
Beberapa minggu kemudian Shenna dan juga Lardo telah selesai mengikuti ujian kenaikkan kelas yang dilaksanakan selama seminggu penuh. Shenna merasa sangat lega karena akhirnya ia tidak perlu khawatir lagi akan ujian kenaikkan kelas itu.
Sekarang mereka hanya perlu menunggu waktu pembagian hasil ujian kenaikkan kelas, Shenna dan juga Lardo tidak menyangka bahwa mereka akan segera menjadi siswa siswi kelas 3.
"Bagaimana perasaanmu? Ujiannya tidak terlalu sulit kan seperti apa yang aku bilang waktu itu." Tanya Lardo yang tengah bersandar di dinding depan kelas dengan kedua tangan yang ia lipat di depan dada sambil mengarahkan pandangannya ke arah Shenna.
"Apa yang kau katakan? apa menurutmu itu tidak terlalu sulit? dasar bodoh. itu sangat sulit untukku." Jawab Shenna cemberut.
Lardo terkekeh mendengar jawaban yang di lontarkan oleh Shenna lalu mengarahkan sebelah tangannya ke puncak kepala Shenna setelah itu ia mengusapnya dengan sangat lembut.
"Tidak masalah, kau sudah berusaha keras untuk ujian kenaikkan kelas ini. Hasilnya nanti pasti akan sangat memuaskan." Shenna pun mengharapkan hal yang sama, karena jika hasil ujian kenaikkan kelasnya jelek, maka ia akan sangat di marahi oleh Tuan Vans.
"Bagaimana jika kita taruhan?"
Ajakan Shenna membuat Lardo tertegun lalu ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. "Taruhan apa?"
"Diantara kita berdua, yang nilainya paling bagus nanti akan di traktir, bagaimana? kau setuju kan?" Lardo menarik senyum tipis lalu menganggukkan kepalanya setuju.
"Dan yang nilainya paling rendah harus lebih giat belajar lagi esok hari." Sambung Lardo, Shenna tersenyum lebar karena Lardo menyetujui ajakannya.
Shenna dan juga Lardo berniat untuk pergi ke kantin sekolah karena Lardo sudah merasa sangat lapar. Akhirnya mereka berdua pergi ke kantin meskipun sepanjang perjalanan, mereka berdua terus saja bertengkar karena tingkah Lardo yang terus menerus mengusili Shenna.
Lardo memang sangat suka mengusili Shenna hingga membuat Shenna terkadang merasa sangat geram karena tingkah usilnya itu. "Aku tidak ingin onigiri, aku ingin makan ramen." Ucap Shenna sementara Lardo hanya terdiam tidak membalas ucapannya.
"Setelah makan siang nanti kita pulang."
"Iya, baiklah." Jawab Shenna.
Lardo telah usai memesan makanan dan menunggu pesanan mereka berdua di tempat duduk yang sudah disediakan. Shenna terlihat sedikit melamun sehingga membuat Lardo terus melirik ke arahnya dengan tatapan sinis nya.
"Kau sedang memikirkan apa?"
Shenna langsung terdiam dan menoleh ke arah Lardo lalu menggelengkan kepalanya cepat, "Tidak... aku tidak sedang memikirkan apa-apa." Jawab Shenna kembali memalingkan wajahnya dari Lardo.
Secara tiba-tiba Lardo menarik wajah Shenna agar menatap ke arahnya sehingga membuat Shenna terkejut bukan main. "Bodoh! apa yang kau lakukan?!" Lardo menarik senyum tipis saat melihat ekspresi terkejut Shenna saat itu.
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Aku tidak memikirkan apa-apa, kenapa kau sangat memaksa? astaga!" Lardo langsung melepaskan kedua tangannya dari wajah Shenna sambil terkekeh pelan.
"Kau terlihat sangat menggemaskan saat sedang kesal seperti tadi." Shenna mengerucutkan bibirnya kesal karena tingkah Lardo yang semakin hari semakin menyebalkan.
Makanan pesanan mereka akhirnya datang, Lardo dengan sangat bersemangat langsung menyantap makanan itu tanpa basa basi karena ia sudah merasa sangat lapar. "Onigiri ini memang sangat lezat, apa kau ingin mencicipinya?" Shenna menggelengkan kepala saat mendapat tawaran dari Lardo.
__ADS_1
Sementara Lardo hanya menganggukkan kepala lalu kembali menikmati makanan miliknya. "Kau terlihat sangat tidak bersemangat hari ini? Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Lardo penasaran.
