakah ayahnya akan menghukum dirinya lebih parah daripada malam kemarin? Shenna bahkan sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi semua ini.


Pintu rumah keluarga Vans terbuka lebar, beberapa pelayan langsung menghampiri Shenna saat Shenna melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


"Nona muda, kau habis pergi kemana seharian ini? mengapa pergi tanpa seizin dari Tuan besar?" Shenna menatap mata pelayan itu dengan tatapan lesuhnya. "Apa ayah sudah mempersiapkan diri untuk menghukumku?" tanya Shenna yang membuat pelayan itu langsung menatap Shenna khawatir.


"Nona muda, Tuan meminta semua anak buahnya untuk mencarimu tapi tidak satupun dari mereka yang dapat menemui keberadaan mu. sebenarnya kau habis darimana?"


Shenna hanya bungkam tanpa ada niat untuk menjawab pertanyaan itu. ia duduk di atas sofa ruang tamu sambil menundukkan kepalanya penuh kekhawatiran. apa yang akan Tuan Vans lakukan terhadap dirinya? ia pasti akan memarahi Shenna bahkan menghukum Shenna habis-habisan.


"Kau sekarang sudah besar buktinya kau sudah punya nyali untuk melawan ayah." Sambung Tuan Vans. ia melangkah mendekati Shenna dan berjongkok di hadapannya. ia meraih dagu putri kecilnya dan menatap wajah Shenna dengan tatapan meneliti.


"Apa kau pergi menemui pengemis itu lagi?" tanya Tuan Vans dengan nada suara yang terdengar sangat pelan. Namun Shenna masih bungkam dan tidak menjawab pertanyaan itu.


Beberapa menit Tuan Vans menunggu jawaban dari Shenna namun tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.


"JAWAB PERTANYAAN AYAH SEKARANG!" Bentak Tuan Vans yang membuat Shenna langsung terkejut dan menatap Tuan Vans lekat. "Jika benar aku pergi menemui pria itu, apa yang akan ayah lakukan?"


Tuan Vans melepaskan dagu Shenna lalu bangkit berdiri dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya. "Kau ternyata tidak lain adalah bocah kecil berkepala batu." Shenna berdecih mendengar ucapan Tuan Vans sambil memutar bola matanya malas.

__ADS_1


"Bukankah ayah sudah memperingatkanmu untuk menjauhi pengemis itu?"


Shenna tidak menggubris ucapan Tuan Vans, ia malah melipat kedua tangannya di depan dada hingga membuat Tuan Vans tidak mampu meredam amarahnya.


Ia kembali berjongkok di hadapan Shenna dan menatap wajah putrinya itu sambil tersenyum miring.


"Nona Muda, apa kau ingin sesuatu hal terjadi pada keluarga pengemis itu? apa kau ingin melihat ayah membuat keluarga pengemis itu hidup menderita? Jika keluarga pengemis itu menderita, semua karena salahmu. kau yang menentang ayah dan membuat ayah terpaksa melakukan hal itu." Ancam Tuan Vans yang membuat wajah Shenna langsung datar seketika.


"CUKUP! Kau telah menghancurkan kebahagiaan putrimu dan kau berani menghancurkan kebahagiaan orang lain? Tuan besar keluarga Vans, nampaknya hidupmu sangat menyedihkan sehingga kau hanya bisa membuat orang lain hidup dengan sengsara." Tuan Vans menggepalkan tangannya kuat-kuat ketika mendengar putrinya sendiri berani menjelek-jelekkan dirinya.


"Nampaknya kau belum juga jera."


PLAK!


Suara tamparan itu terdengar sangat nyaring hingga menggema ke setiap sudut ruang tamu. Shenna langsung terjatuh dari sofa saat mendapat tamparan cukup keras yang mendarat di pipinya. Lagi dan lagi, Tuan Vans kembali menyakiti dirinya.


Shenna dapat merasakan ada darah segar yang mengalir dari sudut bibirnya akibat tamparan tadi. Namun hal itu tidak membuat Tuan Vans merasa iba karena sudah menyakiti putri satu-satunya.


"Aku sudah bilang, jika kau ingin membunuhku, bunuh saja aku sekarang juga. aku tau kau tidak lagi membutuhkanku disini. kau hanya membutuhkan uang dan juga harta milikmu selama kau hidup."


"Benarkah?" Tuan Vans langsung menarik dagu Shenna dan menatap wajahnya dengan sangat lekat. Shenna langsung memandang Tuan Vans dengan tatapan penuh dengan amarah dan juga kebencian. ayah yang ia sayangi kini sudah berubah menjadi sosok yang sangat ia benci.


"Jika kau terus menentang semua ucapanku, aku akan membunuhmu secara perlahan-lahan dan membiarkanmu hidup penuh dengan siksaan." Ancam Tuan Vans membuat Shenna terkekeh pelan.


"Kau bahkan sudah menyiksaku sejak aku masih kecil. kesepian yang membekas, hidup tanpa kasih sayang dari orang tua, tuntutan dan juga larangan yang kau berikan. Kau sudah cukup menyiksaku selama ini, Tuan Vans yang terhormat."

__ADS_1


Tidak terlihat ada sedikit ketakutan di dalam diri Shenna saat berusaha melawan semua ucapan Tuan Vans. ia dengan sangat berani menjawab semua ucapan itu.


"Ingatlah bahwa kau hanya memiliki aku di dalam hidupmu, jika kau sudah Tua nanti, kau pikir siapa yang akan merawat dirimu? jika kau terus memperlakukan aku seperti ini, saat kau tua nanti aku tak akan segan-segan membuangmu ke panti dan tak akan pernah menjengukmu sampai kapan pun. Ingatlah bahwa harta dan tahta yang kau miliki sekarang hanyalah titipan sesaat, kau hanya perlu menunggu beberapa tahun lagi. Lihat apa yang akan terjadi dengan dirimu nanti." Setelah mengucapkan itu semua, Shenna langsung berdiri dan pergi menuju kamarnya tanpa memperdulikan Tuan Vans yang terdiam di tempat saat mendengar apa yang sudah putrinya ucapkan.


__ADS_2