Lord Of Athlanda

Lord Of Athlanda
memories of you


__ADS_3

Lardo, Rossa, Derry dan juga Lili telah berada di dalam kereta yang akan membawa mereka pergi ke Preston. menurut jadwal pemberangkatan, kereta yang mereka tumpangi akan berangkat 17 menit lagi.


Lardo terlihat sangat muram saat berada di dalam kereta, dia terus saja menatap ke arah luar jendela, melihat banyak orang yang berlalu lalang sambil sesekali menarik nafas berat.


Rossa menyadari bahwa Lardo masih tidak kuasa pergi meninggalkan Athlanda, tidak hanya Athlanda, tetapi juga Shenna yang tak lain adalah sahabat karibnya. tapi Rossa sudah mengikat janji pada Tuan Vans bahwa dia harus membawa keluarganya pergi dari Athlanda.


Rossa mengarahkan sebelah tangannya ke arah puncak kepala Lardo lalu mengusapnya dengan sangat lembut. "Kau merasa sangat sedih, pasti berat untuk meninggalkan kota ini, benar kan?" tanya Rossa yang membuat Lardo menoleh sekilas ke arah Rossa lalu mengalihkan pandangannya lagi.


"Kenapa kita harus pergi?"


Hanya pertanyaan itu yang terus terputar di dalam pikiran Lardo. sudah bertahun-tahun ia dan juga keluarganya tinggal di Athlanda bahkan sejak dirinya masih sangat kecil, tetapi secara tiba-tiba ibunya mengambil keputusan untuk membawa mereka pergi dari Athlanda.


"Kau harus mengerti bahwa semua keputusan yang ibu ambil adalah demi kebaikan keluarga kita."


Lardo menopang dagunya dengan wajah murung sambil terus menatap keluar jendela. "Jika memang itu demi kebaikan keluarga kita, mungkin kita sudah meninggalkan Athlanda sejak dulu." simpul Lardo yang membuat Rossa terperangah.


Rossa mengerjapkan matanya berkali-kali lalu menghela nafas pelan. "Ibu akan duduk bersama dengan Lili di kursi depan, ayah akan menemanimu disini." tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Lardo sampai Rossa melangkah pergi menuju kursi depan dan duduk disana bersama dengan Lili.


Lardo merasa sangat muak dengan kondisi seperti sekarang. tingkah laku ibunya menjadi sangat mencurigakan, seakan ada sesuatu yang tengah ia sembunyikan.


Lardo terus memandang ke arah luar jendela lalu ia melihat sepasang remaja tengah berjalan bersama sambil bercanda tawa setelah turun dari kereta yang mereka tumpangi. lagi dan lagi, Lardo menghembuskan nafasnya berat.



15 menit kemudian kereta melaju menuju Preston, Lardo sekarang benar-benar pergi. di dalam kereta itu ia hanya bisa bungkam seribu bahasa.


"Aku tidak pernah menginginkan ini semua, aku tidak pernah berkeinginan untuk meninggalkan Shenna, tapi mengapa ini semua harus terjadi?" batin Lardo berbicara.


Derry menenggak sebotol air putih yang tengah berada di genggamannya sekarang. lalu mengarahkan botol itu kepada Lardo. "Ini, kau pasti haus. minumlah." Lardo tertegun saat melihat Derry yang menawarkannya sebotol air. ia hanya tersenyum tipis sambi menggelengkan kepala pelan.


"Terima kasih, ayah. tapi aku tidak menginginkannya." setelah mengucapkan itu, Lardo merogoh isi di dalam tasnya dan mengeluarkan sebuah buku bacaan. pandangannya yang sangat dingin terus terfokus pada buku bacaan yang tengah berada di genggamannya sekarang.


"Huh... Ayah tau kau merasakan sesuatu yang berbeda terhadap Shenna. kau menganggapnya lebih dari seorang teman, maka dari itu untuk pergi jauh darinya terasa sangat berat untukmu." ucap Derry sambil terkekeh pelan.