Lardo mengikuti arah pandangan mata Shenna yang terus tertuju ke arah seorang siswi. siswi itu tengah duduk sendirian sambil menikmati makan siangnya. "Siapa dia?" Tanya Lardo sekali lagi.
"Itu... dia Sakura. siswi yang kemarin aku ceritakan padamu, dia sering di tindas oleh teman-teman sekelasnya." jawab Shenna yang membuat Lardo mengangguk paham.
Lardo bangkit dari duduknya dengan tangan kiri membawa makanan miliknya dan tangan kanan menarik tangan Shenna untuk segera bangun. Shenna menaikkan sebelah alisnya bingung, "Kau ingin kemana?"
"Kita pindah ke tempat perempuan itu." Shenna tertegun tetapi ia hanya bisa mengikuti ucapan Lardo. Mereka berdua akhirnya pindah dan memutuskan untuk duduk bersama dengan seorang siswi yang bernama Sakura itu.
Sakura awalnya merasa sangat terkejut dengan kedatangan mereka berdua, namun saat ia melihat wajah Shenna, ia merasa bahwa ia mengenal siapa perempuan ini. perempuan yang pernah menemuinya di dalam kelas dan mengajak Sakura bermain bersama dengannya.
"Ada apa? kenapa kalian kesini?"
"Menemanimu, apalagi?" Jawab Lardo yang sempat membuat Shenna terdiam cukup lama. "Tidak perlu, kembali saja ke tempat awal kalian. aku tidak ingin di temani siapa pun." Tolak Sakura yang membuat Lardo menghembuskan nafasnya sambil menatap lekat ke arah Sakura.
"Sudah jelas aku melihat kau merasa sangat kesepian dari matamu, kenapa masih saja jual mahal seperti itu sampai bilang kau tidak butuh ditemani oleh siapa pun?" Entah kenapa Shenna merasa cemburu melihat kebaikkan Lardo terbagi pada orang lain. Tapi ia berusaha untuk menutupi kecemburuannya dengan menikmati makanan miliknya.
"Pergilah."
"Tidak perlu seperti itu, aku pun sama sepertimu. Aku dulu sering ditindas oleh teman sekelasku, tapi akhirnya Shenna bersedia untuk menemaniku hingga aku tidak merasa sendirian lagi sekarang." Ucapan Lardo sukses membuat Sakura terdiam.
"Tidak semua murid di sekolah ini bersikap seenaknya pada murid yang berasal dari keluarga tidak berkecukupan, kau jangan khawatir karena kita berdua tidak seperti mereka." Jelas Lardo berusaha meyakinkan.
"Apa aku harus percaya padamu?"
"Tidak perlu! maksudku... kalian disini saja." Shenna langsung menoleh ke arah Sakura yang nampaknya mencoba untuk menahan Lardo agar tetap berada di dekatnya. Shenna saat itu sangat tidak mengerti dengan perasaannya, mengapa ia merasa cemburu saat melihat Lardo berinteraksi dengan perempuan lain di hadapannya?
"Lardo, aku ingin beli minum sebentar." Ucap Shenna yang langsung membuat Lardo mengalihkan pandangannya ke arah Shenna lalu menganggukkan kepala.
Shenna melihat Lardo dan juga Sakura tengah berbincang-bincang dari kejauhan, ia tidak tau kenapa perasaannya seperti teriris melihat hal ini.
"Ini, Pak. Terima kasih."
Shenna langsung meraih teh lemon hangat miliknya lalu berniat untuk kembali ke tempat duduk mereka. Namun secara tiba-tiba ia merasa kepalanya sangat pusing dan pandangannya berkunang-kunang.
Shenna berusaha untuk mengedipkan matanya berkali-kali agar pandangannya kembali normal namun tetap saja. Kepalanya terasa semakin pusing hingga ia tidak dapat menahannya lagi setelah itu ia tidak sadarkan diri.
Lardo yang melihat Shenna tiba-tiba terhuyung kemudian jatuh tidak sadarkan diri langsung berlari menghampirinya. Ia terus menepuk pipi Shenna berharap Shenna kembali sadar namun nikhil, Shenna tetap tidak sadarkan diri.
Lardo langsung mengangkat tubuh Shenna dan menggendongnya menuju uks. Lardo melihat ada sedikit darah yang mengalir dari lubang hidung Shenna. hal ini membuat Lardo merasa sangat khawatir dan juga cemas. Sakura menemani Lardo membawa Shenna menuju uks. Ia membawa 2 pasang sepatu Shenna yang memang sengaja dilepaskan.
