
Sudah 3 hari mereka tinggal di sebuah rumah yang sekarang sudah menjadi milik keluarga Dimitri. mereka sudah tidak lagi tinggal di sebuah gubuk kecil yang dapat di terjang oleh angin kencang saat hujan.
Lili merasa sangat senang karena ia memiliki kamar sendiri yang akan ia tempati nanti. sementara Lardo, masih tidak ada senyum yang terukir dari bibir manisnya. hal ini sempat membuat Rossa dan juga Derry merasa sangat sedih.
Saat waktu sarapan, Lardo pun tidak kunjung keluar dari kamarnya untuk ikut sarapan bersama. alhasil Rossa memutuskan untuk mengantarkan sarapan itu ke kamar Lardo.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan dari luar kamarnya membuat Lardo bangun dari tidurnya dan membukakan pintu. terlihat sosok ibunya tengah berdiri di luar pintu sambil membawa sebuah nampan yang berisikan semangkuk sereal dan juga segelas susu.
"Selamat pagi, sayang. kau tidak turun untuk sarapan jadi ibu memutuskan untuk mengantarkannya ke kamarmu." Lardo tersenyum tipis lalu mengambil nampan berisikan sarapan untuknya. "Terima kasih." jawab Lardo singkat.
Lardo meletakkan sarapan miliknya di atas kasur lalu menyantap sarapan yang sudah di bawakan Rossa untuknya. Rossa pun ikut masuk ke dalam kamar Lardo dan duduk di atas kasur bersama dengan putranya.
"Besok kau akan pergi ke sekolah, apa kau merasa senang?" tanya Rossa sambil memandang Lardo dengan tatapan hangat. Lardo hanya mengangguk pelan sambil terus menyantap sarapan miliknya. "Ibu harap kau memiliki teman yang sangat baik terhadap dirimu nanti." Ucap Rossa tersenyum sumringah.
"Semoga."
Rossa merasa bahwa Lardo masih tidak seperti biasanya. dia menjadi sangat dingin terhadap dirinya dan juga Derry, berbicara dengan mereka pun hanya seperlunya saja. "Apa Lardo marah dengan ibu?" Tanya Rossa berusaha memberanikan diri.
Seketika Lardo menghentikan aktivitas makannya saat mendengar pertanyaan itu lalu menatap ke arah ibunya dengan tatapan yang sangat datar. "Tidak, lagipula kenapa harus marah? apa ibu melakukan suatu kesalahan?"
Rossa tertegun mendengar jawaban yang diberikan oleh Lardo. "Ibu hanya merasa kau bersikap tidak seperti biasanya akhir-akhir ini, kau jarang berbicara dengan ibu dan juga ayah. maka dari itu ibu berfikir bahwa kau marah terhadap kami berdua."
Lardo terkekeh pelan lalu meraih segelas susu sebelum meneguknya hingga tersisa setengah gelas. "Aku tidak marah, jadi ibu tidak perlu memikirkan hal itu." Rossa merasa sedikit lega jika memang Lardo tidak marah terhadap dirinya dan juga Derry.
"Jika memang ada hal yang tidak sengaja ibu atau ayah lakukan sehingga membuatmu merasa kesal, kau berhak mengatakannya." Lardo menganggukkan kepala paham.
Memang ada, tapi Lardo tidak berfikir bahwa hal itu harus dikatakan sekarang. setelah berbicara sebentar dengan Lardo, Rossa melangkahkan kaki keluar dari kamarnya. Lardo hanya bisa terdiam sambil menatap segelas susu dan juga semangkuk sereal yang berada di hadapannya sekarang.
"Aku hanya ingin tau, apa yang sebenarnya kalian sembunyikan dariku." ucap Lardo pelan.
...
Pagi itu, Shenna hanya mengurung diri di dalam kamar tanpa ada niat untuk keluar. ia sedang meringkuk di atas tempat tidur sambil memandang ke arah luar jendela dengan tatapan lesuh. kantung matanya yang sedikit menghitam karena jam tidurnya berantakan akhir-akhir ini, dan juga badan yang semakin mengecil membuat kondisinya terlihat sangat menyedihkan.