Lardo yang mendengar ucapan ayahnya langsung terdiam dan menatap Derry sambil menyipitkan matanya. "Tidak, apa yang ayah ucapkan sama sekali tidak benar."

__ADS_1


"Oh, begitukah... Tapi ayah melihat kalau perhatianmu terhadap Shenna cukup besar, kau tidak pernah bertingkah laku seperti itu sebelumnya, tapi setelah mengenal Shenna, kau terlihat sangat terbuka padanya." Lardo hanya terdiam, dia sama sekali tidak tau harus mengatakan apa.


"Aku... Aku hanya menganggap Shenna sebagai sahabatku, tidak lebih dari itu." Jawab Lardo tetap menyangkal.


"Meskipun kau berkata seperti itu, tapi yang namanya perasaan memang tidak mudah untuk di bohongi." Lardo menutup buku yang berada di genggamannya lalu menundukkan kepala.


"Dia terlahir dalam keluarga yang tidak terlalu memperhatikan dirinya, aku hanya tidak ingin dia kekurangan kasih sayang dan kekurangan perhatian. bagaimana pun juga, dia bersikap sangat baik terhadap diriku. jadi tidak ada salahnya untuk melakukan hal yang sama." mendengar penjelasan yang Lardo berikan hanya membuat Derry tersenyum tipis sambil menganggukkan kepala paham.


"Tapi ayah melihat sesuatu yang berbeda di antara kalian berdua."


Lardo memang membenarkan apa yang di pikirkan oleh Derry, dia memang memiliki perasaan yang lebih terhadap Shenna tapi ia berfikir apakah dirinya pantas untuk mengakui hal itu.


Setelah 2 jam kemudian, kereta mereka telah tiba di pemberhentian terakhir yaitu di stasiun Preston. Lardo, Rossa, Lili dan juga Derry turun dari kereta sambil membawa barang-barang milik mereka.


"Kita akan naik taksi sampai ke rumah." ucap Rossa yang membuat Lardo menoleh ke arahnya. tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Lardo, ia hanya bisa terdiam sambil terus mengikuti langkah kedua orang tuanya dari belakang.


Di perjalanan menuju ke sebuah rumah yang akan mereka tinggali, Lardo terus mengamati suasana di kota itu. terlihat sangat damai dan tentram. baik yang kaya ataupun miskin hidup bersama-sama tanpa memandang status mereka.


"Kau pasti akan merasa lebih baik jika tinggal disini." ucap Rossa sambil mengusap puncak kepala putranya.


"Aku sudah membeli rumah untuk kita tinggali, lingkungannya pun sangat ramah, meskipun rumah yang akan kita tinggali tidak terlalu besar tapi setidaknya itu lebih baik."


Mendengar percakapan kedua orang tuanya membuat Lardo semakin tercengang. ia tidak menduga bahwa Rossa sudah membeli rumah untuk mereka tinggali, ia juga merasa bingung, darimana ibunya mendapatkan uang sebanyak itu hingga sanggup membeli rumah?


"Ibu, bagaimana dengan sekolahku?"


"Tentu saja ibu sudah mempersiapkan itu semua, ibu sudah mendaftarkanmu di sebuah sekolah yang letaknya tidak jauh dari rumah kita, kau akan mendapatkan teman baru disana."


"Huh, teman baru ya?" Batin Lardo berbicara.


Lardo sangat muak dengan semua ini, dimana orang tuanya memutuskan suatu hal tanpa meminta pendapatnya lebih dulu.


Setelah beberapa menit dalam perjalanan, mereka telah sampai di sebuah perumahan yang lingkungannya sangat asri serta bersih. terdapat beberapa rumah yang di susun sejajar dan juga setiap halamannya terdapat taman kecil sebagai penyegar mata.


"Ibu, apa kita akan tinggal disini?"

__ADS_1


Tanya Lili yang tengah berada di belakang Rossa sambil menggenggam tangannya.