Sakura yang melihat bagaimana kekhawatiran Lardo terhadap kondisi Shenna sekarang dapat merasakan bahwa Lardo sangat menyayangi Shenna.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan menuju uks bahkan Lardo tidak berhenti memanggil nama Shenna agar Shenna lekas sadarkan diri. Lardo memberikan minyak hangat yang ia baluri di leher, tengkuk dan juga dahi Shenna agar Shenna segera sadarkan diri.
Ia juga membersihkan sedikit darah yang mengalir dari lubang hidung Shenna dengan air hangat sementara Sakura berusaha untuk mengusap-usap kaki Shenna yang terasa sangat dingin agar tetap merasa hangat.
"Mungkin saja dia kelelahan."
Lardo melirik sekilas ke arah Sakura lalu kembali memfokuskan pandangannya pada Shenna. "Dia memang kurang istirahat karena fokus belajar untuk ujian kenaikkan kelas." jawab Lardo dengan nada suara yang terdengar datar.
"Tidak perlu khawatir, dia pasti akan sadarkan diri sebentar lagi." Ucap Sakura berusaha menenangkan perasaan Lardo agar tidak lagi merasa cemas dan juga khawatir.
Lardo menggenggam tangan Shenna erat sambil duduk di sebelahnya. Ia terus mengusap-usap puncak kepala Shenna dan berharap Shenna segera sadarkan diri.
"Cepatlah sadar, kau membuatku khawatir."
Sakura merasa Lardo bersikap sangat hangat kepada Shenna. Caranya mengkhawatirkan dan juga mencemaskan Shenna sudah memberikan jawaban bahwa Lardo memiliki perasaan terhadap Shenna.
Shenna mengerjapkan matanya perlahan-lahan lalu melihat Lardo tengah duduk di sampingnya sambil terus memandang ke arahnya. Ia merasa kepalanya sangat pusing dan tubuhnya terasa lemas.
"Kau sudah sadar, syukurlah." ucap Lardo tersenyum lebar, Sakura pun ikut lega saat Shenna sudah mulai sadarkan diri.
"Apa yang terjadi denganku?"
Lardo mengusap lembut kepala Shenna lalu menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak ada apa-apa, kau hanya kelelahan."
Shenna mengedarkan pandangannya ke setiap sudut uks dan melihat Sakura juga berada disana bersama mereka berdua. "Sakura, terima kasih sudah menemani Lardo disini." Sakura tertegun mendengar ucapan Shenna lalu ia menarik senyum kecil.
"Tidak masalah, bagaimana kondisimu sekarang?" Shenna berusaha untuk mendudukkan tubuhnya di bantu oleh Lardo lalu tersenyum lembut ke arah Sakura. "Sedikit membaik, hanya saja masih terasa lemas dan juga pusing."
Sakura bangun dari duduknya sehingga membuat Lardo dan juga Shenna menatap ke arahnya, "Aku akan memanggil penjaga uks dan meminta obat yang cocok untukmu. setelah itu akan ku buatkan teh hangat agar kondisimu semakin membaik."
Shenna terdiam melihat kebaikan Sakura setelah itu Sakura pun pergi meninggalkan uks untuk mencari penjaga uks yang entah berada dimana. Shenna menundukkan kepalanya terdiam sehingga membuat Lardo menatap ke arahnya.
"Ada apa?"
Shenna melirik ke arah Lardo lalu menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak... tidak ada apa-apa." Ucap Shenna.
Lardo meraih kedua tangan Shenna dan menggenggamnya erat, "Kau pasti sangat kelelahan sehingga tidak sadarkan diri tadi. setelah ini kau harus istirahat yang cukup dan juga makan yang teratur."
Shenna terdiam tanpa membalas ucapan Lardo. Lardo bingung apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh Shenna. "Hei, ada apa?" Tanya Lardo yang membuat Shenna menatap lekat ke arahnya.
"Lardo..."
"Kenapa?" Shenna tidak tau apa dia perlu mengatakan ini atau tidak, hanya saja dia merasa bahwa Lardo sekarang harus mengetahuinya. entah bagaimana reaksi Lardo nanti, yang terpenting Shenna sudah mengatakan perihal perasaannya pada Lardo.
"I don't wanna see you with another."
__ADS_1
"Because?"
"Because... i love you."