Selama ini Tuan Vans sama sekali tidak menemui dirinya, meskipun mereka tinggal di rumah yang sama, Tuan Vans seakan-akan menganggap Shenna tidak ada. hanya ada pelayan yang selalu datang ke kamar Shenna untuk memberikan Shenna makan, tetapi Shenna selalu saja menolaknya.
__ADS_1
"Nona, jika Nona terus menerus seperti ini, kita semua pasti akan di marahi oleh Tuan besar." ucap salah satu pelayan yang tengah berusaha untuk membujuk Shenna agar Shenna mau makan sedikit.
"Peduli apa?"
Semenjak Lardo pergi meninggalkannya, Shenna selalu mengurung dirinya di dalam kamar, menangis sendirian, dan juga menolak untuk makan serta minum vitamin. ia benar-benar tidak memperhatikan dirinya lagi.
"Nona tau bagaimana sifat Tuan besar, kan? Tuan pasti akan sangat marah jika tau Nona selalu menolak untuk makan seperti sekarang." Shenna berdecih pelan saat mendengar ucapan pelayan itu barusan. sudah berhari-hari Shenna menolak untuk makan, tetapi Tuan Vans tetap saja tidak kunjung menemui dirinya. jangankan untuk membujuk, melihat kondisi putrinya saja tidak sama sekali.
Selama ini hanya ada Lardo yang selalu memperhatikan Shenna, tapi sekarang Lardo tidak lagi berada di sisinya.
Shenna meraih sebuah bingkai foto yang berada di sebuah laci kecil, lalu menatap foto itu dengan tatapan sedihnya. air mata seketika menggenang di pelupuk matanya.
Itu adalah foto dirinya bersama dengan Lardo setelah ujian kenaikkan kelas berakhir. ia benar-benar merindukan sosok Lardo sekarang.
Ia mengusap bingkai foto itu lalu memeluknya dengan sangat erat. "Aku merindukanmu, bodoh." Ucap Shenna dengan bibir yang bergetar berusaha menahan tangis. belum lama ini Sakura memberikan surat yang di titipkan Lardo padanya untuk diberikan kepada Shenna. tapi Shenna merasa tidak sanggup untuk membuka surat itu sehingga ia hanya menyimpannya di dalam laci nakas.
"Kau jahat meninggalkan aku sendirian disini, kenapa kau tidak mengajakku agar ikut bersama denganmu?" Shenna ingin sekali berteriak sekarang. hatinya sangat sakit, ia sangat merindukan Lardo.
"Sebentar lagi libur usai, kita sudah menjadi murid kelas 3. kau akan sekelas denganku lagi kan?" Shenna tak kuasa menahan air matanya sehingga air matanya ia biarkan terjatuh membasahi pipi mulusnya itu.
...
Keesokkan harinya adalah tahun ajaran baru. Lardo pergi ke sekolah barunya begitu juga dengan Shenna yang pergi ke sekolahnya tanpa Lardo. biasanya mereka akan berangkat ke sekolah bersama-sama tetapi berbeda dengan sekarang ini.
Lardo melangkah masuk ke area sekolah barunya dengan pandangan yang terus mengamati suasana sekolah itu. ia menundukkan kepalanya dengan tatapan datar lalu meremas ujung seragamnya. "Selamat tahun ajaran baru, Shen." batin Lardo berbicara.
Lardo pergi menuju papan pengumuman untuk melihat kelas mana yang akan ia tempati. ternyata ia akan ditempatkan di kelas 3B. Lardo pun segera pergi menuju kelas itu tanpa berfikir panjang.
Brak!
Tiba-tiba seseorang menabrak dirinya dari arah kanan, sehingga beberapa buku bacaan yang di bawa olehnya terjatuh ke lantai. Lardo pun sedikit terkejut lalu membantu siswa itu untuk membereskan buku bacaan miliknya.