"Tentu saja."


Mendengar jawaban yang Rossa berikan membuat pikiran Lardo semakin tidak karuan. tinggal di perumahan seperti ini adalah sebuah mimpi untuknya. lagipula uang sebanyak itu, ibunya dapatkan darimana? bohong jika semua ini adalah hasil dari tabungannya.


Melihat wajah Lardo yang sedari tadi muram, Rossa langsung menghampirinya dengan senyum tipis sambil membelai kepalanya. "Ada apa, apa kau tidak senang kita tinggal disini?"


Lardo mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan tatapan datar. "Tidak. sekalipun aku mengatakan kalau aku tidak menyukainya, kalian akan tetap tinggal disini kan?" Jawab Lardo sarkas. Rossa hanya terdiam tanpa berniat untuk membalas ucapan putranya itu.


"Ayo kita masuk!" Ajak Rossa sambil mengangkat beberapa tas yang berisikan barang-barang milik mereka. Lardo, Rossa, Derry dan juga Lili melangkah masuk ke area perumahan itu. tiba-tiba seorang penjaga datang menghampiri mereka sambil tersenyum ramah.


"Selamat datang, Tuan dan Nyonya Dimitri. mari saya bantu bawakan barang-barang kalian." ucap penjaga perumahan itu. dengan senang hati, Rossa membiarkan penjaga itu membantu mereka untuk membawa beberapa barang milik mereka.


Lardo hanya terdiam tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. pikirannya sudah melayang entah kemana. ia terus saja memikirkan bagaimana keadaan Shenna sekarang dan apakah dia baik-baik saja. serta bayang-bayang tentang kenangannya bersama dengan Shenna terus terputar di pikirannya sekarang



"Kau sedang apa? apa aku berlebihan jika mengatakan bahwa aku merindukanmu?" Batin Lardo berbicara.


Sementara keadaan Shenna sekarang sangat mengenaskan. ia terus saja menangis tanpa henti di pelukan Sakura, ia terus menerus meminta Lardo untuk kembali lagi ke Athlanda tapi semuanya sudah terlambat.



"Tidak, Sakura. aku tidak ingin seperti ini. aku ingin dia kembali. hanya itu yang aku inginkan." melihat kondisi Shenna sekarang membuat batin Sakura serasa teriris. berpisah dengan satu-satunya orang yang dapat mengerti dirinya memang sangatlah sulit untuk di terima.


"Aku tau bagaimana perasaanmu sekarang, tapi kau harus percayakan semua ini pada Lardo. kau harus yakin kalau dia akan kembali." ucap Sakura berusaha meyakinkan Shenna.


"Aku tidak ingin jauh darinya." Sudah kesekian kalinya Shenna mengatakan hal itu. ia terus mengatakan bahwa ia tidak ingin berpisah dan juga jauh dari Lardo. tapi sekarang Lardo sudah tidak lagi berada disini, Shenna hanya bisa menangisi kepergian Lardo dengan isak tangis yang terdengar pilu.


"Lardo juga tidak ingin kau terus menangisi dirinya seperti ini." Tubuh Shenna bergetar hebat, isak tangis terus terdengar dari bibirnya. "Tapi, Sakura... aku ingin dia kembali..." Sakura tidak bisa membayangkan bagaimana hari-hari Shenna selanjutnya tanpa kehadiran Lardo. selama ini Shenna selalu saja bersama dengan Lardo di setiap harinya, mungkin ia akan merasa sangat kesepian tanpa kehadiran pria itu.


Tapi Sakura sudah berjanji pada Lardo bahwa ia akan terus menemani Shenna selama Lardo tidak berada di sisinya dalam keadaan apapun.


"Kau jangan khawatir, aku akan terus menemanimu sama halnya dengan yang Lardo lakukan." bisik Sakura dengan nada suara yang terdengar lumayan pelan.

__ADS_1


__ADS_2