"Maaf, aku tidak sengaja. buku-buku ini menghalangi pandanganku." ucap siswa itu dengan nada suara yang terdengar sedikit gugup. "Bukan masalah, biar aku bantu." jawab Lardo ramah.
Ia menabrak seorang siswa laki-laki yang tidak lain adalah ketua osis sekolah itu. "Maaf sudah merepotkanmu." Lardo hanya tersenyum tipis tanpa menjawab ucapannya.
__ADS_1
"KETUAAA!!!"
Tiba-tiba terdengar suara panggilan dari arah kiri koridor yang memperlihatkan seorang perempuan tengah berlari ke arah Lardo dan juga siswa laki-laki itu. Lardo pun tertegun dan menatap ke arah siswa laki-laki yang tadi bertabrakan dengannya.
"Kau pasti kesulitan dengan buku-buku ini, biar aku bantu." ucap perempuan itu menawarkan bantuan. siswa laki-laki yang bertabrakan dengan Lardo pun tanpa sungkan memberikan beberapa buku bacaan kepada perempuan itu agar di bawa olehnya.
"Kau kemana saja, Leora? aku mencarimu di ruang osis tapi tidak ada." Lardo hanya bisa terdiam sambil menatap ke arah dua siswa yang tengah berbicara di hadapannya.
"Eummm... Anu... Maaf, ketua. aku sedikit kesiangan hari ini." jawab perempuan bernama Leora itu dengan nada suara yang terdengar gugup. "Baiklah, tidak masalah."
"Kau tidak perlu repot-repot membantu, dia yang akan mengurus buku-buku ini bersamaku. kau bisa langsung ke kelas karena sebentar lagi bel berbunyi, sekali lagi maaf karena tidak sengaja menabrakmu tadi." ucap siswa laki-laki itu beralih kepada Lardo.
"Tidak masalah."
Lardo langsung melanjutkan langkahnya menuju kelas. meninggalkan laki-laki itu bersama dengan perempuan yang ia sebut Leora.
Setelah mencari kesana kemari, akhirnya ia menemukan kelas yang akan di tempati olehnya. ia melangkah masuk ke dalam kelas itu dan seketika pandangan semua murid yang berada di dalam kelas terarah kepadanya.
"Bukankah dia anak baru yang berasal dari Athlanda? dia tampan sekali benarkan?" "Dia terlihat sangat tampan dan juga berkharisma." "Aaa... aku akan menjadikannya kekasihku." bisik seluruh siswa perempuan yang berada di kelas itu.
Lardo memutuskan untuk duduk di sebuah bangku kosong yang posisinya terletak di tengah. ia mengeluarkan sebuah buku dari tasnya dan membaca buku itu dengan tatapan serius. tiba-tiba seorang siswi menghampirinya lalu memutuskan untuk duduk di kursi yang berada di hadapan Lardo dengan posisi menghadap ke arah Lardo.
"Hei."
Lardo menurunkan buku itu dari pandangannya lalu menatap seorang siswi yang sekarang sudah berada di hadapannya dengan tatapan datar. "Kau murid pindahan yang berasal dari Athlanda itu, kan?"
"Iya, ada apa?"
Nada suara Lardo terdengar sangat dingin bersamaan dengan tatapannya. "Kau benar-benar sangat tampan dan mengesankan, ini adalah kesan pertama ku saat pertama kali bertemu denganmu."
Lardo terdiam lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah buku bacaan miliknya tanpa menjawab ucapan siswi itu. sikapnya yang sangat dingin membuat siswi itu tersenyum lebar.
"Dia terlihat sangat dingin dan juga kaku."
"benar sekali, dia bahkan mengabaikan Tamara yang sedang memuji dirinya."
Lardo sama sekali tidak memperdulikan semua ucapan siswi yang tengah membicarakannya dan hanya memfokuskan dirinya pada sebuah buku bacaan yang tengah ia baca.
__ADS_1
"Lelaki ini sangat menarik." batin seorang siswi yang bernama Tamara itu.